
"Shakila, apa tekadmu sudah benar-benar bulat, menikah dengan orang yang tidak kamu kenal?" tanya Lea, sebelum tim MUA datang, ke esokan harinya. Lea sengaja datang pagi-pagi sekali untuk bisa menemani Shakila.
Shakila, tersenyum ke arah Lea, seolah meyakinkan kalau dia baik-baik saja.
"Aku sudah benar-benar siap Le. Kamu tenang saja aku pasti akan baik-baik saja. Kalau seorang Kakak tidak bisa, bukannya sebagai seorang adik, selagi kita bisa menggantikan perannya, kenapa tidak? Lagian kata papi, keluarga calon suamiku orang baik,jadi calon suamiku itu juga pasti baik.
"Aku salut pada loe Kil! tapi, apa loe tahu,kalau tadi malam Ka Dewa mabuk berat dan kondisinya sangat memprihatinkan."
Lea terdiam dan tanpa disuruh, air mata sudah berhasil lolos keluar dari matanya.
"Gue tahu ini memang menyakitkan Le, tapi gue tidak tahu mau berbuat apa lagi. Mungkin ini udah suratan takdir,kalau kami berdua tidak berjodoh. Bukannya, mencintai itu tidak harus memiliki? mungkin itulah yang terjadi pada gue dan Ka Dewa."
"Siapa bilang begitu? selagi masih bisa dipertahankan kenapa tidak? gue akan tetap menikah dengan orang itu!" tiba-tiba Shakira muncul dengan pipi yang sudah basah, karena mendengar pembicaraan Shakila dan Lea.
"Ka Shakira? kamu sudah pulang?" Shakila menghambur memeluk Shakira dengan erat.
"Ka, biarlah aku yang tetap menikah. Kaka bisa mengejar cinta Kaka!" ucap Shakila di sela-sela isak tangisnya.
"Jadi bagaimana dengan cinta loe? bukannya gue egois membiarkan loe kehilangan cinta loe, padahal jelas-jelas kalian berdua saling mencintai? sedangkan gue belum jelas,dia menyukai gue atau tidak. Setelah gue berpikir matang-matang, mungkin jodoh gue datangnya harus seperti ini, tanpa proses pacaran seperti loe berdua, dan kami kan pacarannya bisa setelah menikah.Dan satu lagi, mungkin nantinya gue bisa jatuh cinta pada suami gue, seiring berjalannya waktu, betul tidak?" Shakira menerbitkan senyuman manis di bibirnya sembari menyeka air mata Shakila.
"Apa kakak tidak membenciku?" tanya Shakila lagi, masih dengan terisak-isak.
"Gue tidak pernah benar-benar membenci lo bego! bagaimana bisa gue membenci adik seimut loe.__ Dan hei, sejak kapan loe, memanggil gue itu kamu? mana kata loe, gue itu?" ledek Shakira.
"Kamu itu kan Kakakku,jadi aku harus sopan!" ucap Shakila dengan bibir yang mengerucut ke depan.
"Oh, begitu? sepertinya otak loe sudah benar. Tapi entah kenapa gue mau lo tetap berbicara biasa ke gue!" ucap Shakira.
"Tidak mau!" tolak Shakila.
"Baiklah terserah lo deh!" Shakira lalu mengalihkan tatapannya ke arah Lea,yang tengah tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
"Hai, Lea! apa loe tidak mau memeluk gue? tanya Lea dengan tatapan menghiba.
__ADS_1
Lea tersenyum dan menghambur memeluk Shakira. "Maafin,kata-kata gue tadi malam, Kir! Lo pasti sakit hati ya!" tanya Lea.
"Ada sih sedikit. Tapi lebih banyak rasa terimakasihnya dari pada rasa sakit hati. Terimakasih Le,karena sudah menyadarkan gue." Shakira berucap dengan sangat tulus. Mereka bertigapun saling memeluk dengan perasaan lega.
"Apa kamu sudah selesai dirias, sayang?" tiba-tiba Amira muncul,bersama dengan Seno.
Ketiga gadis yang sedang berperlukan bak teletubies kurang satu, sontak melihat bersamaan ke arah suara.
"S-Shakira? kamu sudah pulang sayang?" Amira langsung menghambur memeluk putrinya itu.
"Aku mau menikah, jadi tidak mungkin aku tidak pulang Mi." ucap Shakira sembari menyeka air mata Amira.
"Tapi, Shakila yang akan menikah sekarang Kira, bukan kamu lagi!" ucap Seno dingin.
"Papi marah sama Kira? maafin Kira Pi! tapi pernikahan ini awalnya kan buat Kira, jadi biarlah Kira yang akan menikah. Kira mohon Pi!" Shakira berlutut di kaki Seno dengan airmata yang kembali menetes membasahi pipinya.
"Apa alasanmu mau menerima pernikahan ini lagi?" tanya Seno masih tetap dingin. Padahal sebenarnya dia ingin segera membawa putrinya itu ke dalam pelukannya, karena sudah lega melihat Shakira baik-baik saja.
"Shakira yang sudah menyetujuinya dari awal, berarti Shakira harus bertanggung jawab dengan keputusan yang sudah Kira buat. Kira tidak mau membuat orang lain, menanggung jawabi apa yang sudah Kira putuskan.Jadi, please biarkan Kira yang menikah Pi." Mohon Kira dengan tegas.
"Baiklah,kalau itu kemauanmu! Papi bangga padamu, sudah berani mengambil keputusan. Sekarang Papi makin yakin kalau kamu benar-benar sudah siap berumah tangga. Sekarang kamu bersiaplah! MUA sudah datang." Ucap Seno sembari mengelus kepala Shakira.
"Tapi sekarang papi akan capek lagi mengubah surat-suratnya. Kemarin sudah papi rubah atas nama Shakila, sekarang papi akan mengembalikannya ke semula. Mungkin pihak catatan sipil akan menganggap Papi aneh dan kurang kerjaan." Seno mendesah sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bukannya mengurus seperti hal itu, tidak terlalu sulit buat Papi?" celetuk Shakira, menahan tawa.
"Nggak sulit, tapi capek! dasar anak-anak tidak ada akhlak!" ucap Seno sambil berlalu keluar. Sedangkan Amira dan ketiga gadis yang ada di ruangan itu, tertawa melihat kekesalan di wajah Seno.
Flashback off
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dewa duduk menyender di tembok, di balkon apartemen Galang. Pandangannya kosong seperti tidak memiliki semangat hidup.
__ADS_1

Semalam Galang dan Dion memutuskan untuk membawa Dewa ke apartemen Galang,karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk diantarakan pulang ke rumah Om Reno.
"Kenapa kisah cintaku harus berkahir tragis seperti ini? kenapa Kila harus menikah dengan Rendi?" batin Dewa dengan air mata yang jatuh kembali membasahi pipinya. Ya ... tadi pagi Dewa baru tahu dari Galang, kalau Shakila akan menikah dengan pewaris Rahardian group, dan dia tahu dengan jelas hanya Rendilah satu-satunya pewaris Rahardian group.
Ingin rasanya Dewa marah,akan tetapi ini mutlak bukan kesalahan Rendi. Mereka berdua hanya korban perjodohan. Rendi sendiri tidak tahu dengan siapa dia dijodohkan.
Dewa berdiri dan menatap pemandangan dari balkon apartemen Galang yang baginya tidak indah sama sekali. Dewa tiba-tiba terjengkit kaget ketika ada tangan kecil yang memeluknya dari belakang dan wangi seseorang yang dia sangat kenal langsung tertangkap oleh hidungnya.
Dewa sontak berbalik dan terkesiap melihat sosok yang ada di depannya sekarang.
"K-Kila? kenapa kamu ada di sini sekarang? b-bukannya hari ini kamu menikah? jangan bilang kamu lari dari Rendi." ucap Dewa, sembari berbalik lagi memunggungi Shakila.
"Kenapa Kakak, memunggungi Kila? apa kakak tidak senang Kila ada di sini?"
"Kalau kamu masih pacarku, tentu aku sangat senang! tapi sekarang kamu istri sahabatku, jadi aku tidak punya alasan untuk senang lagi." ujar Dewa tanpa mau menoleh sama sekali.
"Tapi, aku tidak jadi menikah dengan Ka Rendi, Ka!" Shakila menundukkan kepalanya. Sedangkan Dewa, sontak berbalik dengan tatapan tidak percaya.
"K-kamu bercanda ya? ini sama sekali tidak lucu Kila." Dewa masih belum bisa percaya dengan pendengarannya.
"Aku tidak bercanda Ka! aku memang tidak jadi menikah dengan Ka Rendi."Shakila berusaha meyakinkan.
"Apa pernikahannya batal?" tanya Dewa harap- harap cemas, sembari mencengkram bahu Shakila dan menatap manik mata Shakila dalam-dalam.
Saat Shakila mengelengkan kepalanya, Dewa mendesah kecewa dan melepas cengkramannya. Dia kembali memutar tubuhnya, memunggungi Shakila.
"Pernikahannya tidak batal, karena yang menikah itu,Ka Rendi dan Shakira, Ka!" Dewa sontak berbalik lagi, dan langsung menatap manik mata Shakila,untuk mencari kebohongan di manik mata itu. Dan ketika dia menemukan tidak ada kebohongan di sana, dia langsung menarik tubuh Shakila ke dalam dekapannya, memeluknya dengan sangat erat seakan takut untuk kehilangan Shakila. Dia juga memberikan kecupan berkali-kali di puncak kepala Shakila.
"Ka,lepasin! aku tidak bisa bernafas." Shakila,berusaha melepaskan diri dari pelukan Dewa, yang membuatnya sulit untuk bernafas.
"Maaf ... maaf! aku terlalu bahagia sampai tidak sadar sudah memelukmu dengan erat." Dewa terkekeh. Sekarang beban berat dihatinya, menguap entah kemana, setelah menyadari kalau Shakila masih menjadi miliknya, dan dia berniat akan secepatnya menjadikan Shakila jadi miliknya seutuhnya.
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa like,vote dan komennya ya gais.Kasih hadiah juga boleh😁😁