Dosenku Kekasihku

Dosenku Kekasihku
Keras kepalanya Lea.


__ADS_3

Lea berjalan mengendap-endap untuk menghidari beberapa orang laki-laki yang dia yakini suruhan Bimo ayahnya. Dari dulu dia paling kesal kalau diperlakukan seperti ini. Diw merasa kebebasannya tidak ada sama sekali.


"Ini pasti karena peristiwa kemarin! Ayah nih, menangapi apapun selalu berlebihan." Lea menggerutu sambil bersembunyi di balik tanaman pagar.


"Hei, ngapain loe ngendap-ngendap begitu?" Suara cempreng Shakila, terdengar jelas tertangkap oleh telinga Lea.


"Sttt! apa an sih lo Kil? bikin kaget gue aja!" cetus Lea sembari menghunuskan matanya.


"Lagian tingkah loe sih,mencurigakan. Loe lagi main petak umpet atau lagi mengintai sesuatu sih? tanya Shakila, dengan mata ya ikut melihat ke arah mata Lea menatap.


"Kila, loe nunduk dikit napa? gue lagi ngindarin orang bertiga tuh! mereka__,"


"Mereka mau nyelakain loe? kalau gitu gue hubungin Ka Dewa dulu." Shakila meraih ponselnya dan hendak menelepon Dewa.Tapi, sebelum terhubung Lea merampas ponsel Shakila dan menekan tombol batal.


"Mereka tuh bukan mau nyelakain gue!" sahut Lea dengan suara seperti berbisik.


"Jadi?" Shakila mengangkat alisnya ke atas.


"Makanya sebelum bertindak, loe dengarin dulu orang selesai ngomong! mereka tuh, bodyguard yang disuruh ayah buat jagain gue. Jadi, gue mau ngindarin mereka bertiga, karena gue malas dijagain. Berlebihan banget menurut gue." cerocos Lea dengan sudut bibir yang terangkat ke atas.


"Tapi itukan demi kebaikan loe, Le! kejadian kemarin tuh, bukan hal sepele loh.Loe merasa gak sih,kalau sekarang loe itu lagi diteror seseorang." ujar Shakila.


"Gue bisa jaga diri gue sendiri Kila. Gue gak merasa diteror kok.Jadi gak usah berlebihan deh!" ucap Lea keki.


"Terserah loe aja deh, Le! Loe memang susah kalau diomongin. Gue mau balik dulu, gue udah ditungguin sama Ka Dewa di parkiran, Bye Lea!" Shakila mengayunkan langkah,menjauh dari Lea.


Lea menghela nafasnya,menggigit bibir atasnya, dengan raut wajah yang seperti sedang memikirkan sesuatu. Ya, dia sedang memikirkan bagaimana caranya mengelabui 3 orang laki-laki berbadan besar suruhan ayahnya.


"Oh, bingo!" Lea menjentikkan jarinya, dengan senyum yang merekah,karena mendapat ide.


"Mereka kan pakai mobil, gue pakai motor.Gue lewat gang sempit yang gak bisa dilalui motor saja, pasti mereka gak bisa ngikutin gue lagi. Hehehehe!" Lea dengan semangat berdiri dari tempatnya berdiri. Dia berjalan melewati ketiga orang itu, berpura-pura seakan dia tidak tahu siapa mereka.


Lea dengan santai naik ke atas motor dan memakai helmnya.Lalu dia melajukan motornya, dengan kecepatan normal. Netranya melirik ke arah kaca spion, tersenyum licik melihat mobil yang membuntutinya.

__ADS_1


Tiba disebuah gang yang sangat sempit,Lea pun membelokkan motornya seperti yang dia rencanakan sebelumnya. Dia tersenyum kemenangan karena merasa sudah berhasil mengelabui orang-orang suruhan ayahnya.


Sementara itu ketiga orang yang berada di mobil, mulai panik karena kehilangan jejak Lea.


"Aduh, sepertinya dia sudah menyadari kalau kita mengawasinya dari jauh. Bagaimana ini? kita sudah kehilangan jejaknya!" ucap salah satu pria yang memiliki postur lebih tinggi dari kedua rekannya


"Aku tahu gang ini tembus kemana. Kita harus segera menyusul ke sana, sebelum kita benar-benar kehilangan jejaknya.Bisa-bisa kita kena amukan Tuan Bimo." sahut pria yang mengudikan mobil.


Dengan menaikkan kecepatan, mobil yang berisi tiga orang itu, melaju menuju arah tempat tembusnya gang kecil itu. Sesampainya di sana mereka sepertinya benar-benar telah kehilangan jejak Lea.


"Gawat, sepertinya kita sudah terlambat!" ujar sang pengemudi sembari memukul stir.


"Atau jangan-jangan kamu salah, bro! takutnya gang tadi, tembusnya gak di sini!" ucap laki-laki berambut gondrong.


"Gak ada lagi, jalan lain kecuali ke sini bro. Aku udah pernah melewati jalan ini." sahut sang supir.


"Tunggu dulu! lihat, bukannya itu motornya Non Lea?"


"Itu, di sana!" pria berpostur lebih tinggi itu menunjuk ke arah motor yang terparkir di tengah jalan.


"Oh iya! ayo kita lihat ke sana!" Mereka bertiga keluar dari dalam mobil dan melihat kalau itu memang benar-benar motor Lea. Mata mereka mengedar mencari keberadaan Lea, tapi mereka tidak menemukan sama sekali.


"Bro, ini bukannya ponsel Non Lea?" Pria berambut gondrong mengutip ponsel yang tergeletak di aspal.


"Gawat, berarti Non Lea diculik! bagaimana ini? kita pasti habis sama Tuan Bimo!" wajah ketiganya mulai terlihat panik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Jadi apa rencanamu Bim? tanya Seno, setelah selesai menyeruput kopi dan meletakkan kembali ke atas meja.


"Untuk saat ini, selagi masih mengumpulkan bukti, aku sudah memerintah 3 bodyguards untuk mengawasi Lea dari jauh. Aku berharap Lea akan baik-baik saja sampai kita berhasil mengumpulkan bukti." Seno mangut-manggut mendengar penuturan Bimo.


"Hmm, bagaimana pendapat Galang mengenai tindakan loe ini?"

__ADS_1


"Awalnya dia tidak setuju, karena dia mau menyelesaikannya sendiri. Aku paham maksud dia.Dia merasa, sebagai seorang laki-laki, harga dirinya terluka karena merasa dianggap tidak mampu untuk melindungi orang yang dia cintai. Tapi setelah aku jelaskan, dia akhirnya mengerti dan menerima bantuanku. Seandainya dia tidak setujupun, aku pasti akan selalu melindungi Lea,karena Lea putriku dan masih tanggung jawabku. Sekalipun dia nantinya sudah menjadi tanggung jawab Galang, kalau aku masih mampu, aku akan tetap melindungi putriku." tutur Bimo tegas dengan binar yang berapi-api.


"Ada telpon tuh! angkat dulu!" Seno menunjuk ke arah handphone Bimo yang berbunyi.


Bimo meraih ponselnya dan langsung menyentuh tombol jawab,karena tang memanggil dari nomor salah satu bodybguard yang dia perintahkan mengawasi Lea.


"Iya, ada apa?" tanya Bimo.


"....."


"APA?! kok bisa? kenapa kalian bisa sampai kecolongan?! bentak Bimo dengan intonasi suara yang sangat tinggi, sehingga menarik perhatian para pengunjung cafe tempat dia dan Seno berada sekarang.


"......"


"Brengsek!" Bimo memutuskan panggilan dengan wajah yang sudah memerah dan rahang yang mengeras. Manik matanya sekarang terlihat sangat gelap,karena tertutup oleh kabut amarah.


"Kenapa Bim?" tanya Seno dengan alis yang bertaut tajam.


"Lea diculik Sen,"


"Hah, kok bisa?!"


"Seperti biasa, Lea yang yang keras kepala, berhasil mengelabui bodyduard suruhan gue, dengan lewat gang sempit, yang tidak bisa dilalui oleh mobil. Setelah para bodyguard itu, menyusul ke mana gang itu tembusnya,Lea sudah menghilang."


"Ya udah sekarang kita harus bergerak secepatnya!" ucap Seno. "Apa kamu punya petunjuk Bim?" sambung Seno,bertanya kembali.


"Sebenarnya aku, aku sudah memasang alat penyadap di ponsel Lea, tapi kata mereka ponsel Lea dan tasnya jatuh dan tertinggal di jalanan." jawab Bimo dengan wajah yang terlihat panik dan khawatir.


"Hmm, kamu harus tenang dan berdoa, mudah-mudahan Lea baik-baik saja sampai kita menemukannya nanti. Sekarang kamu hubungi Galang dulu!"


Tbc


Jangan lupa buat ninggalin jejaknya ya gais.🙏😍🤗

__ADS_1


__ADS_2