Dosenku Kekasihku

Dosenku Kekasihku
Ajakan makan siang.


__ADS_3

Monday morning ....


Bagi sebagian orang, Senin merupakan hari yang menyebalkan,tapi bagi para pekerja keras Senin merupakan Money day buat mereka. Sama seperti Kevin yang begitu semangat, berangkat kerja,karena hari ini merupakan hari pertama baginya menjabat sebagai asisten pribadi di Wijaya group.


"Pagi, Pak Kevin!" sapa para karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya, dan seperti biasa, Kevin akan selalu membalas sapaan setiap orang dengan anggukan kepala.


"Pak Kevin, selamat ya, atas posisi barunya!" Pak Satria, mengulurkan tangannya, menjabat tangan Kevin.


"Terima kasih Pak Satria!" Kevin tersenyum simpul dan menyambut uluran tangan Satria.


"Kalau begitu, aku pamit dulu ya Pak!" sambung Kevin, berlalu dari hadapan Satria setelah pria setengah baya itu mengiyakan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kevin, nanti dari perusahaan G.L akan datang ke perusahaan kita, untuk membicarakan konsep iklan, yang akan mereka gunakan untuk mengiklankan produk makanan kita yang baru.Jadi, tolong nanti kamu saja yang menyambut dan menilai apakah konsepnya bagus atau tidak, soalnya aku ada urusan nanti di luar dengan Bimo." titah Seno.


"Baik Pak Seno!__Emm, kalau boleh tahu,jam berapa nanti utusan mereka datang ke sini, Pak?"


"Hmm, mungkin sebentar lagi." tukas Seno sembari membereskan berkas yang ada di mejanya,karena dia akan berangkat setelah ini.


Tok ... tok ... tok.


"Masuk!" teriak Seno dari dalam.


"Pak, ada tamu dari perusahaan G.L, katanya sudah ada janji dengan Pak Seno." ucap sosok seorang perempuan, yang merupakan sekretaris Seno.


"Oh, iya. Suruh saja dia masuk!" titah Seno.


"Selamat pagi Pak Seno!" sapa seorang perempuan yang baru saja masuk ke ruangan Seno.


"Selamat pagi Nona, silahkan duduk!" sahut Seno sambil menunjuk ke arah sofa.


Kevin sontak menoleh ke arah suara, karena suara perempuan itu sangat familiar di telinganya.


"Gendis (Kak Kevin)!" gumam keduanya bersamaan dalam hati.

__ADS_1


Untuk sepersekian detik, manik mereka berdua saling bertemu. Detik berikutnya, Gendis langsung mengalihkan tatapannya, dan menghentikan pertemuan dua pasang manik mata itu.



"Terima kasih, Pak Seno!" Gendis mengembangkan senyumnya dan mengayunkan langkahnya menuju sofa yang ditunjukkan oleh Seno. Lalu mendaratkan tubuhnya duduk di sofa itu.


"Kevin, kamu kok diam saja di sana? kenalkan ini utusan dari perusahaan G.L, nona___" Seno menoleh kearah Gendis.


"Gendis, Pak Seno!"ucap Gendis tanpa menanggalkan senyumannya.


Kevin beranjak dari tempatnya berdiri dan melangkah, menghampiri Gendis.


"Kenalkan, saya Kevin, Nona!" Kevin mengulurkan tangannya ke arah Gendis.


Gendis kembali berdiri dan menyambut tangan Kevin dengan tangan yang sedikit gemetar.


"Aku Gendis Pak Kevin!" sahut Gendis dengan bibir yang gemetar.


"Oh ya Gendis, aku mau keluar dulu,karena ada urusan di luar. Jadi konsep iklannya,kamu jelaskan saja pada Kevin." ucap Seno.


"Jadi, gue berdua saja dengannya di sini? jantung gue, please bisa diajak kerja sama ya! jangan berdetak berlebihan. Please kasihani gue." bisik Gendis pada dirinya sendiri.


"Nona Gendis, apa kamu mendengarkan saya?" ucap Seno dengan suara yang sedikit dikeraskan,hingga membuat Gendis terjengkit, bangun dari alam bawah sadarnya.


"Eh, i-iya Pak Seno, gak pa-pa." Gendis menundukkan sedikit tubuhnya.


Keheningan terjeda beberapa menit, setelah kepergian Seno.


"Emm, kita bicara di ruanganku saja!" Kevin memulai percakapan, untuk menghentikan suasana akward yang sempat tercipta diantara mereka berdua.


"Emm, terserah Pak Kevin!" sahut Gendis, yang membuat kening Kevin berkerut merasa tidak suka dengan panggilan Gendis barusan.


"Kalau begitu ikut saya!" nada bicara Kevin berubah sangat dingin. Dia mengayunkan langkahnya keluar dari ruangan Seno, disusul oleh Gendis dari belakang.


"Sekarang coba kamu jelaskan, konsep yang dibuat oleh perusahaan kalian." titah Kevin sebari mendaratkan tubuhnya di kursi kebesarannya.

__ADS_1


Gendis, menarik nafas dalam-dalam untuk meraup oksigen yang menurutnya terasa kurang baginya, karena berbagi udara dengan Kevin di ruangan yang sama.Setelah oksigen yang dia raup dirasa cukup, dia lalu menghembuskannya dengan panjang.


Setelah detak jantung Gendis, sudah mulai normal, dengan lugas dan jelas Gendis menjelaskan konsep yang mereka buat. Kevin mendengar dengan tidak fokus sama sekali, tatapannya tidak lepas dari bibir Gendis yang bergerak-gerak.



"Bagaimana Pak Kevin? apa anda tertarik?" Kevin seketika tersadar dari lamunannya, begitu mendengar pertanyaan Gendis.


"Mmm, bagaimana tadi? aku kurang mengerti." ujar Kevin, mengalihkan tatapannya, takut ketahuan kalau dia sama sekali tidak fokus.


"Saya sudah berbicara panjang lebar menjelaskan dari tadi,apa anda sama sekali tidak mendengar penjelasan saya sedikitpun Pak Kevin?" Gendis mulai kesal.


"Kamu berbicara terlalu cepat, siapa pun tidak akan bisa mencerna, apa yang kamu ucapkan jika kamu berbicara secepat itu." Kevin mencoba mencari alibi.


"Pak Kevin, kalau aku berbicara terlalu cepat, harusnya dari awal anda menegurku.Jangan sudah selesai seperti ini, anda baru menegurku." ujar Gendis dengan nafas yang memburu dan berusaha menahan emosinya.


Kevin bergeming dan bingung mau mencari alasan lain lagi. "Ada apa sih dengan gue? kok bisa tidak fokus saat dia berbicara tadi? gue nggak lagi jatuh cinta dengan dia kan?__hmm, alasan apa lagi yang mau gue bilang, biar dia mengulangi penjelasannya? kan gak mungkin gue menerima atau menolak begitu saja, tanpa tahu konsep yang sedang dia ajukan?" Kevin menggaruk-garuk kepalanya.


"Hmm, baiklah aku minta maaf! tadi kepala saya tiba-tiba pusing, jadi, aku kurang fokus mendengar penjelasan kamu. Boleh kamu ulangi lagi?" akhirnya Kevin menemukan alasan yang tepat tanpa mengorbankan gengsinya.


Gendis menghembuskan nafasnya dengan panjang.Walaupun dia masih kesal, dia akhirnya memutuskan untuk kembali menjelaskan dengan lugas dan jelas. Kali ini Kevin sudah terlihat fokus mendengarkan dan dia merasa kagum dengan konsep yang sedang diutarakan oleh Gendis itu.


"Baik! konsep yang kamu jelaskan tadi, sangat bagus dan menarik. Saya rasa perusahaan kami setuju untuk memakai konsep yang diajukan sama perusahaan anda. Nanti aku akan serahkan kembali surat kontraknya pada kamu, setelah ditandatangani oleh Pak Seno atau Pak Rendra." pungkas Kevin mengakhiri pembicaraan mereka berdua.


"Terima kasih Pak Kevin!__ Hmm, kalau begitu aku pamit dulu Pak Kevin!" Gendis memutar badannya dan mengayunkan langkahnya hendak keluar dari ruangan Kevin. Tapi, tiba-tiba dia menyurutkan langkahnya, ketika mendengar Kevin memanggil namanya.


"Gendis! apa kamu mau makan siang sekarang denganku?" Kevin merutuki mulutnya yang keceplosan mengajak Gendis makan siang.


Gendis kembali memutar tubuhnya, merasa aneh dengan ajakan Kevin. "Maaf Pak Kevin, sepertinya anda benar-benar butuh obat. Ada angin apa Pak Kevin ngajak aku makan siang?" Gendis mengangkat kedua alisnya.


"Kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa, Nona Gendis! tadinya aku cuma mau lebih akrab saja.Karena bagaimanapun kita akan lebih sering bertemu nanti.Tapi, sepertinya kamu tidak mau, jadi aku tidak akan memaksa." ujar Kevin mulai kesal.


"Hmm, Baiklah kalau begitu Pa Kevin! aku mau makan siang dengan anda!" pungkas Gendis akhirnya.


Tbc

__ADS_1


Jangan lupa buat tetap ninggalin jejaknya gais. Thank you 😍🤗


__ADS_2