
Kelopak mata Lisa terlihat bergerak, pertanda sebentar lagi dia akan membuka matanya. Benar adanya, kelopak mata itu akhirnya terbuka. Lisa mengerjab-erjapkan matanya, untuk menyesuaikan cahaya lampu yang baru tertangkap oleh pupil mata itu.
"Dimana aku?" Lisa mengedarkan pandangannya, memindai sampai ke segala sudut ruangan, yang tampak tidak ada seorang pun di sana. Aroma maskulin yang sangat tajam,langsung tertangkap oleh indra penciumannya, sehingga dia yakin kalau kamar, tempat dirinya berada sekarang adalah kamar seorang laki-laki. Dan betapa kagetnya dia begitu melihat ada bingkai photo yang besar yang di dalamnya merupakan photo Iqbal, laki-laki yang telah membelinya dari mamahnya sendiri.
Lisa menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya,dan tampak kalau sekarang dirinya sudah berganti pakaian, sedangkan gaun pesta yang dia pakai teronggok di atas sofa.
"Aaaaaaaa!" Lisa berteriak histeris.
Brakk ... pintu terbuka dengan keras.
"Ada apa Lisa?" terdengar suara panik dari arah kamar mandi.
"Aaaaaaaa!" Lisa kembali berteriak sambil menutup mata dengan kedua tangannya, begitu melihat ada 'belalai' yang menggantung di antara kedua paha berotot milik Iqbal.
"Aaaaaaaa!" gantian Iqbal yang berteriak dan kembali masuk ke kamar mandi.
"Astaga, dia melihatnya! bodoh banget sih aku," Iqbal merutuki kebodohannya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Eh, tunggu dulu! itu berarti dia sudah sadar, syukurlah!" batin Iqbal dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
Sementara Lisa di luar kamar mandi, berusaha menetralkan nafasnya dan detak jantungnya, akibat dari insiden yang baru saja terjadi.
"Apa tadi itu? belum bangun saja sudah terlihat besar, apa lagi sudah bangun." Lisa bergidik merasa ngeri.
"Tunggu dulu! apa dia sudah berbuat macam-macam dengan ku? tidak boleh jadi ini." raut wajah Lisa berubah jadi pucat dan panik.
Lisa beranjak berdiri dan melihat ada bercak darah yang menempel di atas ranjang, dan di bawah perutnya terasa sakit.
"Aaaaaaaa!" Lisa kembali berteriak, bahkan lebih histeris dari teriakan awalnya.
Iqbal kembali keluar dari kamar mandi. Tapi kali ini dia sudah menggunakan bathrobe berwarna putih. Belum sempat dia bertanya 'ada apa', Lisa sudah menghambur ke arahnya dan memukuli tubuh Iqbal dengan beringas.
"Kurang ajar kamu! Kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan!"
__ADS_1
"Ada apa ini? kesempatan apa yang kamu maksud? apa yang kesempitan?" Kening Iqbal berkerut sambil berusaha menghindari pukulan Lisa, yang sebenarnya tidak terlalu terasa di tubuhnya yang keras.
"Kamu apakan aku? kamu memperkosaku kan? kamu yang membuat aku pingsan tadi kan? dasar kamu penjahat ke*lamin!" tukas Lisa beruntun, tanpa memberi kesempatan pada Iqbal untuk melakukan pembelaan.
"Hah? memperkosa?aku memperkosa kamu? kamu jangan asal menuduh ya! aku gak seburuk yang kamu kira," Suara Iqbal terdengar memprotes tidak terima dengan tuduhan yang dilontarkan oleh Lisa.
"Bohong!"
"Aku serius! aku tidak ada menyentuhmu sama sekali.__Cuma cium-cium sedikit," yang ini tentunya hanya berani dia ucapkan dalam hati. " Dan bukan aku yang membuat kamu pingsan, justru aku yang menolongmu," imbuhnya lagi.
"Kamu pasti bohong! kamu itu laki-laki brengsek! jangan kamu kira, kalau aku tidak tahu siapa kamu. Kamu laki-laki yang suka gonta-ganti pasangan dan suka mempermainkan perasaan wanita. Kalau kamu tidak memperkosaku, ini apa hah?!" Lisa menyibakkan selimut yang menutupi noda darah yang ada di atas ranjang.
Iqbal terkesiap kaget melihat apa yang ditunjukkan oleh Lisa. "Kok bisa? aku gak ngapa-ngapain dia kan?" batin Iqbal.
"Aku berani bersumpah kalau aku tidak menyentuhmu sama sekali. Dan satu hal lagi, jangan menuduhku yang macam-macam. Aku justru menyelamatkanmu dari orang yang berniat jahat padamu." bantah Iqbal dengan raut wajah yang sangat serius.
Lisa bergeming, dan menatap dalam-dalam manik mata milik Iqbal, untuk mencari adanya kebohongan di dalam sana. Sayangnya dia tidak menemukan kebohongan itu.
"Jadi, i-ini apa? dan kenapa pakaianku sudah berganti?"
Kedua netra Lisa membesar dengan sempurna, begitu mengingat kalau memang sudah saatnya dia datang bulan.
"Maaf kalau aku menuduhmu! tapi itu bukan salahku. Aku pantas berpikiran seperti itu, karena siapapun tahu kalau kamu itu suka menghabiskan waktu dengan gonta-ganti wanita setiap hari." Sindir Lisa dengan nada yang sinis.
Iqbal mengepalkan tangannya dengan keras, dan berusaha menahan amarah. Ingin rasanya dia berteriak kalau itu tidak benar dan selama ini dia yang terlihat bersama dengan perempuan-perempuan itu,hanya untuk menghindari gosip kalau dia bukan seorang gay. Iqbal memang membooking kamar, tapi di dalam kamar, dia sudah menyiapkan anak buahnya untuk menikmati tubuh wanita yang dia bawa, sedangkan dia langsung pindah ke kamar lain,kamar yang dikhususkan untuk dirinya sendiri.
"Terserah kamu mau bilang apa tentangku, sekarang yang jelas kamu sudah jadi milikku dan kamu tidak boleh kabur lagi!" tegas Iqbal.
"Aku tidak mau! aku tidak mau kamu jadikan, wanita simpananmu, yang kamu jadikan hanya sebagai budak nafsumu!" tolak Lisa dengan lantang dan tatapan yang sangat tajam.
"Siapa bilang kalau kamu akan aku jadikan wanita simpanan? kamu itu akan aku jadikan istri."
"Aku tetap tidak mau!"
__ADS_1
"Tidak ada yang bertanya kesediaanmu, karena kamu tidak punya hak lagi untuk menolak,"
"Siapa bilang aku tidak punya? aku itu punya hak!
" Semenjak mamahmu menjualmu padaku, kamu itu sudah sepenuhnya milikku. Asal kamu tahu, aku justru telah menyelamatkanmu dengan membelimu dari wanita tua tidak tahu diri itu." rahang Iqbal terlihat mengeras, dan wajahnya memerah, mengingat wanita yang seharusnya melindungi putrinya,justru mau menjual putrinya demi melunasi hutang-hutangnya.
"Hei, wanita tua yang kamu bilang itu mamahku! seru Lisa tidak terima mamahnya dikatakan tidak tahu diri.
"Dia tidak pantas kamu panggil mamah!"pekik Iqbal kesal.
"Kamu tidak punya hak mengatakan seperti itu. Bagaimanapun dia itu mamahku!"
"Wanita yang tega menjual putrinya sendiri tidak pantas kamu panggil mamah."
"Jadi apa bedanya dengan dirimu, hah?! kenapa kamu mau membeliku hanya untuk sebagai wanita simpananmu? Kenapa___"
"Diam!" bentak Iqbal,hingga membuat Lisa terdiam dan beringsut mundur ketakutan melihat mata Iqbal yang berubah gelap tertutup dengan kabut amarah rahang yang sudah mengeras.
"Bukannya aku sudah mengatakan kalau aku tidak mau menjadikanmu wanita simpanan? dan bukannya tadi aku sudah mengatakan kalau aku justru menyelamatkanmu?!" Iqbal menatap tajam dan dingin Ke arah Lisa yang sekarang berusaha untuk menelan ludahnya
am sendiri.
Melihat ketakutan yang tercetak jelas di wajah Lisa, membuat Iqbal tidak tega. Dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali ke udara. Dia melakukannya berkali-kali untuk mengontrol emosi yang sudah sampai ke ubun-ubun nya.
"Dan apa kamu benar-benar tidak ingat siapa aku, Lisa?" imbuhnya lagi, dan kali ini terdengar lirih bahkan terkesan frustasi.
"Tentu saja, aku ingat. Kamu itu Iqbal, seorang pengusaha yang banyak memiliki scandal dan ..."
"Stop! bukan itu maksudku. Apa kamu sama sekali tidak mengingat wajahku, dan mengingat apa yang terjadi dulu?"
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Lisa menautkan kedua alisnya dan menatap lekat-lekat ke arah wajah laki-laki di depannya, yang dia kenal hanya karena melihat wajahnya di televisi atau di media sosial. Dia merasa kalau hari ini adalah pertemuan pertama mereka secara langsung.
Tbc
__ADS_1
Udah hari Senin aja nih.Kembali aku meminta, dukungan dari teman-teman readers, supaya tetap meninggalkan jejak dengan like, komen, rate, dan kasih hadiah juga boleh.Kalau berkenan, voucher vote rekomendasinya boleh dong dikasih ke novel ini. Thank you 😍😍