
"Pi, bagaimana dengan saran aku yang minggu lalu? apa papi udah memikirkannya dengan baik? kalau sudah biar nanti malam kita kerumah Mbak Mutia, untuk membicarakan perjodohan Rendra dan Keysa." tanya Amira pada Seno sambil memasang dasi di leher Seno.
Seno menghela nafasnya dan beranjak ke arah nakas untuk meraih jam tangan yang akan dipakainya hari ini. Dia kemudian kembali berbalik menatap istrinya yang masih menatapnya dengan tatapan menunggu jawaban darinya.
"Maaf, Sayang! sepertinya aku tidak setuju menjodohkan mereka," sahut Seno. Terlihat kekecewaan yang terpancar di manik mata Amira mendengar jawaban suaminya.
"Tapi kenapa? apa karena dia anak mantan pembantu kita?"
"Bukan! aku tidak pernah memandang orang dari status keluarganya. Cuma menurutku, Keysa bukan wanita yang baik untuk Rendra. Karena setahuku, dia dulu suka gonta-ganti pasangan. Aku tidak mau nanti putra kita, sakit hati memiliki pasangan yang tidak bisa puas hanya dengan satu laki-laki saja." terang Seno memaparkan pandangannya.
"Papi jangan mengada-ada! bagaimana mungkin Keysa seperti itu?" Amira menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya dengan hal yang baru didengarnya dari mulut Seno.
"Hmm, mungkin kamu susah untuk percaya,tapi memang itulah kenyataannya. Banyak laki-laki yang dibuat sakit hati olehnya, karena ditinggal begitu saja tanpa penjelasan.__ ya sudah, aku mau berangkat dulu, kamu tidak usah terlalu memikirkannya! suatu saat Rendra pasti akan bertemu dengan gadis yang baik. Aku berangkat ya!" pungkas Seno sambil memberikan kecupan singkat di kening Amira yang bergeming dengan raut wajah kecewa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana, Mi? apa Mami udah ngomong sama Papi?" berondong Rendra setelah dia melihat Seno sudah beragkat ke kantor.
Amira menganggukan kepalanya, lemah. Dia bingung bagaimana menjelaskan pada putranya, yang pasti akan kecewa dengan ketidaksetujuan Seno.Ya, kemarin Rendra mendatanginya dan memintanya untuk menanyakan kelanjutan pembicaraan mengenai perjodohannya dengan Keysa.
"Jadi apa kata Papi, Mi?" Rendra terlihat tidak sabar menunggu jawaban.Hal itu membuat Amira semakin tidak tega memberitahukan pada anaknya, jawaban yang diberikan oleh Seno.
Amira menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan cukup panjang.
Kemudian dia menampilkan senyuman tipis di bibirnya.
"Ren, sepertinya Papi belum mau membicarakannya sekarang, karena masih sibuk. Kamu yang sabar ya! sekarang kamu pergi kuliah dulu, sehabis kuliah kamu kan harus ke perusahaan untuk bekerja. Jadi urusan tentang Keysa, nanti saja kita pikirkan ya Sayang" ucap Amira, sedikit berbohong pada Rendra.
__ADS_1
"Oh, gitu ya Mi! ya udah deh, Rendra ikut kata Mami saja! lagian ini karena Papi sibuk, jadi aku gak mau memaksa Papi untuk mengurusnya sekarang," ujar Rendra dengan raut wajah yang sedikit kecewa.
"Papi kamu tidak setuju, Nak, bukan karena dia sibuk," ujar Amira, yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati."
"Kalau gitu, Rendra berangkat sekarang ya, Mi! bye Mi!" Rendra mencium punggung tangan Amira dan berlalu pergi, meninggalkan Amira yang terpaku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Vin, maafin Papah, Nak! aku tidak butuh apa-apa, aku hanya butuh maaf dari kalian bertiga," mohon Satria sambil berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah Kevin.
"Maaf, Pak Satria! ini dikantor. Tolong jangan bawa urusan pribadi ke dalam kantor.Sekarang aku mau masuk dulu, soalnya aku punya banyak pekerjaan sekarang, permisi!" Kevin membuka pintu ruangannya,masuk dan menutupnya kembali.
Sementara itu, Satria bergeming, terpaku di tempatnya berdiri. Dia hanya bisa menatap pintu yang tertutup yang di dalamnya ada Kevin putranya.
"Harus bagaimana lagi, agar kalian bisa memaafkan Papah, Nak?" gumam Satria. Dia lalu memutar tubuhnya hendak melangkah pergi. Akan tetapi, langkahnya terhenti ketika dia melihat ada Seno yang sedang menatapnya dengan tajam.
"Jadi kamu adalah pria yang tidak bertanggung jawab, yang meninggalkan istri dan anak-anakmu demi wanita lain itu?" celetuk seseorang yang ternyata tanpa sengaja mendengar pembicaraan antara Kevin dan Satria.
"Aku sudah dengar semuanya Pak Satria. Kamu adalah pria yang meninggalkan Mba Mutia, Kevin dan Keysa. Aku memang tidak punya hak untuk mencampuri urusan keluarga anda. Tapi, sebagai orang yang jadi saksi melihat penderitaan mereka, aku tidak bisa kalau tidak bersuara," tutur Seno dengan tegas.
Satria tidak mampu untuk melihat Seno. Dia hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Aku sudah mendapat karma dari semua perbuatanku Pak Seno. Terimakasih, telah menolong mereka di saat aku tidak berguna buat mereka. Sekarang aku hanya bisa berharap, mereka bisa memaafkanku, itu saja!" Tampak ketulusan terselip di setiap ucapan Satria dan Seno benar-benar menyadari kalau Satria tidak sedang berpura-pura.
"Satria, Aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang. Tidak dianggap oleh anak-anak kita sendiri,adalah kesedihan yang teramat sangat. Tapi, itu adalah konsekuensi yang kamu dapat dari perbuatanmu selama ini. Satu hal yang harus kamu ingat, jangan pernah mengecewakan orang yang menyayangi kamu, karena suatu hari nanti, bisa jadi kamu yang di kecewakan orang lain, dan itu benar-benar sudah terjadi padamu sekarang.Dalam hidup ini tidak ada yang terjadi secara kebetulan, oleh takdir. Kamu sendirilah yang menciptakan nasibmu sendiri dengan tindakanmu. Sekarang aku tidak bisa membantumu lagi, kamu lah yang harus berjuang untuk mendapatkan maaf dari mereka. Semoga kamu berhasil." Seno menepuk pundak Satria, lalu melangkah masuk ke dalam ruangannya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Kevin meraih ponselnya yang sedang berbunyi. Bibirnya seketika menyunggingkan senyuman, begitu melihat nama yang sedang menghubunginya. Siapa lagi yang bisa membuat seorang Kevin tersenyum kalau bukan Gendis, gadis yang sudah menjadi kekasihnya sekarang.
"Iya, hallo Dis, ada apa?"
"Kok nanya-nya seperti itu? apa kamu tidak suka aku meneleponmu?" terdengar ucapan tidak senang dari ujung telepon dan Kevin dapat memastikan kalau sekarang pasti bibir Gendis sedang mengerucut di sana.
"Bukan seperti itu, ini kan masih pagi, waktunya bekerja, aku kira kamu mau membicarakan mengenai kerja sama pembuatan iklan itu,"
"Bisa tidak kamu sekali saja tidak terlalu serius Vin?"
"Semua ada waktunya Dis. Sekarang waktunya bekerja, jadi yang harus kita bicarakan itu ya tentang pekerjaan. Kalau di luar pekerjaan, beda ceritanya," tegas Kevin.
"Ya udah kalau begitu, aku matikan sekarang teleponnya!" gertak Gendis.
"Oh, Ok! nanti kita ketemu siang ini. Kita makan siang bersama," ujar Kevin yang tidak menyadari kalau Gendis sekarang sedang menggertaknya.
"Jadi aku matikan nih?" Gendis kembali menggertak.
"Iya, kamu bisa matikan sekarang!"
"Kamu gak ada niat, untuk bilang,jangan matikan sayang, aku masih kangen dengar suaramu, gak ada?" terdengar nada kesal dari Gendis di ujung telepon.
Kevin tergelak, begitu menyadari kalau Gendis sedang menggertaknya. Kevin bisa membayangkan bagaimana raut wajah kesal Gendis yang pasti sangat menggemaskan.
"Hmm, sayangnya aku gak kangen dengar suaramu, aku kangen sama manisnya bibirmu,"
tut ... tut ... tut
__ADS_1
Tawa Kevin kembali pecah,begitu menyadari kalau Gendis sudah memutuskan panggilan secara sepihak. Kevin berani jamin, kalau pipi Gendis, pasti sedang bersemu merah di sana.
Tbc