
'P-pak Rendi?" netra Shakira membola, begitu melihat kehadiran Rendi.
"Hei, bro! apa anda seorang pecundang, yang berani memukul seorang wanita?" Rendi menghempaskan tangan Juna,serta menatap tajam dan Dingin ke arah Juna, yang sedikit bergidik, menatap sorot mata Rendi.
Jangan lupakan Ratih yang langsung terpaku,terpesona melihat ketampanan Rendi, sehingga membuat Juna mendengus kesal.
"Hei, siapa kamu, berani ikut campur dengan urusanku? minggi kamu!" Juna memberanikan diri membentak Rendi, serta membalas sorot mata Rendi.
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku, karena aku juga tidak ada niat untuk mengenalkan diriku pada laki-laki pecundang sepertimu!"
Juna merasa geram dan kembali mengayunkan tangannya,hendak memberikan pukulan ke wajah Rendi. Akan tetapi Rendi yang sudah memprediksi akan mendapat serangan, dengan sigap menangkis dan melayangkan tinjunya ke wajah Juna, hingga Juna terpental dan tersungkur ke belakang.
Rendi, kembali menghampiri Juna dan mencengkram kerah bajunya,seraya mengangkatnya berdiri. Lalu dia mendekatkan bibirnya ke telinga Juna dengan seringain tipis di bibirnya.
"Kamu,tinggalkan tempat ini, sebelum kamu aku jadikan perkedel.Kebetulan saat ini aku lagi kesal dan ingin menonjok orang.Jangan sampai,kamu aku jadikan pelampiasanku!" Juna seketika bergidik, mendengar bisikan Rendi. Dia sontak meraih tangan Ratih dan menariknya pergi dari tempat itu.
"Terima kasih Pak Rendi!" Shakira menundukkan kepalanya, dengan kedua tangan yang saling meremas sembari menggigit bibirnya.
"Hmm, iya! Sekarang kamu mau kemana?"
"Aku gak tahu, Pak! Sepertinya aku mau pulang aja!" sahut Shakira lirih.
"Hmm, sepertinya kondisi hatimu gak memungkinkan untuk pulang sekarang.Apa kamu mau ikut aku ke suatu tempat?"
"Kemana Pak?" Shakira sontak mendongkakan wajahnya, mendengar ajakan Rendi.
" Ke tempat yang bisa membuat hatimu lega.Di sana kamu bisa meluapkan semua kekesalan dan amarah kamu. Setelah itu, aku yakin hati kamu akan membaik. Bagaimana apa kamu mau?"
"Tapi, bagaimana dengan motorku Pak?"
"Astaga, lagi-lagi masalah motor." gumam Rendi, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Begini saja, kamu tinggalkan dulu motormu di sini!. Nanti setelah dari sana, aku antar kamu ke sini lagi buat ambil motormu.Soalnya kalau nyuruh orang, buat antar motormu ke rumah, yang ada Om Seno dan yang lainnya bakal khawatir." tutur Seno,diplomatis.
Shakira diam untuk beberapa detik, seperti berpikir mempertimbagkan ajakan Rendi.
"Iya deh, Pak!" Rendi tersenyum dan langsung beranjak, diikuti oleh Shakira yang mengayunkan langkahnya dengan sedikit berlari, berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah Rendi yang panjang.
__ADS_1
Shakira merogoh ponselnya dari dalam tas kecilnya, karena dia merasakan getaran yang lumayan berulang-ulang, itu berarti ada telepon yang masuk.
"Astaga! Leaaa!" pekik Shakira yang hampir saja melupakan,kalau tadi dia meninggalkan Lea di depan bioskop.
"Kenapa?" Rendi menoleh ke belakang, dengan mata yang menyipit.
"Pak aku kesini tadi sama Lea, dia pasti udah bete nungguin aku lama. Bagaimana tuh Pak?"
"Hmm, ya udah kita nemuin dia, dan kita ajak dia sekalian!" ujar Rendi santai.
"Tapi Pak!__" Shakira, terdiam bingung mau ngomong apa lagi.
"Tapi apa lagi?" Rendi menelisik perubahan air muka Shakira.
"Tidak ada siapapun yang tahu, kalau aku pacaran sama Juna.Nanti kalau Lea diajak, dia jadi tahu dong Pak!" Shakira mengungkapkan keraguannya.
"Hmm, aku tidak tahu,kenapa bisa kamu merahasiakan hubungan kamu dari sahabat dan dan saudara-saudaramu. Apa kamu tidak mempercayai mereka, atau bagaimana?"
"B-bukan begitu, Pak. Tapi__"
Shakira diam sejenak, setelah itu dia menarik dan menghembuskan nafasnya kembali ke udara.
"Aku ikut Bapak aja! aku akan kabarin dia kalau aku sudah pulang duluan." putus Shakira mantap.
Shakira mengetik sesuatu di ponselnya dan mengirimkannya ke Lea.
...----------------...
Sementara itu, Lea berulang kali memandang ke arah Shakira tadi melangkah dengan bibir yang tidak berhenti menggerutu.
"Kemana sih dia? lama banget ke toiletnya? kalau gue susul, toilet di mall ini kan banyak, masa aku mencarinya satu-satu?"
"Lea, kamu lagi ngapain di sini?" sapa seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat Lea.
Netra Lea, membulat dengan sempurna, jantungnya tadi yang berdetak dengan normal, sekarang sudah berkejar-kejaran di dalam sana, ketika dia mendengar suara yang sangat familiar di telinganya.
Dengan segala keberanian, Lea memutar badannya, untuk melihat si pemilik suara.
__ADS_1
"Eh, K-Ka Galang? a-aku lagi nungguin Shakira Ka. Dia dari tadi belum kembali dari toilet. Kak Galang sendiri ngapain di sini?" tanya Lea, sedikit merasa was-was, Galang sedang janjian dengan seorang perempuan.
"Aku janjian makan siang sama Rendi di sini.Katanya dia lagi malas di rumah jadi ngajak ketemuan." Lea ber oh sembari manggut-manggut,merasa lega, apa yang dia pikirkan tidak kenyataan.
Keheningan dan kecanggungan terjeda cukup lama diantara Lea dan Galang.Mereka berdua bingung mau ngomong apalagi, sampai akhirnya ponsel mereka sama-sama berbunyi. Mereka sama-sama menghela nafas,ketika selesai membaca pesan di ponsel masing-masing.
"Kenapa Ka (Lea)?" tanya mereka berdua bersamaan, yang membuat tawa mereka sontak pecah.
"Ini Shakira ngirim pesan, katanya kepalanya pusing dan udah pulang duluan Ka," terang Lea setelah tawanya berhenti.
"Berarti kita sama. Rendi juga bilang kalau dia tidak jadi ke sini. Kamu udah makan siang?" Lea cepat-cepat menggelengkan kepalanya.
"Oh, kebetulan aku juga belum makan siang, kita makan siang sama-sama aja gimana?" tawar Galang dengan harap-harap cemas.
"Boleh deh Ka!"sahut Lea, berpura-pura biasa saja, padahal kalau tidak ada orang, dia pasti sudah melompat-lompat kegirangan.
...----------------...
Rendi memarkirkan mobilnya di dekat pantai, yang jauh dari keramaian.
"Ingat, sebelum turun, kamu buka dulu seatbealt kamu. Nanti kamu kira aku menahan kamu lagi! ledek Rendi, yang membuat Shakira mencebikkan bibirnya.
"Kita ngapain di sini Kak?" panggilan Shakira kini sudah berubah dari Pak menjadi Kak, karena permintaan Rendi yang tidak mau dipanggil bapak kalau di luar kampus
"Di sini sepi, jadi kamu bisa teriak sesuka hatimu. Tumpahkan semua uneg-uneg yang kamu simpan di dalam hatimu.Setelah kamu tumpahkan semuanya, yakinlah pasti hati kamu akan lega. Daripada kamu nangis-nangisnya ditahan kaya tadi, kan lebih baik kamu puaskan saja sekarang," tutur Rendi panjang lebar.
Shakira melangkah sedikit menjauh dari Rendi. Lalu dia mulai berteriak sekencang-kencangnya dengan cairan bening yang kembali lolos keluar dari sudut matanya.
"Junaaaaa, brengsek kamu! Dasar laki-laki sialan.Sini kamu, aku bejek-bejek mukamu. Kamu mau dicium Hah? Dari pada cium lo, mending gue cium pantat doggy gue, lebih wangi dari mulut lo. Mulut lo itu bau comberan tahu gak? comberan aja kalah baunya dari mulut lo. Gue sumpahin___" Shakira diam sejenak,dan menoleh ke arah Rendi.
"Kak, nyumpahin orang dosa gak sih?" Rendi hampir saja tergelak, mendengar pertanyaan absurd Shakira.
"Ya ampun, lagi marah-marah saja masih ingat dosa dia!"
Tbc
__ADS_1