
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bahkan, sudah 4 kali Dewa membalikkan Kalender yang ada di meja kerjanya, artinya waktu sudah berlalu selama 4 bulan.
Kehidupan Dewa berjalan seperti biasa, ke kampus, ke perusahaan Papahnya, dan kembali lagi berdiam di rumah. Tapi satu hal yang paling membahagiakan dalam hidupnya adalah, dia sudah kembali bersahabat dengan Galang, Rendi dan Dion serta Kirana sahabat kecilnya, yang kini sudah menjadi kekasih Dion. Dewa juga merasa beban dalam hatinya berkurang karena sudah mendapatkan maaf dari Vina dan bahkan dia juga sudah mulai dekat dengan Aariz suami Vina.Walaupun terkadang sifat keposesifan Aariz semakin akut.
Shakila? bagaimana hubungannya dengan Shakila? ya, tetap seperti biasa, tetap sebagai dosen dan Mahasiswinya. Setelah Dewa menyampaikan maafnya pada Shakila,karena insiden dia membentak karena sempat termakan oleh fitnah Lisa, hubungan mereka berangsur baik, walaupn kadang tingkah Shakila kerap membuatnya sakit kepala.
Matahari berangsur-angsur mulai bergeser ke arah barat, tandanya, hari akan mulai sore tepatnya pukul 3 sore. Dewa melajukan mobilnya, menuju bandara, dimana hari ini, pesawat yang membawa sahabat-sahabatnya akan tiba di bandara Soekarno Hatta pukul 7 nanti. Bagi sebagian orang mungkin itu terlalu cepat, tapi melihat kondisi jalanan Jakarta yang akan selalu macet pada jam-jam sore, itu sudah merupakan waktu yang tepat.
Sebenarnya semuanya akan dijemput keluarga masing-masing kecuali Galang. Disamping karena orangtua Galang ada di Bandung, Dimas omnya tidak bisa menjemput. Dan kebetulan Galang akan langsung menjadi dosen di tempat Dewa besok bersama dengan Rendi dan Dion. Jadilah Dewa yang berinisiatif menjemput Galang.
"Hai, sob! udah lama nunggu?" sapa Galang sambil memberikan tos, yang seperti biasa yang mereka lakukan, lalu berpelukan sekilas sambil saling menepuk punggung yang dipeluk.Ingat ya ... hanya sekilas, tidak berlangsung lama, soalnya kalau lama-lama, bisa-bisa akan menimbulkan spekulasi lain yang berujung fitnah.
Hal yang sama dilakukan oleh Rendi dan Dion, kecuali Kinara, yang cukup hanya, berjabat tangan. Sedangkan Dina, semenjak Galang yang secara eksplisit menolaknya,langsung berpindah kampus ke negara lain, dan menurut Kinara, Dina pindah ke Paris.
"Gak terlalu sih, Bro? cuma sekitar hampir 2 jam." kekeh Dewa.
"Wow, itu mah sudah cukup lama Wa!" seru Kirana, berdecak.
" Hmm, kita masih mau reunian disini atau kita langsung pulang sekarang?" Rendi buka suara.
"Kita pulang saja! aku sudah capek banget soalnya." ucap Dion.
Setelah itu, mereka semua pun bubar menuju supir masing-masing yang juga sudah menunggu dari tadi, kecuali Kinara yang ikut dengan mobil Dion dan Galang yang ikut mobil Dewa.
**********
Pagi ini, Di sebuah universitas ternama terjadi kehebohan pada mahasiswi-mahasiswi dan dosen-dosen wanita muda, karena kemunculan 4 orang pria tampan yang pada hari ini resmi menjadi dosen di kampus itu.
Lisa and the gengs juga tidak berkedip menatap ke empat orang itu. Lisa bahkan berulang-ulang menelan ludahnya sendiri.
__ADS_1
"Oh, my God, gue jadi bingung mau milih siapa di antara mereka.Pak Dewa, selama ini sangat susah buat di dekatin, kayanya aku perlu berganti haluan deh. Tapi sama siapa ya? yang itu? atau yang itu? atau yang satu lagi? ahhh ... gue bingung!" pekik Lisa sambil memegang kedua pipinya serta membuat guncangan kecil di tubuhnya. Sedangkan ke empat temannya, tersenyum kecut, dengan wajah yang jengah menatap Lisa yang heboh sendiri.
Sementara itu, 3 gadis yang baru saja tiba di kampus, merasa bingung melihat apa yang sedang terjadi.Setelah mereka memarkirkan motor mereka, mereka pun berjalan beriringan.
"Ada apa sih kok heboh banget?" tanya Lea dengan kening yang berkerut.
"Mana kita tahu! kita kan sama-sama baru nyampe Lea, gimana sih? sahut Shakila, mendengus.
"Ya, kali aja lo, udah tahu sebelumnya. Radar telinga lo kan lebih tajam dari satelit tel***sel." cetus Lea, menyebut salah satu provider yang bagus di Indonesia.
"Sialan lo!" Kesal Shakila sembari menimpuk kepala Lea dengan tasnya yang berisi buku-buku.
"Sakit Kila!" Awas lo ya!" Lea mengejar Shakila yang sudah berlari menghindari Lea.
Shakila berlari di sepanjang koridor sambil tertawa cekikikan. Disaat dia ingin berlari ke arah kanan, dari balik tembok tiba-tiba Dewa muncul sehingga kepala Shakila langsung terbentur ke dada Dewa.
"Kayanya, lari-lari tanpa melihat jalan itu sudah jadi kebiasaanmu ya?" Dewa memberikan sindiran.
"Wow apa aku sekarang ada di pangeran land?" gumam Shakila pelan, tapi masih bisa didengar oleh ke empat pemuda itu.
"Hei, bocah, sadar!" Dewa menyentil jidat Shakila.
"Auw, sakit Pak Dewa!" Shakila menghunuskan tatapannya pada Dewa, dengan bibir yang mengerucut.
"Hei, bukannya kamu, Shakira atau Shakila?" celetuk Galang, yang masih bingung untuk membedakan yang mana Shakira, yang mana Shakila.
"Aku Shakila, Ka___" Shakila diam sejenak mengingat nama Galang, karena memang baru sekali bertemu di rumah Vina.
"Galang!" Galang mengingatkan.
__ADS_1
"Oh iya ,Ka Galang!" ucap Shakila nyengir kuda.
"Kamu kenal ini bocah Lang?" celetuk Dewa yang merasa sedikit tidak senang melihat Shakila yang menatap kagum pada Galang dan yang lainnya.
Seperti biasa, Shakila yang anti dipanggil bocah, langsung menghunuskan tatapannya pada Dewa.
" Oh iya, aku kenal! dia kan putri___"
"Shakilaaa dimana kamu?" teriak Lea yang baru saja sampai di dekat Shakila berada, dengan nafas yang sudah ngos-ngosan, disusul oleh Shakira yang juga ikutan berlari tadi.
Shakila refleks sembunyi di balik punggung Galang, yang langsung menatap Lea yang masih belum menyadari kehadiran Galang, karena sibuk mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
Setelah nafas sudah sedikit teratur, Lea mengangkat kepalanya dan langsung terkesiap melihat sosok yang berdiri di hadapannya. Seketika kedua netra mereka saling menatap, yang membuat Lea susah untuk menelan ludahnya sendiri.
"Eh, K-ka Galang, Ka Dion, ngapain ada di sini?" tanya Lea, sembari berusaha meredam detak jantungnya yang berdetak semakin cepat. Dari yang berlari ditambah dengan kehadiran Galang, kecepatannya kini melibihi batas maksimal.
"Hmm, kami sekarang jadi dosen di sini!" Galang berusaha tampil setenang mungkin,padahal jantungnya juga sudah berdetak kencang di dalam sana.
Raut wajah Dewa masih terlihat bingung melihat ke tiga gadis itu mengenal Galang dan bahkan mengenal Dion. Dia ingin menayakan kembali tapi dia memutuskan untuk menanyakan nanti saja.
"Oh, begitu!" sahut Lea, tersenyum canggung.
Dewa menarik tangan Shakila yang bersembunyi di punggung Galang dengan sekali hentakan. " Kamu lagi cari dia kan? nih dia sembunyi di sini!" ucap Dewa sembari menarik sudut bibirnya ke atas.
"Oh, iya Pak Dewa, terima kasih!" Lea masih merasa canggung, sedangkan Shakila sudah memasang wajah mengajak perang pada Dewa.
"Hei, kapan kita masuk kelas, sebentar lagi kelas akan mulai!" Celetuk Shakira tiba-tiba buka suara.
Tbc
__ADS_1
Silahkan tinggalkan jejaknya Gais. Jangan lupa buat Like, vote dan Komen. Thank you.
Seperti biasa sudah hari Senin, kalau berkeban, voucher votenya dihadiahin ke novel ini dong gais๐๐