
"Ju-Juna bagaimana kamu bisa ada di sini?" tanya Ratih.
"Ya ini gara-gara kebodohanmu juga yang gak tahu kalau nomormu disadap. 1 jam setelah selesai bicara denganmu di telepon,mereka langsung mencariku di tempat kerja." ujar Juna dengan kesal. Ya, setelah Juna dan Ratih selesai bertukar kabar malam itu, pria setengah baya atau Seno langsung memerintahkan Rendi dan Dion menjemput Juna ke tempat kerjanya, yang berhasil dia dengar tadi.
"BRENGSEK! kalian telah menjebak kami. Dan kamu Pah, kenapa kamu tidak membela kami? aku ini istrimu dan Ratih itu putrimu!" teriak Minah, ke arah Bono suaminya yang menatap mereka dengan mata sendu, tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Apa gak kebalik Bi? yang menjebak itu justru Bibi dan Ratih. Kalau bukan karena Om Bono yang memohon agar tidak melaporkan kalian berdua ke polisi, aku sudah melaporkan kalian berdua. Tapi, sekali lagi kalian berdua melakukan perbuatan licik, aku tidak akan segan-segan lagi memasukkan kalian berdua ke penjara." tegas Dion.
"Terimakasih Nak Dion atas kebaikan hatimu! Nak Dion mungkin Paman tidak bisa mengikuti acara yang sakral ini,karena harus membawa mereka berdua pulang. Tapi, nanti malam, di resepsi, paman akan usahakan buat datang." ucap Bono. Kemudian dia menarik tangan Minah keluar, disusul oleh Ratih dari belakang. Suara riuh dari para tamu yang menyoraki, Minah dan Ratih mengiringi kepergian dua wanita berbeda usia itu.
Dion membalikkan badannya dan melangkah menghampiri Kirana.
Begitu dia ada persis di depan wanita itu, Kirana menyunggingkan senyum yang begitu manis di bibirnya.
Kemal Papahnya Kirana menyambut Dion dengan senyuman juga. Hingga menimbulkan kecurigaan pada Kirana.
"Apa Papah juga sudah tahu, kalau ini semua akal-akalan dari dari Ratih dan Mamahnya Pah?" kedua bola mata Kirana membulat begitu melihat papahnya menganggukkan kepalanya.
"Iya! kemarin Dion dan Om Seno mendatangi Papah dan membeberkan semuanya. Tapi Papah harus tetap berpura-pura supaya semua yang Om Seno dan Dion rencanakan berjalan lancar.
"Tapi, kenapa papah tidak mengatakan yang sebenarnya sama Nara Pah? tahu gitu kan, Kinara gak perlu nangis-nangis segala." Kinara mengerucutkan bibirnya.
"Justru gara-gara itu Papah gak mau menceritakan yang sebenarnya padamu. Kalau kamu sudah tahu dari awal, raut sedih di wajamu gak akan bisa natural. Kalau sudah tidak natural,mereka berdua akan curiga." tutur Kemal menjelaskan. "Udah ah, yang penting sekarang semua sudah jelas dan sekarang kita bisa mulai upacaranya," pungkas Kemal mengakhiri percakapan.
Dewa menghela nafasnya lega. Karena dengan begitu dia tidak perlu lagi menikah dengan Kirana, dan yang pasti dia tahu kalau ini semua rencana Seno, papanya Shakila. Itu berarti Shakila tidak benar-benar akan dinikahkan dengan pemuda bernama Kevin itu.
__ADS_1
"Loe jangan lega dulu, Wa! Loe sekarang hanya punya waktu 30 menit untuk sampai ke acara" pernikahan Shakila dan Kevin. Kalau tidak, Shakila akan benar-benar dinikahkan dengan Kevin." bisik Rendi persis di telinga Dewa yang membuat kedua netra Dewa membesar.
"Loe jangan bercanda Ren! ini sama sekali tidak lucu." Dewa balik berbisik, dengan mata yang mendelik tajam.Ingin rasanya dia membentak Rendi,,tapi timingnya benar-benar tidak pas, karena Dion dan Kirana sedang melangsungkan upacara pernikahan yang sangat sakral.
"Gue tidak bercanda. Kata Papi Seno,kalau loe berhasil datang ke sana tepat pada waktunya, hari ini juga loe akan menikah dengan Shakila. Tapi, kalau gagal, loe harus rela Shakila menikah dengan Kevin." Rendi berbisik kembali dengan seringaian meledek di bibirnya. Sedangkan Galang, dia serius mendengar perdebatan kedua sahabatnya, yang walaupun keduanya berbisik, dia tetap bisa mendengar apa yang dibicarakan keduanya. Alarm yang menandakan akan adanya bahaya, langsung berbunyi di telinganya, sehingga diam-diam mengajak Lea untuk beranjak menjauh dari keduanya.
"Sialan loe! jadi kenapa loe nggak ngasih tahu dari tadi setan?" Dewa kesal tapi masih tetap berbisik. Karena dia tahu jarak dari tempat ini ke tempat pernikahan Shakila, itu memakan waktu lebih kurang 40 menit.
"Sengaja!" ujar Rendi santai sambil menggoyang-goyangkan kakinya, dengan bibir yang tersenyum tipis.
Dewa berdiri dan menarik tangan Rendi keluar.
"Sekarang gue gak mau tahu, loe ikut gue ke sana!" ucap Dewa dengan tegas.
"Ogah! pasti nanti loe bakal berubah jadi pembalap. Loe bakal bawa mobilnya kencang banget. Gue gak mau mati konyol men. Gue gak mau buat Shakira jadi janda. Lo pergi aja sendiri dengan mobil loe, gue dengan mobil gue." Rendi menepis tangan Dewa. "Atau loe , minta antar sama Galang aja! loe berduakan sama-sama belum menikah?" Rendi mengedarkan tatapannya mencari keberadaan Galang.
"Sial, kayanya dia sudah tahu kalau ini bakal terjadi, dia pergi diam-diam. Dasar sahabat tidak ada akhlak!" umpat Rendi.
"Ogah!" tolak Rendi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Buruan Ren akh! waktunya udah tinggal 20 menit nih! " teriak Dewa dengan wajah yang hampir menangis dengan tangan yang tidak berhenti menarik tangan Rendi.
"Bukan urusan gue!" Rendi balas berteriak.
"Nggak ada! ini murni kesalahan loe. Pokoknya loe harus antar gue.Buruan!"
Disaat bersamaan, seorang pemuda tiba di tempat itu dengan sebuah motor sport. Tanpa berpikir panjang Dewa, menghampiri pemuda itu dan merapas kunci motor dari tangannya.
"Hei, apa-apa an anda main rampas aja?" pemuda itu mencoba merampas kembali kunci dari tangan Dewa.
__ADS_1
"Motormu aku beli dua kali lipat dari harganya,please aku sangat membutuhkannya, karena ini menyangkut hidup dan matiku." ucap Dewa, dengan sangat cepat.
Pemuda itu, terlihat berpikir, tergiur dengan tawaran Dewa.Dia memperhatikan penampilan Dewa yang terlihat sangat tampan dengan balutan tuxedo pengantinnya. Tuxedo yang dipakai Dewa juga terlihat sangat mahal.
"Baiklah, kalau begitu mana uangnya?" tanya pemuda itu.
"Nih kartu namaku, dan ini KTP ku kamu pegang dulu sebagai jaminan. Kamu datang aja besok ke alamat itu, untuk mengambil uangnya.Sekarang aku sangat terburu-terburu." tanpa menunggu jawaban dari pemuda itu, Dewa langsung naik ke atas motor, tapi tidak lupa menarik tangan Rendi untuk ikut naik.
Dewa melesatkan motor itu dengan kecepatan sangat tinggi.
"Dewaaaa, jangan kencang-kencang! jantungku udah mau copot ini." teriak Rendi yang wajahnya sudah pucat di boncengan Dewa.
"Jangan berisik Loe! sekarang loe pegangan yang kuattt, gue mau nikung bus besar di depannn!" Dewa balik berteriak dengan suara maksimal.
"Setan Loe, sialan, bangsatt!" Rendi sibuk mengumpat sambil memeluk pinggang Dewa dengan sangat erat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di sebuah ruangan yang juga sudah mulai dihadiri para keluarga besar. Tampak Kevin berkali-kali melihat ke arah pintu masuk, berharap Dewa segera muncul di sana. Kevin kembali melihat ke jam tangan yang menempel di pergelangan tangannya.
"Hmmm, bagaimana ini,waktu tinggal 5 menit lagi, apa mungkin Dewa bisa sampai di sini tepat waktu?" batin Kevin dengan wajah yang sudah mulai gusar.
"Bagaimana kalau dia tidak bisa datang tepat pada waktunya? apa aku harus benar-benar menikah dengan Shakila?" Kevin kembali berbisik pada hatinya. Dia mengingat begitu jelas, ketika Seno meneleponnya dan meminta bantuannya untuk berpura-pura mau menikah dengan Shakila. Tapi, kepura-puraan itu bisa menjadi kenyataan kalau Dewa, tidak bisa memenuhi tantangannya untuk datang tepat waktu.
"Kalau Dewa, tidak bisa datang tepat waktu, kamu lah yang beruntung menjadi menantuku." ucap Seno saat itu, yang anehnya tidak membuat hatinya senang. Kevin justru berharap kalau Dewa bisa datang tepat waktu.
Disaat Seno bertanya apa dirinya menyukai Shakila atau tidak, dia mencoba menutup matanya untuk mencari jawaban.Ternyata yang muncul bukan wajah Shakila,justru wajah gadis yang dia sebut berisik itu, yang menari-nari di benaknya.
"Please Dewa, cepatlah muncul," jerit hati Kevin, sambil mengusap wajahnya dengan kasar, dan menghela nafasnya berkali-kali. Perasaan Kevin semakin gusar, ketika melihat Shakila yang sudah berdiri di depan pintu, bersiap untuk masuk.
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa buat ninggalin jejaknya ya gais. Please like dan komen. Untuk Votenya bisa dikasih besok saja😁