Dosenku Kekasihku

Dosenku Kekasihku
Berhasil mengingat.


__ADS_3

Sudah dua bulan berlalu, Lisa menjadi istri dari seorang laki-laki bernama Iqbal. Tapi selama itu pula, mereka belum pernah melakukan hubungan sebagaimana suami istri pada umumnya.Karena sesuai dengan yang dikatakan oleh Iqbal sebelumnya,kalau dia tidak akan menyentuh Lisa, sebelum Lisa siap untuk melakukannya. Akan tetapi, sebagai seorang suami,Iqbal selalu melakukan kewajibannya tanpa menuntut haknya sebagai seorang suami.


Jauh di dalam lubuk hati Lisa, dia merasa bersalah dan merasa berdosa, karena sebagai seorang istri dia benar-benar telah mengabaikan kewajibannya untuk melayani suami. Dan yang lebih penting lagi, sebenarnya benih-benih cintanya pada Iqbal sudah tubuh dan mekar. Akan tetapi, rasa ego dan gengsi masih berkuasa penuh di dalam hatinya.Di samping dia masih merasa malu untuk mengungkapkan isi hatinya, masih ada yang mengganjal di pikirannya, tentang kapan mereka bertemu pertama kali.


Setelah selesai menyiapkan sarapan sederhana buat mereka berdua, Lisa kembali masuk ke kamar dan melihat kalau Iqbal sudah tidak ada di atas tempat tidur. Dia mendengar suara gemericik air dari arah kamar mandi, pertanda kalau Iqbal sedang mandi.


Lisa melihat sebuah benda berbentuk persegi panjang, tergeletak di atas nakas samping tempat tidur mereka. Dengan hati-hati dia meraihnya. Dia sekilas melirik ke arah pintu kamar mandi untuk melihat apakah Iqbal akan keluar dari kamar mandi atau tidak. Setelah dirasa aman, karena memang biasanya Iqbal lama mandinya, Lisa akhirnya duduk di tepi ranjang dan berusaha membuka benda persegi panjang yang tidak lain adalah Handphone milik Iqbal. Dia berkali-kali mencoba, menekan angka-angka yang memiliki potensi yang dijadikan Iqbal sebagai kata sandi di handphonenya. Akan tetapi selalu gagal.


"Masa itu sih? kan gak mungkin! hmmm, aku coba dulu deh," Lisa menekan angka-angka yang merupakan tangga, bulan, dan tahun kelahirannya. Kedua netra Lisa membesar dengan sempurna begitu, handphone Iqbal berhasil terbuka.


Tanpa mau terlarut dengan rasa kagetnya, Lisa langsung beralih ke arah galeri, dan betapa kagetnya dia, galeri itu hanya berisi photo-phito dirinya, dan yang paling mengherankan, photo-photo nya itu, mulai dari usianya remaja sampai kuliah, bahkan ada photonya ketika masih anak-anak.


"Apa ini berarti dia sudah mengikuti'ku sejak dulu?" Lisa membatin sembari bergidik ngeri.


" Eh, buat apa aku takut? walaupun dia mengikuti sejak dulu, dia kan tidak membahayakan." bisik Lisa kembali dalam hatinya.


Merasa tidak menemukan apa-apa, hanya photo dirinya saja, Lisa mendesah kecewa. Kemudian tatapannya beralih ke arah dompet berwarna hitam yang sering dipakai oleh Iqbal. Untuk sejenak ekor matanya tertarik ke atas, melirik ke arah pintu Kamar mandi.


Lisa meraih dompet itu dan melihat isinya. Disana tampak jelas, ada photo pernikahan mereka dan photo dirinya. Lisa ingin mengembalikan photo itu kembali ke dalam dompet, akan tetapi, ketika dia melakukannya, ada selembar photo yang tampak sedikit lusuh terjatuh ke lantai. Lisa mengambil photo itu dan melihat siapa yang ada di dalam photo itu. Tampak di dalam photo itu,seorang remaja laki-laki yang menggunakan seragam SMA sedang tersenyum.

__ADS_1


Kedua netra Lisa langsung membulat dengan sempurna, melihat wajah laki-laki remaja yang ada dalam photo itu. Seketika bayangan kejadian, dimana dia membantu si remaja itu bersembunyi dari kejaran para preman, berkelebat di benaknya. Tanpa dia sadari, cairan bening merembes keluar dari kedua matanya. "Ja-jadi dia, pemuda yang aku tolong dulu? pemuda yang belum sempat aku tahu namanya, dan tempat tinggalnya. Dia sudah menguntit ku selama itu?" batin Lisa. Lisa mengingat bagaimana dia dulu juga berusaha untuk mencari laki-laki itu, di tempat biasa dia mengamen. Sewaktu Iqbal remaja meninggalkan pekarangan rumahnya, Lisa juga diam-diam mengintipnya dari balik gorden.


Lisa beranjak dari tempat dia duduk dan berjalan ke arah kamar mandi, bertepatan dengan Iqbal yang keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut seutas handuk di pinggangnya.


Tatapan keduanya untuk sepersekian detik terkunci. Detik berikutnya, Iqbal menyadari kalau ada sesuatu yang aneh pada istrinya.


"Lisa, kamu menangis? kamu kenapa bisa menangis? apa kamu ada yang sakit?" Iqbal mencengkram bahu Lisa dengan lembut, sembari mencecarnya dengan pertanyaan yang beruntun.


"Huaaa!" Lisa menghambur memeluk tubuh Iqbal dengan erat, semakin menangis histeris, melihat besarnya perhatian dan rasa khawatir Iqbal padanya.


Mendengar tangisan Lisa yang semakin kencang membuat Iqbal semakin panik. "Kamu kenapa Lis? apa ada yang menyakitimu?"


"Kenapa kamu tidak memberitahuku, kalau kamu ini, pemuda yang dulu aku bantu bersembunyi dari kejaran preman-preman itu, hah?!" Lisa memukul-mukul dada Iqbal dengan bahu yang turun naik.


Iqbal sontak menarik tubuh Lisa ke dalam dekapannya. Dia mendekap tubuh Lisa dengan sangat erat, seakan Lisa adalan miliknya seorang dan tidak mau membaginya pada orang lain.


"Kak, lepasin! aku gak bisa nafas," Lisa berusaha keluar dari dekapan Iqbal.


"Maaf ... maaf! habis aku sangat bahagia,kalau kamu sudah bisa mengingatnya." Iqbal akhirnya melonggarkan pelukannya dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa mengingatmu, dulu kamu begitu kucel, sekarang kamu sangat tampan." tanpa sadar Lisa merangkul pinggang Iqbal dan membelai-belai, dada bidang Iqbal yang 'shirtless', membuat Iqbal menahan nafas, karena ada sesuatu yang menggeliat bangun di bawah sana.


"Apa itu Kak?" Lisa memundurkan tubuhnya sambil melihat ke bagian bawah Iqbal, karena tanpa sengaja pahanya menyentuh sebuah benda yang sudah mengeras. Dia melihat, ada tonjolan di balik handuk Iqbal, membuat Lisa tercekat dan sulit untuk menelan ludahnya sendiri.


"Kamu sudah membuatnya bangun, Lisa! apa kamu mau membiarkan aku menidurkannya sendiri, seperti kemarin-kemarin atau sekarang kamu sudah mau membantuku untuk menidurkannya?" ujar Iqbal dengan manik mata yang menatap sendu dan penuh harap pada Lisa.


Lisa bergeming, mengerjab-erjapkan matanya sambil menggigit bibirnya.


Iqbal menghela nafasnya dan berdecak frustasi. "Baiklah, sepertinya aku akan menidurkannya sendiri lagi." Iqbal memutar badannya, hendak melangkah masuk kembali ke dalam kamar mandi. Akan tetapi, langkahnya terhenti, ketika mendengar ucapan Lisa.


"Bukannya aku gak mau, tapi kamu kan harus kerja hari ini!" senyuman Iqbal kembali terbit, sontak berbalik lagi, dan menarik tubuh Lisa ke arahnya.


"Aku bosnya. Pekerjaan bisa ditunda,tapi tidak dengan yang ini." Tanpa menunggu lagi, Iqbal mendaratkan bibirnya ke bibir Lisa, bibir yang selama ini, dia inginkan. Dia menyesap dan me****** bibir tipis Lisa dengan penuh perasaan. Sedangkan Lisa, yang bingung berusaha untuk membalas ciuman Iqbal.


"Lisa, Aku mencintaimu! bukan! tapi, aku sangat, sangat mencintaimu. Sebelum kita melakukannya, aku mau tahu bagaimana perasaanmu padaku, karena aku tidak mau,kalau kamu menyerahkan dirimu dengan terpaksa.


Lisa menundukkan kepalanya dengan kedua pipi yang sudah berubah warna menjadi merah.


"Aku juga mencintaimu, Kak Iqbal!" gumamnya tapi masih bisa terdengar jelas di telinga Iqbal.

__ADS_1


Akhirnya Pagi itu berubah menjadi pagi yang panas, untuk dua sejoli yang melakukan penyatuan untuk pertama sekali, sebagai suami-istri yang sah.


Tbc


__ADS_2