Dosenku Kekasihku

Dosenku Kekasihku
Bab 26


__ADS_3

"Lang bagaimana perkembangan usaha loe sekarang? apa semuanya berjalan lancar?" Dewa buka suara, untuk mengisi pembicaraan, saat mereka baru saja masuk ke dalam mobil Dewa.


"Sejauh ini sih baik-baik saja! bahkan melebihi dari ekspektasi yang gue targetkan, karena banyak perusahaan-perusahaan besar yang ingin memakai jasa perusahaan gue,untuk mengiklanankan produk perusahaan mereka." Sahut Galang.


Ya ... 3 bulan ini, selain jadi dosen, Dengan meminjam dana dari Dimas papahnya Vina, sekaligus omnya itu, Galang sudah membuka sebuah usaha di bidang periklanan.


Dengan modal semangat yang tinggi, dan niat yang kuat untuk bisa pantas buat Lea, serta ilmu marketingnya yang baik, tanpa dia sangka usaha kecil-kecilannya, tidak memerlukan waktu yang lama untuk mencari klien yang mau menggunakan usaha periklanannya.


"Wow, serius lo? selamat ya! gue salut sama lo." ucap Dewa tulus.


"Gue sebenarnya juga bingung, kenapa bisa secepat itu. Padahal awalnya gue mengira,akan butuh waktu yang sangat lama untuk bisa maju. Mempunyai klien satu atau dua perusahaan kecil saja,sudah membuat gue senang, mengingat gue masih pemula dan belum ada nama sama sekali." ujar Galang.


"Kenapa harus bingung? harusnya loe bersyukur, diberi kemudahan dan kelancaran usaha secepat itu." ucap Rendi.


"Bukannya gue gak bersyukur Ren! cuma__"


"Sudah, gak usah dipikirin! anggap saja ini rejeki loe!" sela Rendi cepat dengan seulas senyuman yang menghiasi bibirnya.


"Gimana tidak dipikirkan Ren, coba loe bayangkan, perusahaan sekelas Rahardian Company, bisa-bisanya memakai perusahaan kecil gue, padahal, jujur gue belum ada keberanian untuk mengajukan proposal kerja sama ke perusahaan itu, justru perusahaan itu sendiri yang datang mengajukan kerja sama dengan perusahaan gue." tutur Galang dengan alis yang bertaut.


"Loe jangan lupa, kalau Om Loe punya andil dalam perkembangan perusahaan lo. Gue yakin, kalau om Dimaslah yang sudah merekomendasikan jasa periklanan loe. Lagian menurut gue, konsep yang selama ini loe buat selalu bagus, tidak kalah dengan perusahaan besar, yang bidangnya sama dengan perusahaan loe." Rendi berucap sembari menepuk-nepuk pundak Galang.


"Apa iya sebagus itu?" tanya Galang, Skeptis.


"Kenapa? apa loe merasa ragu dengan kemampuan lo sendiri?" Dewa menelisik wajah Galang dari kaca spion, dengan pandangan penuh tanda tanya.


"Sejujurnya, ya! kenapa? karena gue selalu beranggapan bahwa pencapaian yang gue dapat sekarang,bukan murni karena usaha gue sendiri. Kalian tahu sendiri, perusahaan besar yang memakai perusahaan gue itu, selalu yang ada disekeliling gue. Perusahaan Om Dimas, Om Seno, Dion, Om Reno, bahkan Om Bimo juga. Bahkan Om Dimas menempatkan, beberapa karyawan terbaiknya untuk membantu usaha gue," air muka Galang terlihat tidak bersemangat.


"Gue rasa, pemikiran lo salah. Mungkin pada pada awalnya mereka ingin membantu loe. Tapi, jangan salah, perusahaan- perusahaan besar yang lo sebut tadi, pasti punya pertimbangan juga. Mereka gak mungkin mau menerima kerja sama, kalau konsep tidak bagus, karena itu menyangkut nama baik perusahaan.Mereka mau memakai jasa periklanan lo itu, karena konsep yang loe buat memang bagus. Dan asal loe tahu, dalam hidup ini, untuk mencapai sesuatu, kita pasti tidak bisa hanya mengandalkan diri sendiri, kadang kita memerlukan bantuan orang lain, dan loe harusnya bersyukur karena loe dikelilingi oleh orang-orang hebat, sehingga loe termotivasi untuk jadi seperti mereka."ucap Dewa.

__ADS_1


"Ya, gue rasa lo benar! thanks sob!" Galang tersenyum dan kali ini senyumnya benar-benar tulus,tidak terpaksa.


"Hmm, kalau begitu, berarti loe sudah bisa mengungkapkan perasaanmu sama Lea. Kamu tunggu apa lagi coba?" celetuk Rendi yang buka suara.


"Hmm, sepertinya sih gue belum benar-benar siap! karena gue harus mengembalikan uang pinjaman gue dulu sama Om Dimas, Dan jujur gue belum merasa sukses." sahut Galang.


"Ya udah, kalau loe sudah siap kehilangan dia, lanjutkan saja pemikiran loe itu!" cetus Dewa, yang merasa sedikit kesal dengan pemikiran Galang.


"Kenapa loe bilang begitu?" Galang menautkan alisnya dengan tajam,tidak senang dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Dewa.


Dewa berdecak dan mendengus kesal mendengar pertanyaan Galang.


"Bukannya gue udah pernah bilang ke lo ya, kalau wanita itu butuh kepastian.Lo merasa kalau Lea juga menyukai lo, tapi apa lo yakin, kalau dia akan tetap bisa menyukai lo yang gak pernah memberikan kepastian padanya? Dan asal lo tahu, Lea gadis yang cantik, dan banyak yang mau mendekatinya,Apa lo tidak takut kalau Lea menemukan kenyamanan dan kepastian dari laki-laki lain?" cetus Dewa


"Lo, jangan nakut-nakutin gue Wa?!"seru Galang.


"Gue gak nakut-nakutin loe! itu memang yang harus lo hadapi kalau lo masih menunda-nunda untuk ngungkapin perasaan loe. Atau ... jangan-jangan hati lo udah goyah, dan mulai suka sama model yang bekerja sama lo itu? siapa Ren namanya? gue lupa soalnya." Dewa mengalihkan tatapannya ke arah Rendi.


"Gue tidak tertarik pada Rosa! Dia hanya bekerja sebagai model saja, karena dia memang cukup bagus di bidang itu. Kalian berdua jangan berpikiran aneh-aneh!" cetus Galang.


"Iya, lo gak suka! tapi yang gue lihat, dia ada hati sama loe. Mending lo hati-hati dan jaga jarak dari dia! lo gak mau kan kalau Lea salah sangka,melihat lo dekat dengan model itu?" tutur Dewa memperingatkan.


"Iya sih,gue juga merasa seperti itu. Belakangan ini dia nempel mulu ke gue. Gue jadi risih dekat dengan dia." Galang mengusap wajah dengan kasar.


"Nah tuh,jadi lo harus pikirkan baik-baik saran gue. Mending lo secepatnya ngungkapin perasaan lo pada Lea, biar dia nggak mikir yang aneh- aneh!"


"Iya, gue setuju!" timpal Rendi.


"Ya udah, lo sekarang turun Lang! lo udah nyampe di apartemen lo tuh!" perintah Dewa.

__ADS_1


"Lho,kok loe bawa gue kesini? bukannya kerumah om Bimo? mobil gue kan di sana sob!"


"Aduh, gue lupa sob, Hehehe! ntar lo ambil ambil sendiri ke sana ya! soalnya gue lagi ada pekerjaan yang harus gue kerjakan." sahut Dewa cengengesan. Di saat Galang sibuk membuka Sabuk pengamannya, Dewa mengerling ke arah Rendi penuh maksud dan Rendi mengancungkan jempolnya.


" Ya, udah sob, gue keluar dulu! terimakasih buat tumpangannya." Galang membuka pintu dan keluar dari mobil Dewa sembari menghela nafasnya.


"Ingat pesan gue Lang, pikirkan baik-baik!" Dewa melongokkan kepalanya lalu mengacungkan jari jempolnya kearah Galang.


Mobil Dewa kembali melaju menuju kediaman Bimo, untuk menjemput mobil Rendi.


"Lo memang kebangetan, Wa! Lo sengaja kan biar Galang ke rumah Om Bimo lagi, dan ketemu sama Lea?" Rendi menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Itu, memang tujuanku Sob! mudah-mudahan kalau dia berduaan dengan Lea nanti, dia bisa ngungkapin perasaannya yang sebenarnya pada Lea."


"Lo, memang yang terbaik deh!" ucap Rendi.


Keheningan terjeda beberapa menit diantara Dewa dan Rendi. Dewa kembali fokus mengemudi, dan Rendi fokus pada ponselnya.


Ekor mata Dewa berkali-kali, melirik ke arah Rendi, seperti ada sesuatu yang sangat ingin dia tanyakan saat ini.


"Ada apa Wa? kenapa dari tadi lo ngelirik gue? ada sesuatu yang mau lo tanyakan?" Rendi, ternyata tidak sepenuhnya fokus pada ponselnya. Dia menyadari kalau dari tadi, Dewa berkali-kali meliriknya, dengan lirikan yang penuh keingintahuan.


"Hmm, gue cuma mau loe jujur Ren, apa Rahardian Company itu milik bokap lo?" Rendi sontak mengangkat wajahnya mendengar pertanyaan Dewa.


"Darimana lo tahu?" Rendi mengrenyitkan keningnya.


"Gue,gak sengaja pernah lihat KTP lo, nama lengkap lo Rendi Septian Rahardian kan?" tanya Dewa, menyelidik.


" Iya, itu gue!" tegas Rendi.

__ADS_1


tbc


__ADS_2