Dosenku Kekasihku

Dosenku Kekasihku
Papah harus kuat!


__ADS_3

"Aaaaa!" Teriak seseorang yang berusaha melindungi Kevin dari tusukan pisaunya Dika. Sontak Kevin, yang menjadi target awal terkesiap dan berbalik. Kekagetanya semakin bertambah begitu melihat siapa yang telah melindunginya.


"Papaaahh!" teriak Kevin dan Keysa bersamaan, yang langsung menghambur memeluk orang yang mereka panggil Papah itu. Ya, dia itu Satria yang diam-diam tadi mengikuti Kevin, ketika melihat Kevin terburu-buru keluar dari kantor. Nalurinya berkata, kalau Kevin ada dalam bahaya.


Bersamaan dengan itu, Seno datang bersama dengan polisi yang langsung meringkus Dika dan komplotannya.


"Papah?" gumam Gendis dan Rendra bersamaan dengan alis yang bertaut.


"Papah, tahan Pah! jangan tutup matanya! papah harus kuat! Kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Kevin yang panik,dan dibarengi dengan suara tangisan histeris Keysa.


Satria tersenyum di sela-sela rasa sakit yang dia rasakan. Tiada hal yang lebih membahagiakan baginya, begitu mendengar kedua anak yang dia sia-siakan memanggilnya, Papah.


"Terima kasih, Nak! kalian berdua sudah mau memanggilku papah. Sekarang Papah sudah lega," ujar Satria yang semakin melemah dan perlahan-lahan matanya terpejam.


"Papaaah!" teriak Kevin dan Keysa bersahut-sahutan. Kevin berusaha untuk mengangkat tubuh Satria. Melihat Kevin yang masih lemah, Rendra berinisiatif untuk membantu mengangkat tubuh Satria dibantu oleh Seno papinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kevin berjalan mondar-mandir di depan pintu IGD, tempat Satria sedang mendapat penanganan. Berkali-kali Gendis mengajaknya untuk mengobati lukanya dulu, tapi Kevin tidak mengindahkannya sama sekali.


"Pah, Papah harus kuat! Kevin berjanji, kalau Papah kuat, Kevin akan maafin Papah! " Kevin membatin dengan mata yang berkali-kali menatap pintu IGD.


"Kenapa lama sekali sih periksa begitu saja? mereka lagi ngapain aja di dalam?" Kevin menghambur ke pintu, ingin membukanya dan masuk ke dalam.


"Sabar, Kevin! kamu duduk dulu dan tenangkan pikiranmu!" Seno menarik Kevin agar duduk di kursi besi di depan ruang IGD itu.


"Ini semua salahku!" tangis Keysa tak kunjung berhenti. Dia asyik menyalahkan dirinya sendiri di pelukan Gendis.


Suara sepatu yang berbenturan dengan lantai, terdengar mendekat ke arah mereka berada. Dia adalah Rendra yang datang dengan membawa baju kaos oblong yang dia pakai tadi kuliah.


"Nih, kamu ganti dulu baju kamu!" Rendra menyerahkan kaos oblong miliknya ke tangan Keysa.

__ADS_1


"Tidak usah, Ren! terima kasih! aku mau nungguin kabar Papah dulu," sahut Keysa yang baru kali ini bisa berbicara agak panjang dengan Rendra, setelah selama ini mereka selalu tidak berani untuk memulai percakapan lebih dulu.


"Kamu tidak mungkin memakai pakaian seperti itu terus, setidaknya pakai kaos oblong ini, lebih baik dari pakai jas itu. Ganti baju juga tidak memakan waktu yang lama kan? Kalau Om Satria sudah selesai diperiksa, aku akan mencarimu, jadi sana ganti!" titah Rendra, dengan ekspresi wajah yang datar. Dia merasa marah bila mengingat, tubuh Keysa yang sudah dilihat oleh ke lima pemuda tadi, dan bahkan hampir dijamah oleh mereka. Jika tidak ada hukum, ingin rasanya dia mematahkan tangan-tangan yang hampir saja melecehkan Keysa.


"Ayo, biar kakak temani kamu!" Gendis berdiri dan meraih tangan Keysa, yang masih terlihat berat untuk meninggalkan tempatnya. Akan tetapi, karena melihat sorot mata Rendra yang tajam, akhirnya dengan berat hati dia mau pergi bersama dengan Gendis.


Rendra mengepalkan tangannya, memandang punggung Keysa yang mulai menghilang dari pandangannya. Dia tidak bisa membayangkan seandainya mereka sampai terlambat di tempat itu. Rendra melangkah menghampiri Kevin dan Seno papinya, mendaratkan tubuhnya, duduk dengan kedua tangan yang bertumpu di atas kedua pahanya.


"Apa kamu mengenal ke lima pemuda tadi, Vin?" Seno mulai membuka percakapan setelah melihat kondisi Kevin yang mulai tenang.


"Iya, Om! mereka semua mantan Keysa, yang dia tinggal begitu saja,Om!"sahut Kevin dengan wajah yang menunduk.


"Hmm, banyak juga ya?" ada terselip nada yang sinis pada ucapa Seno. Sehingga memunculkan perasaan tidak nyaman pada Kevin dan demikan juga halnya dengan Rendra. Dia yakin dengan kejadian ini, Papinya tidak akan setuju seandainya dia dengan Keysa.


"Sebenarnya ini bukan maunya Keysa Om. Dia melakukannya demi aku. Padahal aku sudah melarangnya untuk tidak melakukan hal itu." Kevin semakin menundukkan kepalanya, merasa malu dengan apa yang sudah terjadi.


"Maksudnya?" kening Seno berkerut, demikian halnya juga dengan Rendra.


"Oh, jadi gara-gara itu?" Seno menganguk-anggukan kepalanya, mengerti apa yang sudah terjadi.Seketika pandangan buruknya pada Keysa menguap entah kemana.


Suara sepatu yang terdengar berbenturan dengan lantai mengaalihkan tatapan ketiga orang itu, ke asal suara tersebut. Terlihat Mutia yang menghampiri mereka dengan sedikit berlari. Tampak di wajah wanita setengah baya itu, raut wajah yang panik.


"Vin, apa yang sebenarnya terjadi? mana Keysa?" Mutia mengedarkan tatapannya, mencari keberadaan putrinya itu.


"Keysa, lagi ganti pakaian Tante," sahut Rendra.


"Vin jelaskan sama Mamah, apa yang sebenarnya terjadi?" Mutia menatap Kevin dengan sorot mata yang meminta penjelasan.


Kevin menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan sekali hentakan. Kevin pun menjelasakan apa yang sudah terjadi dengan rinci dan detail sehingga membuat air mata Mutia merembes membanjiri pipinya.


"Jadi bagaimana kabar Papahmu sekarang?" kembali Mutia bertanya di sela-sela isak tangisnya.

__ADS_1


"Belum tahu Mah! Dokter belum ...,"


"Keluarga Pak Satria!" belum sempat Kevin menyelesaikan ucapannya, seorang dokter muncul dan memanggil mereka.


"Iya, kami Dok! bagaimana keadaan papah saya, Dok?" Kevin menghambur dan bertanya dengan manik mata yang tidak sabaran menunggu penjelasan dokter.


"Keadaan pasien sangat lemah, karena sudah banyak mengeluarkan darah. Kami sudah melakukan transfusi darah karena kebutulan stok darah di rumah sakit ini tersedia. Akan tetapi, jantung beliau yang awalnya ternyata sudah ada gangguan, membuat beliau masih kritis, dan sekarang beliau inging bertemu dengan anak-anaknya," papar dokter itu panjang lebar. Bersamaan dengan itu, Keysa yang sudah selesai berganti pakaian, mengambur mendekat ke tempat Kakak dan Mamanya berada.


Mutia, Kevin dan Keysa akhirnya masuk ke dalam. Air mata yang tadinya sudah sempat mengering, kini kembali menetes melihat kondisi Satria yang memprihatinkan.


"Mutia ... terimakasih, kamu sudah menjadi wanita yang hebat, yang bisa membesarkan mereka sendiri serta mendidik mereka menjadi anak-anak yang hebat. Aku mohon agar kamu mau memaafkan semua kesalahanku, agar aku bisa tenang pergi dari dunia ini.


"Mas, kamu jangan mengatakan seperti itu. Aku sudah memaafkanmu! sekarang kamu harus kuat demi anak-anak kita. Kamu harus kuat,agar kamu bisa menghabiskan waktu bersama mereka mengganti waktu yang sia-sia selama ini." ujar Mutia dengan bersimbah air mata.


"Iya, Pah! Papah harus kuat! Kevin sudah maafin Papah,"


"Keysa juga Pah! aku mau Papah nanti yang mendapingiku, kalau aku menikah kelak. Papah mau kan?" isak Keysa sambil menggenggam erat tangan Satria.


"Terima kasih! kalian sudah mau memaafkan Papah. Tapi, Papah sudah tidak kuat lagi, Papah sudah bisa tenang pergi sekarang. Papah berdoa semoga kalian semua bahagia,"


"Tidak Pah! Papah nggak boleh ngomong seperti itu! Papah pasti bisa bertahan!" Kevin menangis sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, diikuti dengan anggukan kepala dari Mutia dan Keysa.


Satria menyunggingkan senyumannya di sela-sela rasa sakit yang dia rasakan.


"Vin, Papah berharap kamu jangan seperti Papah kelak. Cintai dan jaga yang akan menjadi istrimu kelak. Aku juga mau titip Mamah dan adikmu ya! Satu lagi, jika kamu berkenan tolong cari adik kamu Lisa dan sayangi juga dia. Entah kenapa aku merasa kalau sekarang dia tidak bahagia dan tersiksa. Dia memiliki seorang ibu yang haus akan harta, dan akan melakukan segala cara untuk mendapatkan harta itu.Papah takut, mamahnya akan memanfaatkan Lisa untuk bisa mendapatkan apa yang dia mau." tutur Satria dengan napas yang sudah tersengal-sengal sambil memberikan sebuah photo Lisa ke tangan Kevin, yang selalu dia simpan di dompetnya.


"Makanya Papah harus sembuh! biar kita bisa cari Lisa sama-sama!"


"Maaf, Vin, Papah tidak bisa! Papah sudah tidak kuat lagi." Bersamaan dengan itu, Satria menghembuskan napasnya yang terakhir dan dengan perlahan menutup matanya. Satu hal yang pasti, dia pergi dengan senyum yang terulas di bibirnya.


Tbc

__ADS_1


Jangan lupa buat ninggalin jejaknya ya gais. Please like, vote, rate dan komen. Thank you


__ADS_2