
"Kamu mau pergi kuliah dengan pakaian kantoran begini, Key?" tanya Lisa dengan alis yang bertaut.
"Aku gak ke kampus, Lis. Aku sekarang magang di kantornya Om Seno." jawab Keysa sambil memoles bibirnya dengan lipstik warna nude.
"Oh, kamu bareng sama Rendra dong?" mata Lisa memicing penuh selidik.
"Iya! Om Seno punya dua perusahaan. Rendra sekarang di Mahardika Group. Padahal awalnya dia di Wijaya group tempat kak Kevin bekerja."
"Kenapa dia malah ke Mahardika? mungkin karena kamu ada di Mahardika." tebak Lisa.
Keysa menarik ekor matanya, melirik sekilas ke arah Lisa. Dia ingin melihat bagaimana raut wajah Lisa saat ini. "Apa kamu masih menyukai Rendra?" Keysa menatap tepat ke arah manik mata, Lisa untuk melihat apakah Lisa nanti berbohong atau jujur.
"Hmmm, kenapa kamu menanyakan itu?" Lisa mengalihkan tatapannya ke arah lain,menghindari tatapan Keysa.
"Karena setahuku, dulu kamu menyukainya," jawab Keysa. Ada rasa sesak di hatinya, saat mengatakan ucapannya. Keysa berharap, Lisa menjawab kalau dia tidak lagi menyukai Rendra.
Lisa, menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan lambat. "Aku rasa aku tidak pernah menyukai Rendra, Key. Aku hanya mengagumi ketampanannya saja. Aku mengejar dia,karena hanya ingin mendapat pengakuan dari para mahasiswa kalau aku memang benaran cantik, sehingga bisa menaklukkan laki-laki seperti Rendra. Buktinya, ketika ke empat dosen tampan itu, masuk ke kampus kita, aku bisa cepat berubah haluan. Itu berarti aku tidak mencintai Rendra kan?" Lisa memaparkan dengan lugas disertai dengan senyuman yang tersungging manis di bibirnya.
"Oh," Keysa menganggukkan kepalanya, merasa lega dengan pengakuan Lisa. Bagaimanapun dia tidak mau, dia dan Lisa akan berantem hanya gara-gara Rendra.
"Sebenarnya, apa alasanmu menanyakan itu? apa kamu menyukai Rendra dan takut kalau aku akan merebutnya darimu?"
Air muka Keysa langsung meringis, begitu mendengar ucapan Lisa, yang benar-benar telak. "Hmmm, sebenarnya Minggu depan kami akan tunangan, Lis." terang Keysa sambil menundukkan kepalanya, dengan pipi yang sudah merona.
"Hah, serius?" netra Lisa membulat dengan sempurna, yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Keysa. Rona merah di pipinya masih setia bertengger di sana.
"Tapi, aku gak tau, dia mencintaiku atau nggak, soalnya dia tidak pernah mengatakan apa-apa, padaku." raut wajah Keysa berubah sendu.
"Lho, jadi bagaimana kalian bisa bertunangan?" kening Lisa tampak berkerut.
"Om Seno dan Tante Amira yang datang ke mamah, minta aku jadi calon istri Rendra. Mamah menerima karena balas Budi. Sebenarnya aku sih senang-senang saja, tapi gak seratus persen karena aku gak tahu bagaimana perasaannya padaku. Aku tidak mau, dia merasa terpaksa dengan perjodohan ini." jelas Keysa masih dengan wajah yang sendu.
"Keysa! ada nak Rendra di bawah. Katanya dia mau jemput kamu, biar berangkat bareng," tiba-tiba Mutia muncul dari balik pintu.
Keysa dan Lisa saling silang pandang, dan tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Baik,Mah! tolong suruh dia menunggu sebentar!" Mutia keluar dari kamar Keysa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Nak Rendra, kamu tunggu sebentar ya! sebentar lagi Keysa akan turun.
"Hai Rendra!" sapa Lisa yang langsung bergelayut manja pada lengan Rendra.
Alis Rendra berkerut melihat tingkah Lisa yang berlebihan. Dia menepis tangan Lisa, dengan pelan. Sedangkan Mutia dan Keysa saling silang pandang dengan tingkah Lisa.
"Ayo Key, nanti kita bisa telat!" seru Rendra, dengan wajah kaku tanpa ekspresi. "Tan, kami pamit dulu!" Rendra mencium punggung tangan Mutia, dan berbalik tidak menghiraukan keberadaan Lisa sama sekali. Hingga membuat Lisa mencebbik tidak senang.
Lisa kembali menghambur mengejar Rendra dan melewati Keysa begitu saja, bahkan Keysa hampir terjatuh karena dorongan tubuh Lisa.
"Ren, bisa aku ikut kalian berdua? " Lisa kembali bergelayut manja di lengan Rendra.
"Maaf, Lisa. Kami pergi bekerja bukan mau main-main. Dan satu lagi, tolong lepaskan tangan kamu!" Rendra masih berusaha sabar dengan menekan intonasi suaranya. Ekor matanya tertarik ke atas, melirik ke arah Keysa, yang menatap ke arahnya dan Lisa dengan tatapan gusar.
"Tapi,...."
"Oh, iya ya! baiklah, lain kali aku ikut kalian berdua ya?" mohon Lisa sambil meraih tangan Rendra.
"Tidak ada juga untuk lain kali," Rendra mencondongkan tubuhnya berbisik ke telinga Lisa.
Rendra memutar badannya dan meraih tangan Keysa,menariknya masuk ke dalam mobil, meninggalkan Lisa yang tersenyum-senyum sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ekor mata Keysa sesekali bergerak melirik ke arah Rendra yang fokus mengemudikan mobilnya Terlihat jelas kalau sekarang raut wajah Rendra yang sama sekali tidak bersahabat.
"Kenapa dari tadi kamu melirik-lirik aku?" celetuk Rendra tiba-tiba, dengan pandangan yang masih lurus ke depan.
"Astaga! apa dia cenayang? kok dia bisa tahu kalau aku melirik dia? bukan-nya dari tadi dia fokus melihat ke depan saja?" bisik Keysa pada dirinya sendiri.
"Hmmm, mana ada aku melirik kamu," sangkal Keysa sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Sejak kapan Lisa ada di rumahmu?" tanya Rendra masih dengan nada dingin.
"Hmmm, sejak kemarin. Kak Kevin menemukannya di Bali,"
"Oh," desis Rendra hampir mirip dengan gumaman.
"Kenapa kamu menanyakannya? apa kamu menyukainya?" Keysa menggigit bibirnya sambil meremas-remas kedua tangannya.
Rendra menoleh sebentar ke arah Keysa. Dia menghela nafasnya dengan sekali hentakan..
"Apa kamu menginginkan aku menyukainya?" nada suara Rendra terdengar semakin dingin, hingga membuat Keysa sedikit merasa takut.
"Bu-bukan begitu maksudku. Dulu siapapun tahu kalau dia selalu mengejarmu, dan___"
"Apa kamu pernah lihat kalau aku membalas perasaannya?" Rendra menyela ucapan Keysa.
"Hmmm, kenapa kamu tidak membalasnya? Lisa gadis yang sangat cantik, modis dan yang pasti dia menyukaimu," ucap Keysa lirih dengan tatapan yang terus mengarah ke bawah.
"Dia menyukaiku, tapi aku tidak!" tegas Rendra.
"Apa kamu menginginkan aku dengan Lisa?" imbuhnya lagi dengan alis yang bertaut tajam melirik Keysa.
Keysa bergeming tidak mampu untuk menjawab. "Bu-bukan seperti itu, aku hanya tidak mau kamu bertunangan denganku, hanya karena permintaan Tante Amira dan Om Seno, padahal kamu sama sekali tidak menyukaiku. Jadi maksudku, kalau kamu menyukai Lisa, aku tidak apa-apa mundur,"
"Aduh!" kening Lisa sedikit kejedot ke dashboard mobil karena Rendra tiba-tiba me'rem mendadak mobilnya. "Bukannya tadi aku sudah bilang kalau aku tidak menyukainya hah?!" Rendra menatap tajam ke arah Keysa.
"Kalau begitu, kamu boleh bertunangan dengan wanita yang benar-benar kamu sukai, karena aku tidak mau menjadi penghalang kebahagiaanmu," Keysa memberanikan diri menatap balik ke arah Rendra dengan tajam.
Nafas Rendra memburu, wajahnya memerah dengan rahang yang mengeras, pertanda kalau sekarang dia sedang marah. Dia melepas sabuk pengamannya, dan dengan sekali hentakan, dia menarik kepala Keysa dan membenamkan bibirnya ke bibir tipis Keysa. Kedua netra Keysa membesar dengan sempurna, mendapat serangan Rendra yang tiba-tiba.
Rendra,melepas ciumannya, ketika dia merasa kalau Keysa, sudah kesusahan untuk bernafas.
Belum hilang rasa kaget Keysa, dan paru-parunya belum benar-benar terisi dengan udara, matanya kembali membesar, ketika Rendra berbisik, "Dan wanita yang aku suka dan cintai itu, kamu bukan yang lain!"
Tbc
__ADS_1