Dosenku Kekasihku

Dosenku Kekasihku
Aku akan tetap menikah dengannya.


__ADS_3

"Emang kamu udah siap nikah?" ucap Dewa ,tanpa melihat Shakila sama sekali, karena dia kini kembali fokus mengemudi.


"Siap gak siap harus siap."sahut Shakila.


"Kalau jawaban kamu seperti itu, berarrti kamu belum benar-benar siap." Dewa melirik sekilas ke arah Shakila.


"Hmm, aku siap deh!" ucap Shakila tegas, tapi terselip keraguan di hatinya.


Dewa tersenyum tipis. Dia tahu benar kalau sekarang Shakila tidak sepenuhnya yakin akan ucapannya. Salah satu tangannya diletakkannya di kepala Shakila dan menggusaknya, gemas.


"Sekarang aku mau tanya, kenapa kamu tiba-tiba mau nikah?" ekor mata Dewa melirik ke arah Shakila.


"Emm, karena Shakira sudah nikah," jawabnya santai.


"Hanya itu?" mata Dewa benar-benar memicing sekarang, karena alasan Shakila termasuk tidak masuk akal sama sekali.


"Iya! hanya itu. Coba Kakak bayangkan, aku dan Ka Shakira itu kembar, dan dia sudah menikah,aku belum. Dia pasti hampir tiap malam program memproduksi anak dan kemungkinan kecebongnya Ka Rendi udah ada yang nyangkut. Sedangkan aku belum sama sekali. Kan aku juga pengen Ka!"


"Haish, dia sadar gak sih, kalau omongannya udah buat pikiran gue traveling kemana-mana." Dewa mendesah, frustasi.


Dewa menepikan mobilnya di pinggir jalan,melepaskan sabuk pengamannya dan menatap Shakila.p


"Apa yang kamu pikirkan tentang pernikahan, hanya itu saja? pernikahan tidak hanya sebatas bisa melakukan hubungan suami istri dan memiliki anak. Pernikahan itu seumur hidup, jadi jangan ingin buru-buru menikah, karena ikut-ikutan, karena setiap orang itu berbeda.


Pernikahan tak selalu berjalan dengan mulus seperti apa yang dirasakan semasa pacaran. Permasalahan rumah tangga sangat banyak sehingga memerlukan kesiapan mental untuk menghadapinya.Dua pasangan yang akan menikah tak hanya butuh cinta, tetapi harus ada komitmen dan persiapan matang, karena kehidupan pernikahan sebenarnya akan terjadi setelah sah di mata hukum dan agama, bukan hanya saat pesta saja." Dewa menjelaskan dengan panjang lebar tanpa Jeda dan lembut, berharap Shakila bisa mengerti apa yang baru saja dia jelaskan.


Shakila tercenung dan bergeming mendengar penjelasan laki-laki yang dia cinta itu. Walaupun usianya baru baru menginjak 20 tahun, dia bisa mengerti maksud penjelasan Dewa.

__ADS_1


"Apa Kakak masih meragukanku? dan masih menganggapku belum dewasa dan masih belum bisa untuk dijadikan seorang istri?"


"Bukan seperti itu, Sayang! aku hanya meluruskan alasan kenapa kamu ingin menikah, hanya karena Shakira sudah menikah, dan ingin merasakan seperti yang Shakira rasakan. Dan dari alasanmu tentang anak tadi, aku bisa menarik kesimpulan, kalau kamu tidak mau ketinggalan dari Shakira, iya kan?" cecar Dewa, membuat Shakila tidak bisa menjawab, karena yang dikatakan Dewa itu benar adanya.


Dewa menangkup pipi Shakila dan menatap dalam-dalam ke manik mata milik kekasihnya itu.


"Kalau boleh jujur, aku juga ingin cepat-cepat menjadikanmu seorang istri, sehingga kita bisa hidup bersama. Tapi, kembali lagi seperti yang aku katakan tadi, pernikahan itu butuh banyak kesiapan, baik secara mental, sosial, finansial dan banyak lagi. Tapi, kalau kamu udah benar-benar siap, aku akan melamar kamu segera," Dewa tersenyum dan mengecup singkat bibir Shakila.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa hari pernikahan Dion dan Kirana tinggal seminggu lagi. Kirana sungguh tidak sabar untuk bersanding dengan Dion, laki-laki yang sangat dicintainya itu. Akan tetapi, beberapa hari ini, Dion sepertinya sedikit berubah. Dion sering melamun dan tidak nyambung untuk diajak berdiskusi. Teringat jelas di benak Kirana, saat beberapa hari yang lalu, Dion datang padanya, menggenggam tangannya dengan erat.


"Sayang,maukah kamu berjanji, apapun yang dikatakan orang tentang aku, kamu akan tetap percaya aku?" tanya Dion saat itu dengan wajah yang sendu.


"Kamu kenapa? kamu kan tahu kalau aku selalu mempercayaimu," itulah jawaban Kirana, karena Kirana memang sudah sangat percaya pada Dion. Kirana sudah melihat bagaimana perjuangannya selama ini, jadi tidak ada lagi alasan wanita itu untuk tidak mempercayainya.


Kirana berusaha untuk berpikir positif dengan perubahan sikap yang ditunjukkan oleh Dion.


"Mungkin, karena dia capek, mengurus pernikahan ini, belum lagi, dia harus mengajar dan mengurus perusahaan .Jadi aku tidak boleh berpikiran macam-macam." Kirana berbisik pada hatinya sendiri dengan mata yang menerawang ke langit-langit kamarnya.


Kirana tersentak kaget, mendengar gelegar suara papahnya yang sepertinya tengah marah-marah. Kirana bahkan mendengar kalau ada benda, yang baru saja pecah, sebagai pelampiasan amarah papahnya yang sepertinya sudah sampai ke ubun-ubun itu.


Kirana Segera berlari keluar dan turun guna melihat apa yang sudah terjadi. Kirana semakin bingung,melihat mamahnya yang duduk di sofa dengan kedua tangan menutup wajah dan bahu yang turun naik.


"Pah,Mah, ada apa ini? kenapa Papah marah-marah dan kenapa mamah menangis?" entah kenapa ada perasaan tidak nyaman yang menyelinap ke dalam hati Kirana.


"Kamu tidak boleh lagi menikah dengan Dion. Anak itu benar-benar brengsek, bajingan.Aku tidak sudi memiliki menantu seperti dia." umpat Kemal,papahnya Kiran dengan intonasi suara yang tinggi.

__ADS_1


Bagaikan petir di siang bolong,yang menggelegar tiba-tiba tanpa datangnya hujan, Kirana merasa kaget mendengar ucapan papahnya barusan.


"Ke-kenapa seperti itu Pah? Papah jangan bercanda, bercanda Papah sama sekali tidak lucu,tahu gak?!" seru Kirana sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa papah terlihat lagi bercanda sekarang? papah juga bukan orang bodoh yang menjadikan masalah pernikahan seperti ini menjadi sebuah lelucon." tegas Kemal, dengan rahang yang mengeras dan mata yang masih gelap karena tertutup kabut amarah yang amat sangat.


"Tapi kenapa Pah? tolong kasih penjelasan." kelenjar cairan bening, kini terlihat berlapis di manik mata Kirana, siap untuk ditumpahkan kapan saja dari wadahnya.


"Dion sudah menghamili wanita lain, sayang. Jadi Dion harus menanggung jawabinya." Tania, mamah Kirana menjawab, dengan air mata yang masih leluasa keluar dari tempatnya.


"Itu, tidak mungkin Pah! Aku sudah lama mengenal Dion, dia tidak mungkin melakukan perbuatan bejat itu!" pekik Kinara seraya tersungkur ke lantai dengan air mata yang akhirnya berhasil menjebol bendungan, dan dengan lancang keluar membanjiri pipi Kinara.


"Apa yang tidak mungkin Kinara? perempuan itu dan mamahnya sudah menunjukkan bukti nyata. Nih, kamu lihat!" Kemal melemparkan photo-photo bukti Dion yang tengah tertidur dengan tubuh bagian atas yang tidak memakai apapun. Di dalam photo itu juga terlihat Dion tertidur sambil memeluk tubuh seorang wanita.


Kinara mengutip photo-photo yang berserakan itu dengan tangan yang gemetar. Dadanya bagai tertusuk pisau yang sangat tajam. Sakit walau tidak berdarah. " Apa ini yang dimaksud oleh Dion, kalau apapun yang dikatakan orang, dia harus tetap percaya pada Dion?" bisik Kinara pada dirinya sendiri.


"Aku yakin, ini tidak benar Pah! ini hanya rekayasa. Aku tetap percaya kalau Dion tidak akan berbuat hal kotor seperti ini." sangkal Kinara dengan nada yang sangat yakin.


"Apa itu tidak cukup jadi bukti Kinara? kamu jangan jadi bodoh, hanya karena cinta. Pokoknya keputusan Papah sudah tidak bisa digangu gugat lagi, Pernikahanmu dan Dion Batal!" pungkas Kemal dengan menekan kata batal.


"Kinara tidak mau Pah! Kinara akan tetap menikah dengan Dion, titik." Kinara tetapa kekeh dengan keputusannya.


"Kalau kamu mau tetap menikah dengannya, kamu jangan anggap kami lagi orangtuamu."


Tbc


Seperti biasa, aku tidak pernah bosan untuk meminta dukungan dari kalian semua. Please jangan pelit like dan komen. Kalau berkenan, please kasih voucher vote rekomendasinya dong buat novel ini. Dukungan kalian semua,semangat buat aku.Thank you😁🤗

__ADS_1


__ADS_2