
"Bau badan loe kok aneh sih,Wa?" celetuk Galang sambil mengendus-endus badan Dewa.
"Diamlah!" wajah Dewa terlihat tidak bersahabat dan kesal mendengar pertanyaan Galang.
"Weeeee, jangan marah-marah dong! yang hamil bini loe, kok malah loe yang sensitif?"
"Tapi, emang iya sih, badan loe baunya aneh, macam bau ...." Rendi ikut menimpali, sambil menggaruk kepala dengan raut wajah yang seperti tengah memikirkan sesuatu.
Wajah Dewa semakin terlihat kesal pada kedua sahabatnya, yang menurutnya tengah meledek penderitaannya. Padahal, Galang dan Rendi memang tidak tahu apa-apa.
"Ini mah, bau minyak telon," celetuk Lea ikutan mengendus tubuh Dewa.
"Kalian gimana sih, bentar lagi jadi ayah,asa bau beginian juga tidak tahu?" imbuh Lea. Tampak Galang dan Rendi manggut-manggut, tanda mengerti.
"Tapi, kenapa loe pakai minyak telon? parfum loe kemana, Wa?" Dewa diam saja tidak mau menjawab pertanyaan Rendi.
"Iya, ya? atau jangan-jangan loe udah gak punya duit beli parfum?" Kali ini Dion yang buka suara dengan raut wajah yang serius.
"Kalian semua bisa diam gak sih? kalian meledek saya ya?" cetus Dewa dengan suara yang sedikit meninggi.
"Kok, loe jadi marah-marah sih? kalau loe gak punya, biar kita belikan." usul Dion tulus.
"Tapi, masa sih Dewa gak punya uang beli parfum doang? kalau dia gak punya uang, gak mungkin kan dia bisa ikutan bulan madu sama kita-kita?" ucap Galang. Ya, sekarang mereka sedang ada di bandara, menunggu penerbangan mereka ke Bali. ada lima pasang yang hendak berbulan madu ke Bali. Siapa lagi mereka kalau bukan 4 mantan dosen dengan pasangan masing-masing, ditambah Kevin dengan Gendis. Ke empat mantan dosen itu, melakukan bulan madu yang tertunda sekaligus babymoon. Kan lumayan hemat biaya, dua hal dilakukan dalam satu kali perjalanan, nikmat mana lagi yang mau didustakan coba?
"Gue bukan gak ada duit, tapi___" Dewa mengedarkan tatapannya sebentar untuk melihat apakah Shakila istrinya sudah kembali dari toilet bersama dengan Shakira dan Gendis.
"Tapi, ini semua gara-gara Shakila. Dia gak ngizinin gue pakai parfum. Kalau gue pakai parfum dia bisa marah seharian dan tidak mau gue dekatin. Dia malah senang gue pakai minyak telon," Semua yang ada di dekat Dewa, tidak bisa menahan tawa, begitu mendengar pemaparan Dewa.
__ADS_1
"Kalian semua kok pada bau sih?" tiba-tiba Shakila sudah ada di dekat mereka semua sambil menutup hidung, dan mulut, karena dia tiba-tiba merasa mual, mencium beragam aroma parfum dari tubuh Rendi dan yang lainnya.
"Bau bagaimana?" gumam Rendi sambil mengangkat ketiaknya dan mengendusnya, yang diikuti juga dengan yang lainnya.
"Gak bau kok,"
"Ihh, bau! bau banget malah. Sekarang kalian semua harus pakai ini!" Shakila merogoh sesuatu dari tasnya. Sesuatu yang membuat semua orang terbelalak dan berusaha menghindar. Apalagi coba, kalau bukan 'botol parfum' yang sengaja diisi dengan minyak telon, agar gampang disemprotkan pada tubuh. Ada-ada aja emang kelakuan Shakila.
"Please jangan Shakila!" Rendi berusaha menghindar, demikian juga yang lainya.
Raut wajah Shakila berubah sedih, begitu melihat semuanya menghindar. Kedua manik matanya berembun dengan bibir yang bergetar menahan tangis.
"Kalian semua jahat! tidak ada yang sayang sama Killa," airmatanya tiba-tiba merembes keluar. "Ka Dewa, kita pulang saja! gak ada gunanya kita ikut sama mereka, toh mereka gak ada yang sayang samaku," bahu Shakila kini terlihat sudah turun naik. Sehingga menarik semua perhatian orang-orang yang ada di ruang tunggu.
Dewa yang tidak tega melihat Shakila menangis menatap Rendi dan yang lainnya, dengan tatapan memelas, memohon pada mereka agar memenuhi kemauan Shakila.
Wajah Shakila, sontak berubah seketika. Dia terlihat bahagia, menyemprotkan parfum buatannya sendiri, seolah-olah itu suatu hal yang sangat menyenangkan baginya. Shakila tersenyum bahagia, sedangkan yang lainnya tersenyum kecut.
"Hmm, walaupun bau parfum kalian belum benar-benar hilang, tapi, not bad lah," ujar Shakila sambil memasukkan kembali botol parfum abal-abalnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah 1 jam lebih 50 menit, pesawat yang membawa ke lima pasangan itu, akhirnya mendarat dengan selamat di bandara internasional 'Ngurah Rai'. Mereka langsung dijemput oleh travel yang sudah mereka booking sebelumnya dan langsung menuju daerah Jimbaran tepatnya Ayana resort dan spa, salah satu hotel yang dinobatkan hotel terbaik, karena viewnya yang langsung menghadap ke laut. Di sana, terdapat pilihan akomodasi berupa kamar, suite, dan villa dengan fasilitas mewah kelas bintang 5. Asyiknya lagi, Ayana Resort and Spa punya pantai pribadi (private beach) berpasir putih yaitu Kubu Beach.
Setelah tiba di tempat yang mereka tuju, mereka langsung menuju kamar masing-masing yang sudah dibooking sebelumnya, karena hari sudah mulai senja dan mereka berencana akan bertemu kembali setelah makan malam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Kevin dan Gendis memutuskan akan berjalan-jalan setelah mereka, selesai makan malam. Sedangkan ke empat pasangan lainnya,memutuskan kembali ke kamar untuk istirahat, mengingat kondisi istri masing-masing yang sedang hamil.
"Sayang, lihat, di sana ada perempuan yang sepertinya sedang dikejar-kejar orang." Gendis menunjuk ke arah seorang gadis, yang berlari dengan wajah yang ketakutan.
"Biarkan saja,Yang! kita pendatang di sini, jadi kita jangan ikut campur." Kevin berusaha untuk cuek, walaupun bertolak belakang dengan kata hatinya, yang ingin menolong gadis itu.
"Arghhhh!" kesal, Kevin sambil berlari untuk menolong gadis yang posisinya sekarang sedang ditarik paksa oleh dua orang laki-laki bertubuh besar. Sedangkan Gendis juga tidak mau tinggal diam, dia ikut menyusul suaminya,berlari ke arah kedua pria itu.
"Lepaskan dia!" teriak Kevin dengan sorot mata dingin dan tajam.
"Apa hak mu memerintah kami, hah?!" salah satu dari pria itu,balik membentak Kevin.
"Aku tidak punya hak, untuk memerintahmu, tapi aku masih punya hati untuk menolong wanita itu!" jari telunjuk Kevin mengarah ke arah wanita yang sebagian rambutnya menutupi wajahnya.
"Sebelum kamu menyesal, sudah ikut campur, mending kamu pergi dari sini, karena wanita ini sudah dijual dan dibeli oleh bos kami." gertak pria yang tubuhnya lebih besar dan lebih berotot dari rekannya.
"Kalau aku tidak mau, kalian mau apa?" Kevin sama sekali tidak gentar dengan gertakan pria itu.
"Brengsek!" Pria itu menghambur dan melayangkan pukulannya yang dapat ditangkis dengan mudah oleh Kevin. Ketika pria rekannya ikutan menyerang, Gendis juga tidak tinggal diam. Akhirnya pertarungan sengit satu lawan satu pun tak terhindarkan. Gendis dengan gerakan yang tangkas berhasil membuat pria penyerangnya kewalahan, berbanding terbalik dengan situasi Kevin dengan lawannya,yang justru Kevinlah yang kewalahan.
Setelah Gendis berhasil melumpuhkan lawan, Gendis segera membantu Kevin. Tanpa menunggu lama, Gendis pun kembali berhasil melumpuhkan pria yang bertubuh besar itu.
"Ini kalau aku macam-macam, bisa dijadikan perkedel aku sama Gendis," Kevin membatin seraya bergidik ngeri.
Tbc
Siapa gerangan wanita yang diselamatkan oleh Kevin dan Gendis itu ya? pasti kalian sudah bisa menebak.😁😁
__ADS_1