Dosenku Kekasihku

Dosenku Kekasihku
Terbongkar


__ADS_3

Dion melangkah ke depan untuk menghampiri pengantinnya dengan senyuman yang tercetak manis di bibirnya. Akan tetapi,di pertengahan jalan, Dion menyurutkan langkahnya karena Minah, tiba-tiba berdiri dan berteriak.


"Dion, Bibi tidak main-main ya! kalau kamu masih nekad untuk menikah dengan Kirana, Bibi akan membeberkan semua perbuatanmu pada putriku!" Minah menyeringai sinis ke arah Dion, sedangkan para tamu, semakin bingung.


Dion menghela nafasnya dan berbalik menatap Minah. "Bukti apa yang akan Bibi tunjukkan? bukti kalau aku tidur bersama dengan putri Bibi,yang ternyata hanya sebuah rekayasa itu? apa Bibi yakin mau menunjukkannya? kalau boleh aku sarankan , please jangan,soalnya nanti bibi yang akan jadi malu sendiri."Dion terlihat sangat tenang, dengan senyuma tipis yanh bertengger di bibirnya.


"Cih,kamu kirain dengan kamu berkata seperti itu, bibi jadi gentar?baiklah! kamu yang memaksa bibi untuk membongkar semuanya." Minah beranjak dari kursinya dan melangkah mendekati Dion.Kemudian, dia mengalihkan tatapannya ke arah para tamu, yang sudah terlihat tidak sabar untuk mengetahui drama apa yang sedang terjadi.


" Semuanya dengar ke sini! kalian lihat dia," menunjuk ke arah Dion yang tersenyum smirk.


" Dion ini,telah menghamili putriku itu, dan dia tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan putriku." Terdengar suara riuh dari para tamu,bahkan ada yang mengumpat Dion secara terang-terangan, hingga membuat Minah dan Ratih semakin berada di atas angin. "Aku tahu, mungkin karena kami tidak selevel dengan dia. Tapi, sebagai seorang ibu, aku tidak akan tinggal diam untuk memperjuangkan kehormatan putriku." ucap Minah berapi-api. Jangan lupakan Ratih, yang sudah beracting menangis di kursinya untuk melengkapi drama, menarik simpati dari orang-orang yang ada di ruangan itu.


"Hei, anak muda, bagaimanapun kamu harus bertanggung jawab, jangan mau enaknya saja kamu!" teriak salah satu tamu dari kursinya yang disusul teriakan 'setuju ' dari para tamu lainya. Sedangkan Minah menunduk dengan sudut bibir yang sedikit miring,tersenyum licik.


"Baiklah! memang sudah lumrah dan sudah menjadi kebiasaan manusia, untuk menghujat orang lain, yang hanya mendengar dari satu arah saja, tanpa mau mendengar dulu dari pihak yang dituduhkan. Sekarang giliran saya, untuk membela diri, eh bukan membela, kesannya saya bersalah kalau saya menggunakan kata membela." Dion berhenti sejenak untuk mengehela nafasnya.


"Aku, lebih memilih kata, membuktikan diri dari pada membelah diri." Dion mengalihkan tatapannya ke arah Minah. "Bibi, tadi sudah aku berikan kesempatan untuk bibi diam saja, tapi bibi sama sekali tidak mengindahkannya. Baiklah, semua sekarang tolong semua mata melihay ke depan!" tampak beberapa orang, membawa layar putih besar, dan ada juga yang membawa infokus. Setelah menunggu beberapa detik, tampak di layar percakapan yang terjadi antara Ratih dan Minah kemarin,yang membicarakan kalau bayi yang tumbuh di rahim Ratih, bukan dari Dion,tapi dari pria yang bernama Juna. Tampak juga di sana adegan perdebatan antara Minah dab suaminya Bono, yang berakhir pemukulan dan penyekapan terhadap suaminya itu. Setelah itu, Dion juga memutar percakapan antara Ratih dan Juna, dimana Ratih ingin menikah dengan Dion,sehingga dia bisa menguasai harta keluarga Hartono.


Suara riuh yang tadinya mengutuk dan mengumpati Dion, kini beralih ke arah Minah dan Ratih yang wajah mereka sudah berubah pucat seperti tidak dialiri darah sama sekali.

__ADS_1


"Apa bukti itu masih kurang Bi? kalau masih kurang, aku akan panggilkan orang yang pantas menjadi menantu Bibi, dan yang memang benar-benar ayab dari calon cucu Bibi." Dion bertepuk tangan dua kali. Seiring dengan tepukan tangan Dion, dua orang laki-laki datang membawa masuk Juna, yang disusul Bono di belakangnya, hingga membuat Minah dan Ratih semakin ketakutan dan mati langkah.


"Ba-bagaimana bisa? Ja-jangan bilang kamu__"


"Iya Bi! aku diam-diam memasang video tersembunyi di rumah bibi. Bibi tidak mengira kalau aku benar-benar sudah menerima Ratih kan Bi, ketika aku dengan baiknya mengantar susu hamil ke rumah Bibi?__Kalau mengenai pembicaraan Ratih dan Juna, aku juga diam-diam memasang aplikasi di ponsel Ratih untuk menyadap setiap pembicaraan Ratih." papar Dion dengan santainya. Dan di dalam hatinya dia benar-benar berterima kasih pada Om Seno.


Flashback on


"Sayang, kenapa kamu marah-marah?"ucap Seno setelah berhasil mengejar Amira istrinya yang kesal karena dia tiba-tiba memutuskan untuk menikahkan Shakila dengan Kevin.


"Gimana aku gak kesal, Pi, kamu seenaknya jidat memutuskan akan menikahkan Shakila dengan Kevin karena merasa tidak rela putrimu disakiti. Kamu kan tahu sendiri, kalau Dewa tidak ada niat untuk menyakiti Shakila?" cerocos Amira dengan bibir yang tidak berhenti bergerak, sehingga terlihat menggemaskan buat Seno.


"Aku bukan orang bodoh,Sayang. Kamu kan tahu, kalau dari dulu aku orang yang cepat tanggap, dan selalu hati-hati dalam menyelesaikan setiap masalah. Yang aku lakukan sekarang ini ada alasannya. Aku tidak benar-benar ingin menikahkan Shakila dan Kevin. Aku hanya memakai alasan itu, untuk memuluskan rencanaku.Aku hanya meminta Kevin untuk berpura-pura menyetujui menikah dengan Shakila."


"Tapi, itu juga tidak baik Pi. Sama saja papi mempermainkan perasaan Kevin. Papi kan tahu, kalau Kevin menyukai Shakila dari dulu," Amira mengungkapkan keberatannya atas rencana Seno.


"Kamu tenang saja, Kevin orang yang pengertian dan dia tidak akan sakit hati karena aku punya cara sendiri untuk memintanya mengikuti permainanku. Sekarang kamu istirahat dulu ya, ada hal penting yang harus aku lakukan sekarang," Seno mendaratkan kecupan yang agak lama di puncak kepala Amira istrinya. Lalu dia beranjak keluar dari kamar menuju ruang kerjanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


"Halo,Om!" terdengar suara Dion dari ujung telepon. Ya, setelah keluar dari kamarnya,Seno langsung menghubungi Dion.


"Dion, Om sudah mendengar semua masalah yang menimpamu, yang mengakibatkan Shakila sedih dan patah hati, aku__"


"Maaf Om! aku tidak bermaksud menarik Dewa dan Shakila dalam masalahku." sela Dion sebelumSeno selesai berbicara.( dasar gak sopan, memotong pembicaraan orangtua).


"Aku tidak menyalahkanmu karena aku tahu kalau itu bukan maumu. Sekarang Om mau mencoba membantu menyelesaikan masalah ini. Mudah-mudahan bisa berhasil. Karena Om percaya,kalau kamu tidak akan mungkin melakukan perbuatan kotor itu.Tapi, aku butuh bantuanmu untuk melakukan rencana ini." ucap Seno.


"Aku siap melakukan apa saja Om." sahut Dion tegas.


"Ok! Om mau, kamu pura-pura baik dan perhatian pada Ratih. Malam ini kamu datang ke rumahnya, dan bawa susu hamil berbagai rasa sebagai bentuk perhatianmu, karena dia sedang mengandung anakmu. Kemudian kamu cari tempat yang pas, untuk memasang kamera untuk merekam situasi di rumah itu. Karena Om yakin, Ratih dan Mamahnya akan membicarakan perkembangan rencana mereka. Kalau seandainya itu tidak berhasil, kamu coba diam-diam mengambil ponsel Ratih dan pasang aplikasi yang bisa meyadap pembicaraan Ratih dengan orang yang diteleponnya. Setelah itu,besok pagi kamu datang lagi ke rumah itu,untuk mengambil hasil rekamannya. Terserah kamu mau kasih alasan kamu datang pagi-pagi ke rumah itu, mau ngantar sarapan kek, mau numpang buang air kecil atau numpang mandi karena air di rumah mati, terserah kamu." tutur Seno panjang lebar, tanpa Jeda.


"Aku, pura-pura ngantar sarapan aja deh Om, lebih logika daripada nompang buang air, apalagi nompang mandi." sahut Dion dari ujung sana.


"Yaa, aku kan udah bilang terserah. Pokoknya jangan sampai tindakanmu membuat mereka curiga. Kamu harus akting senatural mungkin. Untuk rencana berikutnya, biar aku bicarakan sama Rendi. Kamu ngelakuin ini dulu."


"Baik Om! Aku berangkat sekarang Om?"


"Nggak! tahun depan! ya sekarang lah, mumpung masih belum jam 8." kesal Seno.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2