
Kevin menghentikan motornya di sebuah rumah yang lumayan besar. Ya ... setelah dia diangkat menjadi manager keuangan oleh Seno, 6 bulan yang lalu, dia sudah berhasil memberikan mamahnya sebuah rumah yang terbilang bagus walaupun masih menyicil.
"Ini rumah kamu?" tanya Gendis kagum melihat pekarangan yang sangat indah dimana banyak tanaman bunga yang tersusun rapi.
"Bukan! ini rumah tetangga sebelah, ya ini rumah aku lah!" Ketus Kevin.
"Kamu masih mau di sini atau mau masuk? kalau masih mau di sini aku tinggal dulu!" Kevin beranjak berlalu meninggalkan Gendis yang berjalan tertatih-tatih mengekor dari belakang.
Kevin menyurutkan langkahnya,dan menghela nafasnya kesal. " Huft ..kenapa sih gue gak tega sama nih perempuan? nyusahin aja." Kevin membatin seraya memutar tubuhnya,dan melangkah menghampiri gendis dan menuntunnya masuk ke dalam rumah.
"Vin, siapa perempuan ini Nak? kenapa kamu memapahnya sampai ke sini?" tanya Mutia,mamahnya Kevin.
"Hmm, tanyanya sama dia aja ya Mah, aku mau mandi dulu!" Kevin menatap Gendis jengah, lalu segera berlalu menuju kamarnya. Gendis menatap kepergian Kevin,seperti merasa kehilangan.
"Kamu kenapa, cantik?" tanya Mutia dengan lembut disertai dengan senyum keibuannya.
"Mm, jangan panggil aku cantik Tan! aku jadi malu.Namaku Gendis Tan."
"Oh, Gendis nama yang cantik, secantik orangnya." Mutia lagi-lagi memuji Gendis,hingga membuat wajah perempuan itu memerah seperti tomat. " Oh ya, Nak Gendis, kaki kamu kenapa?" Mutia kembali bertanya.
"Mmm, tadi kakiku terkilir,hampir ditabrak sama es balok yang membawa motor,Tante." ucapan Gendis terasa ambigu, sehingga wanita setengah baya itu mengrenyit bingung.
"Es balok? bawa motor?"
"Iya, Tan! putra tante itu es baloknya. Dia dingin sama seperti es kan?" ucap Gendis sembari meringis karena tiba-tiba kakinya yang terkilir sakit kembali.
Mutia, tersenyum simpul mendengar julukan yang diberikan gadis cantik di depannya pada putranya.
"Sini kakinya, tante lihat dulu!" Mutia hampir meraih kaki Gendis yang terkilir,tapi Gendis menghindar tiba-tiba.
"Emm, emang gak pa - pa Tan?" Gendis merasa tidak enak hati, kakinya disentuh sama orangtua.
"Gak papa nak! sini-in kaki kamu! kalau dibiarkan lama, justru jadi tambah parah nantinya." Mutia kembali meraih kaki Gendis, dan kali ini tidak ada perlawanan dari gadis itu.
"Auw, sakit Tan!" pekik Gendis, saat mamahnya Kevin, mulai memijat kakinya.
"Tahan sebentar Nak! sakitnya hanya sebentar saja, sebentar juga akan tidak terasa sakit lagi." Mutia menenangkan Gendis, dengan senyuman yang tidak pernah tanggal dari bibirnya. Dan benar saja, kakinya yang tadi sangat sakit, berangsur-angsur mulai membaik.
"Nak, maafin putra saya ya.Dia memang terlihat dingin, tapi percayalah, dia itu sangat baik dan hangat pada keluarganya." ucap Mutia saat menyudahi pijatannya.
"Apa tante tersinggung sama ucapanku tadi?" Gendis mulai merasa tidak enak hati.
"Bukan! tante tidak tersinggung, karena bukan hanya kamu yang mengucapkan seperti itu."Mutia dengan lembut mengelus pundak Gendis,sehingga Gendis merasa sangat nyaman ada di dekat wanita setengah baya itu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tan, Keysha, sepertinya Gendis harus segera pulang, takut kemalaman." Gendis berdiri dari tempat dia duduk setelah dia selesai membantu keysha mencuci piring, bekas mereka makan malam tadi.
Ya, tadinya Gendis mau langsung pulang, tapi Ibu Mutia dan Keysha adiknya Kevin memintanya untuk ikut makan malam dulu sebelum pulang.
"Kamu biar diantar sama Kevin aja Dis, sudah malam soalnya." terdengar suara ibu Mutia meminta Kevin buat mengantar Gendis.
"Yes ini yang ku tunggu." Gendis bersorak senang di dalam hati.Tapi seketika wajahnya merengut mendengar penolakan Kevin.
"Mah, biarkan dia pulang sendiri, dia kan bawa motor sendiri, dan katanya cicilannya juga belum lunas.Kalau hilang nanti bagaimana? sudut ekor mata Kevin melirik sinis ke arah Gendis.
"Biarkan motornya di sini dulu! besok kan bisa dia ambil kembali ke sini? apa kamu tega membiarkan dia gadis seperti dia pulang malam-malam sendiri?" mamahnya Kevin tetap kekeh meminta putranya buat mengantar Gendis pulang.
"Ho-oh! apa kamu tega membiarkan gadis secantik aku pulang sendiri?" Gendis menimpali ucapan ibu Mutia sembari mengangguk-anggukan kepalanya.
Kevin memutar bola matanya,jengah mendengar ucapan Gendis yang terlalu memuji dirinya sendiri.Jangan lupakan Keysha yang menutup mulutnya berusaha menahan tawanya.
"Kevin, mamah gak mau tahu, kamu harus tetap mengantarkan dia pulang! coba kamu bayangkan,kalau dia ini Keysha, yang harus pulang sendiri malam-malam." Ibu Mutia membawa nama Keysha,karena dia tahu, kalau Kevin sangat menyayangi adiknya itu.
Kevin, menghembuskan nafasnya ke udara, tidak bisa menolak lagi permintaan mamahnya.
"Hmm, iya deh! kamu tunggu di sini dulu! aku mau masuk ganti baju dulu."Kevin mengayunkan kakinya,masuk kembali ke dalam kamar.
"Ayo berangkat!" Kevin mengajak Gendis, tanpa ada senyum sama sekali di bibirnya.
Gendis tidak berkedip karena terpana melihat penampilan Kevin yang semakin tampan menurut dia.
"Hei, kamu mau pulang atau nggak ini?" suara Kevin terdengar mulai tidak sabaran.
"Eh, iya ...iya! Tante, Keysha aku pulang dulu ya! sampai jumpa lagi besok." Gendis mencium punggung tangan Ibu Mutia dan beranjak keluar,menyusul Kevin yang sudah menunggunya di atas motor gedenya.
"Mm, bagaimana aku bisa naik? motor kamu terlalu besar." Gendis terlihat kebingungan, karena selama ini dia belum pernah naik motor, seperti motor Kevin.
"Kamu kesana sedikit, habis itu kamu berlari dan salto dari sana ke sini, nanti pasti bisa!" ucap Kevin asal, karena hatinya kini benar-benar sangat kesal.
"Mana ada begitu caranya naik ke atas motor? yang ada pinggang aku encok!" cetus Gendis dengan bibir yang sudah maju ke depan.
"Ya udah, kamu jangan terlalu banyak bicara, sekarang kamu naik, cepat!"Kevin sudah mulai terlihat tidak sabar.
__ADS_1
"Iya, aku juga mau naik ini! tapi bukannya aku udah bilang aku kesusahan untuk naik?" Gendis mulai ikut kesal juga.
Kevin menghela nafasnya dan dengan sabar dia mulai mengajari, Gendis bagaimana caranya naik dengan mudah.
"Kamu sudah siap?sekarang kamu pegangan, aku tidak mau kamu membuatku kesusahan lagi, kalau nanti kamu jatuh." ucap Kevin dengan nada yang sangat dingin.
Gendis pun melakukan perintah Kevin dengan menyentuh pundak pemuda yang ada di depannya itu. Kevin sendiri tidak perduli mau dimanapun Gendis meletakkan tangannya sebagai pegangan, karena dia juga tidak menginginkan Gendis untuk memeluknya.
"Kamu mau diantar kemana?" Kevin sedikit berteriak karena suara motornya yang keras ditambah dengan tiupan angin malam.
"Hmm, aku juga tidak tahu!" Gendis balas berteriak.
Ckiit .... Kevin refleks menghentikan motornya, sehingga tangan Gendis refleks merangkul pinggang Kevin.
Deg ... deg ... deg
Jantung Gendis berdetak begitu hebat.
"Tolong lepaskan tangan kamu!" suara Kevin terdengar semakin dingin dari pada yang tadi.
"M-maaf! aku tidak sengaja." Gendis melepaskan pelukannya dan menelan ludahnya sendiri. Udara di sekitarnya sepertinya tidak cukup untuk mengisi paru-parunya, sehingga dia terasa kesulitan untuk bernafas,menyadari aura marah dari laki-laki di depannya ini.
"Kamu dari tadi sudah menguji kesabaranku Gendis! bagaimana mungkin kamu tidak tahu mau diantar pulang kemana, Kamu lagi mempermainkan aku ya?!" suara Kevin sudah meninggi.
"B-bukan begitu. A-aku memang bingung mau pulang kemana.Soalnya ada tiga rumah."sahut Gendis gugup sambil menundukkan wajahnya dan menggigit bibirnya.
"Tiga rumah?" kening Kevin berkrenyit.
" Masih muda, sudah punya tiga rumah.Tapi kenapa motor saja dia masih nyicil ya? sepertinya dia tipe orang yang tidak suka pamer." batin Kevin mulai mengagumi kepribadian Gendis.
"Iya, tiga rumah.Yang satu rumah kakak Galang,sepupuku, yang kedua rumah Vina sepupuku juga, dan yang ketiga__"
"Rumah kamu?" Kevin menyela ucapan Gendis.
"Bukan! rumah tante Sinta, mamahnya Vina." sahut Gendis santai.
"Jadi rumah kamu?" tanya Kevin berusaha sabar.
" Tidak ada!"
Tbc
Please jangan lupa buat ninggalin jejak. Karena like,vote dan komen dari kalian semua,sangat berpengaruh buat menyemangati author receh seperti saya. Thank you🙏🤗🥰
__ADS_1