
"Masuk!" teriak Dewa dari dalam ruangannya.
Suara decitan pintu tidak membuat fokus Dewa pada kertas -kertas di depannya teralihkan.Dia tetap fokus memeriksa tugas-tugas mahasiswa/ mahasiswinya,karena dia tahu siapa yang datang, siapa lagi kalau bukan Shakila.
"Mana tugas yang harus aku kerjakan Pak?" ucap Shakila, sedikit ketus dan kesal karena merasa diabaikan oleh Dewa,yang tidak melihatnya sama sekali.
Dewa berdiri dari kursinya dan menghampiri Shakila, yang sontak mengalihkan tatapannya ke arah lain dengan wajah juteknya.
"Hmm, sekarang kamu ngaku dulu, apa benar tugas kamu udah selesai?" Dewa menangkup pipi Shakila, agar menghadap padanya.
"I-iya, betul!" Shakila memberanikan diri menjawab dengan tegas.
"Yakin?"
"Yakinlah."
"Ok, nanti aku antar kamu pulang, dan begitu sampai di rumah,kamu langsung kasihkan ke aku, boleh?"pancing Dewa,entah kenapa dia yakin kalau Shakila belum menyelesaikan tugasnya.
"Emm, emm gak boleh begitu Pak! gak ada sejarahnya,dosennya yang jemput tugas mahasiswanya." Shakila berusaha mengelak.
"Hmm, kalau begitu, kita saja yang buat supaya ada sejarahnya, bagaimana?" Dewa menerbitkan senyum smirknya sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Shakila,sehingga Shakila reflek mundur. Dewa kembali mendekat, Shakira kembali mundur, sampai akhirnya tubuh Shakila terjebak di bawah kungkungan Dewa, karena dia tidak bisa kemana-mana lagi,akibat tembok yang menghalangi jalannya.
"Em, em itu Pak,___ok, aku ngaku, aku belum menyelesaikan tugasku." Shakira akhirnya mengaku, dengan jantung yang berdetak cepat, karena hembusan nafas aroma mint dari mulut Dewa, tertangkap jelas oleh hidungnya.
"Kenapa kamu belum menyelesaikannya,hem?"
"Itu karena___"
"Eits, jangan kamu bilang itu gara-gara aku. Karena aku menghubungimu sudah pukul 10, sebelum-sebelumnya kamu ngapain?" manik mata Dewa, tetap menatap dalam-dalam mata Shakila,menuntut penjelasan.
"Itu salah Shakira Kak! dia ngajak aku VC. Di lehernya aku lihat ada banyak tanda-tanda merah. Aku jadi gak bisa fokus belajar,karena pikiranku traveling kemana-kemana." Shakila dengan lancarnya menceritakan apa yang terjadi,tanpa dia sadari karena ucapannya, sudah membuat pikiran Dewa ikut-ikutan traveling. Tapi, Dewa tetap berusaha untuk menahannya.
"Jadi, hanya gara-gara itu?" tanya Dewa.
"Iya, Ka! ditambah lagi habis dia Vc, kakak langsung ngajak Video Call juga, pikiranku pun makin traveling Kak." ucap Shakila tanpa beban.Dia tidak tahu, bahwa ucapan Shakila sudah hampir membangunkan biawak yang ada di depannya.
"Emangnya,pikiranmu langsung traveling kemana?" bukannya berhenti bertanya, Dewa justru bertanya semakin mendalam.
"Traveling ke itulah Ka.Ka Rendi sama Shakira lagi___" seketika Shakila terdiam, karena sadar dengan apa yang sudah diucapkannya dari tadi.
"Astaga,gue ketahuan mikir mesum." semburat merah langsung muncul di area pipi Shakila.Dia refleks memukul-mukul mulutnya yang keceplosan
"Lagi apa, hemm?" Dewa semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Shakila.Tiba-tiba timbul niat di dalam hati Dewa untuk menggoda pacar kecilnya itu. Shakila seketika menahan nafasnya, dan berusaha untuk menelan Salivanya sendiri.
"K-Ka, ini kampus, j-jangan aneh-aneh!" ucap Shakila sambil menahan dada Dewa.
__ADS_1
"Hmm, emangnya kenapa kalau ini kampus? lagian tidak ada lagi yang perlu disembunyikan, karena kamu sendiri yang sudah membuka status kita sebenarnya."
"Em, i-itu___"
Cup..... kedua mata Shakila seketika membulat dengan sempurna.
Akhirnya bibir Dewa, sudah mendarat dengan sempurna di bibir Shakila. Karena tidak mendapat penolakan, Dewa mulai menggerakkan bibirnya,memberikan hisapan, lu**ma*tan dan menyesap bibir Shakila. Shakila yang masih awam masalah seperti itu, tidak bisa berbuat banyak.Tanpa sadar dia pun memejamkan matanya dan menikmati serangan Dewa.Lidah Dewa, tanpa izin langsung menerobos untuk mengabsen deretan gigi yang berbaris rapi di dalam mulut Shakila.
Dewa akhirnya menyudahi ciuman panjangnya,karena dia takut kebablasan. Shakila terlihat terengah-engah dan berusaha untuk mengatur nafasnya kembali.
"Oh, ternyata begitu rasanya." gumam Shakila sangat pelan,tapi masih bisa tertangkap oleh telinga Dewa.
"Apa? rasa apa?" tanya Dewa.
"Rasanya dicium Kak!" kalau perempuan pada umumnya, yang baru merasakan ciuman pertama,pasti malu-malu. Tapi sepertinya itu tidak berlaku pada perempuan satu ini. Dia malah sibuk mengingat bagaimana rasanya.
"Bukannya kamu sudah pernah dicium? waktu itu bibir kamu tepat mendarat di bibirku!" Dewa mengingatkan kejadian memalukan sebelum mereka resmi berpacaran.
"Kalau itu, gak ada rasanya Kak, karena cuma nempel doang. Kalau yang ini baru ada, karena ada pergerakannya.Kayanya aku harus lebih banyak belajar deh." ucap Shakila seperti tengah berpikir.
"Astaga! sekarang kamu keluar! bisa-bisa aku khilaf, kalau kamu lama-lama ada di sini." Dewa sedikit mendorong Shakila agar keluar dari ruangannya.
"Eh, tugasku mana dong Kak!" tanya Shakila sebelum membuka pintu.
"Nih ... nih bawa sana!" Dewa memberikan lembaran tugas yang harus dikerjakan oleh Shakila.
Tangan Dewa refleks melap bibirnya, membuka pintu dan mendorong Shakila keluar.
"Astaga, makhluk apa tadi? ternyata gue pacaran sama setan mesum!" batin Dewa sambil mengelus dadanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gendis mengendarai motor maticnya, yang dibelikan oleh Galang,untuk dia pakai bekerja. Dia baru saja pulang dari kantor Galang, dimana dia bekerja sebagai sekretaris Galang.
Tiba-tiba dia berhenti dan menepikan motornya,karena melihat ada seekor kucing yang berhenti di tengah jalan. Gendis refleks berlari untuk memindahkan kucing itu ke tepi jalan.Tanpa dia sadari ada motor yang melaju ke arahnya.
Ckittt ... pengemudi motor itu merem medadak motornya. Akan tetapi, Gendis yang sudah sempat kaget, tersungkur jatuh.Kakinya yang memakai sepatu bertumit, walaupun tidak terlalu tinggi tetap bisa membuat kakinya terpelengkok.
"Aduh, sakit!" rintihnya dengan wajah yang meringis sambil memijat mata kakinya yang sepertinya terkilir.
Pengemudi motor itu membuka helmnya dan turun untuk menolong Gendis.
"Hei,Nona, kalau mau nyebrang itu, makanya hati-hati." ujar Si pengemudi itu, yang dipastikan laki-laki dan masih muda.
Gendis mendongkak untuk melihat si pengemudi motor itu. Refleks pertama Gendis saat melihat sosok itu, adalah terpana.
__ADS_1
"Tampannya ...." gumam Gendis.
"Hei, Nona apa kamu dengar aku? sini aku bantu berdiri." pemuda itu mengulurkan tangannya dan disambut oleh Gendis dengan senang hati. Lalu membawa Gendis menepi.
"Maaf, bang aku tadi buru-buru mau mindahin kucing ke tepi sana.__Eh,mana kucingnya?" Gendis mengedarkan pandanganya untuk mencari keberadaan si kucing.
"Kucingnya udah kabur dari tadi.Sekalipun kamu mau nyelamatin kucing,tapi jangan abai sama keselamatan sendiri.Apa yang kamu lakukan tadi,bukan hanya membahayakan diri sendiri tapi juga bisa membahayakan orang lain." ucap pemuda itu panjang lebar.
"Sekali lagi maaf bang!"Gendis menundukkan kepalanya.
"Jangan panggil aku abang, aku bukan abangmu!" ucap pemuda itu ketus.
"Jadi, panggil apa dong?" Gendis mengangkat kedua alisnya.
"Terserah!"
"Eh, hantu,kamu juga__"
"Siapa yang kamu panggil hantu?" pemuda itu menghunuskan tatapan tajam.
"Lah,katanya tadi terserah mau manggil apa."
"Tapi gak harus hantu juga!"cetus pemuda itu.
" Hmm, ya udah! Mas, kamu juga salah. Seharusnya kamu jangan bawa motor cepat-cepat. Kamu itu harus ingat,nenek moyang kita itu seorang pelaut bukan seorang pembalap."
krik ...krik ...krik
Netra pemuda itu membesar mendengar ucapan absurd Gendis.
"Udah ah aku mau pulang. Makin lama disini, aku bisa kena serangan darah tinggi!" pemuda itu kembali ke motornya, dan hampir saja mau melajukan motornya kembali. Akan tetapi,dia mengurungkannya karena melihat Gendis yang kesusahan berjalan menuju motornya. Dia pun turun kembali dari motornya dan membantu Gendis berjalan ke motornya.
"Kaki kamu sepertinya terkilir, kalau kamu mau, kita kerumahku dulu, soalnya mamahku pintar memijat.Mudah-mudahan mamahku bisa meringankan rasa sakit di kakimu." ucap Pemuda itu, yang sedikitnya masih memiliki rasa empati terhadap Gendis.
"Mm, boleh deh, tapi bagaimana dengan motorku? kreditnya belum lunas itu." tanya Gendis.
"Kan kamu bisa bawa sendiri, yang terkilir kan kakimu,bukan tanganmu!"
"Haish, ketus amat sih nih cowok! gagal deh gue meluk pinggangnya.__ astaga aku mikirin apa sih?" Gendis membatin seraya mengetuk-ngetuk jidatnya.
"Kalau boleh tahu, nama Mas siapa? jadi kalau aku kenapa-napa, aku tahu nama yang sudah bikin aku celaka.Biar arwahku gak penasaran dan bingung mau gentayangin siapa. Aku Gendis," ujar Gendis sembari mengulurkan tangannya.
"Kalau mau ngajak kenalan, langsung saja.Gak usah pakai banyak alasan. Nama aku Kevin." pemuda yang ternyata Kevin itu menyambut uluran tangan Gendis.
"Ayo ikut aku sekarang! Dan ingat, nenek moyang kita memang bukan seorang pembalap,tapi harus kamu ingat juga,nenek moyang kita juga bukan seorang pelari." Kevin berbalik dan naik ke atas motornya dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
Tbc