
Galang membukakan pintu mobil dan menuntun Lea keluar dari dalam mobilnya,setelah mereka sudah tiba di kediaman Bimo.
"Tangan kamu kenapa sayang?" tanya bunda Tiara dengan air muka yang panik, begitu melihat pergelangan tangan Lea,yang dibungkus dengan sapu tangan Galang.
"Tidak pa-pa Bun! cuma kesayat sedikit!" sahut Lea, dengan senyuman yang tersemat di bibirnya.
"Tidak apa-apa gimana? ini tangan kamu kok bisa tersayat?" Bimo menimpali, tidak kalah paniknya dengan Tiara istrinya.
"Hmm, tadi tidak sengaja tersenggol sama pecahan kaca, Yah!" Lea berbohong,karena dia tahu,kalau ayahnya tahu, ada yang berniat mencelakainya, akan sangat susah untuk meredam amarahnya.
"Apa lukamu sudah diobati?" tanya Bimo kembali.
"Tadi aku sudah___"
"Aku tidak bertanya padamu, aku bertanya pada putriku!" Bimo menyela,sebelum Galang selesai dengan ucapannya. Sudut matanya tertarik ke atas, melirik tajam ke arah Galang.
Galang bergeming, dan tenggorokannya seperti tercekat sehingga dia kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri. Dia menyadari,kalau Bimo sekarang sedang sangat marah dan kesal padanya.
"Ayah, kok seperti itu bicaranya sama Ka Galang? yang salah itu Lea, Yah. Lea nggak mau dibawa kedokter tadi,padahal Ka Galang udah ngajak aku." ujar Lea, memberikan pembelaan pada Galang.Sorot matanya menatap dengan tatapan tidak senang pada Bimo ayahnya.
"Kalau kamu gak mau, harusnya dia maksa. Kalau lukamu ini infeksi bagaimana? emang dasarnya, dia tidak mau bertanggung jawab!" rahang Bimo mengeras dengan mata yang sudah memerah karena marah, pada Galang. Dia merasa Galang, tidak bisa menjaga Lea, putri satu-satunya.
"Maaf,Om! bukannya__"
"Siapa yang mengizinkan kamu berbicara?! bentak Bimo, sehingga Galang terdiam seketika.
__ADS_1
"Ayaah! Ka Galang sudah paksa, tapi Lea yang gak mau, ngerti gak sih?!" pekik Lea, merasa kesal dengan Bimo, sekaligus merasa bersalah pada Galang. Selama di mobil Galang juga sudah berulang kali mengajaknya ke dokter, tapi dia tetap kekeh tidak mau.
"Sudah-sudah! sekarang kamu masuk ke kamar kamu dulu, dan minta Bibi buat ngobatin lukamu.Soalnya, bunda ada hal penting yang mau dibicarakan dengan ayah!" Tiara menengahi.
"Ayah terlalu berlebihan!" cetus Lea dengan bibir yang mengerucut, sambil menghentakkan kakinya berlalu dari tempat itu,menuju kamarnya.
"Sayang, kamu tidak boleh begitu! kamu sebagai ayahnya pasti sudah kenal dengan karakter putrimu itu yang keras kepala, yang sama sekali tidak suka dipaksa. Aku tahu, kamu marah,karena sayang sama Lea, tapi gak sepantasnya kamu melampiaskannya pada nak Galang." tegur Tiara dengan nada yang lembut seperti biasa.
"Maaf Om! aku memang__"
"Kamu tidak perlu meminta maaf, Om yang terlalu berlebihan." Bimo menepuk pundak Galang dan tersenyum simpul.
"Sekarang kamu duduk dulu! ada yang mau om tanyakan padamu! Bimo mendaratkan tubuhnya duduk di atas sofa disusul oleh Galang. Sedangkan Tiara, berlalu ke dapur untuk menyuruh asisten rumah tangga mereka membuatkan minuman dan dia menyusul Lea ke kamar,guna mengobati luka Lea.
"Om mau nanya, dan kamu harus jujur. Dari manik matamu tadi, Om bisa menangkap,kalau apa yang dikatakan oleh Lea itu bohong. Dia tidak benar-benar terkana pecahan kaca kan?" tanya Bimo dengan tatapan menyelidik.
"Mm, Iya Om! Tadi Lea berbohong, dan aku benar-benar tidak tahu,alasan dia berbohong,karena aku sama sekali tidak pernah meminta dia untuk berbohong." jelas Galang dengan agak gugup, berharap Bimo tidak salah paham lagi padanya.
"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bimo, berusahan menahan amarahnya.
Galang akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi,mulai dari dia yang merasa dibuntuti sampai akhirnya Lea terkena sayatan di pergelangan tangannya.
"Aku sudah memeriksa CCTV Om, dan wajah pelakunya sama sekali tidak jelas. Sekarang Rendi, Dewa dan Dion sudah ada di mall itu,untuk mengambil jaket merah yang dibuangnya. Kami bermaksud menyelidiki siapa pemilik jaket itu. Rencananya aku akan menyusul mereka bertiga, sehabis mengantarkan Lea pulang, Om!" papar Galang,menjelaskan, kalau dia tidak lepas tanggung jawab sama sekali.
"Hmmm, apa kamu punya musuh sebelum ini?"tanya Bimo.
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak punya musuh Om!" sangkal Galang.
"Ok, kalau menurut ceritamu barusan, Om bisa menangkap,kalau ada yang ingin melenyapkan Lea, karena dia menyukaimu. Apa kamu pernah memiliki kekasih sebelum Lea, dan kamu meninggalkan dia begitu saja?" Bimo memicing kan matanya,menuntut penjelasan dari Galang.
"Kalau untuk kekasih, aku tidak munafik om, kalau aku pernah pacaran pas SMA. Tapi, hanya sekedar cinta monyet. Dia pun sekarang sudah menikah dan punya 2 anak.Kami pun baik-baik saja selama ini. Cuma Om, ada satu perempuan yang sangat terobsesi denganku namanya Dina. Dia sampai mengikutiku kuliah di London. Dia selalu berusaha menyingkirkan setiap perempuan yang mau mendekatiku,sampai suatu hari, aku terang-terangan mengatakan kalau aku sama sekali tidak mencintai dia, dan menyuruh dia untuk tidak mendekatiku lagi, karena itu pekerjaan yang sia-sia.Semenjak itu,dia pindah ke Paris dan tidak pernah muncul lagi di depanku. Apa mungkin dia sakit hati dengan ucapanku Om? karena, kata Kinara, pacarnya Dion, kalau Dina, sudah kembali lagi ke Indonesia." tutur Galang menjelaskan panjang lebar tanpa jeda.
"Bisa jadi Lang! menurut penuturanmu barusan, Om bisa menarik kesimpulan,kalau perempuan itu sangat berbahaya. Kamu harus ekstra hati-hati. Tapi, kita belum bisa menjeratnya, karena kita belum punya bukti."
"Tapi Om, anehnya, perawakan wanita yang hampir mencelakai Lea tadi tidak seperti perawakan Dina." ucap Galang.
"Apa kamu mencurigai seseorang?" Bimo mengangkat kedua alisnya.
"Ada Om, dia Rosa, model yang bekerja di perusahaanku. Perawakannya persis dengan wanita yang hendak mencelakai Lea tadi." terang Galang.
"Hmm, kita belum punya bukti yang jelas. Sekarang yang jelas, Lea ada dalam bahaya. Sementara kita mengumpulkan bukti yang jelas, Aku akan menyuruh orang untuk mengawasi Lea dari jauh, karena anak itu keras kepala. Dia tidak pernah mau kalau ada yang mengawasinya selalu,karena dia tidak mau terlalu mencolok di depan orang-orang."
"Terimakasih Om! tapi biarlah aku sendiri yang berusaha untuk menyelesaikan masalah ini semua. Aku tidak mau melibatkan Om dalam hal ini." ucap Galang.
"Lea itu putri Om.Walaupun dia sudah jadi istrimu kelak, Om tidak akan pernah tinggal diam kalau ada yang berani mengusik keselamatannya. Om,percaya kamu memiliki tanggung jawab yang tinggi buat melindungi putriku dan aku tidak menyalahkanmu atas kejadian yang menimpa Lea, karena Om tahu kalau itu bukan kesalahanmu. Tapi, keselamatan Lea adalah tanggung jawab kita bersama." tegas Bimo.
"Maaf Om, karena aku, Lea ada dalam masalah." Galang menundukkan kepalanya,merasa tidak enak hati pada Bimo.
Bimo tersenyum simpul, berdiri dari tempat duduknya dan mendaratkan tubuhnya di samping Galang.
"Ini bukan salah kamu. Itu sudah menjadi resiko, kalau kita memiliki paras yang tampan." tukas Bimo sambil menepuk-nepuk pundak Galang.
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa,like, vote dan komennya ya gais. Thank you.😍🤗