
Bunga-bunga, pohon-pohonan, dan segala tanaman lainnya sedang bergembira,menari-nari mengikuti hembusan angin karena diguyur hujan untuk pertama kalinya tadi malam. Tapi sepertinya kebahagiaan para tanaman itu, tidak berlaku buat Dewa. Bagaimana tidak,semalaman dia tersiksa dengan pemandangan siluet dua buah kelereng berwarna pink kecoklatan yang menyembul dari balik tanktop Shakila yang tipis. Berkali-kali dia bolak-balik ke kamar mandi untuk bermesraan dengan sabun. Shakila benar-benar tidak peka, dia masih tetap dengan kebiasaannya yang kalau tidur tidak memakai benda yang mirip kaca mata itu.
Kejadian pada Seno dulu kini terulang pada Dewa. Bedanya, kalau dulu Bimo menghadiahi Seno, Sabun untuk seminggu sedangkan Dewa tidak ada sama sekali. Buntut dari semua itu, pagi ini Dewa bangun dengan mata yang berkantong seperti mata panda.
"Kenapa dengan matamu, Dewa? tadi malam kebanyakan ya?" sindir Seno, ketika mereka sedang menikmati sarapan pagi, sehingga Dewa hampir saja menyemburkan makanan yang ada di mulutnya. Ya, untuk seminggu ini, Dewa dan Shakila diminta Seno dan Amira untuk tinggal di rumah mereka dulu sebelum pindah ke rumah Dewa nantinya.
"Iya kayanya Pi! Ka Dewa kebanyakan makan di pesta Ka Dion. Makanya tadi malam dia bolak-balik ke kamar mandi." bukannya Dewa yang menjawab,justru Shakila yang menyeletuk asal.
Seno dan yang lainnya saling silang pandang, mendengar celetukan yang keluar dari mulut Shakila. "Ya Tuhan apa keputusanku menikahkan dia sudah benar? bahkan yang aku maksud juga dia belum mengerti." batin Seno.Kemudian dia menatap wajah Dewa yang tidak bergairah sama sekali.
"Sepertinya, Dewa belum mendapat jatahnya tadi malam. Atau jangan-jangan Shakila tidak mau ngasih? Dia kekamar mandi pasti lagi ngelakuin yang itu. Kasihan Dewa," Seno kembali berbisik,menatap kasihan pada Dewa.
"Apa sabun di kamar mandi kalian stok masih ada Wa?kalau udah habis, nanti papi belikan." ujar Seno, yang terasa ambigu buat Shakila, Amira dan Rendra, tapi sangat memalukan buat Dewa.
"Hmm iya, Pi! tadi aku mau mandi, sabun cairnya tinggal sedikit lagi dan yang batang udah raib entah kemana." lagi-lagi Shakila menyeletuk dengan asal.Kali ini Rendra dan Amira yang tadinya masih bingung kenapa pembicaraan mengarah ke sabun, berusaha menahan tawa karena sekarang, mereka sudah mengerti maksud pembicaraan Seno.
Semua mata langsung menatap Dewa dengan tatapan yang sukar untuk dibaca antara meledek atau kasihan. "please jangan liatin aku napa," Dewa membatin dengan kepala yang menunduk tidak berani mengangkat wajahnya. Ingin rasanya saat ini dia membenamkan kepalanya, ke lapisan
tanah yang paling dalam saking malunya.
"Oh ya Pi, nanti kalau mau beli sabun, Kila nitip pembalut ya!" celetuk Shakila kembali
"Ohhh!" Seno, Amira dan Rendra yang ada di meja makan itu, menganggukkan kepala bersamaan, mengerti dengan apa yang terjadi.Wajah ketiga orang itu juga sudah berubah merah dan kencang karena berusaha menahan tawa.
"Ren, tolong bagi sabun yang ada di kamar mandimu buat Dewa ya? nanti papi ganti!" ucap Seno terkesan biasa saja, tapi bagi Dewa itu merupakan suatu ledekan.
"Siap Pi! Rendra mengayunkan tangannya membuat gerakan menghormat.
__ADS_1
"Hmm, mau langsung pergi dari sini, kesannya aku gak sopan. Tapi kalau lama-lama di sini aku bakal habis jadi bulan-bulanan mereka. Aku harus bagaimana ya Tuhan?" Jerit hati Dewa.
"Ehm,Pi, Mi, Ren sepertinya aku mau ke atas dulu, soalnya ada tugas mahasiswa yang mau aku periksa." akhirnya Dewa menemukan alasan yang menurutnya tepat.
"Oh, silahkan nak Dewa!" sahut Seno dan Amira bersamaan, sedangkan Rendra cukup hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah tubuh Dewa menghilang, Seno, Amira dan Rendra tidak dapat lagi menahan tawa mereka. Tawa mereka akhirnya pecah memenuhi meja makan, hingga membuat kening Shakila mengrenyit bingung.
"Lagi ngetawain apa Mi, Pi? ada yang lucu ya? cerita dong!" tanya Shakila dengan polosnya, sehingga membuat tawa ketiga orang itu semakin pecah.Dengan polosnya, tawa ketiga orang itu menular pada Shakila, sehingga Shakila juga ikut tertawa walaupun dia tidak tahu, apa yang lucu.
Melihat Shakila yang ikut tertawa, membuat Rendra bangkit berdiri dan beranjak hendak meninggalkan meja makan.
"Mau kemana Ren?" tanya Seno di sela-sela tawanya.
Rendra menyurutkan langkahnya, lalu memutar tubuhnya. "Aku ada janji bertemu dengan sabun Pi. Jadi, aku mau jumpain di dulu," sahut Rendra sambil beranjak pergi, diiringi suara tawa Seno dan Amira yang semakin pecah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Pi, sepertinya kisah kita terulang ke Shakila dan Dewa ya?" ucap Amira, yang masih belum bisa move on dari kelucuan di meja makan tadi.
"Lebih parah Dewa, sayang. Udah nikahnya sama bocah polos, persediaan sabun juga tidak ada," Seno kembali tertawa.
"Oh ya Pi,bagaimana kalau Rendra kita nikahkan juga, biar kita cepat dapat banyak cucunya."
"Rendra masih terlalu muda, Sayang! lulus kuliah saja belum," sahut Seno.
"Shakira dan Shakila juga masih muda, jadi kenapa kamu sudah menikahkan mereka?" Amira tidak puas dengan jawaban yang diberikan Seno suaminya.
__ADS_1
"Mereka berdua itu perempuan, dan suami mereka, orang-orang yang sudah dewasa dan bertanggung jawab. Sedangkan Rendra, dia itu seorang laki-laki, yang dituntut bisa bertanggung jawab untuk keluarganya kelak. Dia masih perlu banyak belajar mendewasakan diri, Sayang. Walaupun dia pewaris perusahaan, bukan berarti dia bisa enak-enak tinggal menikmati hasil. Dia harus belajar bagaimana mengelola perusahaan dengan benar, agar bisa menjadikan perusahaan itu menjadi masa depan buat keluarganya kelak," papar Seno dengan cukup jelas. Amira mangut-mangut mengerti dengan apa yang baru dijelasakan oleh suaminya itu.
"Lagian, seandainya mau dinikahkan pun, dia mah dinikahkan dengan siapa? dia sama sekali belum pernah terlihat dekat dengan wanita, selain Shakira, Shakila, Lea dan Vina," sambung Seno kembali.
"Tadinya aku mau menjodohkannya dengan Keysa putrinya Mbak Mutia. Selain karena merasa bersalah, kita memanfaatkan Kevin kemarin, aku juga merasa kalau Keysa anaknya baik, Pi." ujar Amira.
"Hmm,kamu tidak perlu merasa bersalah, sayang karena sebelumnya aku udah ngomong baik-baik dengan dia. Justru kita akan merasa bersalah, kalau seandainya dia menikah dengan Shakila, karena dari penilaianku sebagai seorang laki-laki, aku bisa melihat dari manik matanya, Kevin sama sekali tidak memiliki perasaan lagi buat Killa. Justru dia merasa panik ketika Dewa belum datang dan tersenyum lega ketika Dewa sudah datang. Aku rasa dia sudah memiliki wanita lain yang dia sukai," tutur Seno, meredakan rasa bersalah Amira.
"Bagus deh kalau begitu! Tapi, entah kenapa aku ingin Keysa jadi menantu kita. Mungkin karena aku sudah mengenalnya dari dia bayi, sehingga aku mengganggap dia seperti putri sendiri dan rasanya tidak rela kalau dia sama orang lain."
"Tapi, kita tidak boleh memaksakan kehendak kita, sayang. Biarlah Rendra yang menentukan pilihannya." Ucap Seno bijaksana.
"Aku mau Pi!" celetuk Rendra, yang tiba-tiba muncul dari atas tangga.
"Hah?! kamu mau menikah muda? pernikahan itu bukan main-main Ren," ujar Seno menanggapi.
"Tidak harus menikah sekarang,Pi! bertunangan aja dulu."
"Tunggu ... tunggu! jangan bilang kalau kamu menyukai Keysa?" ekor mata Seno menyipit,menatap Rendra dengan tatapan menyelidik.
"Bu- bukan seperti itu, Pi! aku cuma mau buat Mami senang saja, dan aku percaya kalau pilihan mami pasti yang terbaik," sangkal Rendra dengan memalingkan wajahnya, berharap Seno papinya tidak bisa melihat kebohongannya
"Apa benara seperti itu?" Seno masih menatap Rendra dengan penuh selidik.
"Be-benar, Pi! a-aku pergi dulu, masih ada tugas kampus yang belum selesai." Rendra memutar badannya dan sedikit berlari kembali ke kamarnya, guna menghindari pertanyaan-pertanyaan papinya. Sedangkan Seno dan Amira saling pandang sambil mengulum senyum penuh makna di bibir masing-masing.
"Dia sama sepertimu dulu! sok ga suka padahal aslinya bucin." celetuk Amira menyindir Seno.
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa buat ninggalin jejaknya ya gais.Like, rate, vote dan komen.Thank you