
Sesampainya di rumah, Shakira langsung menuju kamar Shakila. Tangannya memutar handle pintu, dan membukanya perlahan-lahan.
Dia melihat, Shakila yang meringkuk di atas ranjangnya membelakagi pintu.
Shakira dengan perlahan mengahampiri Shakila dan berjongkok di depan wajah Shakila. Dia melihat pipi Shakila basah dan kelopak matanya membengkak,pertanda kalau dia baru saja menangis.
"Apa loe menangis dari tadi? maafin gue Kil! gara-gara gue, lo jadi sedih!" Shakira membelai lembut pipi Shakila.
Shakila tiba-tiba membuka matanya,karena merasa ada seseorang yang menyentuh wajahnya.
" Kira!" serunya, sontak bangkit duduk.
"Maaf, lo jadi bangun ya? tidur aja lagi!" Shakira berdiri dan berniat membatu Shakila untuk berbaring lagi.
Shakila langsung menepis tangan Shakira,dan menatapnya dengan dalam-dalam. Air matanya yang tadinya sempat terhenti, tiba-tiba kembali menetes membasahi pipinya.
"Lo,kenapa jauhin gue? apa salah gue Kir?" tanya Shakila dengan sesunggukan.
Shakira sontak memeluk Shakila, dan menyeka air mata dari pipi Shakila.
"Loe,gak salah apa-apa! gue yang salah. Gue sempat merasa iri sama loe!"
"Lo iri sama gue? kenapa?" kening Shakila bertaut tajam sehingga matanya yang memang sudah bengkak semakin tidak terlihat.
"Hmm, tidak ada! sekarang loe tidur aja lagi! gue mau kembali ke kamar gue,dan istirahat.Soalnya gue juga capek banget!", Shakira memutar kepalanya, berpura-pura kalau kepalanya tengah pegal sambil membalikkan badanya dan melangkah keluar.
"Ka, Shakira!" panggil Shakila tiba-tiba, hingga menyurutkan langkah Shakira yang hampir saja mencapai pintu.
"Lo,manggil gue Kakak?" Shakira mengrenyitkan keningnya,kembali menatap ke arah Killa.
"Iya! bukannya kata Papi kemarin,kalau sebenarnya yang kakak itu loe dan gue yang adik?"
"Jadi,lo udah mengakuinya?" seulas senyum bertengger di bibir Shakira, dan semakin lebar ketika Shakila menganggukkan kepalanya.
"Ka, kenapa,lo gak mau berterus terang, kenapa lo menghindari gue? apa karena Ka Rendi?"
Shakira terbeliak dan terkesiap,karena Shakila sepertinya sudah menyadarinya.
"Bukan! lo gak usah berpikiran macam-macam." Shakira masih berusaha menyangkal.
"Ka, gak usah berbohong! gue tahu kok kalau lo sebenarnya, menyukai Ka Rendi."
__ADS_1
"Hmm, emang kelihatan banget ya?" Shakira menggigit bibirnya.
"Bagi orang lain,mungkin mereka tidak akan tahu,karena loe terlalu pintar menyembunyikannya,dengan selalu bersikap biasa saja. Tapi lo jangan lupa,kalau gue ini adikmu. Gue bisa melihat dan merasakan kalau lo itu suka sama Ka Rendi," ujar Shakila.
Shakira kembali menghampiri Shakila dan mendaratkan tubuhnya di samping Shakila. Dia menghela nafasnya dengan panjang, lalu tersenyum miris. "Iya, gue akuin kalau gue emang suka sama Ka Rendi. Tapi dia tidak menyukai gue Kil, dia menyukai orang lain." jujur Shakira dengan lirih dan wajah sendu.
"Darimana lo tahu, kalau dia suka sama orang lain? apa Ka Rendi pernah bercerita sama lo?"
"Tidak! aku hanya merasakannya saja." Shakira tidak mau menceritakan yang sebenarnya, karena dia tidak mau, Shakila merasa bersalah.
"Tapi, itu kan mungkin hanya perasaanmu saja. Bisa jadi perasaan kamu itu tidak benar," tutur Shakila, berharap Shakira tidak mau menyimpulkan sesuatu itu terlalu dini.
"Udalah Kil, gak usah dibahas lagi! sekarang gue mau kembali ke kamar gue, gue mau istirahat sebentar, bye!" Shakira beranjak dan berlalu keluar dari kamar Shakila, setelah Shakila mengiyakan.
Shakira menutup pintu kamar Shakila dengan pelan. Lalu dia menghembuskan nafasnya dengan lambat. "Ka Rendi suka kamu Kil, bukan gue." bisiknya pada telinganya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Habis makan nanti ,Papi mau bicara sebentar sama kamu ya Kira!" ucap Seno setelah dia menghabiskan makan malamnya.
"Emm, mau bicarain apa Pi? kenapa cuma Kira saja?" Rendra buka suara, yang diangguki kepala oleh Kira dan Kila.
"Karena Papi cuma butuh bicara dengan Kira!", sahut Seno dengan raut wajah yang sukar untuk dibaca, sambil beranjak pergi meninggalkan meja makan.
"Kenapa dengan Papi, Mi? kenapa wajah Papi tidak bersemangat seperti itu? apa Kira ada buat kesalahan?" tanya Shakira.Wajar dia bertanya seperti itu, karena papinya hanya mau bicara dengannya saja.
"Hmm, tidak Sayang! sekarang kalau kamu sudah selesai makan, kamu langsung temui saja Papimu!" ujar Amira,dengan seulas senyuman yang tersemat di bibirnya. Tapi,siapapun akan bisa melihat,kalau senyuman itu sangat terpaksa bertengger di sana.
Shakira berdiri dari kursinya dan beranjak pergi meninggalkan meja makan untuk menemui Seno,papinya di ruang keluarga. Ada perasaan yang tidak nyaman menyelusup masuk ke dalam hatinya sekarang.
"Ada apa Pi?" Shakira langsung bertanya sambil mendaratkan tubuhnya duduk di samping Seno.
"Kamu udah selesai makannya?" Shakira menganggukkan kepalanya.
"Baiklah! Kira, dulu almarhum kakekmu punya seorang sahabat. Mereka berdua pernah berjanji untuk memper-erat persahabatan menjadi sebuah keluarga dengan menjodohkan anak masing-masing.Akan tetapi,mereka berdua sama-sama memiliki anak laki-laki, yaitu, Papi dan dari sahabat kakekmu itu namanya Ronald. Dengan begitu perjodohan batal. Akan tetapi, mereka ternyata kembali berjanji akan menjodohkan cucu mereka nantinya. Sekarang Sahabat kakekmu itu, menginginkan kembali perjodohan itu berlanjut karena dia tahu kalau Papi punya dua anak perempuan sedangkan dia punya satu cucu laki-laki.Jadi___"
"Jadi Papi berniat mau menjodohkanku dengan cucu sahabat kakek yang papi maksud? kenapa harus Kira, Pi? kenapa tidak Shakila saja?" tanya Shakira dengan suara yang mulai meninggi.
"Itu karena kamu Kakaknya Shakila, Kir!"
"Apakah, seorang Kakak diharuskan untuk selalu mengalah Pi? asal papi tahu, usiaku dan Shakila tidak berbeda, jadi tidak ada alasannya,aku kakak, dan dia adik. Atau jangan-jangan kalian semua lebih menyayangi Killa daripada Kira?!" Shakira tidak bisa menahan lagi amarahnya,sehingga suaranya menarik perhatian Rendra dan Shakila.
__ADS_1
"SHAKIRA!" bentak Seno. " Kami tidak pernah membedakan kalian berdua tapi__"
"Tapi apa Pi? semua sudah jelas. Semuanya memang lebih sayang sama Shakila.Buktinya Papi mau menjodohkanku dengan laki-laki yang tidak aku kenal sama sekali, kenapa tidak Shakila saja yang kalian jodohkan? HAH?!"
"Kak!" Shakila datang mendekat.
"Diam! jangan dekatin aku! Gue benci sama loe!" Shakira berlari masuk ke kamar, disusul oleh Seno dan Amira.
Sementara itu, Shakila tersungkur berlutut menangis tersedu-sedu. Rendra berdiri termagu,bingung mau membela siapa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Shakira, mengunci pintu kamarnya dari dalam dan mengabaikan suara Seno dan Amira yang meneriaki namanya dari luar. Dia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan menangis sambil memukul-mukul bantalnya.
"Apa aku tidak berhak bahagia? kenapa aku harus dijodohkan? sedangkan Shakila bisa menikah dengan laki-laki pilihannya? kenapaaaa?" teriak Shakira dari dalam kamar.
Dengan bantuan kunci cadangan akhirnya Seno dan Amira berhasil membuka pintu kamar Shakira.
"Shakira ... sabar sayang! papi sebenarnya ingin sekali menolak. Akan tetapi papi tidak kuasa untuk menolaknya, karena papi berhutang budi dengan beliau.Dulu di saat kakek kamu kecelakaan, beliaulah yang menyelamatkan nyawa kakekmu dengan memberikan darahnya, dan membiayai semua biaya rumah sakit." papar Seno dengan wajah sendu dan perasaan bersalah.
"Tapi kenapa harus Shakira Pi?" Shakira masih terisak-isak.
"Nak, bukannya kami pilih kasih, Papi milih kamu,justru karena papi lebih percaya sama kamu. Walaupun kamu dan Shakila usianya sama, tapi sikap kamu lebih dewasa dari adik kamu itu Kir, dan papi yakin kalau kamu pasti bisa lebih siap untuk berkeluarga dari pada Killa." tutur Seno, dengan lembut berharap Shakira mau mengerti.
"Sayang, kalau boleh milih, Papi dan mami juga mau kamu menikah dengan laki-laki pilihan hatimu.Tapi, ini semuanya di luar kuasa kami sayang!" Amira menimpali ucapan Seno sambil menyugar rambut Shakira yang sudah berantakan.
Shakira terdiam tidak menyahuti ucapan Seno.Tapi di dalam hatinya dia tetap saja belum bisa terima, akan menikah dengan orang yang tidak dikenalnya sama sekali.
" Sekarang kamu coba tenangkan pikiranmu dulu! baru nanti kamu bisa memberikan keputusanmu.Tapi kalau boleh, papi masih berharap kalau kamu akan menyetujuinya." ucap Seno sembari berdiri dari atas kasur Shakira dan mengayunkan kakinya untuk keluar dari kamar Shakira.
"Aku bersedia, Pi! kapan kami akan menikah?" putus Shakira pasrah.
Seno yang hampir saja mencapai pintu,berhenti mendadak dan memutar kembali badannya,lalu melangkah menghampiri Shakira.
"Terima kasih Sayang! Kakek Rahardian saat ini sedang sakit parah, dan berharap cucunya menikah secepatnya sebelum dia meninggal.Kalau kamu sudah setuju, pernikahan akan diadakan minggu depan."
"Hah? minggu depan?"
Tbc
Kalian pasti ingat dong siapa Rahardian?😁😁😁
__ADS_1
Jangan lupa untuk tetap like, vote dan komen ya gais. Karena like dan komen kalian semua merupakan penyemangat buatku.🥰😘🤗