
"Ngapain loe ke kantor gue?" tanya Galang,begitu Rendi masuk ke dalam ruangannya dengan wajah yang terlihat lelah.
"Gue mau istirahat sebentar aja di sini Lang?gue capek banget dua hari ini." sahut Rendi sembari mendaratkan tubuhnya duduk di sofa.
"Capek ngapain Loe? ganas juga loe ya? tiap malam loe ngelakuin itu, apa Shakira gak gepeng, loe timpa mulu?" Galang tersenyum meledek.
"Kan dia gak selamanya di bawah Lang, di atas, di samping, di ...,"
"Haish, ngomong apaan sih nih berdua? gak nyadar apa kalau ada anak kecil yan imut dan polos plus menggemaskan di sini?" celetuk Gendis yang bibirnya sudah mengerucut.
"Menggemaskan dari mana?__ eh, iya, kamu memang menggemaskan, gemas sampai pengen nampol." Rendi terkekeh mendengar ledekan Galang pada Gendis yang sekarang justru makin mengerucutkan bibirnya selancip-lancipnya.
"Sebenarnya dua hari ini loe capek ngapain sih Ren?" Galang kembali ke topik semula.
"Bantuin Papi Seno buat ngurusin pernikahan Shakila," sahut Rendi sambil menghela nafasnya.
"Maksudnya? Shakila menikah dengan siapa?" kening Galang mengrenyit,penasaran.Jangan lupa sama Gendis yang pura-pura sibuk dengan berkas di tangannya, padahal dia memasang telinganya setajam-tajamnya untuk mendengar pembicaraan kedua pria itu.
"Papi Seno, akan menikahkan Shakila dengan Kevin di hari yang sama dengan pernikahan Dewa dan Kirana, besok. Tapi__"
Dug ....
"Eh,maaf!" ucap Gendis gugup, sambil merapikan kembali berkas yang terjatuh dari tangannya, karena kaget mendengar kalau Kevin akan menikah dengan Shakila besok.
Dua pasang mata milik Rendi dan Galang, sontak menatap Gendis dengan alis yang terangkat ke atas. "Kamu kenapa Dis?" tanya Galang.
"Nggak Pa-pa Kak, tadi Gendis hanya sedikit pusing saja, makanya berkasnya bisa jatuh.Mungkin karena Gendis kurang tidur semalam." ucap Gendis memberi alasan sambi menngigit bibirnya.
"Makanya, kamu harus mengurangi nonton drakor malam-malam. Sekarang kamu pulang aja dulu dan istirahat di rumah! berkasnya kamu letakkan di meja ini dulu." titah Galang.
"Kalau begitu aku pamit ya, Ka Lang, Ka Rendi," Gendis melangkah keluar, setelah kedua laki-laki itu menganggukkan kepala.
__ADS_1
Setelah Gendis sudah di luar, Gendis menyandarkan tubuhnya di tembok sambil memegang dadanya yang terasa sakit, dan cairan bening yang tadi berusaha dia tahan, dengan lancangnya merembes membasahi pipi mulusnya.
"Ternyata sesakit ini rasanya patah hati." gumam Gendis, sembari menyeka air matanya. Lalu dia pun mengayunkan langkahnya kembali,untuk pulang ke rumah dan menyendiri.
"Tadi kamu bilang 'tapi', tapi apa Ren?" tanya Galang, kembali ke pembicaraan awal.
"Oh, iya, tadi aku belum selesai ngomong ya?" Galang mengangukkan kepalanya membenarkan.
Rendipun mulai melanjutkan ucapannya yang sempat tertunda,karena insiden Gendis yang menjatuhkan semua berkas-berkas ke lantai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari yang seharusnya jadi hari yang membahagiakan buat Dion dan Kirana sudah tiba. Kirana sudah dirias cantik oleh MUA dengan sangat cantik, tapi kecantikannya sama sekali tidak terpancar karena matanya terlihat sendu, dan tidak terlihat lengkungan keatas, di bibirnya.Pokoknya pancaran aura bahagia tidak ada sama sekali, yang terlihat adalah wajah yang muram.
"Aku pasrah ya Tuhan.Kalau memang ini takdirku, aku terima dengan hati lapang." batin Kirana sembari menundukkan kepalanya.
"Mah, apa emang harus begini akhirnya? apa tidak bisa dibatalkan saja? aku benar-benar tidak mau menikah dengan Dewa,Mah! kasihan dia dan Shakila." Kirana masih mencoba bernegosiasi pada mamahnya,berharap mamahnya mau mengerti.
"Maafin mamah sayang! kamu harus tetap menikah! Mamah tidak mau,kamu jadi bahan gunjingan orang-orang kalau kamu batal menikah.Kamu tenang saja, semua akan berjalan dengan baik.Ayo kita keluar dari sini!" Tania membantu putrinya berdiri dan menuntunnya berjalan keluar.
Sementara itu di sebuah rumah mewah, Shakila sama sekali belum dirias, entah apa alasan Seno papinya memundurkan waktu pernikahannya agak siangan. Shakila tampak duduk termenung di anak tangga rumahnya dengan tatapan yang kosong.
"Shakila, kamu ngapain melamun di sini?" tiba-tiba Amira maminya sudah berdiri tepat di depannya.
"Aku gak melamun kok Mi! cuma lagi meratapi nasib." ucap Shakila lesu.
"Kamu masuk ke kamar kamu dan cobalah untuk istirahat sebentar. Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak! percayalah kalau semuanya akan baik-baik saja," Amira membantu putrinya itu untuk berdiri dan menuntunnya naik ke atas menuju kamar Shakila.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kirana dan Dewa sekarang sudah berdiri berdampingan dan siap untuk mengucapkan janji nikah, yang akan membuat mereka sah menjadi suami istri.
Di barisan tamu, tampak juga wajah sahabatnya, Galang dan Lea kekasihnya.Diantara para tamu, tidak telihat wajah Dion dan Rendi, dan Dewa tahu betul alasan keduanya tidak hadir. Dion pasti tidak akan kuat menyaksikan wanita yang dicintainya menikah dengan sahabatnya sendiri, sedangkan Rendi, dia pasti menghadiri pernikahan Shakila wanita yang dia cintai dengan pemuda yang bernama Kevin.
Diantara para tamu juga, hadir dua wanita licik, dalang dari semua kekacauan yang terjadi, siapa lagi mereka kalau bukan Ratih dan Minah mamahnya. Apalagi tujuan mereka kalau bukan hanya memastikan kalau yang menikah bukan Dion.
"Baiklah! kedua mempelai, sebelum kalian sah menjadi suami istri, apa kalian merasa terpaksa dalam pernikahan ini?"
Kedua calon pengantin itu kompak terdiam dan bahkan tidak saling menatap dari tadi.
" Ti-tidak ada!" jawab Dewa dengan berat hati.
" Baiklah, kalau begitu kita mulai saja upacara pernikahannya, saudara Dewa____"
"Berhenti!" terdengar suara laki-laki berteriak dari arah pintu masuk. Semua mata sontak menoleh ke arah pintu dan kaget melihat kehadiran Rendi yang disusul oleh Dion yang sudah tampak gagah memakai pakaian pengantin di belakang Rendi. Di belakang Dion juga muncul Bimo dan Tiara istrinya, Laura kakaknya serta Aarash kakak iparnya. Jangan lupakan, Beni dan istrinya yang merupakan orangtua angkat dari Dion juga sudah hadir di tempat itu.
"Pengantin laki-laki yang seharusnya berdiri di sana adalah sahabatku ini, dan aku disuruh papi mertuaku untuk menjemput menantunya, pengantin laki-laki yang berdiri disana." Rendi menunjuk ke arah Dewa, yang terlihat kebingungan dengan alis yang bertaut.
"Mah, kok jadi begini?" bisik Ratih yang mulai blingsatan di antara keriuhan para tamu undangan.
"Kamu tenang saja! mamah tidak akan tinggal diam, kalau Dion menikah dengan perempuan itu.Mamah membawa semua bukti-buktinya kok di dalam tas mamah." Minah menenangkan Ratih, padahal dirinya sendiripun sekarang sudah merasa tidak tenang. Apalagi ketika melihat wajah Kemal papahnya Kirana yang tidak terlihat marah, bahkan terlihat sangat santai.
Tbc
readers: hah kok bisa jadi begitu?
Author: nanti akan ada bab flashbacknya.Sabar aja ya Kakak-kakak. Bab sebelum ini sebenarnya, sudah up dari kemarin sore, tapi sistem mungkin lgi error, makanya baru muncul sekarang. Karena itu, aku sempat malas buat nulis.😁😁 Jangan lupa buat ninggalin jejaknya ya Kaka-kaka. Thank you.
__ADS_1