
"Mbak orangnya sudah pergi. Jadi Mbak sudah aman," Gendis menyentuh bahu wanita yang sedang meringkuk ketakutan itu dengan lembut.
Gadis itu mengangkat wajahnya, dan melihat ke sekitar, untuk membuktikan kebenaran atas ucapan Gendis.
"Te-terima kasih Kak!" ucap wanita itu terbata-bata.
"Lisa! kamu Lisa kan?!" wanita itu kaget dan terlihat bingung ketika Kevin mengenalnya.
"Anda siapa? kenapa bisa kenal denganku?" wanita yang ternyata Lisa itu bertanya dengan kening yang berkerut.
"Nanti aku jelaskan siapa aku. Sekarang kamu cerita dulu, kenapa kamu bisa dikejar-kejar kedua orang tadi?"
" Ini semua karena Mamah. Aku dijual sama seorang pria yang terkenal don juan, tidak cukup dengan satu wanita."
Flash back on
"Lisa, selama ini mamah sudah memenuhi kebutuhanmu, sekarang waktunya kamu membalas semua kebaikan mamah." Rina buka suara ketika mendapati Lisa, yang sedang malas-malasan di kamarnya.
"Maksud Mamah apa? balas budi apa yang Mamah maksud?" kening Lisa berkerut, merasa ada sesuatu yang aneh dengan perkataan Rina mamahnya.
"Lis, kamu kenal nak Iqbal kan?" Lisa menganggukan kepalanya meng-iyakan.
"Mamah punya hutang banyak padanya, Sayang. Dia sudah menuntut mamah untuk segera membayarnya, kalau tidak dia akan memasukkan mamah ke dalam penjara. Mama tidak sanggup untuk bayar karena jumlahnya cukup besar. Jadi, dia mau menganggap lunas hutang mamah, asal kamu mau jadi wanita simpanannya. Kamu mau kan nolong mamah?" wajah Rina terlihat memelas, penuh harap.
"Aku tidak mau Mah!" tegas Lisa. " Lagian uang hasil penjualan semua aset papah, mama kemanain? mamah bilang, mamah mau memanfaatkannya buat buka usaha, tapi mana buktinya?!" imbuhnya lagi sambil berdiri dengan manik mata yang berkilat-kilat karena menahan amarah.
"Hei, jadi maksudmu, untuk beli rumah, mobil dan yang lainnya uang dari mana, hah?! belum lagi untuk kebutuhan sehari-hari." suara Rina sudah mulai meninggi.
__ADS_1
"Uang itu banyak Mah, banyak banget malah! tapi kenapa Mamah tidak langsung memanfaatkannya untuk buka sebuah usaha, yang bisa buat kelangsungan hidup kita? aku menyesal telah mengikuti mamah dan meninggalkan papah sendiri."
Plak ...
Pipi Lisa terlihat memerah karena bekas, pukulan yang baru saja dilayangkan oleh Rina, hingga membuat Lisa meringis kesakitan.
"Enak saja mulut kamu kalau ngomong ya! kamu kirain buka usaha itu gampang, hah?" berang Rina dengan nafas yang memburu.
"Iya, Lisa tahu gak gampang. Tapi setidaknya, mama ada usaha untuk itu. Tapi ini apa?mamah tiap malam malah main judi, mabuk-mabukan dan bahkan main dengan brondong-brondong tidak jelas. Mamah kira Lisa tidak tahu selama ini kelakuan mamah?! Mamah hanya mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan diriku. Mana janji Mamah yang akan menguliahkan aku lagi, hah? tidak Mamah tepati kan? sekarang mamah malah memberikan ku sebagai wanita simpanan untuk membayar hutang-hutang Mamah? ibu seperti apa kamu? seharusnya sebagai seorang ibu, kamu melindungiku, tapi, sekarang kamu malah mau menjerumuskan aku? kamu tidak pantas disebut sebagai ibu lagi." Lisa mengeluarkan semua uneg-unegnya dengan panjang lebar tanpa jeda dan intonasi suara yang tinggi ditambah dengan air mata yang dengan lancangnya keluar dari kedua netranya.
Suara ribut-ribut yang memanggil-manggil nama Rina dari bawah, tiba-tiba menghentikan perdebatan ibu dan anak itu.
"Siapa mereka Mah?" Lisa menatap tajam ke arah Rina dengan keadaan hati yang tiba-tiba merasa tidak nyaman.
"Mereka pasti anak buah, nak Iqbal. Sekarang kamu bersiap-siap dulu, mereka pasti mau menjemputmu."
"Kamu tidak perlu banyak bicara, sekarang kamu bersiap-siap dan turun kebawah. Utang mamah sudah dianggap lunas, dan bahkan Iqbal, memberikan mamah tambahan uang. Jadi, kamu tidak boleh membantah lagi," pungkas Rina sambil beranjak keluar dari kamar Lisa.
"Mamah Jahat, tak punya hati!" teriak Lisa histeris sambil menghamburkan semua barang-barang yang ada di kamarnya.
Lisa berjalan mondar-mandir, sambil menggigit-gigit jarinya, memikirkan apa yang akan dia lakukan untuk bisa lepas dari anak buah Iqbal.
Lisa menjentikkan jarinya, saat dia sudah menemukan jalan keluarnya. Dia lalu buru-buru memakai, pakaian casual, yaitu baju kaus dan celana jeans, untuk mempermudah gerakannya nanti.
"Maafkan aku Mah! aku tidak bisa lagi hidup di bawah kendalimu," batin Lisa, sambil menjatuhkan sambungan dari beberapa sprey, hingga menyentuh tanah. Setelah dirasa aman, Lisa, turun perlahan-lahan ke bawah. Setelah sampai, di bawah, dengan mengendap-endap, Lisa berjalan ke depan untuk mencapai pintu pagar.
"Hei, itu dia mau kabur!" Lisa melihat ke belakang ketika salah satu dari anak buah Iqbal, menangkap basah dia, yang hendak kabur. Karena aksi pelariannya sudah ketahuan, Lisa sontak berlari secepat yang dia bisa, untuk menghindari dua laki-laki, anak buah Iqbal.
__ADS_1
Flashback end
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu bawa siapa lagi itu Vin?" pertanyaan Galang, membuat perhatian semua, beralih ke arah orang yang disebutkan oleh Galang.
"Lisa? kamu kok ...." ucapan Shakila tergantung di udara, begitu melihat siapa yang ad di belakang Kevin dan Gendis.
Lisa yang dari tadi menunduk, mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang telah menyebut namanya.
"Ka-kalian?" Kedua netra Lisa membulat dengan sempurna, melihat orang-orang yang sudah dikenalnya,bahkan yang dia anggap musuh dulu. Sontak Lisa beringsut mundur,bersembunyi di belakang Kevin, yang dia tahu kakaknya, satu ayah beda ibu setelah Kevin menjelaskan tadi malam. Ya, mereka sekarang sedang menikmati sarapan pagi bersama-sama. Kevin membawa Lisa bersamanya dan memesan satu kamar lagi buat Lisa.
"Ma-maaf, jangan pukul aku lagi, aku berjanji tidak akan mengganggu kalian lagi," Lisa terlihat ketakutan, tidak berani keluar dari balik punggung Kevin. Dia takut Lea dan yang lainnya akan melampiaskan kekesalan mereka dulu padanya.
Shakila, berdiri dari kursinya, dan meraih tangan Lisa dengan lembut. Sedangkan Dewa juga langsung berjaga-jaga, kali aja Lisa berbuat hal yang bisa mencelakakan istrinya. Mendorong Shakila misalnya.
"Kami tidak perlu takut pada kami Lisa. Kami tidak dendam padamu dan kami sudah memaafkan'mu. Iya kan gais?" Shakira dan Lea, langsung menganggukkan kepala,membenarkan ucapan Shakila.
"Ayo, duduk! kita sarapan sama-sama. Tapi biar lebih afdol kamu pakai parfum buatanku dulu!" Shakila tetap tidak melupakan si benda cair dan sedikit berminyak yang satu itu.
Dengan sedikit merasa sungkan, Lisa akhirnya menurut untuk berbagi meja dengan mantan musuhnya. Matanya tidak lepas dari perut-perut buncit ke empat wanita yang ada di sana, dan terlihat bingung juga melihat ke empat mantan-mantan dosennya yang terlihat perhatian pada mereka.
"Kami sudah menikah, dan sekarang sedang hamil," celetuk Shakira, mematahkan kebingungan Lisa.
Tbc
Jangan lupa buat ninggalin jejak gais. Untuk voucher Vote rekomendasinya besok, kalau berkenan, boleh dong dikasihkan ke novel ini. Thank you😁🙏
__ADS_1
Ternyata masih banyak yang ingat sama si Lisa.Terharu aku tuh! Maaf ya, kalau komennya gak aku balas satu persatu, tapi serius, semuanya aku baca kok. 🙏🙏