Dosenku Kekasihku

Dosenku Kekasihku
Bab 101


__ADS_3

"Dan anda juga bisa mendapatkan keuntungan dari hal ini,benar begitu?"sarkas Iqbal dengan sudut bibir yang tertarik ke atas, membentuk senyuman sinis.


"Apa maksud kamu, Nak Iqbal?" wajah Rina sontak berubah pias.


"Apa maksud anda mengatakan kalau anda, sengaja menjual Lisa padaku, karena yakin kalau aku akan membahagiakannya? bukankah tujuan awal anda bukan itu? anda hanya ingin menyelamatkan diri anda dari hutang saja,bukan untuk kebahagiaan Lisa. Jadi berhentilah berpura-pura jadi ibu yang baik. Anda berniat mau baik-baikin Lisa, karena ada maksud lain kan?" sindiran Iqbal telak menampar Rina, secara tidak langsung.


"Kamu jangan asal bicara ya! aku memang tulus menyayangi anakku," sangkal Rina.


"Jadi bagaimana kalau aku, mengembalikan Lisa pada mu, dan meminta kamu membayar hutang-hutangmu saja?" Rina membeku,tidak bisa mengatakan apa-apa mendengar ucapan Iqbal. "Kalau dia batal menikah dengan Lisa, jadi buat apa aku ada kembali ke sini? dan dari mana aku aku mendapat uang sebanyak itu untuk membayar hutang-hutangku? tidak! ini tidak boleh terjadi," Rina membatin dengan raut wajah panik. Sedangkan senyuman sinis,masih setia bertengger di sudut bibir Iqbal.


"Itu berarti kamu mempermainkan yang namanya pernikahan, Iqbal,"


"Ingat, Ibu Rina,aku belum menikah dengan putri anda, masih 'mau'. Jadi, aku tidak sama sekali mempermainkan pernikahan. Justru andalah yang mempermainkan pernikahan, merebut suami orang, dan setelah itu meninggalkan suami di saat suami anda jatuh terpuruk." sarkas Iqbal. "Dan kalau anda benar-benar benar sebagai ibu yang baik, ayo, buktikan! bayar hutang-hutangmu, dan aku akan kembalikan Lisa padamu, " pancing Iqbal dengan tegas. Padahal sebenarnya, dia was-was takut Rina menyanggupi permintaannya, yang berarti pernikahannya dengan Lisa akan terancam gagal.


Lisa menatap, Rina mamahnya dengan tatapan penuh harap, berharap mamahnya, menyanggupi permintaan Iqbal, sehingga dia terbebas dan tidak perlu menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak dia cintai itu.


"Mah, Ayo mah. Bayar hutang mamah sekarang. Bukannya Mamah sudah menjual rumah di Bali? harusnya uang itu cukup buat bayar hutang mamah," mohon Lisa dengan tangan yang menggenggam tangan Rina mamahnya.


Rina menepis tangan Lisa, dan berkata "Mamah, tidak bisa melakukannya. Kalau uangnya aku kasih ke Iqbal, uang mamah akan habis dong, mamah bisa gila kalau tidak punya uang." Ujar Rina, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Lisa sontak beringsut mundur menjauh dari Rina dengan kedua mata yang yang sudah berlinang dengan cairan bening. Dia tidak menyangka bakal mendengar kalau ibu kandungnya sendiri lebih takut tidak memiliki 'uang' daripada takut kehilangan putrinya sendiri. Sedangkan, Iqbal tersenyum, merasa menang karena sudah berhasil menunjukkan pada Lisa, karakter ibunya yang sebenarnya.


"Kamu dengar sendiri kan Lisa? dia tidak benar-benar menyayangimu. Dan asal kamu tahu, sebenarnya aku tidak berniat membelimu.Itu hanya alibiku saja, agar aku bisa bersamamu. Kenapa hari itu aku mengatakan kalau aku justru menolongmu? kamu mau tahu kenapa? karena hari itu aku berpura-pura baik dengan membayarkan hutang-hutang mamahmu, pada seorang laki-laki yang sudah tua.Hari itu mamahmu ini, justru berniat menjualmu pada laki-laki tua itu. Untungnya aku ada di sana dan mendengarnya. Aku memang salah, melakukan cara yang sama untuk menjerat mamahmu, dengan mengatasnamakan utang untuk mendapatkanmu dan mengatakan akan menjadikan kamu wanita simpananku. Aku melakukan itu, karena aku tahu, kalau aku jujur ingin menjadikan kamu istriku, mamah kamu akan memanfaatkan mu lagi. Tapi, jauh di dalam hatiku, aku sama sekali tidak menganggap kamu sebagai barang, yang bisa diperjualbelikan. Aku menganggap kamu itu sebuah benda seperti berlian, yang sangat berharga, yang tidak bisa aku sia-siakan." tutur Iqbal panjang lebar, dengan sorot mata yang berapi-api dan tampak ketulusan di mata itu.


Lisa merasa tersentuh mendengar ucapan Iqbal, tapi dia tidak mau benar-benar sepenuhnya percaya. Dia kembali melihat ke dalam manik mata, Iqbal untuk mencari kebohongan di sana. Akan tetapi, dia sama sekali tidak menemukan adanya kebohongan itu.


"Berapa hutangnya? biar saya aja yang mengusahakan membayarnya.Aku juga rela rumah ini dijual, biar bisa bayar hutang-hutangnya. Dan kamu tidak perlu menikahi Lisa, Nak Iqbal!" seru Mutia tiba-tiba.


Lisa sontak menatap Mutia, terkesiap mendengar ucapan wanita itu. Dia tidak menyangka, kalau yang perduli bukan ibu yang melahirkannya tapi justru wanita yang pernah disakiti oleh mamahnya sendiri.

__ADS_1


"T-tidak perlu, Tante! aku akan tetap menikah dengan Lisa. Bukannya tadi aku mengatakan kalau aku tidak pernah menganggap dia barang?"


"Tapi Lisa tidak mencintaimu. Dan aku tidak mau, Lisa menikah karena terpaksa, Nak Iqbal." sahut Mutia tulus dari dalam hati, membuat Iqbal tercenung, bungkam tidak bisa berbicara apa-apa lagi.


"Kalau begitu, Tante tidak usah mengembalikan uangnya. Karena bila aku menerima kembali uangnya, itu berarti,sama aja, aku benar-benar telah membeli Lisa." Iqbal terlihat lesu,tidak bersemangat sama sekali.


"Aku akan tetap menikah denganmu!" celetuk Lisa, memutuskan dengan tegas.


Iqbal, Mutia dan Rina sontak menoleh ke arah Lisa.


"Tapi, Nak ...."


"Kali ini aku gak terpaksa, Mah! Lisa tersenyum tulus ke arah Mutia.


"Berarti, aku tidak perlu membayar hutangnya lagi kan? dan kamu mau memaafkan mamah kan?" dengan tidak tahu malunya, Rina kembali buka suara.


Lisa menghela nafasnya dan menoleh ke arah Rina. "Ya, hutang Mamah lunas. Sekarang Mamah boleh pergi dari sini!"


"Maaf Mamah! aku rasa, calon suamiku tidak suka mamah tinggal bersama kami. Bukan hanya calon suamiku saja, aku pun mungkin tidak merasa nyaman, seandainya mamah tinggal bersama kami." Iqbal tersenyum dan hatinya berbunga-bunga mendengar Lisa menyebutnya calon suami.


"Jadi, mamah, tinggallah sendiri. Mamah kan masih punya uang yang bisa mamah gunakan untuk membeli rumah sederhana dan buka usaha sendiri untuk kelangsungan hidup mamah nantinya." imbuh Lisa, tanpa menatap Rina.


"Mamah tidak mau! anak macam apa kamu, bisa tinggal di rumah mewah, sedangkan ibu yang melahirkanmu, kamu biarkan tinggal di rumah sederhana? mau jadi anak durhaka kamu ya?" Iqbal mengepalkan kedua tangannya, mendengar ucapan Rina yang tidak tahu malu itu.


Lisa mendengkus, kesal. "Jangan bawa-bawa, anak durhaka dalam hal ini.Kamu memang yang melahirkanku,tapi kasih sayangmu tidak tulus,kamu hanya memanfaatkan ku," ucap Lisa dingin.


"Tapi ...."


"Tapi apa Ibu Rina? apa kamu mau mengatakan, kalau sebenarnya kamu sudah tidak memiliki uang lagi, karena uang hasil penjualan rumah di Bali juga sudah kamu habiskan di meja judi?" pertanyaan Iqbal yang tiba-tiba membuat kedua netra Lisa membesar, tidak percaya.

__ADS_1


"I-itu tidak benar! kamu jangan fitnah aku!" Rina terlihat gugup.


"Aku tahu semuanya Ibu Rina. Anda kembali ke Jakarta karena mendengar kalau aku akan menikah dengan putri anda. Anda berharap, Lisa akan memaafkanmu, dan mengajakmu untuk tinggal bersama kami, sehingga kamu bisa kembali hidup senang seperti dulu." ucapan Iqbal langsung mengena ke dalam hati Rina, sehingga dia tergugu tidak bisa menjawab sama sekali.


"Anda boleh bawa kartu ini. Di dalamnya ada uang sebesar 50 juta. Anda bisa mengontrak rumah, dan membuat bisnis kecil-kecilan dengan uang itu. Tapi, jangan pernah sekali-kali kamu mengusik lagi kehidupan Lisa." tegas Iqbal dengan sorot mata yang sangat tajam.


"Kenapa kamu hanya memberikan 50 juta saja? kamu kan punya banyak uang? apa kamu tidak bisa memberikan lebih? 500 juta misalnya. Supaya aku bisa membeli rumah yang layak," ucap Rina, benar-benar tidak tahu malu.


"Mamah! seharusnya Mamah bersyukur sudah diberi uang sebanyak itu. Sekarang lebih baik pergi dari sini! aku benar-benar malu dengan tingkah Mamah!" seru Lisa dengan intonasi suara yang meninggi.


"Kamu mengusir Mamah?" Rina tidak terima.


Lisa menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya kembali ke udara. Lisa memejamkan matanya, dan berkata tegas "Iya!"


"Sebaiknya sekarang kamu tinggalkan rumah saya, Ibu Rina yang terhormat!" Mutia buka suara, karena kesal dengan Rina yang benar-benar tidak tahu malu.


Rina beranjak keluar sambil menghentakkan kakinya.


"Kamu mau jemput aku, untuk fitting baju pengantin kan? kamu tunggu di sini, aku mau ganti pakaian dulu!" Lisa beranjak pergi, setelah Iqbal menganggukkan kepalanya.


"Apa kamu mencintai Lisa, Iqbal?" tanya Mutia setelah tubuh Lisa benar-benar menghilang.


"Apa Tante, meragukan ku? aku tulus mencintainya semenjak 10 tahun lalu. Tapi sayangnya, dia tidak mengingatku sama sekali.Kevin sudah tahu hal ini, kok Tan. Dia adalah perempuan yang membuat aku termotivasi untuk sukses Tante." terang Iqbal tersenyum tipis.


"Baiklah,Tante percaya sama kamu! Mungkin sekarang kamu tidak punya waktu untuk menjelaskan, yang sebenarnya pada tante. Tapi nanti aku langsung tanyakan pada Kevin saja."


"Oh ya, Kevin masih di kantor ya Tan?" tanya Iqbal mengalihkan pembicaraan.


"Oh, tadi dia izin tidak masuk kantor. Dia lagi bawa istrinya periksa ke rumah sakit. Sudah dari kemarin-kemarin aku menyuruhnya ke rumah sakit tapi dia selalu tidak mau, karena dia beralasan kalau dia cuma masuk angin saja. Tapi Tante curiga, sehingga tadi aku memaksa, supaya mereka ke rumah sakit. Mudah-mudahan ada kabar baik hari ini." Mutia tersenyum dengan mata yang menerawang, membayangkan apa yang dia harapkan terkabul.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2