
Acara resepsi Dewa dan Shakila berjalan dengan lancar. Kesalahpahaman yang sempat terjadi antara Kevin dan Galang kini sudah selesai, karena Kevin sudah meminta maaf dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Kini tiba saatnya momen yang ditunggu-tunggu oleh para gadis dan pemuda yaitu pelemparan hand bouquet oleh sang pengantin wanita. Shakila terlihat sudah melempar hand bouquet yang berjenis Hand tied bouqet yang memiliki ciri khas sendiri karena terdiri dari rangkaian bunga berwarna cerah yang terkesan nggak beraturan. Nggak hanya bunga, buket ini dihiasi oleh pemanis lain seperti tetumbuhan hijau.
Bukan tanpa alasan dia memilih jenis hand bouquet ini, karena memang hand bouquet ini sejalan dengan tema pernikahan yang rustic pilihan Shakila. Selain itu, warna-warni serta bentuknya yang nampak bebas menggambarkan sang pengantin sebagai pribadi ceria dan menyenangkan.
Semua gadis dan pria lajang sudah menunggu dengan jantung yang berdebar-debar, berharap berhasil menangkap hand bouquet itu, dan cepat-cepat menyusul sang pengantin untuk segera mendapatkan jodoh. Di antara kerumunan itu, tidak tampak Lea dan Galang ikut mengambil tempat di sana. Galang malah terlihat menghilang, dan Lea berdiri di samping agak jauh dari kerumunan gadis dan pemuda itu.
Shakila berdiri membelakangi kerumunan dengan tangan yang terangat ke atas, sambil sesekali mengayun-ayunkan hand bouquetnya.
"Satu ... dua ...." sang pemberi aba-aba diam sejenak untuk menambah ketegangan.
"Tigaaaaaa!" Shakila memutar badannya dan mengayunkan langkahnya menghampiri Lea. Kemudian dia menyerahkan hand bouquet itu dengan senyuman yang mengembang manis di bibirnya. Lea membesarkan matanya, bingung antara mau menerima atau tidak.
"Ayo,terima!" Shakila menarik tangan Lea dan meletakkan hand bouquetnya di tangan Lea.
"Sekarang coba kamu lihat ke belakang!" Lea menuruti perintah Shakila, dan dia sontak menutup mulutnya melihat Galang yang sudah berlutut dengan sebuah kotak beludru berisi cincin yang terulur padanya.
"Lea, menikah lah dengan'ku!" ucap Galang, dengan senyuman yang bertengger manis di bibirnya.
Kedua netra Lea berkilat-kilat karena manik matanya yang sudah dipenuhi oleh kelenjar cairan bening. Dia mengalihkan tatapannya ke arah Bimo dan Tiara orangtuanya untuk meminta persetujuan. Senyum di bibirnya sontak mengembang ketika dia melihat anggukan kepala dari Bimo dan Tiara.
"Ya, aku mau!" seru Lea dengan semangat sambil mengulurkan jarinya untuk dimasuki cincin bertahta berlian yang benar-benar pas di jari manisnya.
Semua gadis dan pemuda yang awalnya sedikit kecewa, akhirnya bertepuk tangan dengan meriah melihat suasana romatis yang baru saja tercipta.
"Hai menantuku, boleh aku memelukmu?" ucap seorang wanita setengah baya yang masih terlihat sangat cantik, yang dari tadi sudah berdiri di dekatnya dan bahkan mereka sempat saling bertukar cerita.
__ADS_1
"Me-menantu?" kening Lea mengrenyit bingung sambil mengalihkan tatapannya ke arah Galang yang tersenyum.
"Kenalkan, ini Mamahku, dan itu Papahku," Galang menunjuk ke arah pria setengah baya,yang masih tampak gagak dan memiliki kemiripan dengan Galang.
"I-ini maksudnya apa?" tanya Lea gugup.
"Nanti saja aku jelaskan," ucap Galang dengan senyuman yang tidak pernah tanggal dari bibirnya. Ya, tanpa sepengetahuan Lea, sehari sebelum acara resepsi Dewa dan Shakila,Galang dan orangtuanya sudah datang ke kediaman Bimo untuk melamar Lea. Setelah lamarannya diterima, barulah dia bekerja sama dengan Dewa dan Shakila untuk memberikan kejutan pada Lea, dengan melamarnya di acara resepsi sahabatnya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mutia! apakah ini benaran kamu?" Mutia diam terpaku di tempatnya, ketika mendengar suara seorang laki-laki yang sangat familiar di telinganya. Suara laki-laki yang tidak ingin dia temui lagi seumur hidupnya.
"Pak, Satria! apa Bapak mengenal Mamah saya?" tanya Kevin dengan alis yang terangkat ke atas. Ya, dia adalah Satria, pria setengah baya, yang pernah menjabat sebagai manager keuangan, dan sekarang menjadi bawahan Kevin di kantor. Selama di acara pesta tadi, dia sudah penasaran dengan sosok Mutia, wanita yang pernah dia tinggalkan demi Rina, yang kini justru meninggalkan dia.
"Apa dia mamahmu?" bukannya menjawab, Satria justru balik bertanya dengan jantung yang berdetak kuat. Dia terkesiap kaget ketika melihat Kevin menganggukkan kepalanya.
"Iya, dia mamahku, dan ini adikku, Pak!" jawab Kevin lugas dan tidak lupa untuk tersenyum. Sedangkan Keysa tersenyum sambil mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan Satria. Ada perasaan aneh yang menyelinap ke dalam hati Keysa, begitu kulit tangannya bersentuhan dengan kulit tangan milik Satria, ditambah dengan adanya kemiripan antara Satria dan kakaknya Kevin.
"Berarti mereka berdua anak-anakku," bisik Satria dengan manik mata yang sudah berkaca-kaca, karena tidak menyangka bahwa ternyata selama ini dia dekat dengan putranya. Dia merutuki kebodohannya yang tidak bisa mengenal putra sendiri,padahal dia ingat jelas, kalau putranya dulu bernama Kevin. Tapi, selama ini dia menganggap, kalau yang punya nama Kevin itu banyak.
"Mah, kenapa Mamah tidak mau memutar badan? ini Pak Satria, dan beliau mengenal Mamah. Apa Mamah tidak mengenal beliau?" tanya Kevin yang heran dengan sikap mamahnya yang tidak seperti biasanya.
"Mamah tidak mengenal dia, dan tidak ingin mengenalnya. Ayo kita pulang!" ucap Mutia dengan tangan yang siap membuka pintu mobil yang baru saja dibeli oleh Kevin.
"Mutia, apa segitunya kamu membenciku? sampai kamu tidak mau mengenalkanku pada anak-anak kita?" tanya Satria dengan tatapan sendu.
"A-anak kita? maksudnya?" Kevin terkesiap dengan mata membesar. Demikian juga dengan Keysa, yang tidak kalah kagetnya dengan Kevin kakaknya. Mereka berdua sontak menatap mamahnya denga tatapan meminta penjelasan.
Mutia terlihat mencengkaram handle pintu mobil dengan kencang dengan raut wajah yang ikutan mengencang juga. Lalu dia memutar tubuhnya dan menatap dingin dan tajam ke arah Satria, laki-laki yang pernah sangat dicintainya untuk pertama kalinya.
__ADS_1
"Aku sudah menganggap, kalau mereka sudah tidak memiliki papah, semenjak kamu memutuskan untuk pergi meninggalkan kami, dan lebih memilih wanita murahan itu!" Ucap Mutia dengan tegas dan berapi-api.
"Apa maksudnya ini semua, Mah? tolong jelaskan! dia ini ...." Kevin menunjuk ke arah Satria, dengan mulut yang kelu, tidak sanggup untuk menyebut kata papah.
"Aku,.Papah kalian berdua Vin!" terang Satria dengan tatapan sendu. Dia berusaha meraih Kevin kedalam pelukannya. Akan tetapi, Kevin memundurkan langkahnya, sehingga Satria hanya bisa menggapai angin.
"Tidak! kamu bukan papah kami! kami tidak mungkin punya papah yang tidak punya hati seperti kamu! " Kevin menunjuk ke arah wajah Satria dengan tatapan kebencian.
"Tapi aku memang benar-benar papah kalian berdua Vin!" seru Satria berusaha kembali untuk meraih Kevin dan Keysa. Tapi, lagi-lagi Kevin dan Keysa menepis tangannya.
Mendapat penolakan dari Kevin dan Keysa, membuat Satria semakin merasa sedih. Tiba-tiba dia menjatuhkan tubuhnya bersimpuh di kaki Mutia.
"Mutia, tolong jelaskan pada mereka, kalau aku ini benaran papah mereka! Aku tahu, kalau aku banyak berbuat salah padamu, dan mungkin tidak pantas untuk mendapat maaf darimu dan dari kedua anak kita. Sekarang aku sudah mendapat karma dari semua perbuatanku Mutia." Satria menangis sesunggukan di bawah kaki Mutia. Dia yang sehari-harinya terlihat tegas dan galak, kini terlihat seperti laki-laki yang sangat lemah. Segala keangkuhannya tidak lagi terlihat di dalam diri Satria sekarang.
Mutia bergeming tidak mau menatap ke arah Satria yang berlutut di kakinya. Rasa sakit yang ditorehkan oleh Satria dulu, sudah sangat membekas, dan sukar untuk dihilangkan.
Karena tidak mendapat jawaban dari Mutia,Satria beralih ke arah Kevin dan Keysa yang berdiri berdampingan.
"Nak, maafin papahmu ini! Papah banyak salah, dan sekarang papah benar-benar sudah menyesal. Papah tidak mau meminta lebih, papah hanya mau maaf dari kalian semua," mohon Satria dengan di sela-sela isak tangisnya.
"Ketika, aku masih memerlukan pelukan seorang ayah, kemanakan dirimu? apakah kamu tahu ketika aku kecil dulu, setiap aku bangun tidur, aku menemukan diriku sendiri sedang menangis saat teringat tentang aku yang tidak memiliki seorang ayah. Tapi, aku coba untuk tetap bersabar dan menerima kenyataan dan aku harus kuat menghadapi semuanya karena aku menganggap kalau aku ini seorang laki-laki yang punya kewajiban untuk menjaga dan melindungi mamah dan adikku.Terkadang aku menangis ketika ada teman yang menceritakan kebahagiaan suasana keluarganya dan jujur terkadang aku sangat iri dengan cerita-cerita mereka. Ada yang bilang kalau waktu akan mengobati segalanya, tapi kehilangan orang yang menyayangiku seperti dirimu, percayalah lukanya tak terobati. Silakan pergi jika kau sudah tidak mau bersama dengan mamah lagi, namun satu hal yang seharusnya kamu ingat, ada mata anak yang selalu menantimu di rumah untuk bisa bersama." ucap Kevin dengan panjang lebar dengan air mata yang sudah berhasil membobol pertahanannya.
"Maafkan papah, maafkan papah Vin, Nak! " Satria kembali memohon dengan menyentuh tangan kedua anaknya itu.
"Maaf untuk saat ini, masih sulit untuk kami bisa memaafkan anda." ucap Kevin. Kemudian dia meraih tangan Mutia mamahnya yang terlihat sudah ikutan menangis terisak-isak, demikian juga dengan Keysa.
"Mah, Key, ayo kita pulang!"
Tbc
__ADS_1