
"Terima kasih Ka, kalau gak ada Kakak, mungkin sekarang aku sudah tinggal nama." ucap Lea sembari memeluk Gendis.
"Hmm, berterimakasihnya sama Tuhan. Kebetulan saja aku di sana." Gendis membalas pelukan Lea, sembari menepuk punggung Lea dengan lembut.
"Emm, tapi kenapa Kakak bisa tiba-tiba muncul di rumah sakit ini? Darimana Kakak tahu kalau kami ada di rumah sakit ini?" tanya Lea.
"Ka Kevin yang bawa aku ke sini. Aku tadi sempat pingsan,"
"Hah? pingsan?! kok bisa?" Lea mengangkat kedua alisnya ke atas, sehingga otomatis matanya ikut membesar.
"Kepalaku tadi pusing dan perutku sakit banget. Tadi malam aku begadang karena kebablasan nonton drakor. Tadi pagi jadinya aku gak sempat sarapan dan langsung ke kantor Om seno untuk presentasi. Giliran mau makan siang, kamu sudah tahu sendiri ceritanya, lagi-lagi gak jadi.Hehehehe!" papar Gendis panjang lebar sembari cengengesan
"Jadi, mana Ka Kevinnya sekarang Kak?" tanya Lea, yang tidak melihat adanya Kevin dari tadi.
"Oh, tadi setelah aku siuman, dia langsung pulang ke Jakarta karena ada hal penting yang harus diurus. Kebetulan hari ini, hari pertama dia jadi asisten pribadi Pak Seno," jelas Gendis dengan senyuman yang tidak pernah tanggal dari bibirnya.
"Dia gak ngajak Kakak ikut pulang ke Jakarta?"
"Dia, ajak kok! cuma tadi aku menolak, karena aku melihat kalian masuk ke rumah sakit ini tadi. Jadi, aku memutuskan untuk menghampiri kalian dan Ka Kevin langsung pulang." terang Gendis menjelaskan.
"Ka Kevin itu baik orangnya Kak dan dia belum pernah pacaran karena dia sudah lama suka sama Shakila. Tapi Shakilanya justru pacaran sama Kak Dewa."
Deg ...
Gendis bergeming dengan hati yang serasa tercubit dan perih mendengar ucapan Lea. Raut wajah yang tadinya ceria, seketika berubah sedih.
"Oh, dia suka sama Shakila? pantasan saja dia tidak melirikku sama sekali. Aku, tidak apa-apanya kalau dibandingin sama Shakila. Kami itu sangat jauh berbeda." batin Gendis dengan senyuman miris di sudut bibirnya. Dia mengingat imutnya Shakila sewaktu mereka pertama kali dikenalkan oleh Lea dulu.
Lea menyadari perubahan air muka Gendis. Dia mengrenyitkan keningnya, menebak-nebak kenapa wajah Gendis terlihat sedih.
"Ka Dis, Kakak kenapa?" Lea menyentuh pundak Gendis, sehingga Gendis terjengkit kaget dan bangun dari alam bawah sadarnya.
"Ya, ke- kenapa Lea? kamu bilang apa tadi?" Gendis terlihat sedikit gugup.
__ADS_1
"Aku tanya, kakak kenapa? kok tiba-tiba diam dan wajah Kakak seperti lagi sedih, Kakak ada masalah?" tanya Lea lembut.
Gendis mengelengkan kepala, dan kembali mengembangkan senyumnya ke arah Lea.
"Emm, aku tidak apa-apa kok! aku cuma sedikit khawatir kenapa Ka Galang belum siuman juga dari tadi." Gendis berusaha mengalihkan perhatian Lea.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suara decitan pintu yang sedang dibuka, mengalihkan perhatian Lea dan Gendis. Mereka melihat Rendi, Dewa dan Dion masuk dengan wajah yang terlihat letih.
"Apa Galang belum bangun juga?" tanya Rendi sembari mendekati ranjang dimana Galang terbaring.
"Belum Kak. Mungkin sebentar lagi, karena kata dokter pengaruh obatnya masih sangat kuat." sahut Lea, yang dibalas dengan anggukan kepala dari ketiga laki-laki itu.
"Kalian bertiga, tadi dari mana?" Lea bertanya kembali.
Rendi, Dewa dan Dion saling silang pandang, untuk bertanya siapa yang akan menjawab.
"Oh, kami tadi mengurus Dina dan Rosa. Bagaimanapun sebagai sesama manusia, kita tidak mungkin membiakan mereka begitu saja,tanpa ada yang mengurus," akhirnya Dewa yang berinisiatif untuk menjawab.
"Dina sangat kritis, sedangkan Rosa sudah mulai membaik, hanya wajahnya saja yang melepuh." kali ini Rendi yang buka suara.
"Keadaan mereka sekarang kami tidak tahu lagi, karena setelah menyerahkan ke dokter,kami keluar buat cari makan, karena kami belum sempat makan siang tadi." Dion menimpali ucapan Rendi.
"Emm, apa kalian melihat Ayah dan Om Seno serta Ka Aarash dan Ka Aariz?" Lea kembali bertanya.
"Papi Seno sama Om Bimo ke kantor polisi dan belum kembali. Kalau Ka Aarash dan Ka Aariz sudah balik ke Jakarta, karena ada hal yang harus diurus." sahut Rendi sembari kembali mengarahkan tatapannya ke arah Galang.
"Hei, tumben si ceriwis ini diam saja?" celetuk Dewa sembari menepuk pundak Gendis dengan sedikit keras.
"Sakit Ka Dewa!" cetus Gendis dengan bibir yang sudah lancip.
"Maaf! tapi kenapa kamu diam saja dari tadi? kan aneh?" tanya Dewa, yang diangguki kepala oleh Dion dan Rendi, karena setahu mereka adik sepupu sahabat mereka ini, ceriwis dan berisik.
__ADS_1
"Siapa yang diam saja? dari tadi Gendis ngobrol sama hati Gendis Kok! Kalian aja yang gak dengar." sahut Gendis asal, yang membuat Dewa dan yang lainnya menggaruk-garuk kepala mereka yang tidak gatal.
"Haish, dari dulu kamu gak berubah ya! ada aja jawabannya." Dion menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku lagi nanya sama hatiku, kenapa ya salah satu dari kalian bertiga, tidak ada yang jatuh cinta sama ku? apa karena aku kurang cantik, atau karena aku terlalu berisik?" tanya Gendis seperti sedang bercanda, akan tetapi terselip keseriusan dalam pertanyaannya.
Suara Tawa Dewa, Rendi dan Dion pecah mendengar pertanyaan Gendis yang mereka rasa hanya gurauan.
"Hahahahaha! sepertinya ada yang sudah bosan ngejomblo." seloroh Dion di sela-sela tawanya.
"Seandainya salah satu dari kami ada yang jatuh cinta sama kamu,emang kamu mau?" tanya Dewa setelah tawanya mereda.
"Nggak juga sih! cuma aku bingung saja, kenapa tidak ada laki-laki yang suka sama aku? padahal aku kan gak jelek-jelek amat ya? mungkin keceriwisanku yang jadi masalahnya." Gendis berucap sembari mangut-mangut.
"Hei, siapa bilang? kamu mungkin gak tahu, keceriwisanmu ini pernah hampir memikat si Rendi." sahut Dion keceplosan, yang membuat Rendi mendelik tajam.
"Hah? masa sih?" Gendis sontak mengalihkan tatapannya ke arah Rendi yang salah tingkah sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Ah, kan hampir aja, bukan jatuh cinta benaran. Aku juga hampir suka sama kalian bertiga, tapi setelah aku pulang ke Indonesia, aku justru gak merasa kehilangan kalian bertiga dan gak merasa rindu sama sekali." sambung Gendis kembali.
"Iya deh, iya! roman-romanya kamu lagi jatuh cinta, tapi tak digubris sama tuh orang ya?" tebak Rendi.
"Sok tahu deh! mana ada seperti itu! tidak akan ada yang bisa menolak pesonaku," rasa percaya diri Gendis kembali mencuat.
"Ada kok!"
"Siapa coba?" tantang Gendis.
"Ya, kami bertiga.Hahahahaha!" Dewa dan yang lainnya menggelegarkan tawa, melihat ekspresi Gendis yang cemberut dengan bibir yang mengerucut lancip.
"Kalian memang menyebalkan!" sungut Gendis, yang membuat tawa ketiga laki-laki itu semakin pecah.
"Bukan cuma kalian bertiga, Kevin saja tidak menggubrisku sama sekali. Kenapa ya, patah hati itu rasanya sakit banget?" batin Gendis dengan raut wajah yang berubah sendu.
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa buat ninggalin jejaknya dong gais.Please jangan pelit like, vote dan komen.Karena feedback dari kalian semua itu,semangat buatku.Thank you.