Dosenku Kekasihku

Dosenku Kekasihku
Shakira patah hati.


__ADS_3

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 11 pagi,menjelang siang.Shakira tampak sudah rapi dengan mini dress, berwarna hitam dan dalaman kaos putih. Dan jangan lupa,sepatu andalannya, sneaker berwarna putih.


"Mau kemana Kir?" tanya Amira yang terlihat tampak rapi, dan sepertinya mau keluar juga bersama sang papi.


"Mau nonton,Mi sama Lea!"


"Lho, killa mana? kok dia gak ikut?" Seno menoleh ke atas,untuk mencari keberadaan putrinya yang satu lagi.


"Dia, tidak mau ikut, Pi! katanya dia lagi malas kemana-mana."


"Tumben! ya udah kamu hati-hati ya! ingat pulangnya jangan kemalaman.Mami sama papi, juga ada janji makan siang sama Om Bimo dan Tante Tiara." pesan Amira dan Shakila mengiyakan sembari mengayunkan langkahnya, menuju motornya.


Selepas kepergian orangtua dan saudari kembarnya,Shakilapun turun dari atas dan sudah tampak rapi dengan penampilan casualnya. Kaos putih yang dipadupadankan dengan jeans hitam.


Ya ... hari ini, dia sengaja mengatakan pada Shakira kalau dia lagi malas kemana-mana.Padahal hari ini dia ada janji, untuk kencan perdana dengan Dewa.


Shakila mengerucutkan bibirnya, sewaktu melihat pesan dari Dewa, yang mengatakan gak usah dandan cantik-cantik.



...----------------...


Shakira sudah tiba di mall tempat dia janjian dengan Lea. Dengan seulas senyuman yang mengembang di bibirnya, dia berjalan masuk untuk menemui Lea,yang katanya sudah tiba di depan pintu bioskop dan sudah membelikan tiket buat mereka berdua.Lea bahkan sudah membelikan popcorn, minuman pepsi untuk mereka berdua.



Shakira melihat Lea sudah menunggu, dengan ponsel di tangannya, sepertinya dia berniat untuk menghubungi Shakira kembali.Tapi diurungkannya ketika dia sudah melihat kedatangan Shakira.



"Loe, lama banget sih Kir? gue sampai lumutan nungguin lo tahu nggak?!"Seru Lea dengan wajah yang ditekuk kesal.


"Maaf, tadi jalan kesini entah kenapa bisa macet. Ayo kita langsung masuk aja ke dalam!" Shakira menggandeng tangan Lea dan mengayunkan kakinya untuk masuk ke dalam bioskop,yang kini sudah terlihat banyak yang antri hendak masuk ke dalam.


Tanpa sengaja mata Shakira menangkap sosok laki-laki, yang sudah 5 bulan ini dekat dengannya, bersama seorang perempuan. Tangan mereka berdua saling bertaut erat dan perempuan itu, meletakkan kepalanya di pundak si laki-laki.

__ADS_1


"Apa itu Juna? tapi, siapa perempuan itu?" Shakira berbisik di dalam hati, dan nyaris melangkah mendekati si laki-laki itu. Akan tetapi, tangannya ditahan oleh Lea, sehingga dia mengurungkan langkahnya.


"Lo mau kemana? gak usah kemana-mana deh! bentar lagi giliran kita." Lea menghunuskan tatapannya ke arah Shakira,tapi Shakira tidak perduli sama sekali. Matanya tetap tak berpindah dari kedua makhluk di depannya, yang terlihat sangat romantis.


Akhiranya giliran Shakira dan Lea yang masuk, setelah kedua makhluk yang menarik perhatian bahkan sudah menjadikan mood Shakira down seketika, sudah masuk terlebih dulu ke dalam.


"Loe, kenapa sih diam aja Kir? Lo gak pa-pa kan?" Lea menatap Shakira dengan alis yang bertaut tajam, penasaran melihat perubahan mood Shakira.


"Gue, gak pa-pa kok Le!" Shakira menyunggingkan senyumnya ke arah Lea, suapaya sepupu sekaligus sahabatnya itu gak khawatir.


...----------------...


Di dalam sebuah rumah yang terbilang mewah, terjadi ketegangan antara ayah dan putranya. Tidak ada satupun diantara mereka yang mengalah. Like father like son begitulah gambaran yang terjadi pada kedua laki-laki berbeda generasi itu, sama-sama keras kepala.


"Rendi,kenapa sih kamu selalu membangkang sama Papi? hah?! Papi hanya mau kamu berhenti jadi dosen dan bantu papi di perusahaan." laki-laki setengah baya bernama Ronald, yang merupakan ayah dari Rendi itu,terlihat frustasi karena tidak tahu lagi bagaimana caranya membujuk putrannya supaya mau membantunya mengolah perusahaan.


"Pi, aku kan sudah bilang kalau aku akan tetap membantu papi, tapi tolong izinkan aku melakukan hal, yang selama ini aku ingin lakukan." Rendi,bersikukuh dengan kemauannya.


"Tapi, itu akan menyita banyak waktu dan tenagamu Ren! Papi tidak mau semua urusan perusahaan terbengkalai gara-gara pekerjaanmu yang lain."


"Tidak! mulai besok kamu harus berhenti jadi dosen dan mulai masuk ke perusahaan! Ronald tidak kalah tegasnya.


"Maaf, Rendi tidak mau!" Rendi berdiri dan beranjak meninggalkan Papinya, yang wajahnya sudah mengeras menahan emosi.


"Rendi,kamu mau kemana?! kembali ke sini! papi belum seleseai bicara." teriak Ronald dengan nada suara yang sangat tinggi.


"Stop! kenapa sih,setiap hari ini yang selalu kamu bahas?biarkan dulu dia melakukan hal yang ingin dia lakukan, jangan selalu memaksakan kehendakmu, Sayang!" Naura, mami Rendi yang dari tadi diam saja,akhirnya buka suara.


"Tapi, sayang__"


"Tidak ada tapi-tapi! asal kamu tahu, kalau segala pekerjaan yang dilakukan dengan tidak ikhlas itu, hasilnya juga tidak akan baik. Jadi, biarkan dulu dia, dengan apa yang benar-benar ingin dia lakukan sekarang.Kamu harus yakin,kalau suatu saat dia akan benar-benar fokus pada perusahaan." Naura menenangkan suaminya sembari mengelus-ngelus dada suamianya.


"Sayang,kamu memang yang terbaik!" Ronald mengecup kening dan bibir Naura istrinya. "Tapi sayang, kamu sadar tidak, kalau tindakanmu sekarang, sudah membuat adik kecilku bangun? jadi, sekarang kamu harus tanggung jawab menidurkannya kembali." Ronald sontak mengangkat Naura,ala bridal style masuk ke kamarnya.


...----------------...

__ADS_1


Film yang ditonton oleh Shakira dan Lea, dari tadi sudah selesai. Tapi, kalau Shakira diminta untuk menceritakan kembali isi film, dapat dipastikan kalau dia tidak akan bisa menceritakanya kembali,karena dia sama sekali tidak fokus menonton.Pikirannya dari tadi selalu fokus pada Juna dan perempuan yang tadi bersamanya.


"Lo kenapa sih diam saja dari tadi Kira? ada sesuatu yang lo pikirkan ya?" ekor mata Lea menyipit, curiga pada Shakira.


"Nggak ada apa-apa Lea!__ Aku ke toilet dulu ya! kamu tunggu di sini dulu!" Shakira mengayunkan langkahnya, dengan mata yang mengedar,berharap masih melihat keberadaan Juna. Dia juga berkali-kali menghubungi nomor Juna, tapi panggilannya selalu direject.


Akhirnya dia menemukan keberadaan dua orang yang dicarinya dari tadi di sebuah restoran yang ada di mall itu. Sepertinya mereka sedang makan siang. Shakira mengayunkan kedua kakinya,menghampiri kedua orang itu.


"Juna, siapa dia? dan kenapa telponku tidak kamu angkat-angkat?" Shakira kini sudah berdiri tepat di samping pemuda bernama Juna itu.


Untuk sejenak Juna terlihat kaget. Akan tetapi, dia langsung bersikap biasa dan berdiri dari kursinya.


"Oh, iya kenalkan dia Ratih, pacarku!" ucap Juna tanpa ada perasaan rasa bersalah sama sekali. Sedangkan perempuan bernama Ratih itu, terlihat tersenyum sinis menatap Shakira.


"P-pacar? t-tapi kita kan tidak pernah putus sama sekali." Kedua netra Shakira sudah mulai terlihat berembun.


"Oh iya, kebetulan kamu ada disini! aku mau bilang kita putus."


"Kenapa? apa karena dia?" Shakira menunjuk wajah Ratih dengan suara yang mulai meninggi,hingga menarik perhatian semua orang yang ada di sana, tak terkecuali seorang laki-laki yang baru masuk ke restoran itu.


"Bukan! cuma aku capek dan bosan, dengan hubungan kita, pacaran tapi seperti tidak pacaran. Kita jarang jalan seperti orang pacaran pada umumnya. Aku bosan dengan alasanmu yang selalu tidak mau orang tahu,kalau kita pacaran." Juna mencondongkan tubuhnya ke telinga Shakira.


"Satu hal lagi, kamu itu tidak punya apa-apa yang aku harapkan.Dan yang paling aku kesalkan, kamu tidak pernah mau dicium.Kamu memang gadis membosankan!" bisik Juna sembari menyeringai sinis.


Shakira meraih gelas berisi orange juice, dan menyiramkannya ke wajah Juna.


"Brengsek! laki-laki bejat sepertimu memang cocok dengan perempuan murahan kayak dia!"


"Hei, jaga mulutmu!" Juna mengayunkan tangannya, hendak memukul Shakira. Akan tetapi, tangan Juna berhenti di udara, ketika ada tangan besar menahan tangannya.


"P-Pak Rendi?"


Tbc


Ekspresi Rendi saat baru masuk ke restoran

__ADS_1



__ADS_2