Dosenku Kekasihku

Dosenku Kekasihku
Air keras.


__ADS_3

Galang yang baru saja tiba di depan gedung kantornya, dikagetkan dengan kabar dari Bimo kalau Lea diculik. Tanpa banyak pertimbangan lagi, dia langsung berlari kembali masuk kedalam mobilnya. Dia melesatkan mobilnya dengan sangan kencang, sehingga banyak yang mengumpatnya. Beruntungnya, jalanan masih tidak terlalu ramai karena masih jam kerja.


Kurang dari 20 menit dia sudah tiba di tempat Bimo dan Seno berada yaitu di sebuah gedung yang biasa digunakan oleh Bimo dan Seno untuj membahas sesuatu, jika menghadapi suatu masalah. Galang langsung turun dari dalam mobil dan mengayunkan kakinya masuk ke dalam gedung itu untuk menemui dua pria setengah baya yang masih tampak sangat gagah itu.


"Hmm, kamu sudah datang Nak Galang. Apa sejauh ini si penculik ada menghubungimu?" tanya Galang, penuh harap.


"Tidak ada Om! Aku sudah berusaha menghubungi Lea, tapi nomornya tidak aktif Om!" air muka Galang sangat jelas terlihat sangat panik sekarang.


"Hmm, menghadapi hal seperti ini kita harus tenang dan jangan gegabah. Karena kalau kita panik, kita tidak akan bisa berpikir dengan baik sehingga kita susah untuk mendapatkan solusi." Seno berusaha menenangkan kedua pria berbeda usia yang ada di depannya.


"Om, kali ini aku sangat yakin kalau ini pasti ulah Dina. Karena kemarin aku menolak untuk bertemu dengan dia melalui Dion.Sepanjang aku mengenalnya, dia itu, orangnya nekad dan selalu menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang dia mau." tukas Galang, yakin.


"Kalau begitu, coba kamu hubungi dia, untuk melacak dimana posisinya sekarang!" titah Bimo.


"Aku tidak punya nomor Dina, Om.__ Oh iya, kinara dan Dion punya, aku hubungin mereka dulu," Galang mengalihkan panggilan ke nomor Dion. Tiga kali deringan, suara Dion sudah terdengar menyapa dari ujung sana.


"Yon, loe punya nomor Dina Kan? bisa loe kirimkan ke gue?" cecar Galang tanpa basa-basi.


"Ini benaran loe kan Lang?" bukannya langsung menjawab, Dion malah ragu kalau yang sedang meneleponnya itu sahabatnya Galang. Dia bahkan sampai menjauhkan handphone dari telinganya,guna melihat kembali yang meneleponnya benaran Galang atau tidak.


"Iya ini benaran gue Yon. Lo punya nomornya kan?"


"Kenapa loe minta nomornya? bukannya lo___"


"Tolong jangan banyak bertanya dulu Yon! aku sekarang lagi serius, Lea diculik dan gue yakin kalau pelakunya itu Dina." tukas Galang.


"Hah, Lea diculik?" pekik Dion dari ujung sana.


"Baik, aku akan kirimkan." sambung Dion kembali. Dan entah apa yang dilakukan Dion selanjutnya, Galang tidak mau tahu,yang jelas begitu panggilan terputus, tidak perlu menunggu lama nomor yang diinginkan Galang sudah dia terima.

__ADS_1


"Sial! nomornya tidak aktif Om!" ucap Galang sembari meninju tembok, sehingga punggung tangannya itu mengeluarkan darah segar.


"Bukannya aku sudah bilang kalau kamu harus tenang Galang? jangan lukai dirimu sendiri! apa kamu pikir dengan kamu melukai dirimu sendiri,Lea bisa langsung ketemu?" bentak Seno.


"Sekarang yang penting tenangkan dulu hatimu,agar kamu bisa berpikir dengan benar." Bimo menimpali ucapan Seno.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lea perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa pusing dan dia ingin sekali memijatnya. Akan tetapi, ketika dia ingin mengerakkan tangannya, sama sekali tidak bisa digerakkan karena sedang terikat.


Perlahan-lahan ingatannya tentang potongan-potongan peristiwa yang terjadi padanya berkelebat di benaknya. Dia mengingat bagaimana setelah dia berhasil mengelabui ketiga bodyguard suruhan ayahnya, dia dipepet oleh sebuah mobil hitam dan berpura-pura untuk menanyakan alamat. Tanpa dia sadari,seseorang dari arah belakang membekapnya dengan obat bius sehingga dia tidak sadarkan diri.


"Dimana aku ini sekarang?" gumamnya dengan mata yang mengedar ke seluruh penjuru ruangan. Rasa takut kini menyerangnya, karena melihat kondisi gedung itu sangat sepi dan dapat dipastikan, gedung ini sudah lama kosong dan terbengkalai.


"Hei, siapapun kalian, yang bisa dengar aku, keluarkan aku dari sini pengecuuut!" teriak Lea, sembari berusaha melepaskan tali yang mengikat tangan dan kakinya. Tapi, sekuat apapun dia berusaha, tali itu sangat susah untuk dilepas.


Tiba-tiba pintu terbuka dan muncullah beberapa pria berbadan besar dan berwajah garang. Mereka mengayunkan langkah menghampiri Lea yang kini terlihat semakin ketakutan. Sekarang dia sangat menyesal,kenapa dia tadi menghindar dari orang suruhan ayahnya. Sekarang nasi sudah menjadi bubur, tidak ada gunanya lagi menyesal.


"Cih, jangan mimpi kalian! aku lebih baik mati dari pada menyerahkan tubuhku buat kalian semua. Sekarang lepaskan aku, sebelum ayahku menghabisi kalian semua." Bentak Lea, berusaha untuk menunjukkan kalau dia tidak takut sama sekali dengan para pria bertampang preman itu.


Suara tawa meledek dari para pria itu seketika pecah memenuhi ruangan itu. " Sombong sekali kamu Nona.Kami jadi tidak sabaran untuk melihat, apakah nanti kamu masih bisa sombong, bila kami sudah menggagahimu. Lihat saja nanti, kami akan membuatmu mendesah. Dan setelah kami puas ,kami akan menghabisimu." Pria bertubuh tegap dengan otot yang sangat besar mencengkram pipi Lea dan menyentaknya dengan sangat keras, sehingga meninggalkan bekas kemerahan di pipi mulus Lea.


"Cuihh, Singkirkan tangan kotormu dari wajahku, bajingan!" Lea meludah ke wajah pria yang mencengkram pipinya. Pria tadi sangat marah, dan sontak mengayunkan tangannya menampar pipi Lea dengan sangat keras, hingga darah segar mengucur keluar dari sudut bibirnya.


"Berani sekali kamu meludahiku, perempuan ja*la*ng! lihat saja nanti apa yang akan aku perbuat padamu." bentak pria itu dengan manik mata yang memancarkan amarah yang amat sangat.


"Ada apa ini? kenapa suara kalian terdengar sampai keluar?" tiba-tiba suara seorang wanita terdengar dari arah pintu. Dia berjalan dengan anggun disusul oleh seorang wanita lainnya, yang sangat dikenal oleh Lea.


"Rosa! apa ini ulah kamu, hah?!" pekik Lea begitu melihat kehadiran sosok Rosa. "Dan siapa kamu?" Lea mengalihkan tatapannya ke arah sosok wanita lain yang bersama dengan Rosa.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu tahu siapa saya! yang jelas aku adalah calon nyonya Galang yang sebenarnya, bukan kamu." desis wanita itu sembari menyeringai sinis ke arah Lea.


"Jangan mimipi kamu! bagaimanapun cara kamu untuk mendapatkan Ka Galang, aku yakin wanita gila seperti kamu, tidak akan bisa mendapatkan Kak Galang, Nona Dina!" sarkas Lea seraya tersenyum miring. Dia yakin kalau wanita yang di depannya ini, pasti Dina, perempuan yang diceritakan oleh Gendis.


Plak ....


Dina mengayunkan tangannya, menampar pipi Lea dengan sangat keras.


"Kita lihat saja nanti, ja*la*ng!__ kalau aku tidak bisa memilikinya, siapapun tidak boleh termasuk kamu!" bentak Dina denga manik mata yang sudah memerah.


"Kalian semua jaga diluar! Nanti kalau aku butuhkan, aku akan memanggil kalian semua." perintah Dina pada para pria bertubuh besar itu.


"Baik Bos!__ ayo kita keluar! ucap pria berkepala plontos yang dapat dipastikan,kalau dia pemimpin dari komplotannya.


Dina kembali menatap tajam ke arah Lea. Seringaian sinis tidak pernah tanggal dari sudut bibirnya. Di tangannya dia memegang sebuah botol, yang tidak Lea tahu, apa yang ada di dalam botol itu.


"Kamu tahu ini, Lea? ini adalah air keras. Dan kamu pasti tahu,apa yang akan terjadi kalau air keras ini aku siramkan ke wajah cantikmu. Wajahmu akan terlihat mengerikan dan melepuh. Apa kamu masih bisa menjamin kalau Galang masih mau dengan gadis buruk rupa yang menyeramkan seperti kamu? apalagi setelah ini, aku akan menyuruh anak buahku untuk menikmati tubuhmu ini. Aku berani jamin Galang akan merasa jijik padamu nanti. Hahahaha!" Dina tertawa dengan sangat keras dan terdengar menakutkan.Bahkan Rosa yang berada di pihaknya pun bergidik takut.


Lea terlihat sudah sangat ketakutan sekarang. Dia berusaha meronta-ronta untuk bisa lepas dari ikatan tali yang mengikat tangan dan kakinya.


"Jangan lakukan itu! kalau kamu melakukannya, kamu akan menyesal, karena ayahku tidak akan melepaskanmu, Nona Dina!" mohon Lea dengan tubuh yang tidak berhenti bergerak.


"Cih, kamu kira aku takut?__ Rosa kamu pegangin dia, cepat!" titah Dina sambil tersenyum miring.


"Rasakan kamu, perempuan murahan! selama ini kamu bisa merasa menang bersama dengan Gendis, sekarang kamu rasakanlah akibatnya." Rosa menghampiri Lea dan melaksanakan perintah Rosa untuk memegang badan Lea agar berhenti bergerak.


"Auhhh, Panaas ... panas ...! " suara teriakan menggema di ruangan itu, setelah Dina sudah menyiramkan air keras yang ada di tangannya.


Tbc

__ADS_1


Jangan lupa buat ninggalin jejak ya gais! Please like, rate, vote dan komen. Thank you🙏😍🤗


__ADS_2