Dosenku Kekasihku

Dosenku Kekasihku
Hari pernikahan Iqbal dan Lisa.


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu oleh Iqbal tiba juga. Dimana hari ini, dia dan gadis yang sudah lama dia nantikan akan resmi menjadi suami istri. Dia terlihat mondar-mandir,karena merasa gugup sekaligus khawatir, takut Lisa berubah pikiran di saat acara sakral mereka berdua.


"Kak bisa berhenti mondar-mandir gak?!" seru Kevin yang merasa pusing melihat Iqbal yang bolak-balik lewat di depan matanya.


"Aku gak bisa tenang, Vin. Bagaimana nanti kalau Lisa tiba-tiba kabur dan menolak menikah dengan ku?" terang Iqbal gusar sambil mendaratkan tubuhnya ke lantai,menyender ke tempat tidur.



"Kamu tenang saja! itu tidak akan terjadi. Aku berani jamin itu." ucap Kevin menenangkan, dengan senyum manis terpancar di bibir Kevin.


"Bagaimana kamu bisa seyakin itu? kamu tidak mengatakan yang tidak-tidak kan padanya?" Sudut mata Iqbal tertarik ke atas, menatap curiga pada Kevin.


"Kamu tenang saja, aku tidak mengatakan apa-apa kok, cuma nasehat kecil saja," tutur Kevin kembali menenangkan.


Acara sakral pun akhirnya berjalan dengan lancar. Apa yang ditakutkan oleh Iqbal tidak terjadi sama sekali. Kini dia dan Lisa sudah sah menjadi suami istri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah Iqbal dan Lisa sah menjadi suami istri, resepsinya juga diadakan hari itu juga. Lisa tampak cantik dengan gaun pengantin berwarna putih, dengan mahkota bertahta berlian di kepalanya.



"Please kamu tersenyum tulus! jangan terpaksa seperti itu!" bisik Iqbal persis di telinga Lisa.


"Jangan paksa aku! harusnya kamu bersyukur kalau aku masih bisa tersenyum." Lisa kembali berbisik, dengan perasaan yang dongkol.


"Tapi, jujur saja, senyuman kamu sama sekali tidak pantas disebut senyuman. Itu lebih pantas disebut 'seringaian'. Coba kamu bayangkan saja singa yang lagi menyeringai, begitulah bentuk senyuman kamu sekarang." ledek Iqbal, membuat bibir Lisa mengerucut, semakin dongkol.


"Ngomong aja sepuasnya, aku tidak perduli." pungkas Lisa, dan kembali fokus pada para tamu yang kembali antri untuk mengucapkan selamat pada mereka berdua. Tiba-tiba perhatian mereka teralih ke arah panggung lain, tempat band yang mereka bayar untuk memeriahkan acara pesta itu. Dimana ada Kevin yang berdiri di sana dengan gagahnya.


"Para tamu yang terhormat, tahu tidak? sekarang saya begitu bahagia, karena Iqbal, kakak seniorku kuliah dulu, bisa menjadi adik ipar ku.Dulu aku harus memanggilnya kakak, sekarang dia yang harus memanggilku kakak. Betapa adilnya hidup ini bukan? Selama ini kalian hanya melihat, wajah dinginnya, tapi kalian tidak pernah tahu, kalau orang yang selalu berwajah dingin ini, memiliki suara yang sangat bagus. Kalian tentunya penasaran kan bagaimana bagusnya suara dia? sama, aku juga penasaran. Jadi mari kita arahkan dia untuk untuk naik ke panggung dan menyanyikan sebuah lagu untuk kita! beri tepuk tangan yang meriah buat raja kita malam ini!" seru Kevin.


lqbal mendelik tajam ke arah Kevin, yang langsung berpura-pura mengalihkan tatapannya ke tempat lain.


"Apa kamu benar-benar bisa bernyanyi? sebaiknya kamu tidak usah ke sana! nanti kamu akan jadi bahan tertawaan." entah apa maksud Lisa dalam ucapannya. antara meremehkan kemampuan Iqbal dalam bernyanyi, atau menjaga harga diri dari laki-laki yang sudah berstatus jadi suaminya itu, hanya dia lah yang tau. Tapi yang jelas Iqbal menganggap kalau Lisa kini tengah meremehkan kemampuannya.


Dengan helaan nafas yang panjang, diiringi sorakan para tamu yang menyuruhnya untuk bernyanyi, Iqbal akhirnya berdiri, menerima mikropon, bersiap untuk bernyanyi.


"Baiklah! sebenarnya suaraku tidak terlalu bagus untuk bernyanyi. Akan tetapi, malam ini aku akan bernyanyi satu buah lagu. Tapi lagu ini, tidak aku persembahkan buat kalian semua, seperti yang dikatakan oleh kakak ipar ku tadi. Tapi lagi ini khusus aku nyanyikan buat istriku. Terimakasih, sayang sudah mau menerimaku menjadi suamimu. Aku tidak bisa menjanjikan kalau aku akan memberikan kamu kebahagiaan untuk selamanya. Tapi yang jelas, aku akan selalu berusaha, untuk selalu bisa membahagiakanmu. Salah satu lagu kesukaanku adalah, 'I wanna grow old with you' dan sekarang aku akan menyanyikannya khusus untukmu. Karena aku benar-benar ingin menua dengan denganmu." Suara gemuruh tepuk tangan mulai menggema, setelah Iqbal menyelesaikan 'short speech' nya.


"Cih, apa dia mengira, dengan dia berkata seperti itu, aku akan merasa tersanjung dan terlena. Itu tidak akan pernah terjadi." gumam Lisa, yang sebenarnya sedikit berlawanan dengan kata hatinya.

__ADS_1


Suara alunan musik yang akan mengiringi lagu yang akan dinyanyikan oleh Iqbal, mendayu menyentuh telinga setiap orang yang mendengar. Sedangkan Lisa menutup telinganya, memejamkan mata, dengan jantung yang berdebar kencang, takut kalau suara Iqbal akan mempermalukan dirinya sendiri. Akan tetapi, kedua netra Lisa seketika membesar dengan sempurna, begitu Iqbal mulai bernyanyi. Suara Iqbal tidaklah seburuk yang dia kira, justru suara itu sangat merdu, membuat tubuh Lisa meremang mendengarnya.


Another day without your smile


Another day just passes by


And now I know


How much it means


For you to stay right here with me


The time we spent apart


Will make our love grow stronger


But it hurts so bad


I can't take it any longer


I wanna die lying in your arms


I wanna be looking in your eyes


I wanna be there for you


Sharing in everything you do


A thousand miles between us now


It causes me to wonder how


Our love tonight (our love tonight)


Remains so strong (remains so strong)


It makes our risk (it make our risk)


Right all along


The time we spent apart

__ADS_1


Will make our love grow stronger


But it hurt so bad I can't take it any longer


I wanna die lying in your arms


I wanna be looking in your eyes


I wanna be there for you


Sharing in everything you do


Things can come and go


I know but


Baby I believe


Something's burning strong between us


Makes it clear to me


Back to chorus.


Iqbal bernyanyi dengan penuh penghayatan, karena memang lagunya sesuai dengan isi hatinya,yang memang ingin menua bersama Lisa, dan mati terbaring di lengan Lisa serta ada dirinya di mata wanita yang kini sudah berstatus istrinya itu. Suara tepuk tangan kembali bergema setelah Iqbal selesai dengan nyanyiannya dan kembali duduk di samping Lisa.


"Bagaimana, apa suaraku merdu?" tanya Iqbal sembari mengerlingkan sebelah matanya.


Lisa memutar bola matanya dan melirik sekilas ke arah Iqbal. "Cih, biasa aja! aku lebih baik mendengar si gembul mengeong dari pada mendengarmu bernyanyi," ketus Lisa, menyebutkan nama kucing kesayangannya, sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain, supaya Iqbal tidak melihat kebohongan di manik matanya.


Iqbal menghela nafasnya dengan keras, merasa kecewa dengan ucapan Lisa. Padahal tadi, dia berharap dengan ucapan dan lagu yang dia sampaikan bisa meluluhkan hati Lisa.


Keheningan terjeda cukup lama di antara mereka berdua. Iqbal duduk dengan kedua tangan yang bertumpu di atas pahanya. Sedangkan Lisa, sibuk dengan lamunannya yang merasa sedikit bersalah pada Iqbal. Akan tetapi, karena egonya yang masih tinggi, membuat dia susah untuk mengucapkan kata 'maaf'.


"Para tamu sudah mulai pulang, bolehkah aku, masuk ke kamar? aku capek, pengen istirahat," kalimat pertama yang keluar dari mulut Lisa, semenjak dia mengatai suara Iqbal bernyanyi, menghentikan keheningan yang tercipta di antara mereka berdua.


"Silahkan! apa perlu aku antar kamu?" sahut Iqbal berharap, Lisa menjawab 'iya'.


"Tidak usah! aku bisa berjalan sendiri." kembali rasa kecewa menyelinap ke dalam hati Iqbal mendengar, penolakan Lisa atas maksud baiknya untuk mengantarkannya ke kamar.


Iqbal kembali menghela nafasnya dengan sekali hentakan. "Ya udah! kamu hati-hati. Nanti aku akan menyusulmu, kalau semuanya sudah pulang." sahut Iqbal menutupi rasa kecewanya.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2