Dosenku Kekasihku

Dosenku Kekasihku
Flashback Gendis.


__ADS_3

Galang segera dilarikan ke rumah sakit guna mendapat pertolongan. Perjalanan dari tempat kejadian membutuhkan waktu yang agak lama untuk bisa menemukan rumah sakit terdekat,sehingga Galang mengeluarkan banyak darah sepanjang perjalanan ke rumah sakit.


Sedangkan Dina, dia merasa bersalah lalu menikam dirinya sendiri, sehingga harus dilarikan juga ke rumah sakit bersama dengan Rosa.


Sepanjang perjalanan Lea tidak berhenti menangis,dan berusaha menyadarkan Galang dengan menepuk-nepuk pipi, laki-laki yang dia cintai itu.


"Udah Lea! tolong berhenti menangis! suaramu buat aku tidak bisa fokus bawa mobil tahu gak?!" Aarash sang kakak pertama, meninggikan suaranya, kesal.


"Ini semua salah Lea, Ka. Coba Lea gak kabur dari bodyguard-bodyguard itu, pasti ini semua gak akan terjadi," Lea menangis sesunggukan sambil menyalahkan dirinya sendiri.


"Sudahlah gak usah dibahas lagi! tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Walaupun kamu gak kabur, tidak menjamin kalau kejadian ini tidak akan terjadi. Jadikan ini suatu pembelajaran, agar kamu mengurangi keras kepalamu, dan jangan terlalu yakin kalau kamu bisa menjaga dirimu sendiri.Kamu paham maksud Kakak?!" Aariz buka suara


"Iya Kak, Lea paham! Lea mau minta maaf Kak! aku udah merepotkan kalian semua." bahu Lea turun naik,pertanda kalau dia sekarang sedang menangis sesunggukan.


"Sudahlah! tidak ada yang merasa direpotkan di sini! kamu itu adik perempuan kami satu-satunya jadi mana mungkin kami mengabaikan keselamatan kamu," Aarash melirik Lea dari kaca spion.


"Rash, lihat itu ada rumah sakit! kita berhenti di sana saja!" pekik Aariz, menunjuk sebuah rumah sakit di depan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Galang kini sudah dalam penanganan di dalam ruangan UGD. Lea tidak berhenti berjalan mondar-mandir dan berkali-kali melihat ke arah pintu yang masih tertutup ,dimana ada Galang yang terbaring di dalamnya.


"Keluarga Pak Galang!" tiba-tiba seorang dokter pria setengah baya memanggil dari arah pintu.


Lea langsung berlari menghambur mengampiri dokter.


"I-iya Dok! bagaimana keadaan pacar saya Dok? dia baik-baik saja kan?" cecar Lea, yang tidak sabaran untuk mengetahui kondisi Galang di dalam.


"Maaf Nona, pasien di dalam telah mengeluarkan banyak darah dan membutuhkan transfusi darah secepatnya. Golongan darah pasien golongan AB rhesus negatif. Golongan darah AB- bisa dibilang yang paling langka. Ini karena jenis golongan darah ini hanya dimiliki oleh 0,36 persen orang di seluruh dunia. Jenis golongan darah Pak Galang hanya bisa menerima transfusi darah dari orang yang bergologan darah yang sama dengan dia. Bisa juga dari yang golongan darah yang berbeda tapi harus yang ber rhesus negatif juga, seperti A-, B- dan O-. Kebetulan stok darah di rumah sakit ini yang ber rhesus negatif sisa 2 kantong saja selainnya ber rhesus positif. Sedangkan pasien membutuhkan setidaknya 3 kantong darah," papar dokter itu.


"Ambil darahku saja Dok! aku adik sepupunya dan kebetulan golongan darah kami sama." tiba-tiba Gendis muncul entah dari mana.


"K-ka Gendis! bagaimana Kakak bisa ada di sini?" Lea mengangkat kedua alisnya.


"Dia yang memberitahukan keberadaanmu di sini!" celetuk Aarash, yang membuat Lea terkesiap kaget. "Kok bisa?"


"Nanti saja aku jelaskan, aku mau transfusi darah dulu." Gendis mengayunkan langkahnya mengikuti dokter masuk ke dalam ruangan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Gendis sudah selesai melakukan transfusi darah, dan Galang sudah melewati masa kritisnya. Mereka tinggal menunggu Galang siuman saja. Sedangkan Bimo dan Seno dari tadi sudah tidak terlihat, karena mengurus kejadian ini ke kepolisian setempat.


"Jadi bagaimana Kakak bisa tahu aku dibawa kesini oleh penculik itu?" Lea sudah tidak tidak sabar untuk mengetahui apa yang dari tadi menghantui pikirannya.


"Kamu mau tahu aja atau mau tahu banget?" ujar Gendis seraya mengedipkan matanya.


"Ihh, Kakak mah jangan bercanda napa?" Lea memajukan bibirnya.


"Iya, aku cerita."


Flashback On


Gendis berjalan mengikuti Kevin yang melangkah di depannya. Seperti diketahui, Kevin mengajak Gendis untuk makan siang setelah Gendis selesai mempresentasikan konsep iklan yang hendak dipakai oleh perusaan Wijaya, untuk menarik minat para konsumen untuk membeli produk baru perusahaan itu


"Tunggu!" Gendis tiba-tiba menahan Kevin dengan menarik tangan pria itu, dengan netra yang mengarah ke tempat lain.


"Ada apa?" Kevin menautkan kedua alisnya, mengikuti arah pandangan Gendis. " Kamu kenal mereka?" tanya Kevin kembali sambil melirik ke arah dua orang perempuan yang terlihat sedang serius membicarakan sesuatu sembari menikmati makan siang yang tersaji di atas meja depan mereka.


"Iya, aku kenal mereka. Yang memakai gaun warna kuning itu, namanya Dina, wanita yang sangat terobsesi dengan kakak sepupuku. Yang satu lagi, model yang bekerja di perusahaan Kakak sepupuku itu.Ternyata benar kecurigaanku selama ini, kalau mereka itu saling mengenal." tutur Gendis lirih.


"Aku benar-benar bingung. Apa masalahnya kalau mereka saling mengenal?" Kevin menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kalau panjang, ya pendekkan!" mata Gendis membola, mendengar ucapan absurd kevin.


barusan.


"Auk ah.Kalau dipendekkan pun kamu tidak akan mengerti. Yang jelas intinya, mereka berdua sama-sama perempuan licik, dan aku curiga,kalau mereka sedang merencanakan sesuatu yang jahat." pungkas Gendis, menghentikan Kevin untuk tidak bertanya lagi.


Gendis mengayunkan langkahnya mendekat ke arah meja Dina dan Rosa dengan sangat hati-hati dan berharap kedua perempuan itu tidak menyadari kehadirannya di sana.


Dia duduk memunggungi keduanya dan memasang telinganya tajam-tajam. Jangan lupakan Kevin yang walaupun masih kebingungan tetap mengikuti Gendis dan duduk di depannya.


Kevin memanggil pelayan dan bersiap memesan menu makan siangnya, Dia mengangkat wajahnya dari daftar menu dan hendak bertanya pada Gendis makanan apa yang diinginkan gadis itu. Akan tetapi, sebelum dia bertanya Gendis sudah meletakkan jari telunjuk ke bibirnya,sebagai tanda supaya dirinya jangan berbicara pada Gendis. Kevin mendesah panjang, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah Gendis.


Gendis tercekat dengan kedua netra yang membola begitu mendengar ucapan Dina yang mengatakan kalau anak buahnya sudah berhasil menculik Lea, lalu mengajak Rosa meninggalkan restoran itu, menuju tempat penyekapan.


Ketika kedua wanita itu beranjak dari kursi mereka, Gendis juga berdiri dan dan beranjak hendak membuntuti Dina dan Rosa.


"Gendis! kamu mau kemana?" Kevin ikut berdiri dan bertanya keheranan.

__ADS_1


Gendis menyurutkan langkahnya dan berbalik ke arah Kevin.


"Aku mau mengikuti mereka Kak. Mereka sudah menculik Lea." ujarnya.


"Lea? siapa Lea?" Kevin benar-benar semakin bingung sekarang.


"Nanti aku jelasin, aku mau nyusul mereka sebelum aku kehilangan jejak mereka." pungkas Gendis, sambil berlalu meninggalkan Kevin.


Kevin, menghembuskan nafasnya dengan sekali hentakan. Dia berdiri dan beranjak membayar pesanannya walaupun belum dimakan sama sekali, bahkan diantar ke meja saja belum. Lalu dengan sedikit berlari dia pun menyusul Gendis.


Sepanjang perjalanan membuntuti mobil yang dikemudikan oleh Rosa, Gendis akhirnya menjelaskan siapa Lea, dan alasan kedua perempuan yang ada di dalam mobil di depannya itu menculik Lea.


"Apa yang kamu maksud Lea, putrinya Pak Bimo pemilik Aryaguna Coorporation?" Kevin memastikan.


"Iya! Lea itu pacaran dengan Kakak sepupuku Galang. Aku yakin kalau mereka berdua ingin mencelakai Lea." tukas Gendis dengan yakin. Gendis juga menceritakan bagaimana liciknya Dina dan obsesinya pada Galang.


"Setampan apa sih si Galang sepupumu itu, sampai -sampai membuat perempuan itu terobsesi banget sama dia?" tanya Kevin, yang penasaran akan sosok Galang yang belum dia kenal sama sekali.


"Lihat saja, aku cantik begini, tentu Kakak ku juga tampan." ucap Gendis yang memang memiliki tingkat percaya diri yang tinggi.


Kevin berdecih dan ber akting mau muntah mendengar ucapan Gendis. Tapi di dalam hatinya dia membenarkan ucapan gadis berisik itu.


"Oh iya, aku harus telepon Kak Galang dulu. Biar dia juga nyusul kita buat nyelamatin Lea," Gendis merogoh ponselnya dari dalam tas, dan langsung melakukan panggilan ke Kakak sepupunya.


"Ka, Dina dan Rosa menyuruh orang untuk menculik Lea. Sekarang aku mengikuti mereka berdua menuju ke tempat penyekapan." cerocos Gendis, begitu terdengar kata halo dari ujung telepon.


"Sekarang kamu kasih tahu,Kakak, ke arah mana mereka pergi. Dan tolong kasih tahu kakak nanti, tempat mereka menyekap Lea." terdengar suara Galang yang memburu, dan dapat dipastikan Kalau Galang pasti sangat panik di ujung sana.


" Sepertinya mereka menuju ke arah Bogor Kak." ucap Gendis sembari memperhatikan jalanan yang mereka lalui.


" Ya udah! kamu tetap waspada dan jangan mereka sampai tahu, kalau kamu membuntuti mereka. Oh ya apa kamu sendiri?"


"Tidak! aku sama Kevin asisten Pak Seno." ujar Gendis.


"Baiklah kalau begitu! kamu hati-hati, dan tetap ngabarin Kakak nanti." pesan Galang.Lalu memutuskan panggilan dengan Gendis.


Flashback off


Tbc

__ADS_1


__ADS_2