
Anggap saja ini Shakila ya gais.
Shakila dan Kevin kini sudah berdiri berdampingan. Kalau pada umumnya, akan terpancar kebahagiaan di wajah sepasang pengantin, beda halnya dengan sepasang pengantin ini. Ada dua ekspresi yang berbeda pada kedua orang itu. Shakila dengan wajahnya sedihnya, dan Kevin dengan wajah gusarnya. Satu-satunya persamaan di wajah kedua orang itu, yaitu sama-sama tidak ada senyuman yang tersemat di bibir mereka.
Bukan hanya wajah kedua pengantin itu yang tampak terlihat tidak bahagia, tapi juga pada wajah Amira, Rendra dan Shakira, tidak terkecuali Keysha dan Mutia mamahnya. Bukannya dia tidak menyetujui seandainya Shakila benar-benar jadi menantunya. Akan tetapi batin seorang ibu itu sangat peka. Mutia bisa melihat,kalau Kevin putranya tidak menginginkan pernikahan ini. Dia juga bisa melihat, tidak ada lagi binar cinta buat Shakila yang terlihat di manik mata berwarna hitam kecoklatan milik putranya itu.
"Kenapa kamu tidak terlihat bahagia Kevin?" bisik Seno dengan mata yang memicing curiga. Sebenarnya, sebagai seorang laki-laki yang berpengalaman, dia dengan jelas bisa melihat, kalau Kevin tidak memiliki perasaan lagi buat putrinya.
Bibir Kevin kini sangat kelu, dan tidak kuasa untuk menjawab. Ingin rasanya dia menjawab kalau dia tidak menginginkan pernikahan ini. Akan tetapi, dilain pihak dia tidak tega membayangkan seandainya Dewa benar-benar tidak hadir, Seno dan keluarganya pasti akan merasakan malu.
"Hmm, aku cuma merasa gugup aja Om!" ucap Kevin gugup.
Seno tersenyum smirk, mendengar jawaban Kevin yang jelas-jelas sedang berbohong.
"Masih saja dia tidak mau ngaku. Aku mau lihat seberapa kuat kamu tidak mau mengungkapkan keberatanmu atas pernikahan ini." bisik Seno di dalam hatinya.
"Oh, kalau begitu, sekarang sudah tiba waktunya. Upacara pernikahannya kita mulai saja sekarang!" ujar Seno.
Deg ....
Kevin menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan sekali hentakan.
"Sepertinya aku memang harus bisa menerima pernikahan ini," Kevin mendesah pasrah.
"Tunggu!" teriak seseorang dari arah pintu. Tampak di sana Dewa yang ngos-ngosan seperti habis lari marathon. Penampilannyapun sekarang sangat acak-acakan, dimana rambutnya sudah terlihata berantakan dan tuxedo putihnya sudah tampak kotor karena kecipratan lumpur.
Shakila terlihat kebingungan dengan kedatangan Dewa. "Bukannya hari ini dia seharusnya menikah dengan Ka Kirana? tapi kenapa dia biasa ada di sini? itu benaran Ka Dewa gak sih?" batin Shakila. Dia hampir saja mengucek-ucek matanya untuk memastikan yang datang Dewa atau hanya halusinasinya saja. Beruntung masih ada sedikit kesadaran pada dirinya kalau sekarang dia sedang memakai bulu mata palsu, sehingga dia cukup menutup mata sebentar, lalu membukanya kembali. "Eh, masih ada, berarti dia benar-benar Ka Dewa," seulas senyuman terbit seketika di bibir Shakila.
Melihat penampilan Dewa yang kacau, membuat Seno ingin tertawa. Akan tetapi dia menyurutkannya, ketika pinggangnya terasa sakit yang amat sangat. Apalagi itu kalau bukan cubitan Amira yang mendarat di pinggangnya. Lain Shakila, lain Seno, lain pula dengan Kevin. Kevin terlihat menghembuskan nafasnya dengan lega, sambil memegang dadanya.
"Selamat, kamu berhasil datang tepat waktu! Tapi apa kamu yakin akan menikahi putriku dengan penampilan seperti itu?" tanya Seno berusaha menahan tawa, karena melihat pelototan mata dari Amira.
__ADS_1
"APA?!! Menikah? apa yang akan menikah dengan Kila, Ka Dewa,Pi?" celetuk Shakila, yang terkesiap kaget. Seno menganggukkan kepalannya membenarkan.
"Ja-jadi Ka Kevin, bagaimana?" Shakila melirik Kevin, merasa sedikit bersalah. Akan tetapi, Shakila kembali sedikit merasa kaget, ketika tidak melihat adanya kesedihan yang terlihat di mata Kevin. Yang terlihat justru Kevin yang senyum-senyum, dan terlihat bahagia.
"Apa Ka Kevin jadi stress karena terancam gak jadi nikah samaku ya?" batin Shakila menebak dan merasa sedikit bersalah.
"Eh, tunggu dulu! kenapa Ka Dewa bisa ada di sini? dan bagaimana pernikahan Ka Kirana? apa aku dijadikan istri kedua?" cecar Shakila dengan bertanya beruntun.
"Nanti saja Papi jelaskan, sekarang biar Dewa ganti pakaian dulu." Papah kamu sebenarnya sudah menyiapkan tuxedo untukmu di kamar. Sekarang kamu pergi ganti." titah Seno, dengan mendorong sedikit tubuh Dewa.
"Ka Dewa, dimana Ka Rendi? apa dia tadi nggak bersama Kakak?" tiba-tiba Shakira menghadang jalan Dewa.
"Astaga! iya ya?" Dewa terkesiap karena tidak melihat keberadaan Rendi. "Tadi dia memang bersama aku ke sini, dan tadi aku tidak terlalu memperhatikan dia lagi,karena buru-buru ke sini.Coba kamu lihat keluar deh!" sambung Dewa kembali. Kemudian Dewa pergi, menuju ruang ganti, dan Shakira keluar untuk mencari Rendi suaminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Astaga, Ka Rendi ...! Kakak Kenapa?" Shakira memberikan pijatan ringan di pundak Rendi, yang sedang muntah-muntah sekarang. Wajahnya juga terlihat sangat pucat seperti tidak di aliri darah sama sekali.
"Ini semua karena Dewa sialan itu, Yang. Dia bawa motornya seperti angin ****** beliung. Aku jadi pusing jadinya. Udah gitu dia main tinggal begitu saja." ucap Rendi dengan kesal serta napas yang memburu.
"Kamu kenapa Sayang? kenapa wajahmu pucat?" Rendi, panik melihat tubuh Shakira yang sempat limbung hampir jatuh.
"Gak pa-pa Ka, cuma sedikit pusing aja.Aku ke dalam dulu ya ambil minum," Shakira hendak mengayunkan langkahnya, tapi Rendi dengan sigap menahan tangan istrinya itu.
"Tidak usah! kita masuk bareng aja!" Rendi menggenggam tangan Shakira dan menggandengnya masuk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dewa kini sudah selesai berganti pakaian dan rambutnya sudah disisir rapi. Hatinya sekarang berbunga-bunga, karena dia tidak pernah menyangka kalau hari ini dia dan gadis pujaannya akan resmi menjadi suami istri.
Dewa kembali ke dalam ruangan upacara pernikahan dengan senyuman yang tidak pernah tanggal dari bibirnya.
__ADS_1
Dia melangkah maju ke depan dan berhenti tepat di sebelah kanan Shakila. Setelah Dewa sudah berdiri dengan sempurna, acara sakral untuk meresmikan dua orang berbeda jenis kelamin itu menjadi suami istri, secara hukum dan agama pun dimulai.
Dewa menjawab setiap pertanyaan dengan tegas demikian juga dengan Shakila. Tidak menunggu waktu lama, akhirnya Dewa dan Shakila pun sah menjadi suami istri. Dewa terlihat menyeka cairan bening yang dengan lancangnya keluar dari sudut matanya.
"Kenapa wajahmu merengut dari tadi Kila? apa kamu tidak bahagia menikah dengan Dewa?" alis Seno bertaut tajam penuh tanda tanya, karena dari tadi wajah Shakila terlihat merengut tidak senang. Pertanyaan Seno, juga menarik perhatian Dewa. Dengan kening yang berkerut, dia juga menatap Shakila menuntut jawaban.
"Bukan tidak bahagia,Pi. Aku bahagia banget bisa menikah dengan Ka Dewa, tapi bukan begini caranya. Aku mau dilamar romantis dulu sama Ka Dewa. Ka Dewa berlutut dan bilang 'will you marry me?', seperti di drama-drama Korea gitu," sahut Shakila dengan bibir yang masih mengerucut.
Semua yang mendengar celotehan Shakila sontak tertawa, tak terkecuali Dewa. "Bukannya kamu sudah melamar aku duluan? jadi__"
"APA?! Shakila melamarmu?" pekik Seno memotong ucapan Dewa. Dia benar-benar kaget mengetahui fakta, kalau putrinya melamar seorang laki-laki.
"I-iya Pi! tapi kan itu __"
"Kamu sama persis dengan mamimu, urat malunya putus." sela Seno jengkel, sebelum Shakila mengajukan pembelaan.
Seno mengembuskan napasnya ke udara. Sebenarnya dari tadi dia berusaha untuk menahan air matanya untuk keluar.
"Killa, waktu berjalan dengan cepat. Aku seperti merasa baru kemarin aku menggendongmu, menyanyikan lagu pengantar tidur untukmu, menciummu di pagi hari, walaupun kamu masih bau ompol ketika baru bangun. Papi merasa, seperti baru kemarin kamu merengek-rengek minta dibelikan es cream, minta dibelikan mainan dan mengadu karena mainanmu direbut sama Kira. Sekarang ternyata kamu sudah dewasa dan sudah jadi seorang istri. Papi mau,kamu bisa menjadi seorang istri yang baik dan menghormati suamimu bagaimanapun keadaannya nanti. Bila nanti saatnya kamu diberikan anugrah menjadi seorang ibu, jadi seorang ibu yang baik dan didik anak-anakmu dengan akhlak yang baik terlebih dulu. Karena percuma kalau anak-anakmu pintar, tapi ahklaknya tidak ada. Bila ada masalah dalam rumah tanggamu kelak, jadilah seorang istri yang bijak, jangan mempublikasikan masalah keluargamu. Karena di saat hal itu terjadi pasti akan banyak yang berpura-pura simpati pada masalahmu, dan akan ada orang yang berbahagia dengan masalahmu itu. Tapi selesaikanlah dengan kepala dingin dan mengadulah kepada Tuhan terlebih dahulu," tutur Seno panjang lebar, dengan cairan bening yang sudah berhasil membobol bendungan manik mata Seno. Hingga membuat Shakila menangis tersedu-sedu.
Setelah itu, Seno mengalihkan tatapannya dari Shakila ke Dewa. "Dewa, aku memang tidak pernah terlihat serius dalam berkata-kata. Tapi kali ini aku mau berbicara serius padamu. Kamu sekarang sudah menjadi suami putriku,Killa. Itu berarti kamu sudah menjadi menantuku. Aku minta padamu agar tulus menyayangi Kila, dan membahagiakannya. Sekarang aku menyerahkan sepenuhnya putriku untuk kamu jaga dan lindungi. Tapi itu bukan berarti aku akan lepas tangan dalam melindungi dia juga. Dia masih sangat muda, jadi kamu tolong bimbing dia agar semakin dewasa.Aku percaya kamu pasti bisa menjadi suami yang baik buat putriku. Jangan sekali-kali kami sakiti dia baik secara fisik maupun batin, karena bukan hanya dia yang merasa sakit, aku pun pasti akan merasakan sakitnya juga." tutur Seno sambil memeluk Dewa, yang sekarang sudah sah menjadi menantunya.
"Baik,Pi! aku memang tidak akan menjanjikan sesuatu, tapi, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi suami yang baik dan ayah yang baik buat anak-anak kami kelak." tegas Dewa.
"Satu hal lagi, Wa! Dan ini yang lebih penting. Sini kamu mendekat padaku, aku mau membisikkan sesuatu padamu." Seno menggerakkan jari telunjuknya, agar Dewa mendekat padanya.
"Acara pernikahan ini sudah aku urus, jadi acara resepsinya, jangan kira aku juga yang mengurusnya. Enak saja kamu mau gratisan. Resepsinya minggu depan. Ingat itu!" bisik Seno dengan lugas. Lalu dia mengayunkan langkahnya menghampiri Amira istrinya,meninggalkan Dewa yang menghela napas pasrah.
"Kiraa!!" teriak Rendi tiba-tiba, sambil menahan tubuh Shakira yang tiba-tiba pingsan.
Tbc
Wow, hampir 1600 kata, cari 400 kata lagi sebenarnya sudah bisa dua episode.😁
__ADS_1
Kalau berkenan please vote rekomendasinya di kasih ke novel ini dong. Biar aku makin semangat.🙏😍🤗