
Iqbal melangkah dengan wajah yang terlihat kusut. Dia masuk ke ruang kerjanya dan menyenderkan tubuhnya ke kursi kebesarannya. Dia begitu kesal, karena Lisa tidak mengingat apapun tentang dirinya, bahkan masih menuduhnya sebagai 'pria brengsek' dan tidak percaya kalau dirinya justru menyelamatkan Lisa.
POV Iqbal
Aku jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang gadis kecil, yang usianya terpaut jauh dariku. Dia begitu manis di mataku, saat dia menampilkan senyumannya. Sayangnya dia berbeda jauh dariku, karena dia sepertinya memiliki hidup yang layak, berbanding terbalik dengan diriku yang yatim piatu yang hanya untuk mencari sesuap nasi saja sangat susah. Lisa ... ya, nama gadis kecil itu adalah Lisa.Gadis kecil yang membuatku memiliki motivasi untuk sukses. Kesuksesan yang akan ku nikmati bersama dengannya nanti.
Bersyukur Tuhan memberikan aku kepintaran di atas rata-rata, sehingga aku bisa menamatkan SMA ku di usia 17 tahun. Aku juga bahkan mendapat beasiswa siswa kuliah di universitas ternama di Indonesia dan berhasil lulus hanya dalam waktu 3 tahun saja. Begitu lulus, Tuhan kembali menunjukkan kebaikan-Nya padaku dengan ditawarinya aku,sebuah pekerjaan di sebuah perusahaan besar yaitu Wijaya Group, dan satu hal yang aku tahu, aku bekerja di tempat yang sama dengan Pak Satria,yaitu ayah dari Lisa. Akan tetapi, pada saat itu, beliau tidak pernah sekalipun melirikku. Selama bekerja, aku selalu menghemat, untuk bisa mendirikan usahaku sendiri. Akhirnya di tahun ke -3 aku bekerja di perusahaan itu, Tuhan akhirnya menjawab doa-doa ku, sehingga lambat laun aku mulai bisa membangun bisnisku sendiri, yang tentu saja mendapat dukungan dari Suseno Mahardika Presdir di Wijaya Group. Lelah? tentu saja aku lelah. Tapi begitu mengingat tujuan hidupku, dan membayangkan senyuman Lisa, membuatku kembali bersemangat.
Bagaimana dengan Lisa? tentu saja dia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, yang hanya bisa aku pandangin dari jauh. Kalau boleh dikatakan aku adalah 'Stalker setianya', tapi yang jelas aku tidak berbahaya tentunya. Hampir setiap hari aku meguntitnya, tanpa berani muncul di depannya.
Aku juga tahu, kalau dia sering membully teman-temannya, dan aku sangat menyayangkan hal itu. Tapi anehnya rasa cintaku tidak berkurang sedikitpun padanya. Kenapa? ya karena aku tahu, kalau di balik sifat sombongnya dia tetap pribadi yang baik. Dia sombong dan suka membully orang, karena dia butuh perhatian. Dia mau jadi pusat perhatian orang,makanya dia mau berteman dengan orang-orang yang menurutnya selevel dengannya. Dia melakukan hal itu, karena dia tidak mendapatkan perhatian dari kedua orangtuanya yang sibuk di luar sana. Papahnya sibuk bekerja sedangkan mamahnya sibuk dengan geng sosialitanya. Makanya ketika ada orang yang dia lihat lebih darinya, dia akan merasa posisinya terancam dan akan melakukan berbagai cara untuk menyingkirkan orang tersebut.
__ADS_1
Aku ingin sekali menegurnya agar tidak bersikap 'sombong'. Akan tetapi, ketika aku hendak melakukannya, aku melihat kalau sebenarnya dia tidak sepenuhnya sombong. Aku melihat kalau dia masih memiliki 'empati' pada orang-orang yang tidak mampu. Ya, aku pernah dan bahkan sering melihat dia membagi makanan pada orang-orang di jalanan, dan tentu saja dia lakukan sendiri dan tidak diketahui oleh teman-temannya.
Aku begitu hancur, di saat aku sudah sukses dan ingin muncul di depannya, aku menemukan kalau dia sudah tidak tinggal di rumahnya lagi karena papahnya ketahuan korupsi. Akan tetapi, aku sangat yakin, kalau Lisa adalah tulang rusukku yang hilang, dan suatu saat pasti akan kutemukan kembali.
Lagi-lagi Tuhan menunjukkan kebaikan-Nya padaku. Di saat aku melakukan kunjungan ke resortku yang di Bali, tanpa sengaja aku melihat wajah yang sangat ku rindukan sedang berjalan sendiri di tepi pantai. Aku ingin menyapanya, tetapi waktu dan situasi yang tidak memungkinkan dimana aku sedang bersama dengan klien, membuatku batal menyapanya. Beruntungnya aku punya asisten yang cepat tanggap, yang hanya dengan lirikan mata, sudah mengerti apa yang akan dilakukan.
Kenapa aku mengatakan kalau aku justru yang menyelamatkannya? ya, karena memang aku lah yang menyelamatkannya dari mamahnya yang hendak menjual Lisa pada laki-laki tua. Dengan teganya wanita itu, menawarkan Lisa putrinya pada bangkot tua itu, sebagai pelunas hutang. Dan bila mengingatnya sampai sekarang aku masih ingin sekali membunuh wanita yang tidak pantas disebut sebagai ibu itu.
Aku begitu marah, frustasi begitu mendengar kalau anak buahku gagal membawa Lisa padaku, apalagi begitu aku tahu, kalau yang menolongnya adalah seorang laki-laki dan seorang wanita muda. Ingin aku membunuh anak buahku, tapi aku tidak sekejam itu. Aku tetap berpikir positif kalau aku dan Lisa akan tetap bersama nantinya. Entah dari mana datangnya pemikiran seperti itu, yang jelas aku percaya pada apa yang aku yakini itu.
Kalau orang mengatakan aku gila, ya aku memang gila. Karena rasa cintaku pada Lisa membuat aku gila. Persetan dengan anggapan orang-orang yang mengatakan kalau apa yang kurasakan bukan 'cinta' melainkan 'obsesi'. Bukan mereka yang tahu aku, tapi diriku sendirilah yang tahu bagaimana perasaanku sebenarnya. Karena sejujurnya, walaupun aku mencintai Lisa, tapi aku tetap mendukung pilihannya. Kalau dia memang sudah mencintai seorang pria, aku sudah berjanji dalam hati akan merelakannya, walaupun memang rasanya sakit. Apa aku salah kalau sekarang aku memaksakan kehendakku untuk menikahinya? tidak salahkan? toh dia belum punya pasangan dan tidak lagi mencintai seseorang.
__ADS_1
Tadi dia mengatakan kalau dia tidak mau menikah denganku karena dia tidak mencintaiku. Sakit? tentu saja rasanya sakit. Akan tetapi aku berusaha untuk tersenyum menanggapinya. Aku berkata dalam hati, "tidak apa-apa kamu tidak mencintaiku, yang penting kamu tetap ada di sisiku. Biarkan saja aku yang mencintaimu, karena itu sudah lebih dari cukup. Dan aku akan tetap berusaha agar kamu juga mencintaiku."
Aku merasa diriku jahat ketika dia akhirnya menyetujui menikah dengan ku,hanya karena supaya aku melepaskan mamahnya. Aku bingung kenapa dia masih memikirkan mamahnya, yang jelas-jelas tidak memikirkannya sama sekali. Akan tetapi aku tersentuh ketika dia mengatakan " bagaimanapun dia itu tetap mamahku," Tapi persetan dengan itu semua, yang jelas sekarang dia sudah setuju menikah denganku, itu sudah lebih dari cukup bagiku. Sekarang hal yang akan ku lakukan adalah, ' berusaha membuat dia juga mencintaiku'.
POV Iqbal end
"Brengsek, antarkan aku pulang sekarang, bajingan!" teriakan Lisa sambil menggedor-gedor pintu ruang kerjanya, membuat lamunan Iqbal langsung ambyar. Bukanya marah, Iqbal justru tersenyum, dia menganggap umpatan Lisa, merupakan nyanyian baginya.
Tbc
Please tetap meninggalkan jejaknya ya gais, dengan like, vote dan komen thank you.😍🤗
__ADS_1