Dosenku Kekasihku

Dosenku Kekasihku
Penderitaan Rendi.


__ADS_3

Pemakaman Satria baru saja selesai. Orang-orang satu-persatu sudah meninggalkan area pemakaman. Sekarang yang tersisa hanyalah Mutia, Kevin, Keysa, Gendis dan Rendra. Keysa tidak mau beranjak dari papan nisan yang tertulis nama Papahnya di sana. Dia tidak berhenti menangis dan dari tadi selalu menyalahkan dirinya sendiri, kalau semua ini terjadi karena dirinya sendiri.


"Key, ayo pulang sayang!" Mutia meraih pundak Keysa untuk membantunya berdiri.


"Tidak Mah! kalian pulang saja, aku mau di sini menemani Papah." ucap Keysa seraya memeluk erat papan nisan Satria.


"Key, yang iklas, Nak! Papah sudah bahagia di sana! kalau kamu menangis terus Papah akan semakin bersedih melihat kamu begini." Mutia berusaha membujuk putrinya dengan nada yang sangat lembut.


"Tidak, Mah! kalau Keysa pulang nanti papah akan sendirian di sini." Keysa menatap mamah Mutia dengan tatapan memelas.


"Keysa, kamu gak boleh berpikir seperti itu, Nak! Kalau kamu seperti ini, papah kamu gak bakal bisa tenang di alamnya. Sekarang kita pulang ya!" nada lembut Mutia tidak berkurang sama sekali.


"Ini semua salah Keysa, Mah! aku lah penyebab semua ini terjadi." Keysa kembali menangis histeris.


"Keysa, mau berapa kali lagi, kamu mau menyalahkan dirimu sendiri? ini bukan salahmu, ini adalah takdir yang tidak bisa kita tolak kehadirannya. Sekarang kita pulang ya!" kali ini Kevin yang buka suara.


Bujukan Kevin akhirnya berhasil


Tampak Keysa yang mau berdiri, walau masih dengan berat hati.


"Kamu belum pulang Ren?" tanya Kevin dengan alis berkerut begitu menyadari kalau Rendra masih berada di antara mereka.


"Eh, itu Ka! aku disuruh papi buat ngantar kalian pulang," Rendra mencoba mencari alibi, dengan membawa-bawa nama Seno.


"Oh, tidak usah! Kakak bawa mobil sendiri kok, kamu pulang saja, kamu juga pasti lelah!" ujar Kevin sambil menepuk pundak Rendra yang sontak terlihat kecewa. Padahal dia masih khawatir dengan kondisi Keysa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rendra mengayunkan kakinya melangkah dengan gontai, masuk ke dalam rumahnya.Pikirannya sungguh tidak tenang sekarang. Bayangan sorot mata Keysa yang sedang sedih, berkelebat di pikirannya. Ingin rasanya tadi dia memeluk Keysa untuk menenangkan dan memberi kenyamanan pada gadis itu.


"Kamu sudah pulang Ren?" terdengar suara bariton yang membuat Rendra terjengkit kaget.


"Papi! bisa tidak kalau mau bicara itu bilang-bilang dulu?" Rendra terlihat memegang dadanya dan menepuk-nepuknya pelan.


Kening Seno mengrenyit menatap bingung putranya. "Bagaimana caranya mau bilang-bilang dulu? Kamu aja yang jalan sambil melamun! Kamu duduk dulu sebentar di sini, ada yang mau papi bicarakan," Seno menunjuk ke aras sofa persis di depannya.


" Bisa besok gak Pi? aku masih belum mandi,"


"Hanya sebentar saja! habis itu, kamu bebas mau ngapain aja. Mau mandi, mau koprol mau jingkrak-jingkrak terserah kamu."

__ADS_1


Rendra akhirnya mendaratkan tubuhnya duduk di tempat yang ditunjuk oleh papinya.Lalu dengan menyenderkan tubuh lelahnya, dia siap mendengar apa yang akan dibicarakan papinya itu.


"Bagaimana kondisi Keysa sekarang?"


"Ya, seperti papi lihat tadi, belum ada perubahan sama sekali." manik mata Rendra kembali sayu, begitu nama Keysa keluar dari mulut Seno.


"Hmm, apa kamu masih mau, papi menjodohkanmu dengan Keysa?"pandangan Seno fokus menatap ke arah Rendra untuk melihat bagaimana reaksi putranya itu.


"Kenapa Papi menanyakan hal itu? aku tidak pernah bilang kalau aku berubah pikiran kan?"


Seno mengangkat gelas kopinya lalu menyesapnya dengan nikmat. Kemudian dia meletakkan'nya kembali di atas meja seraya menghela napasnya dengan sekali hentakan.


"Papi cuma mau memastikan saja. Karena kemungkinan pikiranmu bisa cepat berubah dengan mengetahui apa penyebab terjadinya semua ini, itu karena Keysa __"


"Bukannya Papi, sudah tahu alasan sebenarnya Keysa melakukan hal itu?"Rendra menyela ucapan Seno dengan nada yang kurang senang.


"Iya, Papi sudah tahu! Papi tidak lagi mempermasalahkan itu, justru papi yang khawatir kalau kamu lah yang mempermasalahkannya." tutur Seno.


"Aku tidak mempermasalahkannya, Pi," tegas Rendra dan terlihat tidak ada kebimbangan di manik mata hitam kecoklatan milik Rendra itu.


"Apa sebenarnya alasan kamu mau dijodohkan dengan Keysa?" tatapan Seno, tajam menuntut kejujuran Rendra.


"Apa kamu mau dijodohkan dengan Keysa, karena permintaan mami'mu saja atau karena kamu menyukainya? karena kalau kamu mau dijodohkan dengan Keysa, hanya karena permintaan mami'mu dengan berat hati papi menolak, kecuali ___"


"Aku menyukainya,Pi!" akhirnya pengakuan Rendra tentang perasaannya tercetus juga dari mulutnya.


Senyum Seno terlihat samar terbit di bibirnya, mendengar pengakuan putranya. Pengakuan yang benar-benar ingin dia dengar.


"Baiklah! ini yang ingin Papi dengar dari'mu. Papi akan membicarakannya dengan Mbak Mutia.Tapi, bukan dalam waktu dekat ini, karena mereka masih dalam situasi berduka,"


"Tapi Pi, aku rasa Keysa tidak menyukaiku. Dia saja bisa melakukan berbagai cara agar Shakila dan Kak Kevin bisa bersama. Selain itu, selama ini, dia selalu menjaga jarak dengan ku." Rendra mengungkapkan kerisauannnya.


Seno diam sejenak seperti memikirkan sesuatu.


"Kita tidak akan tahu kalau kita hanya menebak-nebak saja.Tidak ada salahnya kita mencoba, untuk hasilnya, kita lihat nanti saja." pungkas Seno diplomatis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sebuah restoran korea tampak seorang pria yang tampangnya terlihat kusut karena banyaknya permintaan istrinya yang sedang hamil. Siapa lagi dia kalau bukan Rendi. Shakira seringkali membuat Rendi merasa kesal dengan segala permintaannya, yang mengatasnamakan atas permintaan bayi kembar yang bahkan masih sebesar biji kelereng itu.

__ADS_1


Rendi mengusap wajahnya dengan kasar ketika melihat istrinya memesan berbagai makanan korea yang cukup banyak. Bukan tidak sanggup bayar, endingnya ini yang selalu tidak enak. Apalagi kalau bukan, Shakira yang akan memaksanya menghabiskan makanan sisa yang dia makan.


"Cukup Yang! nanti kalau kurang kamu bisa pesan lagi," Rendi mencoba menghentikan istrinya yang sedang kalap menyebutkan menu-menu makanan yang hendak dia pesan.


"Kamu bisa diam gak,Kak?! kalau kamu keberatan buat bayar, nanti aku bayar sendiri!" Shakira mendelik ke arah Rendi dengan suara yang terdengar kesal.


"Lha, kan emang yang megang uangku dia, jadi memang dia yang harus bayarkan?" ucap Rendi, yang sialnya hanya bisa dia ucapkan dalam hati saja.


"Bukan masalah takut bayar Sayang, tapi__"


"Kak, kamu iklas gak sih ngajak aku makan di sini?"


"Aku ikhlas, Sayang, ...."


"Ya udah, kalau ikhlas Kakak diam saja!" Shakira menyela ucapan Rendi.


"Ya udah terserah kamu saja! yang penting kamu bisa menghabiskannya," gumam Rendi pasrah,menyenderkan tubuhnya di kursi seraya menghembuskan napasnya ke udara.


"Mba, aku mau yang ini, yang ini juga boleh. Hmm yang ini juga," Shakira kembali menunjuk menu makanan yang akan dipesan'nya lagi, sebagai tambahan yang sudah dipesan dari tadi.


Di atas meja di depan mereka sekarang sudah penuh makanan pesanan Shakira. Kedua netra Shakira langsung berbinar menatap semua makanan yang sudah tersaji. Dia terlihat menjilat bibirnya sendiri dan menelan ludahnya serta menggosok-gosok tangannya, bingung mau menyantap yang mana lebih dulu.


"Aku kenyang, Kak!" ujar Shakira setelah makan begitu banyak, sambil menatap Rendi dengan tatapan memelas dan Rendi tahu apa maksud dari tatapan itu.


"Jangan menatapku seperti itu! aku gak mau menghabiskan sisa kamu," Rendi mengalihkan tatapannya ke arah lain, agar tidak terpengaruh akan tatapan memelas dari istrinya.


"Kak, gak boleh loh, buang-buang makanan, karena masih banyak orang di luar sana yang __"


"Yang suruh kamu pesan banyak siapa? Jadi kamu habiskan saja sendiri!" Rendi mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja, dengan mata yang tetap memandang arah lain.


"Baby, papi kamu jahat! dia gak sayang sama mami lagi," Shakira berbicara pada bayinya sambil mengelus-elus perutnya dengan raut wajah yang dibuat semelas mungkin


Melihat hal itu, Rendi menghela napasnya dengan panjang, tidak tega melihat raut wajah istrinya . "Iya, aku habiskan!" Rendi menarik makanan yang ada di atas meja satu persatu ke depannya dan mulai menyantapnya.


" Ayo ,papi kamu pasti bisa! semangat papi!" sorak Shakira memberikan semangat, seolah-olah suaminya itu sedang berlomba makan.


"Aku minta pensiun jadi suami, untuk sementara waktu bisa gak sih?" batin Rendi sambil tetap memasukkan suapan demi suapan makanan ke dalam mulutnya.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2