
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bahkan kalender sudah bertukar 4 kali,yang artinya sudah 4 bulan berlalu.Galang bahkan sudah menikah 3 bulan yang lalu, dan sekarang Lea sudah hamil 2 bulan. Demikian juga Shakila yang juga sudah hamil 3 bulan.
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Kevin dan Gendis, dimana hari ini adalah hari yang akan membawa mereka pada status yang baru, yakni suami-istri. Ya, Kevin lebih memilih tidak mau berpacaran lama-lama lagi. Dia memilih untuk segera menjadikan Gendis istrinya, di samping dia sudah mapan, dia juga tidak mau kehilangan Gendis yang banyak disukai oleh pria.
Di acara sakral, Gendis tampil cantik dengan balutan gaun warna putih bersih, demikian juga dengan Kevin yang terlihat tampan dan gagah dengan tuxedo putihnya.
Sedangkan untuk acara resepsi, Gendis lebih memilih gaun dengan warna gold yang dipenuhi dengan permata yang bersinar-sinar,menambah ke' glamoran gaun itu.
Acara resepsi berjalan dengan lancar dari awal sampai akhir dan terlihat para tamu sangat menikmati selama berlangsungnya acara.
Kini Gendis tampak sudah segar dan duduk menyender dengan santainya di sandaran kasur pengantin mereka dengan Sedangkan Kevin masih berada di kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Apakah dia akan memintanya hari ini?" detak jantung Gendis tidak bisa diajak kompromi dari tadi. Detak jantungnya berpacu dengan suara dentingan jam dinding yang kalah cepat dengan detak jantungnya, sampai dia tidak menyadari kalau Kevin kini sudah duduk menyender juga di sampingnya.
"Apa yang kamu lamunkan, hum?" bisik Kevin tepat di telinga Gendis, hingga membuat Gendis terjengkit kaget.
"Lho, kamu kok udah ada di sini Kak?"tanya Gendis dengan tatapan bingung.
Kevin mendengkus, sambil melirik Gendis dengan bibir yang sedikit tertarik ke atas. "Makanya jangan asik melamun, sampai suami sendiripun diabaikan. Kalau seandainya aku tadi ular, mungkin kamu sudah dipatuk."
__ADS_1
"Maaf, Kak!" Gendis terkekeh menatap lucu wajah Kevin yang cemberut.
"Hmm, Kak, sekarang kita mau ngapain? tanya Gendis.
"Kamu maunya ngapain?" Kevin balik bertanya, dengan kerlingan mata yang menggoda ke arah Gendis.
"Kok balik nanya sih?" Gendis mengerucutkan bibirnya yang langsung disergap oleh Kevin dengan menempelkan bibirnya di sana.
Kevin dengan lembut me*lu*mat bibir tipis milik Gendis dan menyesapnya dengan penuh perasaan. Tidak menunggu waktu lama, ciuman mereka yang awalnya lembut, lambat laun berubah sedikit liar. Lidah keduanya saling membelit, saling mengisap. Kedua tangan Kevin juga tidak tinggal diam, tangannya sudah bergelirya, masuk ke dalam baju, meraba semua lekuk tubuh Gendis, yang ternyata tidak memakai penutup lagi di dadanya. Sehingga dengan leluasa dia bisa memberikan remasan-remasan lembut, dan sesekali memilin pucuk yang sudah menegang itu.
Wajah Kevin mulai merambat turun, menyesap leher Gendis, dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana. Tapi, ketika dia hendak membuka pakaian Gendis, tiba-tiba dia menghentikan aksinya dan menatap Gendis dengan kernyitan di keningnya.
"Apa ini kaos ku?" Kevin menunjuk ke kaos oblong warna putih, yang tampak kebesaran di badan Gendis, yang dijawab Gendis dengan anggukan kepala, membenarkan.
"Aku tidak tahu, Kak. Koperku tiba-tiba hilang, padahal seingatku aku bawa koper yang berisi pakaian gantiku, tapi kok bisa hilang ya?"
"Kamu mungkin lupa, kamu kira sudah bawa ternyata nggak! sekarang kita lanjut lagi ya," Kevin kembali membumkam mulut Gendis dengan bibirnya sebelum Gendis menjawab. Dia kembali menghisap, menyesap bibir Gendis dengan sedikit liar tapi penuh perasaan. Tangan Kevin bergerak mengangkat kaos yang dipakai oleh Gendis sehingga di depan matanya kini terpampang jelas dan nyata pemandangan yang sangat indah dimana ada dua bukit yang di puncaknya bertengger permen lolipop berwana pink kecoklatan. sehingga dia ingin segera menyesap lolipop itu.
Wajah Gendis benar-benar merona, melihat Kevin yang menatap benda miliknya seperti singa yang sangat lapar. Tanpa diperintah siapapun, kini mulut Kevin sudah mendarat dengan sempurna dan mengemut permen itu yang baginya lebih nikmat dibandingkan dengan permen lolipoo biasa.
drttt drttt drttt
Tiba-tiba ponsel Gendis berbunyi pertanda ada panggilan yang sedang masuk. Kevin tidak membiarkan Gendis untuk menjawab telepon itu, dia tetap saja memberikan rangsangan-rangsangan yang membuat mulut Gendis mengeluarkan suara desahan yang sangat merdu di telinga Kevin. Bunyi ponsel itu akhirnya berhenti, berganti dengan bunyi 'ting' pertanda ada pesan masuk.
__ADS_1
Disaat Kevin hendak membuka penutup akhir berbentuk segitiga di bawah sana, lagi-lagi dia kaget melihat ada tulisan GT Man di pinggang ramping milik istrinya.
"Astaga, gendis! kamu pakai ce*la*na dalam ku juga?" Gendis hanya nyengir kuda, menampakkan deretan giginya yang rapi sebagai jawaban.
Malam pertama, biasanya istri memakai pakaian yang menarik buat suami, tidak terkecuali pa*kaian dalam. Tapi, hal itu tidak berlaku buat Gendis, dia malah memberikan surprise dengan memakai pa*kaian dalam pria di malam pertamanya.
Kekagetan Kevin tidak berlangsung lama. Dia kembali memberikan sentuhan-setuhan lembut pada istrinya. Dia tidak memperdulikan lagi apa yang dipakai oleh Gendis, toh yang pentingkan isinya. Yang penting isinya bukan pedang seperti miliknya.
Tidak seberapa lama, terdengar suara pekikan dari mulut Gendis ketika, ada benda yang berhasil masuk ke pusat intinya.
"Sakit," desisnya lirih dengan sudut mata yang mengeluarkan cairan bening.
Kevin, membiarkan sejenak 'pedang saktinya' berada di dalam goa milik Gendis, agar goa itu bisa beradaptasi dengan benda asing yang baru saja bertandang ke sana.
Setelah dirasa cukup, Kevinpun kembali melanjutkan aksinya, dengan melakukan gerakan maju mundur. Rasa sakit yang tadi sempat dirasakan oleh Gendis kini luruh, berganti dengan desahan nikmat yang dia rasa akibat penyatuan dirinya dengan Kevin.
Di saat ingin melakukan pelepasan, Kevin mempercepat gerakannya, dan mengerang keras ketika saos mayonize miliknya disemburkan ke dalam rahim istrinya berkali-kali.
Kevin memberikan kecupan yang cukup lama, di puncak kepala istrinya, setelah menuntaskan hasratnya.
"Terima kasih, Sayang, sudah menjaganya untuk'ku!" ucapnya dengan lembut seraya menyeka peluh yang menetes di pelipis istrinya itu. Gendis membalas ucapan terima kasih Kevin dengan seulas senyuman yang bertengger manis di bibirnya. Perlakuan Kevin yang lembut, membuat Gendis merasa dihargai sebagai seorang wanita.
Gendis meraih ponselnya, untuk melihat siapa tadi yang menghubunginya, dan siapa yang mengirim pesan padanya. Ternyata si penelepon dan si pengirim pesan adalah orang yang sama.
__ADS_1
"Kak, maaf,kopermu terbawaku pulang ke rumah. Tadinya aku mau antar kembali ke hotel, tapi kalau dipikir, buat apa? toh Kakak juga tidak akan memakai baju malam ini." Keysa.