
Wajah Dion terlihat sangat kusut seperti tidak memiliki semangat hidup lagi.
"Yon, loe makan dulu! dari tadi pagi kata Om Beni loe tidak ada menyentuh makanan sama sekali." Dewa,menyerahkan bungkusan makanan yang baru saja dia beli.
"Kalian makan saja dulu! aku tidak ada selera buat makan." sahut Dion lesu.
"Sedih juga butuh tenaga Yon. Kalau loe begini,masalah tidak akan selesai. Sekarang kamu makan dulu!" timpal Rendi sedikit memaksa.
"Kalau kalian ada di posisi gue, apa kalian akan tetap berselera untuk makan? untuk semangat hidup aja sekarang gue tidak punya," Dion menggusak rambutnya dengan kasar, lalu membenturkan kepalanya ke atas meja.
"Sudah Dion! jangan melukai dirimu sendiri!" Galang meletakkan tangannya di meja, guna menghidari kepala Dion terbentur ke meja, tapu justru ke tangannya. "Sekarang coba kamu jelaskan sama kita, bagaimana bisa itu terjadi? mana tahu kita punya solusinya." sambungnya lagi.
Dion menghembuskan nafasnya ke udara dengan sekali hentakan, berharap beban di hatinya ikut terbuang bersama dengan nafas yang terbuang tadi.Akan tetapi, itu satu hal yang tidak mungkin tentunya.
Dion menatap ke arah ketiga sahabatnya, yang juga menatapnya dengan manik mata yang menunggu penjelasannya.
Flashback on.
3 Minggu yang lalu ....
Dion merogoh ponselnya dari dalam saku celananya,karena ponselnya berbunyi tanda ada yang sedang menghubunginya. Dion melihat nama Ratih tertera di layar ponselnya sedang memanggil.
Tanpa menaruh curiga sama sekali, Dion menjawab panggilan Ratih, karena hubungan keluarga mereka sudah membaik setelah kejadian Bono papahnya Ratih sekaligus adik dari papah angkatnya,meminta maaf dan menyesali perbuatannya selama ini ke Beni papah angkatnya.
"Iya, ada apa, Tih?"
"Ka Dion, tolongin Ratih Ka! Tadi aku sama teman-teman rencana mau nginap di hotel.Tapi pas aku lagi di kamar mandi, mereka pergi diam-diam.Aku sekarang gak punya uang Ka, tolong datang ke sini dan bantu bayarin Ka." Suara Ratih terdengar seperti menangis ketakutan dari ujung telepon
"Sekarang kamu di hotel mana? aku kesana sekarang!" Dion tanpa curiga sama sekali, langsung keluar dengan tergesa-gesa dari rumah setelah Ratih menyebutkan nama hotelnya. Dia melesatkan mobilnya menuju hotel tempat Ratih sekarang berada.
__ADS_1
20 menit kemudian, Dion sampai di hotel yang dimaksud oleh Ratih. Dia berjalan dengan gagah menuju kamar yang nomornya sudah dikirim lewat pesan oleh Ratih tadi.
Setelah mengetuk pintu berkali-kali akhirnya, Ratih membukakan pintu dan mengembangkan senyumnya melihat kehadiran Dion.
"Tih ayo buruan keluar! ini sudah sangat larut, aku akan antar kamu pulang setelah ini," ucap Dion, sambil melirik jam tangannya.
"Ka Dion, masuk dulu sebentar! aku mau ambil tas dulu ke dalam." pinta Ratih sembari membuka pintu lebar-lebar.
"Tidak usah! aku nunggu di sini saja!, kamu ambil tas kamu aja sekarang!" Dion kekeh bertahan berdiri menunggu di depan pintu, karena merasa tidak enak kalau berduaan di kamar dengan seorang perempuan. Walaupun perempuan itu sepupunya. Apalagi Ratih, tidak benar-benar sepupunya.
Air muka Ratih, mendadak kecewa, tapi dia tidak kehabisan akal.
"Perut aku sakit Ka! aku mau ke toilet, dan mungkin butuh waktu yang agak lama. Kak Dion gak mungkin kan menunggu lama di sini. Nanti kakak bisa dicurigain lagi." Ratih mencoba mencari alasan, agar Dion mau masuk ke dalam kamar.
Dion menghela nafasnya, dan berpikir kalau ucapan Ratih benar. Kalau dia berdiri lama di depan pintu, dia nanti akan dicurigai kriminal oleh pihak hotel.
Tanpa disadarinya, Minah mamahnya Ratih yang sudah menunggu di dalam dan bersembunyi di balik tembok dengan sigap menutup hidung dan dan mulut Dion denga sapu tangan yang sebelumnya sudah dibubuhi dengan obat bius.
Disaat cahaya mentari sudah mulai menerobos paksa masuk ke dalam kamar, Dion terbagun dengan tubuh yang yang sudah polos dan terbaring sambil memeluk tubuh Ratih yang sama-sama polos.
"Ratih, apa-apa an ini? apa yang sudah kamu. perbuat?" Dion melompat dari atas ranjang lalu menyambar pakaiannya dan langsung megenakannya dengan cepat.
"Aduh, kok berisik banget sih Ka? aku masih ngantuk ini. Ratih kembali menarik selimut dan kembali memejamkan matanya.
Dion mengusap wajahnya dengan kasar, mengusak rambutnya, gusar. Dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi. Yang pasti, dia menyadari kalau sekarang dirinya sudah dijebak.
"Ratih ... bangun kamu! sekarang jelaskan apa yang sudah kamu perbuat padaku?" Sentak Dion dengan suara yang sudah meninggi.
Ratih membuka matanya dan dengan malas duduk menyender di sandaran divan sambil menyungingkan senyuman smirk di bibirnya.
__ADS_1
"Ka, jangan pura-pura tidak tahu deh.Melihat kondisi kita seperti ini, pasti Kaka sudah cukup tahu apa yang sudah kita lakukan tadi malam." ujar Ratih dengan santai.
"Kamu jangan mengada-ada deh! aku tidak pernah merasa kalau aku berbuat seperti ini dengan kamu! Karena kamu itu sepupuku." Dion menggeleng tidak percaya.
"Terserah,kalau Kakak tidak mau percaya. Yang jelas kita sudah melakukannya. Eh bukan kita, tapi aku.Hehehe!" Ratih terkekeh.
"Apa maksudmu?!" bentak Dion yang sudah mulai emosi. Itu terlihat dari rahangnya yang mengeras dan matanya yang sudah memerah.
"Ka Dion ... Ka Dion, apa kakak berpikir kalau selama ini aku benar-benar menganggap kakak sepupuku? aku itu selalu menganggap kalau kakak itu calon suamiku, dan tidak boleh ada yang memiliki kakak selain aku. Jalan satu-satunya ya ini, aku memerkosa Kakak. Aku rela memberikan keperawananku pada Kakak, yang penting Kakak batal menikah dengan Kirana. Aku memang yang memerkosa Kakak, tapi orang-orang tidak akan percaya kalau seorang perempuan yang memerkosa laki-laki bukan? Jadi, sekarang Kakak terima nasib saja, kalau kakak memang ditakdirkan untukku." Ratih tersenyum kemenangan, sedangkan Dion tersungkur ke belakang hingga membentur tembok.
Dion bangkit kembali, dengan mata yang menyala-nyala, dia mendekati Ratih dan mencekik lehernya.
"Brengsek kamu Ratih! dasar perempuan tidak tahu diri! Kamu kira aku bisa percaya begitu saja dengan ucapanmu?hah?!" Dion yang kalap,hampir tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Dia. mencekik Ratih dengan sangat kencang, sehingga Ratih megap-megap hampir kehabisan nafas.
Untungnya Dion masih memiliki sedikit kesadaran dan langsung melepaskan tanga nya dari leher Ratih, sebelum perempuan itu benar-benar kehabisan nafas.
Ratih terbatuk-batuk sambil memegang lehernya yang sudah memerah bekas cekikan Dion.
"Kakak, mau membunuhku? apa Kakak kira dengan membunuhku, kakak akan bisa tetap menikah dengan Kirana? justru Kakak akan mendekam di penjara seumur hidup. Lagian kalau kakak tidak percaya, kakak bisa lihat di atas kasur itu, ada bercak darah yang sudah mengering. Kalau kakak membunuhku, kakak juga kemungkinan membunuh calon anak kita yang mungkin sudah ada,karena aku lagi dalam masa subur saat ini." ucap Ratih.
"DIAM!! aku tidak percaya dengan apa yang kamu bicarakan. Yang jelas, kamu jangan mimipi kalau aku akan menikahimu. Cam kan itu!" Dion memutar badannya, beranjak keluar dari kamar itu.
"Terserah, Kakak mau percaya atau tidak! tapi yang jelas aku akan memberitahukan apa yang terjadi semalam ke orangtua Kiranaaa!" teriak Ratih, sebelum Dion benar-benar menghilang dari hadapannya.
Flashback off
Tbc
Please kasih Rate, dan votenya dong ke novel ini. Biar aku makin semangat. Jangan lupa kasih like dan komen juga ya gais, kasih hadiah juga bolehπππ
__ADS_1