
Bulan madu plus baby moon kini sudah berakhir. Kini ke lima pasangan ditambah Lisa sudah kembali ke rumah masing-masing.
"Ayo, turun!"ucap Kevin setelah taksi yang mereka tumpangi, berhenti tepat di depan rumah.
"Ta-tapi Kak?" Lisa merasa ragu untuk ikut turun. Dia takut kalau mamanya Kevin tidak bisa menerimanya, atau bahkan membencinya.
"Ayolah, kamu tidak usah takut! mamah orangnya baik kok," Gendis juga berusaha membujuk Lisa seraya menenangkannya.Akhirnya Lisa pun mau turun walaupun detak jantungnya kini berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Ayo kita masuk!" Gendis menggandeng tangan Lisa dengan senyuman yang selalu tersungging manis di bibirnya.
"Mah, Key, kami pulang!" teriak Kevin begitu tidak melihat keberadaan Mutia dan Keysa.
Suara derap kaki yang berbenturan dengan lantai, terdengar berlari turun dari atas ke bawah. "Oleh-oleh mana Kak?" bukannya bertanya kabar, Keysa malah langsung menanyakan oleh-oleh yang dibawa kakak serta kakak iparnya untuk dirinya.
Pletak
Kevin menyentuh kening Keysa, sehingga Keysa mengaduh sambil kesakitan.
"Apaan sih Kak, main sentil-sentil aja? sakit tahu!" Keysa mencebbik, kesal.
"Harusnya yang kamu tanya itu, kabar kami bagaimana, bukan nanya oleh-oleh."
"Kan kalian berdua ... eh, siapa dia?" Keysa baru menyadari kehadiran Lisa yang tidak bisa dia kenali, karena dari tadi Lisa selalu menundukkan kepalanya.
"Kamu tidak mengenalinya? coba kamu lihat dia dengan jelas! Lis, angkat wajahmu!" titah Kevin dengan intonasi lembut tapi tegas.
"Lisa!" seru Keysa terkesiap kaget, begitu Lisa mengangkat wajahnya. Bukan hanya Keysa yang kaget, Lisa juga tidak kalah kaget melihat Keysa, karena Keysa, sekelas dengannya di kampus walaupun memang mereka tidak akrab sama sekali.
"Ka-kamu Keysa?" gumam Lisa masih dengan ekspresi kagetnya.
"Iya aku Keysa. Akhirnya kamu bisa ditemukan juga," Lisa tersenyum bahagia sambil menghambur memeluk Lisa.
"A-apa kalian mencari ku selama ini?" Lisa memiringkan sedikit kepalanya dengan alis yang bertaut tajam yang dijawab dengan anggukan oleh Keysa.
"Lho kalian sudah pulang, Nak?" suara dari arah belakang, mengalihkan semua perhatian ke empat orang yang ada di ruangan itu. Lisa langsung kembali menundukkan kepala, begitu melihat kehadiran wanita setengah baya, yang dia yakini adalah mamanya Kevin dan Keysa. Jantungnya kembali berdegup kencang. Dia meremas tangannya sambil menggigit bibirnya karena terlalu takut.
"Sudah Mah! mamah dari mana?" tanya Kevin sembari mencium punggung tangan mamanya, disusul oleh Gendis.
"Mamah dari belakang, lagi bersihin taman.__ Siapa dia?" tunjuk Mutia ke arah Lisa.
__ADS_1
Kevin meraih tangan Lisa dan mengajaknya untuk mendekati Mutia. "Dia, Lisa Mah! putri papah Satria juga." Mutia menatap intens Lisa, yang masih belum berani untuk mengangkat wajahnya.
"Kamu tidak usah takut, Nak Lisa! aku tidak akan marah padamu." suara Mutia terdengar sangat lembut, sehingga Lisa memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya menatap mamahnya Kevin yang kini juga tengah menatapnya dengan seulas senyuman yang tersemat di bibirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ayo Lisa, kamu makan yang banyak! kalau masih mau, kamu boleh tambah, gak usah malu-malu," Mutia menyendokkan sayur lodeh, ke piring Lisa, hingga membuat manik mata, Lisa menggenang oleh cairan bening yang siap ditumpahkan dari wadahnya. Seumur-umur dia tidak pernah diperlakukan seperti perlakukan Mutia, bahkan itu dari mamahnya sekalipun.
"Terima kasih ,Tan! tapi Lisa ...."
"Panggil aku Mamah!" ucap Mutia, yang merasa kasihan, setelah mendengar cerita dari Kevin,mengenai hal yang menimpa Lisa.
Air mata yang dari tadi berusaha, ditahan oleh Lisa, kini tidak sanggup untuk dia bendung lagi. Cairan bening itu, akhirnya berhasil lolos keluar dari kedua netra Lisa.
"A-apa kah aku pantas, untuk memanggil mamah?" isak Lisa skeptis.
"Kenapa tidak?"
"Mamahku sudah membuat rumah tangga Tan__"
"Mamah ... " sela Mutia.
"Kamu tidak salah dalam hal ini! memang kamu lahir dari rahim wanita itu, tapi aku gak mungkin membencimu, atas perbuatan yang dilakukan oleh mamahmu. Jadi, kamu tidak usah sungkan untuk memanggilku mamah, ya!" ujar Mutia dengan menyunggingkan senyuman yang tulus.
"Iya, Lisa! aku senang sekali, akhirnya aku punya saudara perempuan. Tapi, di antara kita, yang jadi kakak, dan yang jadi adik siapa ya, umur kita kan sama?" Keysa memutar bola matanya, sambil mengembungkan pipinya."
"Siapa yang lebih dulu lahir, berarti itu yang Kakak. Nanti saja kalian saling tanyanya. Sekarang lanjutkan makannya dulu!" Kevin buka suara, yang sebenarnya tidak suka kalau lagi makan ada yang bersuara. Tapi, karena situasinya sedikit berbeda, kali ini Kevin tidak terlalu mempermasalahkannya.
"Kak, bolehkah aku bertemu dengan Papah? aku sangat merindukannya. Dan bolehkan kalau aku tinggal sama papah nanti? kasihan papah tinggal sendiri, " celetuk Lisa tiba-tiba yang membuat Kevin dan yang lainnya saling silang pandang.
Kevin mendesahkan nafasnya ke udara, bergeming untuk sepersekian detik. Detik berikutnya dia menatap Lisa yang juga tengah menatapnya, dengan tatapan penuh harap.
"Baiklah! besok kita akan menemui papah." ujar Kevin.
"Terima kasih Kak!" Lisa kembali menyuapkan makanannya ke dalam mulut. Raut wajahnya kini terlihat bahagia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kak, aku mau makan mangga muda." Shakila merengek ke Dewa yang sedang selonjoran di sofa sambil memainkan handphonenya.
__ADS_1
"Besok aja ya aku carinya. Kita baru saja sampai di rumah, jadi aku masih capek banget."
"Aku maunya sekarang Kak! aku gak mau besok. Kalau Kakak tidak mau nyari sekarang, biar aku aja yang pergi nyarinya." Shakila beranjak, dengan bibir yang mengerucut.
Melihat Shakila yang beranjak pergi, Dewa sontak melompat dari sofa, dan mengejar istrinya itu.
"Sayang, kamu di rumah aja! biar aku yang nyari mangganya."
"Yang banyak ya Sayang," mood Shakila langsung berubah 180 derajat, yang membuat Dewa hanya bisa menghembuskan nafasnya pasrah.
Di dalam mobil, Dewa merogoh ponselnya dari dalam saku, dan mendial nomor Rendi.
"Hallo Wa!" nada suara Rendi terdengar malas, dari ujung telepon.
"Ren, Shakila pengen makan mangga muda, bantuin gue nyarinya yuk!"
"Ogah! gue capek Wa, low cari sendiri aja mangga mudanya,"
"Mangga muda?" celetuk Shakira, tiba-tiba dengan manik mata yang berbinar-binar dan menelan salivanya yang tiba-tiba keluar ketika membayangkan mangga muda.
"Perasaan gue gak enak nih," batin Rendi sambil menghela nafasnya, mengetahui pasti, kalau istrinya sekarang juga menginginkan mangga muda.
Shakira sontak merampas, ponsel dari telinga Rendi. "Ka Dewa ... kakak jemput aja Kak Rendi! dia mau kok nyari mangga muda sama kakak." Shakira mengambil keputusan sepihak.
"Tuh kan benar feeling gue," Rendi berbisik pada dirinya sendiri sambil menghembuskan nafasnya ke udara dengan keras.
"Kak, cari mangganya yang banyak ya!" Shakira mendorong tubuh Rendi agar segera beranjak pergi.
Rendi mengayunkan langkahnya dengan gontai, keluar dari kamar sambil merutuki Dewa di dalam hatinya.
Drrttt drtt
Rendi merogoh ponselnya yang berbunyi, lalu meletakkannya di telinga. "Kenapa Lang?" tanya Rendi, yang ternyata si penelepon adalah Galang.
"Sob, bantuin gue nyari mangga muda dong, Lea pengen makan muda katanya," ucap Galang, yang nadanya terdengar frustasi, yang membuat tawa Rendi sontak pecah.
Sedangkan di tempat lain, Dewa juga mendapat telepon dari Dion yang memintanya untuk menemani mencari mangga muda, karena Kirana juga ingin makan mangga muda.
TBC
__ADS_1
Maaf kalau kemarin aku tidak Up. Itu karena aku benar-benar tepar, karena begadang semalaman, Sebentar-sebentar bangun, buat ngecek suhu badan anakku, takut demamnya naik.