
"Dis, kamu udah baikan? kamu malam ini gak ikut lagi ke resepsi Dion dan Kirana?" tanya Galang sambil menatap Gendis yang dari tadi pagi terlihat malas-malasan.
Gendis yang berbaring di sofa dengan ponsel di tangan, tiba-tiba duduk seraya membesarkan matanya menatap Galang.
"Ka Dion dan Kirana? bukannya Ka Kirana nikah sama Ka Dewa?" tanya Gendis.
"Eh, aku belum kasih tahu kamu ya?" Gendis mengelengkan kepalanya.
"Kelicikan Ratih dan mamahnya terbongkar, jadinya Kirana tetap nikah sama Dion."
"Ka Dewa bagaimana?"
"Dewa menikah juga sama Shakila hari ini.Tapi resepsinya kata Dewa minggu depan." papar Galang dengan lugas.
"Ja-jadi Ka Kevin?"
" Ka Kevin?" ekor mata Galang terangkat sedikit, menatap curiga pada Gendis.
"Eh, maksudku, Pak Kevin, yang mau dinikahkan sama Shakila itu lho." Gendis buru-buru meralat panggilannya,seraya menelan ludahnya sendiri,berharap Galang berhenti curiga.
"Ohh," Galang menganggukkan kepalanya, sehingga membuat Gendis menghembuskan nafas leganya, karena sepertinya Galang tidak curiga lagi.
Galang akhirnya menceritakan kalau semua itu sebenarnya rencana Om Seno ayahnya Shakila, dan Galang sudah tahu rencana ini sebelumnya ketika Rendi datang ke kantornya hari itu.
"Sial! Kenapa aku gak dengarin obrolan mereka sampai selasai kemarin? tahu gitukan aku gak perlu mewek-mewek segala dari kemarin, sampai- sampai gak selera makan. Nasi goreng, mie goreng kesukaanku kan gak harus berakhir di tong sampah." batin Gendis menyesal, mengingat makanan kesukaannya yang berakhir di tong sampah, dan budget pengeluarannya beli tissu yang bertambah.
"Hei, kenapa kamu diam saja?!" seru Galang, membuat Gendis terjengkit, bangun dari alam bawah sadarnya.
"Aku harus ke rumah Vina sekarang?" Gendis meraih ponselnya, dan bergegas mau keluar dari apartemen Galang.
"Mau ngapain loe ke sana?" tanya Galang dengan kening Berkerut.
Gendis memutar badannya dan cengengesan menatap Galang. "Hehehe, aku mau pinjam gaun dia, untuk aku pakai nanti malam!"
"Lho, bukannya kamu kurang enak badan? kok sekarang mau ikut ke resepsinya Dion? kalau kamu pingsan nanti siapa yang gendong? aku gak mau ya gendong kamu. Kalau Lea, yang pingsan, dengan senang hati aku gendong," ujar Galang, dengan mata yang menerawang membayangkan menggendong Lea ala-ala bridal style.
Gendis mendengus dan berdecih mendengar ucapan Galang. " Cih, menggendong ke rumah sakit apa enaknya? menggendong dan membawa ke atas ranjang baru top." sindir Gendis, yang membuat Galang mendelik kesal ke arahnya, karena merasa tersindir.
__ADS_1
"Lagian aku berani jamin kalau aku gak bakal jatuh pingsan, soalnya aku sudah baik-baik saja dan asal kamu tahu, hati yang gembira adalah obat." sambung Gendis yang senyumnya merekah bagai kuncup bunga mawar yang mengembang sehingga begitu cantik untuk dipandang. Sangat jauh berbeda dari semalam, dimana cuma dipanggil nama saja, wajahnya sudah terlihat sangat menakutkan.
"Ada apa dengan anak ini? kok cepat banget perubahannya?" batin Galang penasaran.
"Kamu kenapa sih? kok bisa sebahagia ini?" ekor mata Galang menyipit menatap Gendis dengan penuh selidik.
"Lah, aku kan memang seperti ini sejak dulu, bahagia selalu!" ujar Gendis gelagapan.
"Nggak! kayanya ada yang aneh sama kamu! Tadi malam, wajahmu benar-benar tidak enak untuk dilihat. Selain itu, kamu pulang ke sini, bukan ke rumah Om Dimas. Kamu berubah semenjak Rendi___"
"Aku bilang gak pa-pa, ya gak pa-pa! Kakak gak usah berpikir yang aneh-aneh. Aku pergi dulu! bye ...." Gendis memutar badannya dan dengan sedikit berlari dia keluar dari apartemen Galang, guna menghindari pertanyaan-pertanyaan Galang lainnya.
Sementara itu, Galang yang masih belum merasa puas, masih terlihat berpikir keras mengingat-ingat sejak kapan perubahan Gendis.
"Dia berubah sedih pas Rendi bilang kalau Shakila akan dinikahkan dengan laki-laki yang namanya Kevin kan? dia juga berubah bahagia ketika tahu, kalau Dewa yang jadi nikah sama kila bukan Kevin. Hmm, tadi dia juga keceplosan manggil Kevin Ka, bukan Pak. Itu berarti mereka bukan hanya sekali saja bertemu, dan___ tunggu dulu! bukannya, Gendis juga, sedang bersama dengan orang yang namanya Kevin ketika Lea diculik? apa mereka berdua punya hubungan? tapi kalau punya kenapa Gendis tidak ngomong apa-apa? atau jangan-jangan Gendis yang suka sama Kevin, sedangakan Kevin gak suka Gendis sama sekali." Galang membatin berusaha menerka-nerka yang terjadi pada Gendis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari sudah mulai beranjak ke arah barat. Senja sudah bertukar menjadi awan gelap. Ballroom tempat resepsi Dion dan Kirana sudah banyak didatangi oleh para tamu undangan. Semuanya sudah terpesona dengan dekorasi yang dipilih oleh Dion dan Kirana mulai dari pintu masuk.
Kirana tampak cantik dan anggun dengan gaun yang senada dengan warna dekorasi yang mereka pilih.
Dion juga terlihat sangat tampan dengan tuxedo berwana putih yang membalut tubunya.
Acara resepsi berjalan dengan lancar sesuai dengan yang direncanakan. Bono pamannya, juga hadir tanpa ditemani istri. Akan tetapi, Ratih dan Juna terlihat ikut hadir bersama dengan pamannya itu. Ratih menangis tersedu-sedu meminta maaf pada Dion dan Kirana. Dion cukup prihatin dengan keputusan Bono pamannya yang ternyata sudah mengajukan gugatan cerai pada Minah. Dia juga memaksa Juna untuk menikahi putrinya dan mengancam akan melaporkannya kalau permintaannya sampai tidak dipenuhi.
Wajah Juna tidak bergairah sama sekali selama pesta berlangsung. Pandangannya seketika terpatri pada sosok wanita yang terlihat cantik dan berdiri sendiri di pintu masuk, wanita itu pastinya pernah dekat dengan dirinya. Siapa lagi dia kalau bukan Shakira.
Juna mengayunkan langkahnya, berjalan menghampiri Shakira, disusul oleh Ratih dari belakangnya.
__ADS_1
"Hai, Kira! ternyata gadis seperti kamu bisa juga ya masuk ke acara mewah seperti ini? gaun siapa yang kamu pinjam ini?" Juna tersenyum sinis. Sedangkan Ratih sudah mulai merasa tidak enak dan menarik-narik jas yang dipakai Juna agar jangan sampai membuat keributan.
"Emang kenapa dengan gadis sepertiku? Sepertinya yang masuk ke sini tidak dibatasi dan tidak dilihat dari kaya tidaknya mereka." sahut Shakira dengan nada yang sangat sinis.
Juna terlihat mendengus dan menatap Shakira dengan tatapan merendahkan. "Iya sih tidak dibatasi, tapi seharusnya kamu sadar diri kalau kamu tidak pantas masuk ke acara seperti ini."
"Kayanya yang tidak pantas itu kamu deh! bukannya perusahaan orangtuamu sudah bangkrut?" sindir Shakila dengan tetap tersenyum miring.
"Jangan sok tahu kamu! perusahaan papahku baik-baik saja sampai sekarang!" sangkal Juna.
"Oh ya, tapi yang aku dengar sudah bangkrut, dan kamu bekerja jadi pelayan di Kafe. Lalu kamu mengahamili pacar kamu ini, yang sempat mau memfitnah Ka Dion.Dan yang saya dengar juga, kamu sempat mengizinkan pacarmu yang hamil ini untuk menikah dengan Ka Dion,agar kalian lebih leluasa untuk menguasai hartanya. Bukan begitu Nona Ratih?" ucap Shakira sembari menekan sedikit kalimatnya. Ratih menunduk tidak bisa membuka mulut sama sekali untuk membalas ucapa Shakira.
"Kamu, jangan sok tahu ya! kurang ajar kamu!" Juna mengayunkan tangannya hendak menampar pipi Shakira. Tapi, tangannya terhenti di udara ketika ada lengan besar yang menahan tangannya.
"Sekali saja tanganmu menyentuh wajah istriku, aku pantahkan tanganmu!" Ya, si empunya lengan adalah Rendi, yang tadi izin sebentar ke toilet, sebelum mereka berdua pulang, karena Shakira sudah terlihat lelah.
"Apa? istrimu?" ucap Juna terkesiap kaget. Setelah itu dia kembali menatap Shakira. "Pantasan saja, kamu sombong sekarang! ternyata kamu sudah menikah dengan orang kaya. Ternyata kamu cewe matre juga ya?" sindir Juna sinis.
"Atas dasar apa kamu bilang, dia matre, hah?! dari lahir juga dia sudah kaya, asal kamu tahu!" kalau bukan ingin menghindari keributan di acara pesta sahabatnya, ingin sekali Rendi memberikan pukulan ke wajah laki-laki angkuh yang ada di depannya itu.
"Ada apa ini?" suara bariton dan berwibawa terdengar tiba-tiba, muncul dari dalam gedung.
"Tidak apa-apa, Pi.Kenapa Papi bisa ada di sini?" Ya, yang muncul adalah Seno, yang mencari keberadaan Shakira dan Rendi.
"Pa-papi?" gumam Juna kaget.
Rendi mencondongkan tubuhnya ke telinga Juna.
"Iya! Shakira putri dari Suseno Mahardika dan Amira Larasati Wijaya." bisiknya dengan senyum miring yang terulas di bibirnya.
"Sial!" umpat Juna sambil berlalu pergi meninggalkan Ratih yang memanggil namanya dengan sedikit berlari.
Tbc
Maaf ya, kalau telat up nya. Belakangan ini badanku agak meriang2.Pengen istirahat nulis, tapi perasaan gak enak kalau gak up minimal satu episode.
Please jangan lupa buat ninggalin jejaknya ya gais. Like, vote dan komen.Kasih hadiah juga boleh😁🙏🤭
__ADS_1