
Shakira memarkirkan motor maticnya di garasi. Dia melihat motor Shakila sudah terparkir di sana juga. Itu berarti kalau Shakila sudah berada di rumah.
Shakira masuk ke dalam rumah dengan wajah yang masih ditekuk dan tidak ada ramahnya sama sekali.
"Eh, muka loe kenapa kusut begitu? loe ada masalah ya?" sapa Shakila yang baru saja turun dari kamarnya.
"Bukan urusan loe!" Shakira naik ke atas mengabaikan, Shakila yang meneriaki namanya.
"Kenapa sih tuh anak? kesambet setan kali ya?" gumam Shakila seraya mengangkat bahunya, merasa bodo amat.
Shakira masuk kedalam kamarnya dan menguncinya dari dalam. Dia melemparkan tasnya begitu saja,dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Netranya menerawang kosong menatap langit-langit kamarnya.
"Kenapa sih semuanya dari dulu menyukai Shakila? mulai dari Ka Kevin, Ka Dewa sekarang Ka Rendi. Apa bedanya gue dan Shakila?" batinnya sembari berdiri dan berjalan ke arah cermin.
"Wajah kami benar-benar mirip, tapi kenapa mereka hanya memandang Shakila? apa yang membuat Shakila begitu menarik?" Shakira menatap pantulan dirinya di depan cermin sembari bertanya-tanya dalam hati dan sibuk mencari perbedaannya dengan Shakila.
"Semuanya sama saja, tidak ada yang berbeda, yang membedakan hanya alis dan pipi. Apa pipiku yang sedikit lebih chubby ini penyebabnya? tapi kan gue gak gemuk?" Shakira menepuk-nepuk pipinya, yang memang lebih Chubby dari Shakila, lalu memutar-mutar tubuhnya. Lalu dia menyenderkan punggungnya ke cermin itu, sambil memejamkan matanya sejenak.
Shakira kembali melangkah dengan gontai ke arah ranjangnya, dan kembali menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
"Atau, karena gue memang benar-benar membosankan, seperti kata Juna ya? gue gak seperti Shakila yang periang dan supel.Gue hanya seorang gadis yang kalem, dan kurang bisa bergaul seperti Shakila. Tiap hari gue hanya berkutat dengan buku. Tapi apa salah kalau gue ingin bisa seperti Ka Rendra, yang pintar? Gak bisa sama, tapi setidaknya 70 persen seperti dia juga gak pa-pa." Shakira mengusap wajahnya dengan kasar.
"Shakira ... Kira ..., buka pintunya dong! tumben pintunya dikunci! loe gak pa-pa kan?" Shakila meneriaki Shakira sembari mengetuk-ngetuk pintu kamar Shakira dari luar.
"Gue, gak pa-pa. Loe balik aja ke kamar lod, gue capek, dan gak mau diganggu!" Shakira balik berteriak dari dalam kamar. Entah kenapa, perasaan iri pada Shakila timbul di hatinya.Dia berusaha untuk menampiknya,tapi tetap aja perasaan itu muncul.
...----------------...
Galang memarkirkan mobilnya di dekat gedung berlantai 4 yang disewanya sebagai tempat usahanya, dan dia berharap suatu saat gedung itu akan benar-benar menjadi miliknya, dan dapat dia bangun menjadi semakin besar.
"Kita dimana ini Ka?" tanya Lea sembari mengarahkan tatapannya ke arah gedung itu.
"Kita, sekarang ada di perusahaan kecilku. perusahaan yang aku harapkan bisa memberikan masa depan yang cerah buat kita nanti." ucapan Galang membuat semburat merah, muncul di pipinya, karena merasa tersanjung, dengan kata masa depan yang keluar dari mulut Galang.
__ADS_1
"Tapi,tanpa ini juga masa depanmu sudah ada di depan mata sih. Kamu putri dari pemilik Aryaguna coorporation sedangkan aku, hanya putra dari seorang pengusaha mebel." desah Galang kembali insecure.
"Kenapa sih Kaka kembali mengungkitnya? apa kakak tidak yakin dengan kemampuan Kakak sendiri? Aku rasa ayah dan bunda tidak pernah memandang seseorang itu dari apa yang dimilikinya.Tapi ayah dan bunda lebih melihat ke arah tanggung jawabnya.Dengan kakak, berusaha seperti ini pun, sudah membuat aku bahagia." Ucap Lea memberi semangat ke Galang.
Galang menyunggingkan senyum sumringahnya, dan menggusak rambur Lea.
"Kamu bisa aja kasih semangatnya."
"Jangan diacak-acak rambutnya Kak, nanti rambut Lea jadi berantakan!" Lea mencebikkan bibirnya, membuat Galang merasa gemar, dan memberikan cubitan di bibir Shakila yang mengerucut. Awalnya dia mau mengecup,tapi Galang belum punya cukup keberanian untuk melakukan itu.
"Iya ... iya , maaf! ayo kita keluar!" Galang turun dari dalam mobil, lalu mengitari mobil itu untuk membukakan pintu buat Lea.
Setelah itu, mereka melangkah masuk ke dalam gedung dan langsung masuk ke ruangan Galang.
"Sayang, kamu duduk di sini dulu ya! aku mau mengecek pekerjaanku dulu.Sebentar saja kok, habis itu aku antarkan kamu pulang." ucap Galang. Lalu dia melangkah ke mejanya setelah Lea benar- benar sudah duduk di sofa.
"Apa dia bilang tadi? dia panggil gue, sayang kan? gue gak salah dengar kan?" bisik Lea, sambil senyum-senyum sendiri.
"Hei, Galang! kamu ternyata sudah datang ya?" tiba-tiba seorang wanita,masuk tampa mengetuk pintu terlebih dulu, dan langsung menggelendot manja di lengan Galang. Sehingga membuat Lea mendelik,terkesiap kaget.
"Rosa, lepaskan tanganmu!" Galang menepis tangan Rosa dengan tatapan yang sangat tajam. "Dan harus berapa kali aku harus bilang, kalau kamu harus mengetuk pintu dulu sebelum masuk, jangan asal main menyelonong saja!" Galang masih berusaha menekan intonasi suaranya, supaya tidak terkesan membentak. Akan tetapi, terselip rasa tidak suka pada ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Galang.
"Jaga sikap kamu Rosa! jangan terlalu dekat denganku. Kamu itu hanya sebatas model di sini. Aku tidak mau pacar saya itu salah paham nanti." tegas Galang, sembari melirik ke arah Lea, yang wajahnya sudah terlihat memerah seperti terbakar api, dan dari kepalanya juga sudah mengeluarkan asap dan tanduk.
"P-pacar?" Rosa sontak mengarahkan matanya ke arah sofa dan kaget melihat sorot mata tajam Lea.
"Iya, pacar? kenapa? kaget?" cetus Lea dengan ekspresi marah.
"Kamu pacaran dengan bocah, Lang? apa aku gak salah lihat? cantik sih, tapi penampilannya gak banget!" Rosa menyoroti penampilan Lea dari atas sampai ke bawah, yang hanya memakai, kemeja berenda warna merah dengan celana Jeans.
"Hei, apa yang salah dengan penampilan gue?Terima kasih sudah memuji gue cantik. Dan asal loe tahu, wajah gue yang cantik ini, hanya menggunakan pelembab, bukan seperti lo, yang cantik karena polesan bedak,yang gue gak tahu berapa inchi tebalnya." ucap Lea sarkasme.
"Dan asal loe tahu, dengan penampilan seperti ini saja, gue udah cantik, apalagi gue berpenampilan seperti loe, yang ada loe bakal kehilangan pekerjaan, dan gue menggantikan loe. Tapi lo tenang saja, gue masih baik, gak akan meniru penampilan loe, yang seksinya dipaksakan." ucap Lea berapi-api, dan Galang berusaha menahan tawanya mendengar semua ucapan Lea.
"Hei, loe gak ada sopan santun ya sama yang lebih tua dari loe?! gue jadi ragu,kalau lo benaran pacarnya Galang.Gak mungkinkan Galang suka sama cewek bar-bar kaya loe!" Rosa tersenyum sinis.
__ADS_1
Diam kamu Rosa, dia memang pacarku!dan kamu tolong keluar dari ruangan ini, dan setahuku hari ini kamu tidak ada jadwal
pemotretan kan? jadi kamu pulang saja!" bentak Galang, merasa tidak tahan lagi dengan tingkah Rosa.
Rosa menghentakkan kakinya,merasa kesal karena Galang benar-benar mengusirnya keluar. "Awas kamu bocah,aku akan buat perhitungan denganmu nanti!" ucap Rosa, dan tentu saja dia hanya berani mengucapkannya di dalam hati saja.
Rosa melangkah keluar dan membanting pintu dengan lumayan keras,hingga membuat Lea terjengkit kaget.
"Apa sih yang dilihat Galang dari wanita itu? padahal aku sudah seksi begini, masa dia tidak tertarik sama sekali?" Rosa terus saja menggerutu tidak jelas , dan tidak ada orang yang berani menyapanya, karena melihat raut wajah yang benar-benar tidak bersahabat dari Rosa.
Bunyi ponselnya yang datang dari dalam tas, seketika menghentikan gerutuannya. Rosa mendengus dan berdecih melihat nama si pemanggil yang tertera di layar ponselnya.
"Iya, Halo! ada apa?"sahut Rosa.
"Hei, loe kok jutek banget!? terdengar suara seorang wanita dari ujung sana.
" Hmm iya deh maaf!
"Bagaimana penyidikan lo? apa loe sudah tahu siapa pacar Galang sekarang?" tanya suara itu lagi dari ujung telepon.
Rosa menghela nafasnya merasa bingung, antara berbobong atau berterus terang memberitahukan, pada wanita di sebrang sana, kalau Galang sudah memiliki pacar.
" Hei, kenapa loe diam saja, hah?! kamu tidak berpikir untuk jatuh cinta pada Galang kan Ros? loe harus ingat siapa lo. Dan lo pasti tahu apa akibatnya kalau loe berani mau merebut Galang dariku."
"Kenapa sih lo selalu bicara soal itu? iya aku akan jawab. Galang sudah punya pacar, dan sekarang dia ada bersama pacarnya di dalam ruangannya." Ucap Rosa, akhirnya berterus terang.
Terdengar gelas pecah dari ujung telepon. Sepertinya gadis itu sangat marah dan melempar gelas ke lantai sampai pecah berkeping-keping.
"Brengsek! sepertinya aku harus cepat-cepat bertindak.Rosa kamu bersikaplah seperti biasa dan tunggu instruksi dari aku lagi." Gadis itu memutuskan panggilan secara sepihak, dengan sudut bibir yang tertarik ke atas, menyeringai sinis.
"Aku tidak akan membiarkanmu dimiliki oleh orang lain Galang! hanya aku yang pantas buatmu." bisik gadis itu, dengan senyuman sinis di bibirnya.
Zhang Yu Xi as Rosa
Tbc
__ADS_1
Udah hari Senin saja nih. Boleh dong minta vote rekomendasinya.😁. Jangan lupa like, vote dan komen ya gais.Thank you