
Kedua netra Galang, membesar melihat photonya juga dijadikan wallpaper oleh Lea.Seketika mereka berdua salah tingkah dan memberikan ponsel masing-masing.
"Emm, anu ... itu, aku pamit dulu?" Galang berbalik, dengan wajah yang meringis sembari menggaruk-garuk kepalanya. Seandainya bisa, ingin sekali dia membenamkan wajahnnya ke dalam tanah, lapisan yang paling dalam,karena perasaan malunya sekarang.
"Ka, Galang! kenapa ada photoku kakak jadikan wallpaper di ponsel Kakak?" tanya Lea, yang membuat langkah Galang terhenti seketika. Galangpun menarik oksigen agar masuk mengisi rongga paru-parunya yang sempat seperti kosong,lalu membuangnya kembali ke udara dengan sekali hentakan.
Dengan memberanikan diri, Galangpun berbalik kembali untuk kembali menghadap Lea, lalu dia tersenyum kikuk,menatap Lea yang juga tengah kikuk menatapnya.
"Sebelum aku jawab, boleh aku bertanya juga, kenapa photoku,kamu jadikan wallpaper kamu juga?" bukannya menjawab,Galang justru balik bertanya.
"Kok, Kakak balik bertanya? Kalau kakak tidak mau jawab, ya udah aku juga tidak akan menjawab. Sekarang Kakak boleh pulang, aku mau masuk dulu!" Lea, berbalik merasa kecewa dengan Galang. Dia nyaris melangkahkan kakinya,untuk masuk kedalam rumah, tapi tiba-tiba dia menyurutkan langkahnya, ketika tiba-tiba Galang menyeletuk.
"Itu, karena aku menyukaimu!__bukan ... lebih tepatnya aku jatuh cinta padamu." tegas Galang, tidak bisa menahan lagi.
Deg ...
Azalea mematung pada tempatnya, senyumnya terbit menghiasi bibirnya. Dengan jantung yang berdebar-debar, Lea memutar kembali badannya dan tersenyum ke arah Galang.
"Jadi, sekarang apa?" tanya Lea, karena Galang hanya diam saja, tidak mengatakan apa-apa lagi padanya
"Jadi, sekarang apa lagi?" Galang terlihat bingung,tidak mengerti apa maksud pertanyaan Lea. "Bukannya aku sudah mengungkapkan perasaanku? jadi mau apa lagi?" bisik Galang, yang hanya dia saja bisa mendengarnya.
"Udah, begitu aja Ka?" Lea menautkan kedua alisnya, merasa gemas, melihat Galang yang tidak bertanya, bagaimana tanggapannya, dan memintanya,mau atau tidak jadi pacarnya.
"Iya, jadi mau gimana lagi? apa aku harus merangkai kata-kata, seperti seorang pujangga?" kening Galang berkerut,bingung dengan apa maksud Lea.
"Oh, ya udah, kalau begitu aku mau masuk dulu Kak! selamat malam dan hati-hati di jalan." Lea berbalik membelakangi Galang, dan mulai melangkahkan kakinya, hendak masuk ke dalam rumah.
Galang, terpaku pada tempatnya, merasa sedikit kecewa dengan Lea, yang tidak memberikan tanggapan sama sekali, dan justru menyuruhnya pulang.
Galang menghela nafasnya, lalu memutar badannya, hendak berlalu dari tempat itu, sesuai dengan yang Lea inginkan. Akan tetapi langkahnya tiba-tiba terhenti,ketika mendengar suara Lea.
"Aku juga mencintaimu Kak, dan aku mau jadi pacar Kakak, walaupun Kakak tidak menanyakan kesediaanku mau atau tidak!" celetuk Lea tiba-tiba.
__ADS_1
Galang melebarkan kedua netranya, merasa kurang percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Setelah dirasanya,kalau yang dia dengar nyata, dia memutar badannya kembali, tersenyum lebar, seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia merasa sangat bodoh sekarang di hadapan Lea.
...----------------...
Setelah Galang benar-benar sudah pergi, meninggalkan sebuah kecupan di keningnya, Lea berlari masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu dan menyender di sana sembari memegang dadanya yang bergemuruh. Rona merah juga kini menyembul di pipinya mengingat Galang yang meraih tangannya dan membawa ke bibirnya serta mengecup keningnya.
Lea menghempaskan tubuhnya di atas ranjang miliknya, lalu menutup wajahnya dengan bantal.Setelah itu, dia menendang-nendangkan kakinya ke udara, melempar-lempar bantal ke atas,
dan berguling-guling di bawah selimut.
Malam ini, dia benar-benar sangat bahagia, sehingga senyuman di bibirnya tidak pernah pernah memudar.
Azalea,meraih ponselnya dan melakukan panggilan pada Shakira dan Shakila. Dia benar-benar tidak sabar untuk berbagi kebahagiaan dengan kedua sepupu sekaligus sahabatnya itu. Sebenarnya, dia ingin menghubungi Vina terlebih dulu, tapi jam segini,pasti Vina sudah dimonopoli oleh Kakaknya Aariz, dan tidak akan bisa diganggu sama sekali.
Galang, masuk kedalam unit apartemennya, dengan senyuman yang masih setia bertengger di bibirnya. Dia menghempaskan tubuhnya di atas sofa,dan berniat untuk melakukan panggilan pada Lea, gadis yang sudah berhasil jadi tambatan hatinya sekarang. Akan tetapi, ketika dihubungi,ponsel Lea selalu sibuk, seperti sedang melakukan panggilan dengan orang lain.
Galang, akhirnya mengirimkan pesan, lalu meletakkan kembali ponselnya, dan berniat menunggu Lea selesai bertelepon dengan orang lain. Karena terlalu lama menunggu, tanpa sadar, Galang terlelap dengan tubuh yang masih dengan posisi menyender di sandaran sofa.
...----------------...
Shakira berjalan dengan raut wajah yang ditekuk menuju tempat dimana dia memarkirkan mobilnya. Dia merasa sedikit kesal, karena setelah selesai kelas, Lea dan Shakila menghilang entah kemana.
"Sepertinya mereka berdua, sibuk berpacaran, sampai-sampai mereka melupakanku." Bibir Shakira tidak berhenti menggerutu dari tadi.
"Huft, Kapan aku bisa seperti mereka sih?" Kesal Shakira dalam hati.
__ADS_1
"Kira, apa uang jajanmu kurang? kenapa tuh muka keriting saja dari tadi?" kepala Rendi menyembul dari dalam mobil. Sepertinya Rendi juga akan pulang.
"Apa, Bapak kira aku masih bocah?" Cetus Shakira,masih dengan wajah kusutnya sembari menggembungkan kedua pipinya.
"Kenapa kamu panggil aku bapak lagi sih?" raut wajah Rendi berubah, seperti tidak senang dengan panggilan Shakira.
"Hei, apa bapak lupa,kalau ini masih kawasan kampus? kan bapak sendiri yang bilang kalau di kampus panggil bapak, di luar, kamu baru bisa manggil Ka." Ucap Shakira, mengingatkan Rendi atas ucapannya dulu.
"Oh iya, ya?" cengir Rendi.
"Kalau begitu, aku pamit pulang dulu ya Pak?" Shakira naik ke atas motornya, memutar kunci motor, dan bersiap untuk melajukan motornya.
"Shakira bisa tunggu sebentar?!" panggil Rendi menahan Shakira agar tidak pergi dulu.
"Emm, kenapa Pak?" Detak jantung Shakira sontak bergemuruh tidak karuan, karena Rendi tiba-tiba menahannya pergi.
"Emm, kamu masuk dulu ke dalam mobilku, karena ada yang mau aku tanyakan padamu! ucap Rendi,dengan menyematkan seulas senyuman di bibirnya.
Shakira membuka helm dari kepalanya, turun dari atas motor,lalu melangkah masuk ke dalan mobil Rendi. Bayangan akan mendapat kejutan yang menyenangkan hatinya dari Rendi, laki-laki yang kini sudah berhasil membuatnya bisa move on dari Juna, berkelebat di pikirannya.
"Bapak, mau menanyakan apa?" Shakira berpura-pura memasang wajah tenangnya, dengan menyembunyikan senyum di bibirnya.
"Hmm, kamu panggil Kakak saja sekarang!__Aku mau tanya sama kamu, Shakila sudah punya pacar belum?" tanya Rendi, yang membuat kupu-kupu yang tadinya beterbangan di kepala Shakira,langsung berubah menjadi lalat yang membuat dirinya ingin menghindar segera.
"Aku tidak tahu! kenapa Kakak tidak tanyakan saja langsung pada dia?" ucap Shakira dengan hati yang terasa perih, seperti ribuan jarum yang datang menyerang.
"Kamu kan,kembarannya, kamu pasti tahu dong, kalau__"
"Aku memang kembarannya, bukan berarti aku harus tahu semua tentang Shakila. Permisi, aku mau pulang dulu!" Shakira membuka pintu mobil dan keluar dengan menutup pintu dengan lumayan keras, hingga membuat kening Rendi berkerut,bingung.
Shakira kembali naik ke atas motornya, memasang helm,lalu melajukan motornya,tanpa pamit lagi pada Rendi. Di balik helm yang menutupi wajahnya, air mata yang berusaha dia tahan tumpah seketika membasahi pipinya.
Tbc
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya gais.Kasih hadiah berupa mawar juga diterima kok😁😁