
Keysa, dari tadi sama sekali tidak konsentrasi dalam melakukan pekerjaannya. Dia melamun sambil tersenyum-senyum sendiri dan sesekali menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya Bayangan wajah Rendra yang mengungkapkan isi hatinya dan bahkan mencium bibirnya, masih berkelebat di benaknya.Semua yang berada satu ruangan dengan nya, menatapnya aneh.
Keysa menyentuh bibirnya yang masih merasakan kalau ada sisa bekas bibir Rendra di sana.Dia bahkan merasa malas untuk minum, takut bekas bibir Rendra hilang.
Semua tingkah Keysa tidak luput dari pantauan Rendra dari dalam ruangannya. Rendra selalu memantau Kegiatan Keysa lewat kamera CCTV yang sengaja dia hubungkan ke laptopnya.
"Apa sih yang dia bayangkan sampai senyum-senyum sendiri?" gumam Rendra. Tiba-tiba dia tergelak, ketika melihat Keysa yang mengurungkan niatnya untuk minum, sambil menyentuh bibirnya.
"Kayanya dia tidak mau bekas ciumanku hilang. Dasar gadis bodoh! mau berapa lama dia bakal tahan gak minum?" Rendra menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil meraih telepon yang ada di mejanya.
"Suruh, Nona Keysa ke ruangan saya sekarang!" titah Rendra. Kemudian meletakkan kembali gagang telepon setelah terdengar sahutan 'iya' dari ujung telepon. Sebelum Keysa datang, Rendra buru-buru mengambil segelas air dan meletakkannya di atas meja.
Tok ... tok ...
"Masuk!" Rendra melonggarkan dasinya, karena dia merasa dasinya seperti sedang mencekiknya. Padahal, bukan karena itu, Rendra hanya tiba-tiba merasa grogi karena dia yakin yang datang sekarang pastilah sang pujaan hati.
Suara decitan pintu yang terbuka, semakin membuat jantung Rendra seakan sedang berlomba lari di sana. Dia duduk di kursi kebesarannya dengan posisi membelakangi pintu.
"Iya, Pak Rendra, Bapak memanggil saya?" suara lembut Keysa, tidak serta merta membuat detak jantung Rendra berangsur normal, justru semakin berdisco ria di dalam sana.
"Dasar jantung tak ada akhlak! bisa diam gak sih?" umpat Rendra pelan.
"P-Pak Rendra?" Keysa kembali memanggil dengan gugup, karena tidak ada respon dari pria di hadapannya itu.
Rendra memberanikan diri memutar kursinya dan menatap sang pujaan hati yang kini juga tengah menatapnya.
"Kamu mendekat ke sini?" Rendra menggerakkan jari telunjuknya untuk memanggil Keysa.
Dengan langkah ragu-ragu, Keysa mendekat hingga jarak mereka tidak kurang dari 30 cm.
Rendra berdiri dan mencondongkan tubuhnya sehingga jarak mereka kini semakin dekat.
"Kenapa kamu tidak mau minum, hum?" bisik Rendra, hingga membuat tubuh Keysa meremang seketika.
"Heh?" Keysa mengernyitkan keningnya. "Darimana dia tahu kalau aku, tidak mau minum?" batinnnya, sambil mengerjab-erjapkan matanya. Dia langsung paham ketika ekor matanya melirik ke arah laptop yang sedang menampilkan ruang kerjanya.
"Kamu mengintai ku?" Keysa mendorong lembut dada Rendra dengan bibir yang mengerucut.
Rendra menggaruk-garuk kepalanya, merasa malu karena tertangkap basah oleh Keysa. Tapi, rasa malunya hanya sepersekian detik saja. Detik berikutnya dia sudah berhasil menguasai keadaan. "Emang salah kalau aku mau melihat calon istriku bekerja? takutnya kamu digoda sama laki-laki lain," seketika semburat merah timbul di pipi Keysa mendengar kata 'calon istri' dari mulut Rendra.
__ADS_1
"Kenapa pipi kamu merah? apakah kamu kepanasan?" Rendra semakin gencar menggoda Keysa, seakan ada kesenangan tersendiri baginya melihat pipi Keysa yang memerah, yang membuat kadar kecantikan Keysa semakin bertambah baginya.
"Bi-bisa tidak kamu memundurkan wajahmu sedikit?" desis Keysa.
"Baik, apa cukup segini?" Rendra memundurkan setengah centi, wajahnya.
"Sedikit lagi!"
Rendra malah memajukan wajahnya hingga hampir tidak ada jarak antara wajahnya dengan wajah Keysa, yang refleks memundurkan wajahnya. Akan tetapi dengan tangkas kepalanya ditahan oleh Rendra menggunakan tangan kiri, agar wajah Keysa tidak benar-benar menjauh.
Hembusan nafas beraroma mint dari bibir Rendra, membuat pikiran Keysa benar-benar melayang ke ciuman Rendra di mobil tadi. Keysa memejamkan matanya, dengan bibir yang sudah siap menerima datangnya bibir Rendra.
Keysa membuka sebelah matanya, karena apa yang diharapkan tidak kunjung tiba. Kedua matanya terbuka dengan sempurna begitu melihat,kalau Rendra sudah tidak berdiri dekat dengan dirinya lagi.
"Haish, mikir apa sih aku?" batin Keysa sambil mengetuk-ngetuk kepalanya,malu.
"Nih, kamu minum dulu!" di tangan Rendra sudah ada segelas air yang terulur ke arahnya. Senyum jahilnya belum tertanggal dari bibirnya.
Dengan yang gemetar dan rasa yang enggan, Keysa menerima segelas air dari tangan Rendra.
"Ayo minum cepat!" desak Rendra yang melihat yang sepertinya masih ragu untuk meminum air yang ada di tangannya.
Keysa akhirnya meneguk air, hingga hampir habis setengah, karena memang dia sudah haus.
"Kalau begitu mari kita buat jejaknya lagi," ucap Rendra yang terasa ambigu buat Keysa.
"Mak__" bibir Rendra, membungkam bibir Keysa dengan bibirnya sebelum Keysa membuka mulutnya. Dia mengisap, menyesap bibir Keysa yang menurutnya rasanya sangat manis. Karena Keysa tidak membalas sama sekali, membuat Rendra gemas, dan menggigit pelan bibir Keysa. Karena gigitan Rendra, membuat Keysa membuka sedikit mulutnya dan Rendra tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Lidahnya langsung membelit lidah Keysa, hingga menimbulkan gelayar aneh pada Keysa. Tanpa sadar Keysa akhirnya menggantungkan tangannya, ke leher Rendra dan mulai membalas pagutan bibir Rendra. Walaupun, dia masih kaku, tapi tidak bisa dibilang payah juga.
"Kamu tidak perlu takut untuk minum lagi. Kalau kamu mau minum, minum saja. Kamu bisa datang padaku, agar aku bisa meninggalkan jejak bibir ku lagi di sini," Rendra membelai bibir tipis Keysa, sambil menghapus bekas salivanya yang menempel di bibir sang pujaan hati yang sudah lama dia kagumi itu.
"Itu mah maunya kamu," Keysa mendorong tubuh Rendra dengan pipi yang merona merah seperti kepiting rebus yang baru diangkat dari panci.
Rendra terkekeh melihat tingkah malu-malu Keysa,yang baginya sangat menggemaskan.
Drrttt ... drrttt
Keysa melirik ke arah ponselnya yang dia letakkan tadi di atas meja, dan melihat kalau Lisa sedang menghubunginya.
"Siapa?" tanya Rendra berubah dingin karena melihat Keysa yang meliriknya dan ragu-ragu untuk menjawab.
__ADS_1
"Li-Lisa," Keysa berucap lirih.
"Kamu jawab saja, dan hidupkan speakernya!" titah Rendra dengan tatapan yang sukar untuk dibaca.
"Bi-biarin saja, Ren!"
"Kalau tidak mau, biar aku saja yang angkat," Renda merampas ponsel Keysa dan menekan tombol hijau di ponsel itu.
"Halo Key, lama banget sih ngangkatnya? bagaimana, apa rencana ku tadi berhasil? Rendra udah ngungkapin cintanyakan? dugaan saya benar kan,kalau dia juga suka sama kamu?" suara Lisa terdengar riang dari tempat berbeda.
Keysa meringis ketika melihat tatapan Rendra yang tajam menuntut penjelasan darinya.
"Ada yang perlu kamu jelaskan?" Rendra memutuskan panggilan secara sepihak, tanpa memperdulikan Lisa yang dia yakini pasti menggerutu di sana.
"Hmmm, i-iya aku jelaskan,"
Flashback On
" Key,tunggu! aku punya ide," Lisa menahan Keysa yang hendak turun untuk menemui Rendra.
"Ide apa?"
"Ide, supaya Rendra mau ngungkapin perasaannya padamu. Karena aku yakin kalau, dia sebenarnya juga suka sama kamu." ucap Lisa dengan sangat yakin.
"Gak mungkin! itu cuma dugaan kamu saja." sangkal Keysa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Aku yakin banget, Key! dari cara dia yang meminta dipindahkan ke Mahardika, itu karena dia ingin bisa melihat kamu terus. Dan seingatku dulu, dia juga suka curi-curi pandang ke arahmu." Papar Lisa dengan semangat.
Keysa tampak bergeming, dengan menggigit bibirnya. Dia menghela nafasnya dan menatap ke arah Lisa.
"Jadi apa ide kamu?"
" Nanti aku pura-pura masih mengejarnya, kamu bisa lihat reaksinya, dia menolak atau senang-senang saja, Jika dia menolak, kamu bisa bawa-bawa namaku, dan mengatakan kalau kamu rela mundur kalau dia menyukaiku, atau wanita lain. Aku yakin dia pasti tidak bisa untuk tetap menyembunyikan perasaannya. Dia pasti akan mengungkapkan perasaanya, karena dia tidak mau pertunangan kalian gagal, bagaimana? hebat kan ideku?" Lisa terlihat sangat bangga dengan buah pemikirannya yang dia anggap sudah sangat hebat.
"Tapi bagaimana kalau dia menyetujui untuk lebih memilih wanita lain?" Keysa menggigit bibirnya, merasa gugup dan khawatir.
"Gak akan! yakin deh sama ku!"
"Baiklah! aku harap sesuai dengan harapan," walaupun merasa ragu, tapi Keysa tetap tertarik dengan ide Lisa.
__ADS_1
Flashback end
Tbc