Dosenku Kekasihku

Dosenku Kekasihku
Hati-hati sama Dina.


__ADS_3

"Kak Kevin, dimana motor Kak Gendis? apa hilang tau bagaimana?" Keysha terlihat panik ketika dia tidak menemukan motor Gendis lagi.


"Gak usah banyak tanya Key, sekarang kamu naik aja ke motor, nanti kita bisa telat." sahut Kevin.


"Tapi Ka, ini masalah serius.Nanti kalau Ka Gendis, nanyain gimana?"


"Ada apa ini? kok kalian berdua belum berangkat? nanti kalian bisa telat." tiba-tiba Ibu Mutia muncul dari dalam rumah.


"Mah, motor Ka Gendis hilang. lihat! motornya gak ada lagi di sini." raut wajah Keysa terlihat seperti ingin menangis.


"Lho kok bisa?!" Ibu Mutia ikut-ikutan panik.


"Motornya gak hilang, dia sudah bawa pulang sendiri tadi malam." sahut Kevin santai.


Kedua wanita berbeda usia itu,sontak menatap Kevin dengan tatapan yang menurut Kevin sangat horor.


"Apa maksudnya dia bawa sendiri Vin? jangan bilang kalau kamu tidak mengantarkannya tadi malam?" tanya ibu Mutia dengan tatapan menyelidik.


"Iya,Mah! aku tidak mengantarkannya pulang!"


"Tapi, kenapa?" Ibu Mutia kembali bertanya.


"Mah, sampai kapan aku harus mengantarkannya pulang? kalau motornya sudah tidak ada di sini, dia tidak punya alasan lagi untuk datang ke sini."ujar Kevin.


Ibu Mutia menghela nafasnya dengan hembusan yang panjang. Dia berpikir, kalau dia sudah egois memaksakan kehendaknya, agar Kevin mengantarkan Gendis pulang, padahal putranya itu pasti capek seharian bekerja.


"Jadi, kalau kamu tidak mengantarkannya pulang, kemana kamu tadi malam? kenapa kamu tidak langsung masuk ke dalam rumah?"

__ADS_1


Kevin refleks memalingkan wajahnya, begitu mendengar pertanyaan mamahnya, seperti ada sesuatu yang tengah dia sembunyikan dan tidak boleh diketahui oleh mamah dan adiknya.


"A-aku keluar sebentar buat cari angin Mah." ucap Kevin tanpa menatap ke arah mamahnya sama sekali.


Dia bingung dan merasa dirinya bodoh dengan tingkahnya tadi malam,yang membuntuti Gendis dan memastikan gadis itu sampai di tempat dia tinggal dengan selamat, baru dia kembali pulang ke rumahnya.


"Udah ya Mah! kami mau berangkat dulu. Key, ayo naik, nanti kita bisa telat!" Kevin mencium punggung tangan mamahnya lalu memasang helmnya. Kevinpun melajukan motornya setelah Keysa naik di boncengannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gendis dan Lea, terlihat berjalan memasuki sebuah cafe untum makan siang.Sedangkan Galang tidak bisa ikut karena ada pekerjaan yang sangat penting yang harus segera dia selesaikan. Jadilah Lea perginya berdua dengan Gendis.


"Lea, kamu mau mau makan apa?" tanya Gendis sembari memperlihatkan buku menu yang ada di tangannya.


"Hmm, terserah Kakak aja deh, aku ngikut aja.Soalnya aku gak pemilih soal makanan, dan tidak punya alergi juga.


"Ka, kenapa wajah kakak dari tadi terlihat tidak semangat? kakak ada masalah ya?" tanya Lea, yang tidak dapat lagi menahan rasa penasarannya sejak bertemu dengan Gendis tadi di kantor Galang.


"Aku gak pa-pa kok Le, aku cuma sedikit pusing saja. Nanti kalau sudah minum obat pasti akan baikan juga." sahut Gendis yang berusaha menyembunyikan rasa sedihnya dengan senyuman.


"Oh, begitu ya Ka?"ucap Lea dan Gendis menganggukkan kepalanya membenarkan.


Disaat yang bersamaan,pesanan mereka berdua pun datang, dan merekapun langsung menyantap makanan masing-masing.


"Le, aku tidak bermaksud untuk menakutimu,tapi aku ingin kamu tahu,kalau dulu ada seorang perempuan yang sangat terobsesi pada Ka Galang.Dia akan menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan Ka Galang, bahkan untuk melukai perempuan yang dekat dengan Galang pun dia akan lakukan. Namanya Dina," tutur Gendis, yang membuat Lea terkesiap kaget dan bahkan hampir menyemburkan minimunya ke wajah Gendis.


"Di-Dina? apa sekarang dia masih mengejar-ngejar Ka Galang Kak?" tanya Lea dengan mata yang menyipit.

__ADS_1


Gendis menghela nafasnya dengan panjang,tapi berat. Dia menatap manik mata Lea yang terlihat was-was. "Belakangan ini bahkan sudah hampir setahun ini, Dina tidak pernah lagi muncul dan mengganggu Ka Galang dan aku tidak tahu kenapa.Tapi, aku pernah menanyakannya pada Galang,kenapa perempuan gila itu,tidak pernah muncul lagi, Ka Galang bilang ,kalau dia sudah mengatakan dengan tegas kalau dia tidak akan pernah menyukai gadis itu. Tapi entah kenapa,aku belum benar-benar yakin, kalau perempuan itu udah menyerah untuk mendapatkan Galang.Aku merasa,sepertinya dia lagi mempersiapkan sebuah rencana licik untuk bisa mendapatkan Ka Galang kembali." Gendis meneguk habis air putih yang ada di depannya, setelah berucap panjang lebar tanpa jeda pada Lea.


"Bagaimana, Kakak tahu sikap Dina seperti itu? apa Ka Galang yang menceritakkannya pada Kakak?" Lea berusaha mengorek informasi yang lebih mendalam tentang wanita gila yang disebut Gendis sangat terobsesi dengan Galang.


"Aku dulu pernah mengunjungi Ka Galang ke London selama dua minggu, dan aku pernah hampir jadi korbannya.Dia mengira kalau aku ini pacar Ka Galang. Aku mencuri dengar,kalau dia menyuruh orang untuk memasukkan obat perangsang ke dalam minumanku dan menyuruh orang tersebut melecehkanku. Setelah itu dia akan memfitnahku pada Ka Galang, seolah-olah aku ini wanita tidak benar. Untungnya saat itu aku pura-pura pusing dan sengaja menabrak si pembawa minuman itu, sehingga minumannya pun tumpah. Ka Galang langsung membawaku pulang saat itu." tutur Gendis, yang membuat Lea bergidik ngeri.


"Apa Ka Galang tahu tentang itu?"


"Iya, dia tahu! Ka Galang langsung memperingatkan dia, dan mengatakan kalau aku ini adik sepupunya. Dari situ dia langsung berubah manis padaku, dan selalu berusaha untuk dekat denganku. Cih ... mana sudi aku dekat dengan dia." Gendis mengendikkan bahunya dan menarik bibirnya ke atas, tersenyum miring seraya berdecih.


"Serem juga ya Ka?" Lea sekali lagi bergidik ngeri.


"Iya, makanya, kamu harus hati-hati. Entah kenapa aku mencurigai adanya konspirasi antara Rosa dan Dina. Soalnya Gelagat Rosa sangat mencurigakan. Aku pernah mendengar samar-samar dia menyebut nama Din saat dia lagi menelepon seseorang. Tapi, aku belum bisa memastikannya.Mudah-mudahan itu tidak benar. Tapi, alangkah baiknya,kalau kamu berhati-hati mulai sekarang


"Iya, Ka! terima kasih buat infonya." Ucap Lea tersenyum tulus.


Bunyi dering telepon dari ponselnya Gendis, menghentikan pembicaraan mereka berdua. Gendis langsung menjawab panggilan itu, yang berasal dari Galang kakak sepupunya sekaligus bosnya di kantor.


"Ha__"


"KAMU MASIH MAU BEKERJA ATAU TIDAK? KAMU MAKAN SIANG ATAU LAGI TIDUR?!" belum sempat Gendis menyapa, suara teriakan dari Galang sudah terdengar dari ujung sana,yang membuat Gendis otomatis menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Le, kita harus kembali ke kantor! si udang galah ngamok."ucap Gendis berdiri dari kursinya.


"Oh, iya Ka! kalau gitu kakak tunggu di parkiran, aku pergi bayar dulu!"


Tbc

__ADS_1


__ADS_2