
"Ugh!" Rendi pura-pura melenguh sembari memijat kepalanya yang tidak sakit sama sekali.
"Pak, Pak Rendi sudah sadar?" Shakira menghela nafas lega.
"Dasar gadis bodoh, seharusnya yang perlu dia khawatirkan itu dirinya sendiri.Yang terluka kan dia?" bisik Rendi pada dirinya sendiri.
"Pak, anda kok diam saja? Bapak benar-benar tidak apa-apa kan?" Shakila yang tadinya sudah merasa lega, kini kembali panik.
"Aku tidak apa-apa! kamu tenang saja! Oh ya kamu tidak apa-apa kan? apa ada yang terluka?" Rendi berpura-pura tidak tahu.
"Aku tidak pa-pa Pak! Tapi, aku yang kesenggol dan jatuh, kok bapak yang pingsan ya?" Shakira menautkan kedua alisnya.
Deg ...
"Mati gue! gue harus jawab apa sekarang?"
"Hmm, itu, aku mudah sekali kaget sekarang.Tadi aku sangat kaget, makanya bisa sampai pingsan!" Rendi menyahut asal.
"Apa Pak Rendi punya penyakit jantung atay semacamnya?"
"Bagaimana ini? kalau aku jawab iya, takutnya benaran kejadian, tapi kalau aku jawab tidak, pasti muncul pertanyaan baru, yang akan pasti akan menjebak aku
"Ah, tentu saja tidak! aku cuma gampang kaget saja!" sangkal Rendi sedikit gugup.
"Hmm, tapi Pak__, kalau kita mudah kaget, dan sampai mengakibatkan pingsan, bisa jadi jantung Pak Rendi memang bermasalah. Ada baiknya Pak Rendi periksakan ke dokter ahli." Shakira semakin memperkuat dugaannya.
"Apa kamu sedang mendoakanku terkena penyakit jantung?"intonasi suara Rendi sudah mulai kesal.
"B-bukan begitu Pak! aku cuma menyarankan Bapak buat periksa, bukan mendoakan." Shakila gelagapan, merasa tidak enak hati.
"Aku berani jamin,kalau aku tidak apa-apa. Kamu gak perlu khawatir."
"Yang mengkhawatirkan Pak Rendi siapa? aku gak khawatir Pak, cuma seperti yang aku bilang tadi, me-nya-ran-kan." Shakira menekan kata menyarankan sampai mengeja per suku kata.
__ADS_1
"Shakira ..., bisa tidak kamu kalau ngomong itu, jangan terlalu eksplisit? karena itu terlalu menyakitkan. Kamu kan bisa pura-pura mengiyakan, kalau kamu lagi khawatir.Menyenangkan orang itu walau bohong sedikit itu,pahala lho!"
"Yang namanya bohong itu tidak pernah jadi pahala Pak. Berbohong demi menyenangkan orang lain itu, senangnya hanya sementara Pak. Nanti kalau kita tahu kenyataannya,akan jauh lebih menyakitkan hasilnya.Jadi lebih baik kita jujur walaupun menyakitkan."
"Kamu sudah berbicaranya? bisa kita pulang sekarang?" Rendi benar-benar kehabisan kata-kata.
"Ya udah, silahkan Pak Rendi pulang! Aku akan pulang sendiri." Shakira kembali beranjak dengan Melangkah perlahan, seraya meringis menahan perih pada lututnya. Dia menyurutkan langkahnya ketika Rendi kembali memanggilnya
"Shakira! kamu, naik saja ke dalam mobilku! kamu biar aku antar pulang!"
"Tidak perlu Pak! kalau aku ikut bapak, bagaimana dengan motorku?"
"Kamu masukkan aja kedalam mobilku?" sahut Rendi tanpa berpikir.
"Pak,Rendi anda dosen atau nggak sih? bagaimana mungkin motorku muat di dalam mobil bapak?" Shakira menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan pemikiran Rendi.
"Oh iya ya?hehehehe! jangan bawa-bawa profesi dosen deh! gak ada kaitannya!"
"Adalah Pak, harusnya seorang dosen itu__"
"Enak saja bapak kalau bicara. Itu motor kesayanganku,motor yang kubeli dari hasil tabunganku,bukan dibelikan oleh Papi." bibir Shakira kini terlihat maju, lebih maju dari hidungnya yang mancung.
"Iya,iya maaf! motornya biarkan saja di situ, nanti aku akan suruh orang buat antar ke rumah kamu." Shakira mengrenyitkan kedua keningnya, penasaran siapa sosok Rendi yang bisa menyuruh orang dengan cepat untuk mengambil motornya.
Rendi menyadari, kecurigaan Shakira. " Em, teman aku ada di dekat sini! aku akan telepon dia buat ngantar motor kamu ke rumah.Kebetulan dia punya mobil pick up." sambung Rendi, menghentikan kecurigaan Shakira.
"Bapak yakin, motorku akan aman dan benar-benar kembali ke rumah Pak?" Shakira merasa ragu.
"Iya, aku yakin! sekarang kamu naik saja dulu, biar aku telpon temanku itu!" Rendi menarik tangan Shakira dan mendorong pelan tubuh Shakira,masuk kedalam mobilnya.Setelah itu dia agak menjauh dan terlihat sedang menelepon seseorang.
Shakira langsung memalingkan tatapannya,pura-pura tidak melihat Rendi, ketika Rendi sudah selesai menelepon dan melangkah kembali ke arah mobilnya.
"Kamu pasang sabuk pengamanmu! kamu tenang saja,motor kesayanganmu, yang katamu hasil tabunganmu, akan aman sampai ke rumahmu!" tegas Rendi, tapi terselip nada meledek di dalam ucapannya. Beruntungnya Shakira tidak merasa,kalau Rendi kini tengah meledeknya.
__ADS_1
"Hasil tabungan? aku kiraian tadi hasil keringat sendiri! dia bisa menabung,uang dari siapa coba? kan uang Om Seno atau mungkin uang dari keluarga lainnya.Dasar bocah!" ucap Rendi,yang tentunya hanya berani dia ucapkan di dalam hati saja.
"Shhhh" ekor mata Rendi tertarik sedikit keatas, melirik Shakira terlihat mulai meringis kesakitan.sembari memegang siku dan lututnya.
"Sekarang baru terasa sakitnya ya? tadi apa kabar ketika kamu asik ngoceh dari tadi? kalau dengan ngoceh,kamu gak merasakan sakit, silahkan ngoceh! tapi aku mau pakai headset dulu ya! Rendi memasukkan headset kedalam telinganya dan menatap ke arah Shakira yang kini sudah menatapnya dengan tatapan horor dengang hidung yang sedikit terangkat ke atas.
"Ayo, silahkan ngoceh sekarang!" Rendi tersenyum tidak merasa terganggu dengan amarah yang ditunjukkan oleh Shakira.Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil ikut bernyanyi, mengikuti lagu yang dia dengar dari headsetnya dan tidak memperdulikan Shakira yang sekarang sedang menyebikkan bibirnya.
Rendi tiba-tiba menepikan mobilnya dan berhenti di sebuah toko obat,atau apotik. Dia turun dan masuk kedalam toko obat itu.Sehingga menimbulkan kerutan di kening Shakira.
Shakira kembali pura-pura cuek, ketika melihat Rendi keluar dengan bungkusan plastik di tangannya.
"Sini luka kamu! biar aku bersihkan dulu dan dikasih obat. Takutnya kalau kelamaan, bisa infeksi nanti." Rendi meraih tangan Shakira dan dengan lembut membersihkannya dengan alkohol.
"Shhh, perih Pak! pelan-pelan dong Pak!" ringis Shakira menahan perih.
"Kamu bisa diam gak sih! namanya alklhol kena luka,ya pasti perih lah! tapi harus tetap dibersihkan kan?" ucap Rendi mulai kesal.
Tanpa sadar Shakira menatap Rendi yang lagi serius untuk mengobati luka-lukanya. Dia merasa kadar ketampanan Rendi, naik berkali-kali lipat sekarang.
"Udah!" Rendi telah selesai membersihkan dan bahkan sudah meneteskan obat merah di luka itu dan menempelkan Kain kasa yang yang di rekatkan dengan plester untuk menutupi luka Shakira.
"Sekarang, kamu sinikan kaki kamu!" Rendi hendak meraih kaki Shakira, Tapi Shakira buru-buru menepisnya.
"T-tidak usah Pak! biar aku bersihkan sendiri aja!" Shakira gugup dan detak jantungnya sekarang berpacu dengan kencang seperti habis lari maraton.
Rendi menghela nafasnya, dan tidak perduli penolakan Shakira. Dia tetap meraih kaki Shakira dan meletakkannya pada pahanya. Lalu dengan telaten dia kembali melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan pada siku tangan Shakira.Sedangkan Shakira meyender di pintu mobil dan seakan sesak untuk bernafas sekarang. Udara di dalam mobil seakan tidak cukup untuk mengisi paru-parunya yang sudah merasa sesak.
"Udah!" Shakira tersentak,mendengar ucapan Rendi,dan tanpa sadar menendang bagian vital Rendi.
"Aww, masa depanku, hancur sudah!" teriak Rendi sembari meringis kesakitan.
Tbc
__ADS_1
Please jangan lupa buat ninggalin jejak dong gais. Like,Vote dan komen. Kasih hadiah juga boleh.
Note: kalau vote rekomendasinya, please buat hari senin aja ya gais. Thank you