
Di sebuah rumah yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, tampak dua orang wanita berbeda usia sedang ngobrol. Dari wajah kedua wanita itu, tampak sekali kalau pembicaraan mereka mengenai hal yang serius selepas kepulangan Dion dari rumah mereka. Yang anehnya tiba-tiba baik sambil membawa banyak susu ibu hamil berbagai rasa.
"Mah, sejauh ini rencana kita memang berhasil, tapi bagaimana kalau nanti kita ketahuan sudah menjebak Dion?" terdengar suara perempuan muda yang dapat dipastikan kalau dia adalah putri dari wanita setengah baya itu.Ya mereka berdua dua wanita ibu dan anak yang licik, siapa lagi mereka kalau bukan Ratih dan Minah mamhnya
"Hmm, kamu tidak usah terlalu khawatir. Tidak akan ada yang bisa membuktikan kalau kamu menjebak Dion. Kamu kan tahu sendiri, kalau Dia masuk ke kamar dengan senang hati, tanpa paksaan, dan apa yang terjadi di dalam kamar tidak ada siapapun yang tahu." Ujar Minah tersenyum smirk.
"Masalah itu, aku fine -fine aja Mah. Yang jadi masalah, bagaimana kalau dia ngelakuin test kalau anak yang aku kandung ini bukan anak dia, tapi anaknya Juna? kita bisa mendekam di penjara Mah." walaupun sejauh ini rencana liciknya dan mamahnya berjalan sesuai rencana, Ratih tetap tidak bisa memungkiri kalau ada perasaan takut yang menyelinap ke dalam hatinya.
"Kamu jangan berpikir terlalu jauh dulu,Tih! mamah juga sudah memikirkan kemungkinan itu terjadi. Yang penting sekarang, kamu harus tetap yakin untuk melanjutkan rencana kita yang sekarang. Kamu benar-benar sudah putus kan sama si Juna?" Minah memicingkan matanya, meminta kepastian.
"Sudah, Mah!" Ratih berucap dengan lesu, karena kalau boleh jujur, dia sangat mencintai laki-laki yang sudah dia berikan seluruh hidupnya, bahkan kehormatannya. Akan tetapi, karena perusahaan orangtua Juna bangkrut, Minah mamahnya, meminta Ratih untuk memutuskan Juna dan mengejar Dion. Apalagi alasannya kalau bukan karena harta.
"Kenapa kamu seperti sedih menjawabnya? jangan bilang kalau kamu masib mencintai si miskin itu?" alis Minah yang simetris bertaut tajam menuntut penjelasan dari Ratih.
"Kalau boleh jujur,aku masih sangat mencintainya Mah. Makanya aku akan mempertahankan anak ini,karena inilah satu-satunya yang bisa mengingatkan aku pada nya," manik mata Ratih sudah mulai tergenang oleh lapisan cairan bening yang sudah siap untuk tumpah dari wadahnya.
"Itulah kamu, kamu itu harusnya seperti mamah! Jangan terbuai dengan cinta. Apa gunanya cinta kalau tidak punya harta? cinta itu tidak akan bisa membuatmu hidup mewah dan senang Ratih. Sedangkan uang ... dengan uang walaupun kamu tidak memiliki cinta dengan pasanganmu, kamu bisa hidup tenang dan mewah.Pikirkan itu baik-baik!" ujar Minah meracuni pikiran Ratih putrinya.
"Oh, jadi ternyata semua ini ulah kalian berdua? ternyata Dion sama sekali tidak pernah melakukan hal itu padamu Ratih?" Bono, papah Ratih tiba-tiba muncul di pintu. Dari tadi dia sudah mendengar pembicaraan antara istri dan putrinya itu.
"Kenapa kalian berdua tega melakukan itu? hah?! kurang baik apa Dion pada keluarga kita?!" Bono terlihat sangat marah sekarang. Dia menatap Minah dengan sorot mata yang tajam dan rahang yang mengeras.
"Papah mending diam saja! ini aku lakukan demi kebaikan keluarga kita dan masa depan putrimu.Kalau orang-orang tahu, Ratih hamil di luar nikah, mereka pasti akan mencemoh putrimu tahu tidak?" bukannya takut dengan tatapan Bono, Minah justru balik marah.
"Bayi itu punya ayah kandung, kenapa tidak minta pertanggung jawaban pada dia saja? kenapa harus pada Dion?"
__ADS_1
"Kamu mau punya menantu yang kere seperti Juna? kalau aku sih tidak mau!__Udah, sekarang papah mending diam saja." ucap Minah santai.
"Tidak boleh! aku tidak setuju dengan rencana kalian berdua. Dan kamu Ratih, bagaimana bisa kamu sampai hamil hah? Kenapa kamu bisa melakukan hai itu tanpa adanya ikatan perkawinan?" bentak Bono. "Ini tidak boleh dibiarkan, bagaimanapun aku harus memberitahukan ini semua pada Dion." Bono memutar badan?nya hendak keluar dari ruangan itu. Akan tetapi, langkahnya tersurut ketika mendengar teriakan Minah istrinya.
"Kalau Papah berani membongkar semuanya pada Dion, kamu akan kehilangan kami berdua. Apa kamu tega melihat kami berdua mendekam dalam penjara hah?! orangtua seperti apa kamu? putrimu sedang hamil dan harus mendekam dalam penjara, apa kamu tega melihatnya menderita di dalam penjara?" Minah mencoba membawa nama putrinya, agar Bono tidan membongkar kelicikannya dan Ratih, karena dia tahu, Bono sangat menyayangi putrinya.
Bono bergeming di tempatnya, memikirkan ucapan istrinya. Sedangkan Minah, sudut bibirnya sedikit terangkat ke atas, tersenyum miring melihat suaminya yang terdiam.
Jangan lupakan Ratih yang terlihat sudah mulai menangis.
Bono menghembuskan nafasnya ke udara. Manik matanya sekarang sudah berkilat-kilat karena berusaha menahan agar lapisan cairan bening yang sudah penuh tidak merembes keluar. "Aku merasa telah gagal menjadi seorang ayah, selama ini aku merasa dengan bisa mencukupi kebutuhan kalian, aku sudah merasa kalau aku ini seorang ayah yang baik dan bertanggung jawab. Tapi, sekarang aku menyadari kalau aku sama sekali tidak pernah mengajarkan pada Ratih, mana yang baik dan benar. Aku menyerahkan seluruhnya padamu untuk mendidiknya dengan baik. Karena aku yakin, kamu akan mendidik putri kita menjadi wanita baik dan bermartabat. Ternyata aku salah, kamu sebagai ibunya tidak melakukan hal itu. Kamu sebenarnya tidak benar-benar memikirkan kebahagiaan putri kita, tapi kamu hanya memikirkan kebahagiaanmu sendiri." ucap Bono, dengan nada yang penuh penyesalan. Lalu dia mengalihkan tatapannya pada Ratih, yang dari tadi hanya diam sambil menangis.
"Dan kamu Ratih, kenapa kamu mau dimanfaatkan oleh mamahmu Nak? harta memang bisa membuatmu mendapatkan segalanya, tapi yakinlah kamu juga tidak akan bahagia bila kamu tidak mendapatkan cinta yang tulus.Kamu akan merasa terabaikan nantinya, karena Papah yakin, Dion tidak akan pernah mencintaimu." Ratih semakin menangis sesunggukan mendengar ucapan Papahnya.
"Hei, jangan kamu racuni pikiran Ratih! Aku mamahnya, aku tahu mana yang terbaik buat putriku!" bentak Minah. " Kamu jangan dengerin kata Papah, Tih.Justru dia yang egois tidak memikirkan kebahagiaanmu. Karena mamah memikirkan kebahagiaanmulah, makanya mama rela berbuat begini." Minah kembali berusaha meracuni pikiran Ratih.
"Papaaah!" Ratih berlari sembari menagis histeris melihat papahnya yang tidak sadarkan diri. "Mamah! kenapa Mamah tega memukul papah?" teriak Ratih ke arah Minah mamahnya.
"Mamah melakukannya, agar papahmu tidak membongkar perbuatan kita, Ratih! Kamu mau dipenjara?" Ratih menggelengkan kepalanya.
"Untuk itu, kamu diam saja! kamu tenang saja, papah kamu tidak akan mati. Sekarang kamu bantu mamah buat bawa papah ke gudang. Kita harus ikat tubuh Papah sampai hari Sabtu nanti. Sampai kita benar-benar tahu kalau Dion tidak jadi menikah dengan Kirana." Minah, menyeret tubuh suaminya yang pingsan dan membawanya ke gudang dibantu oleh Ratih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ratih sudah berada di kamarnya sendiri. Di tangannya dia sedang memegang ponselnya dan menimbang-menimbang, mau menelepon Juna atau tidak. Setelah agak lama berpikir, akhirnya diapun memutuskan untuk menelepon laki-laki itu.
__ADS_1
"Halo, sayang, ada apa?" terdengar suara Juna dari ujung telepon.
" Kamu dimana Yang? kamu udah makan?" tanya Ratih. Ya, Ratih dan Juna sama sekali belum putus. Ratih berbohong pada mamahnya, supaya mamahnya berhenti marah-marah.
"Aku lagi kerja di cafe XX Yang? kenapa? kamu kangen ya?"
"Iya, Yang! bukan cuma aku saja, tapi anakmu juga. Sayang aku lapar. Aku pengen banget makan martabak manis, Yang." Ratih merengek, manja.
"Ya udah, nanti akan aku kirimkan ke rumahmu, kamu tunggu saja ya!" ucap Juna.
"Terima kasih Sayang! muach ... muach," Ratih memberikan kecupan virtual.
"Sayang, bagaimana rencana kamu dan tante Minah? apa berjalan lancar?" tanya Juna.
"Sejauh ini berjalan lancar sayang. Tapi sebenarnya aku takut ketahuan. Bagaimana kalau aku mengaku saja Yang? Lalu kita berdua bisa menikah. Apa kamu rela, kalau anakmu ini nanti manggil oranglain papahnya dan manggil kamu Om?"
"Hmm, tapi aku sudah tidak punya apa-apa yang. Aku gak pa-pa kamu menikah dengan Dion demi masa depan anak kita. Setelah kamu berhasil menguras hartanya, kamu bisa meninggalkan dia, dan kita bisa menikah. Kamu mau kan sayang? ini demi anak kita sayang,", suara Juna terdengar memelas dari ujung telepon.
"Baiklah kalau begitu!" ucap Ratih pasrah.
"Ya udah ya Yang, panggilannya aku matikan dulu,besok lagi kita sambung, soalnya aku harus kerja sekarang." ucap Juna. Lalu detik berikutnya tidak terdengar lagi suara Juna,pertanda dia sudah memutuskan panggilan.
Di tempat lain di sebuah rumah mewah, tampak seorang laki-laki setengah baya, tersenyum miring sambil meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
"Kalian merasa kalian sudah pintar, sekarang kalian tidak bisa mengelak lagi, tunggu saja tanggal mainnya!" gumam laki-laki itu, dengan badan yang menyender ke kursi kerjanya, kaki yang menyilang sambil jari kedua tangan saling bertaut.
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa buat ninggalin jejak gais. Like,vote dan komen. Thank you