
"Dika, tolong kamu panggilkan Pak Satria ke dalam ruanganku!" titah Seno, begitu dia mendaratkan tubuhnya duduk di kursi kebesarannya di kantor.
"Baik, Pak!" Dika membungkukkan tubuhnya dan berjalan keluar ruangan.
Tidak menunggu lama, terdengar bunyi pintu diketuk dari luar, dan Seno yakin kalau itu adalah Satria.
"Masuk!" suara decitan pintu yang terbuka tidak membuat Seno serta merta melepas pandangannya dari layar monitor yang ada di depannya.
"Maaf Pak Seno, tentang masalah tadi!" Satria langsung berinisiatif meminta maaf lebih dulu, karena dia yakin kalau Seno memanggilnya pasti gara-gara kejadian yang terjadi di antara putri-putri mereka.
"Saya memanggil kamu ke ruangan saya,bukan untuk membalas hal itu! karena itu di luar urusan kantor. Aku memanggil kamu karena ini.Coba kamu jelaskan mengenai ini!" Seno melemparkan sebuah map yang berisi mengenai laporan keuangan yang disusun oleh Satria.
Satria menelan ludahnya sendiri, dan dengan tangan yang gemetar dia meraih map yang dilempar oleh Seno dan membukanya perlahan-lahan.
"Apa maksud semua itu Pak Satria? banyak anggaran- anggaran yang sama sekali tidak masuk akal anda buat di sana, dan jumlahnya juga tidak sedikit. kamu Kemanakan semua anggaran-anggaran itu? kenapa,apa yang anda anggarkan tidak ada realisasinya pada perusahaan?!" sorot mata Seno sekarang sudah sangat tajam, dan sangat mengintimidasi, hingga membuat Satria semakin gemetaran.
"Maaf Tuan, sekarang mungkin seperti tidak terlihat realisasinya tapi___"
"Tapi apa?! apa anda mau mengatakan kalau sebenarnya anggaran itu sudah benar-benar terealisasi pada keluarga anda sendiri? anda menggunakan anggaran itu, untuk membelikan putri anda mobil mewah kan? dan anda juga menggunakan anggaran buat memenuhi segala kebutuhan mewah istrimu." suara Seno sudah mulai meninggi.
"B- bukan begitu Pa Seno! aku benar-benar sudah merealisasikannya untuk kemakmuran karyawan." Satria berusaha untuk menyangkal tuduhan Seno.
Brakk ...
"Kamu jangan berusaha mengelak lagi, Pak Satria.Aku sudah bertanya langsung pada karyawan yang anda maksud, ternyata mereka sama sekali tidak pernah mendapat bonus penghargaan sesuai yang kamu buat di laporan itu!" Satria tidak punya alasan lagi untuk membantah semua tuduhan Seno.
__ADS_1
"Em, emm ...."
"Apa, em, em? aku kecewa padamu Pak Satria! sekarang bagaimana caranya kamu mengembalikan itu semua? hah?!"
"M-maafkan aku Pak Seno! aku akan mengembalikan semua uang yang aku ambil dengan memotong gajiku tiap bulan." ucap Satria sembari menundukkan kepalanya.
Seno tertawa sinis mendengar ucapan Satria,hingga membuat Satria bergidik, ngeri sendiri melihat tawa Seno.
" Mau sampai berapa lama anda bisa melunasinya Pak Satria? sedangkan gaji full anda juga akan memakan waktu lama, untuk bisa melunasi uang yang telah anda pakai. Uang yang telah anda gelapkan jumlahnya tidak main-main Pak Satria. Bahkan rumah besar yang anda huni sekarang, kamu menggunakan uang perusahaan juga untuk membelinya." Satria benar-benar kaget bercampur takut,karena Seno benar-benar sudah tahu semuanya.
"Maafkan aku Pak Seno! Aku benar-benar khilaf dan aku akan meningkatkan kinerjaku ke depannya!" tukas Satria tegas bercampur takut.
"Maaf,Pak Satria! kepercayaan saya benar-benar sudah hilang untuk kamu! kamu tidak akan saya pecat, karena saya masih mempertimbangkan,kalau kamu masih punya keluarga yang perlu kamu tanggung jawabi, tapi, aku akan menurunkan jabatan kamu menjadi staf biasa dan kamu harus mengembalikan uang yang kamu gelapkan pada perusahaan secepatnya. Bagaimana caranya? hanya kamu yang tahu. Sekarang kamu boleh keluar dari ruangan saya!" tegas Seno,tak terbantahkan.
Satria menjatuhkan tubuhnya, berlutut di depan Seno. "Ampuni kesalahan saya,Pak Seno! tolong jangan turunkan jabatan saya! saya akan menjual semua aset yang telah saya beli dengan uang itu, dan mengembalikannya ke perusahaan, tapi tolong jangan turunkan jabatan saya! kalau jabatan saya turun, saya tidak akan ada harga dirinya lagi di depan istri dan anak saya!" mohon Satria sambil menahan tangis.
"Sekarang kamu boleh keluar Pak Satria! keputusan saya tidak bisa lagi diganggu gugat! kamu boleh memutuskan, kamu masih mau bekerja di perusahaan ini,tapi jabatan turun, atau kamu mau keluar dari perusahaan ini dan mencari pekerjaan di tempat lain,itu terserah kamu!" Seno mengalihkan tatapannya dan fokus kembali menatap layar monitor yang ada di depannya.
"Kalau begitu saya pilih akan tetap bekerja di perusahaan ini Pak Seno, walaupun harus turun jabatan. Aku juga akan mengembalikan semua uang yang telah aku gelapkan secepatnya. Saya pamit keluar Pak Seno!"
"Silahkan!" Satria memutar badannya dan melangkah dengan gontai keluar ruangan.
*********
Rendi mengemudikan mobilnya dengan kepala yang bergoyang-goyang ke kanan dan kekiri mengikuti irama lagu, yang dia dengar dari radio yang ada di dashbord mobilnya. Dia mengalihkan pandangannya untuk sejenak mengganti lagu yang menurutnya kurang menarik sekarang.
__ADS_1
Brakk ....
"Eh, ada apa itu? gue kayanya nyenggol motor deh!" Rendi melirik dari kaca spion dan melihat ada seorang wanita yang dari bentuk badannya,masih gadis sedang terduduk tidak jauh dari motornya yang tergeletak. siku tangannya terlihat mengeluarkan darah, dan juga lututnya. Beruntungnya, jalanan itu sepi, jadi tidak ada yang mengeroyok Rendi.
Wanita itu,tampak berdiri dan dengan tertatih-tatih melangkah mendekati mobil Rendi.
"Gawat! dia datang ke sini. Gue harus apa nih?" gumam Rendi sedikit panik. "Oh, gue tahu!" Rendi menjentikkan jarinya karena mendapat ide. Dia lalu memejamkan matanya pura-pura pingsan.
"Hei, Mas ... Mas, turun! Mas tidak apa-apa?" gadis itu mengetuk-ngetuk jendela mobil rendi berulang-ulang, sembari tak henti-henti berteriak dari luar. Tapi, Rendi seakan-akan tidak mendengar sama sekali.
Wanita itu mencoba membuka pintu mobil Rendi,dan ternyata pintunya tidak terkunci, sehingga wanita itu bisa membukanya dengan mudah.
"Oh, Sial! kenapa gue lupa mengunci pintunya tadi?gimana nih?" Jantung Rendi mulai berdetak lebih kencang.
"Eh, Pak Rendi? bangun Pak Rendi, bangun! anda tidak apa-apa kan?" teriak wanita itu yang seketika panik dan ternyata mengenal Rendi.
"Hei, dia kok kenal gue?" Rendi membuka sedikit sebelah matanya untuk melirik siapa gerangan gadis yang tengah memanggil-manggil namanya itu.
"Lho, dia Shakira Kan? astaga, mati gue! bisa-bisa disate sama Om Seno nanti!" peluh mulai menetes dari kening Rendi.
"Aduh, gue harus gimana nih? kayanya gue harus panggil ambulans deh!" Shakira terlihat panik dan nyaris melangkah untuk kembali ke motornya untuk mengambil ponsel di dalam tasnya.
"Oh, no! jangan panggil ambulans please! gue kayanya harus segera sadar nih, sebelum dia benar-benar memanggil ambulans."
"Ugh!" Rendi pura-pura melenguh sembari memijat kepalanya yang tidak sakit sama sekali.
__ADS_1
Tbc
Mohon jangan lupa buat ninggalin jejak ya gais.Like, vote dan komen. Thank you🥰