
"Bagaimana? apa kamu sudah mendapat informasi tentang gadis itu?" suara berat dan tegas milik seorang lelaki terdengar dingin dari balik kursi kebesarannya.
"Sudah Tuan! Nona Lisa sekarang ada di Jakarta, dan yang menyelamatkan serta yang membawanya ke sana ternyata Kakak sendiri. Mereka satu ayah tapi beda ibu," sang asisten menjelaskan informasi yang telah berhasil dia selidiki pada sang tuan.
Laki-laki bersuara dingin itu menarik salah satu sudut bibirnya ke atas tersenyum smirk. Dia berbalik menatap asisten yang selalu bisa dia andalkan kapan pun itu. Pemuda dengan sejuta pesona ini, tidak lain adalah Iqbal. Pria berusia 27 tahun yang sudah sukses membangun usahanya yang bergerak dalam bidang properti dan perhotelan. Dia terkenal sangat dingin dan bahkan terendus kabar kalau dia adalah seorang donjuan yang suka bergonta-ganti pasangan.
"Apa kita perlu, menjemputnya ke Jakarta Tuan?" tanya sang asisten lagi.
Iqbal menggoyangkan jari telunjuknya sebagai isyarat tidak perlu. "Sekarang dia berada di orang yang tepat. Tapi, tetap perintahkan orang untuk mengawasinya. Jangan sampai ada seorang pria pun yang mendekatinya. Aku sendiri yang akan ke Jakarta menjemputnya, bila waktunya sudah tepat, apa kamu paham?!"suaranya terdengar lembut tapi siapapun tahu kalau terselip ketegasan bahkan terkesan mengintimidasi di balik ucapan lembut Iqbal.
"Baik Tuan!" sang asisten meng-iyakan.
"Ya udah, kamu boleh keluar sekarang dan lakukan tugasmu dengan baik!" Iqbal mengibaskan tangannya menyuruh asistennya keluar.
Sang asisten menundukkan badannya, lalu berbalik melangkah keluar. Akan tetapi dia berhenti kembali ketika mendengar suara Iqbal yang berucap. " Oh ya, bagaimana dengan wanita tua itu? apa kalian sudah mengurusnya?"
"Sudah Tuan! Ibu Rina sudah dijadikan jadi tukang bersih-bersih di Villa yang di Ubud."
"Bagus! sekarang kamu boleh keluar!" asisten itu kembali melangkah keluar dan menutup pintu rapat-rapat.
"Dasar gadis bodoh! bagaimana bisa dia kabur dariku dan tidak ingat siapa aku?" gumam Iqbal dengan senyuman tipis yang bertengger di sudut bibirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Time flies so fast istilah ini memang bukan hanya kata-kata saja. Waktu memang berputar begitu cepat. Tidak terasa 4 bulan sudah waktu berlalu.
__ADS_1
Rendra bangun dengan hati yang begitu bahagia, membalas senyuman mentari yang menyapa paginya. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari yang sangat dia nanti-nantikan, dimana dia dan pujaan hati Keysa akan melangsungkan pernikahan setelah mereka bertunangan 4 bulan kurang seminggu, yang lalu.
Rencana Seno yang ingin menikahkan Rendra di usia 25 atau 26 tahun pupus begitu pernah memergoki keduanya sedang 'berperang lidah' di ruangan kantor Rendra. Melihat hal itu, Seno akhirnya memutuskan menikahkan mereka dari pada nantinya terjadi hal yang tidak diinginkan, walaupun sebenarnya dia merasa ragu, mengingat usia Rendra baru menginjak 21 tahun dan baru akan lulus S1 dua bulan lagi.
Pukul 9 pagi, akhirnya acara sakral yang membuat Keysa dan Rendra sah menjadi suami istri terlaksana dengan lancar tanpa adanya halangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa jadwal ku hari ini?" Iqbal berjalan dengan tangan yang selalu masuk kedalam saku,dan pandangan yang tetap lurus ke depan.
"Jam 10 nanti anda akan ada pertemuan dengan vendor yang akan memegang proyek baru pembangunan hotel kita yang berada di Bandung, Tuan, Jam 1 siang dengan klien yang meminta agar perusahaan kita agar mau bekerja sama dengan perusahaan periklanan mereka, dan Jam 7 malam menghadiri pernikahan putra dari tuan Seno.Apakah anda memutuskan akan hadir di acara itu?" tanya asisten pribadi yang selalu setia mendampinginya dimana dan kapanpun itu.
Ya, sudah dua bulan ini Iqbal memutuskan kembali ke Jakarta dan menyerahkan pengelolaan bisnisnya yang di Bali kepada orang kepercayaannya di sana.
"Tentu saja aku akan hadir. Kamu siapkan pakaian yang akan aku pakai nanti malam!" titah Iqbal dengan sudut bibir yang tertarik sedikit ke atas, tersenyum misterius.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Langit sudah mulai berganti warna menjadi jingga, pertanda hari sudah mulai senja dan matahari sudah hendak kembali ke peraduannya. Lampu-lampu sudah mulai dinyalakan, sebagai pengganti cahaya matahari untuk menerangi kota Jakarta.
Rendra melirik ke arah jam di dinding yang hampir menunjukkan pukul 7 malam, pertanda acara resepsi akan segera dimulai.
Keysa tampil cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih. Dia tampil sangat sederhana karena memang Keysa tidak terlalu suka dengan yang terlalu glamour. Tapi walaupun seperti itu, tidak serta merta bisa menutupi kecantikan Keysa.
__ADS_1
Demikian juga dengan Rendra yang tampak gagak dengan tuxedo hitamnya.
"Ladies and gentlemen please welcome, the king and the queen for tonight! mari berikan tepuk tangan yang meriah untuk mereka berdua! " semua tamu berdiri dan bertepuk tangan menyambut kedua mempelai yang dari tadi tidak pernah berhenti untuk tersenyum. Lagu 'beautiful ini white' mengiringi kedua mempelai saat berjalan di tengah para tamu menuju pelaminan.
Saat acara berlangsung Iqbal tidak berhenti menatap seorang gadis yang selama ini selalu dia pantau diam-diam.
Tampak Lisa yang tampil anggun Dengan balutan gaun berwarna abu-abu yang sangat sesuai dengan dirinya. Rambut hitam dan panjangnya, digelung sampai ke atas, hingga lehernya yang jenjang terekspos yang membuat darah Iqbal berdesir dan ingin membawa Lisa segera dari ruangan itu.
"Hai, Nak Iqbal terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk hadir di acara pesta putraku," Seno tiba-tiba datang menghampiri Iqbal bersama dengan Bimo untuk menyapa Iqbal.
"Oh, tentu saja aku pasti hadir Pak Seno. Selamat ya!" Iqbal menjabat tangan Seno. Kemudian beralih ke arah Bimo. "Apa kabar Pak Bimo?"
"Seperti yang kamu lihat, kalau aku baik-baik saja," sahut Bimo sambil tersenyum tipis.
Iqbal sama sekali tidak menikmati pembicaraan Seno dan Bimo. Ekor matanya dari tadi selalu melirik ke arah Lisa, yang selalu tertawa bahagia. Tanpa dia sadari tangannya terkepal dengan kencang begitu melihat banyak pria muda yang menyapa Lisa dan mengajaknya berkenalan.
"Awas kamu ya, Lisa. Berani sekali kamu membalas senyuman mereka," Iqbal menggeram di dalam hati.
"Ada apa Nak Iqbal? apa kamu ada masalah? sepertinya kamu tidak baik-baik saja." Seno memicingkan kedua matanya, menatap curiga ke arah Iqbal.
"Oh, aku baik-baik saja, Pak Seno! tapi, maaf aku pamit pergi sebentar, karena ada hal penting yang mau saya urus." ujar Iqbal, pamit karena melihat, Lisa yang beranjak dari tempatnya. Gadis itu sepertinya mau ke toilet dan yang paling membuat iqbal khawatir ketika ada pria yang sepertinya mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Tbc