
Shakila tersenyum bahagia melihat nama pujaan hatinya sedang memanggil, di layar handponenya.
"Hanya melihat namanya saja, aku sudah bahagia begini, apalagi kalau aku bisa melihatnya setiap memulai hari dan mengakhiri hari. Aku pasti akan bahagia banget," gumam Shakila sembari mendekap ponsel itu di dadanya, sampai lupa untuk menjawab panggilan Dewa, sampai tiba ponsel itu, berhenti berdering baru Shakila tersadar dari lamunannya.Ketika ponselnya kembali berbunyi, Shakila cepat-cepat menjawab dengan senyuman yang tidak mau dia tanggalkan dari bibirnya.
" Halo, Ka Dewa, maaf tadi gak dijawab karena Kila, lagi di toilet. Ka Dewa kangen sama Kila ya? sama, Kila juga rindu sama Kakak, sudah 3 hari ini Kakak gak ada waktu buat Kila," Shakila berucap dengan manja sembari mengerucutkan bibirnya, seperti beranggapan kalau Dewa sekarang ada di depannya.
Shakila mengrenyitkan keningnya, hingga matanya terlihat menyipit, karena tidak mendapat jawaban apapun dari Dewa. Shakila menjauhkan ponsel dari telinganya, untuk melihat layar ponselnya, panggilan masih terhubung atau tidak. Shakila kembali mendekatkan ponsel ke telinganya, begitu melihat kalau panggilan masih terhubung.
"Halo Ka Dewa ... kenapa kakak diam saja? apa Kakak ada masalah?" tanya Shakila, dengan hati was-was.
Perasaan Shakila semakin tidak enak, begitu mendengar samar-samar suara tangis yang tertahan. Mungkin Dewa sedang menutup mulutnya sekarang,agar tidak ketahuan kalau sedang menangis.
"Ka, Kakak kenapa sih? please ngomong, jangan bikin Kila khawatir."
"K-Kil, maafin aku ya! mungkin bukan takdir kita harus berjodoh. Aku harap kamu akan menemukan laki-laki yang lebih dari aku. Yang bisa mencintaimu dan membahagiakanmu nantinya." suara Dewa terdengar gemetaran dari ujung telepon, karena tidak sanggup untuk menahan tangis lagi.
"Ka, jangan bercanda! ini sama sekali gak lucu tahu gak? Kakak lagi nge prank aku kan? gak mempan tahu gak, hehehe!" Shakila terkekeh, tapi kekehannya terdengar terpaksa.
"Aku tidak lagi bercanda, ataupun nge-prank Kila, kita benar-benar harus mengakhiri hubungan kita."
"Tapi kenapa Ka? apa Killa punya salah? Kalau Kila punya salah, Killa minta maaf, tapi tolong jangan bilang kata putus. Killa gak mau!"air mata Shakila, dengan lancangnya sudah merembes keluar.
"Kamu tidak salah apa-apa! aku yang salah! aku tidak bisa mempertahankan hubungan kita lagi, maafin aku ya!"
"Tapi kenapa? tolong kasih alasannya!" tuntut Shakilla sambil tetap terisak menangis.
Terdengar suara helaan nafas Dewa dari mulut Dewa. Dengan sedikit terbata-bata, akhirnya Dewapun menceritakan semua yang terjadi,mulai dari masalah Dion, Om Kemal yang memintanya menikahi Kirana sampai kegagalan mereka mencari bukti kelicikan Ratih.
"Jadi, hari Sabtu ini Kakak akan menikah?" tanya Shakila di sela-sela isak tangisnya.
"Iya, maafin aku ya!" Dewa memutuskan panggilan secara sepihak. Dapat dipastikan,kalau dia melakukan itu, karena tidak kuat mendengar suara tangisan Shakila.
__ADS_1
"Ada apa, Kila? kenapa kamu menangis?" tiba-tiba Seno papinya muncul di pintu.
Melihat kedatangan Papinya, Shakila sontak menghambur mendekap Seno dengan erat dengan tangis yang sesunggukan.
"Pi, Killa putus sama Ka Dewa. Dia mau menikah dengan Ka Kirana hari Sabtu ini.Killa gak mau pisah Pi, sama Ka Dewa. Killa sayang sama Ka Dewa!" jerit Shakila dengan tangis yang makin menjadi-jadi. Sehingga menarik perhatian Amira dan Syailendra. Keduanya langsung menghambur lari ke kamar Shakila.
"Ada apa ini?Kenapa kamu menangis Killa?" cecar Amira dengan wajah panik. Akan tetapi baik Shakila maupun Seno tidak ada yang menjawab. Amira dan Rendra seketika tahu, kalau Shakila sedang patah hati, setelah mendengar Seno yang mengumpat.
"Kurang ajar! berani sekali dia mempermainkanmu? dia kira dia siapa?" Seno menggeram dengan tangan yang terkepal kencang.
"Lepaskan Papi, Killa! papi mau menemui Dewa dan meminta penjelasan darinya." Seno berusaha melerai pelukan Shakila dari tubuhnya. Shakila mendongkak, dan menggelengkan kepalanya ke arah Seno papinya dengan tatapan sendu. "Papi gak usah nemuin Ka Dewa!"ujar Shakila dengan bahu yang turun naik dan sekali-sekali menarik masuk ingus yang keluar dari hidungnya.
"Tapi kenapa? Dewa perlu dikasih pelajaran Kila, biar gak sesukanya mempermainkan perasaan wanita. Dengan dia menyakitimu, sama saja dia tengah menyakiti Papi!" Seno berucap dengan sangat berapi-api.
"Ini bukan salah Ka Dewa, dia terpaksa melakukannya, karena papahnya dipaksa untuk membalas budi oleh papahnya Kirana." Shakila pun mulai menceritakan kembali apa yang dia dengar dari Dewa, tanpa dikurangi dan ditambah.
Seno diam untuk sepersekian detik, berusaha mencerna ucapan Shakila. Detik berikutnya, dia membuat semua mata yang ada di dalam kamar Shakila terbeliak, mendengar ucapannya.
"Gak boleh begitu dong, Pi! kamu jangan gegabah mengambil keputusan begitu saja. Keputusan yang diambil saat emosi, hasilnya tidak akan baik Pi." Sergah Amira, mami Shakila menolak keputusan Seno.
"Iya, Pi! Shakila juga tidak mau menikah dengan orang yang sama sekali tidak Killa cintai." ucap Shakila menimpali ucapan Amira,maminya.
"Jadi, kamu mau mendoakan Dewa bercerai, lalu kalian berdua menikah? Tidak! keputusanku sudah mutlak. Kamu harus menikah juga, supaya kamu nantinya lambat laun bisa melupakan Dewa dan tidak berbuat dosa dengan merebut laki-laki yang sudah beristri.Walaupun kalian berdua itu saling mencintai." tutur Seno dengan Sangat tegas.
"Tapi dengan siapa kamu mau menikahkan Shakila, Pi?! jangan bilang kamu akan membayar laki-laki untuk bisa menikah dengan putrimu.Aku tidak akan membiarkannya kalau itu sampai terjadi!" seru Amira, kesal.
"Pi, benar kata mami dan Killa. Papi jangan gegabah dalam mengambil keputusan.Menikahkan putri Papi dengan tiba-tiba hanya karena ingin membuktikan pada Ka Dewa, kalau Shakila juga bisa menikah dengan orang lain, itu tidak akan berakhir bahagia Pi." Rendra yang dari tadi diam saja, buka suara mencoba mengingatkan Seno.
"Papi juga sudah memikirkannya, Ren. Tapi calon papi yang satu ini, papi yakin akan bisa membahagiakan adikmu.".
"Siapa dia Pi?" Rendra menarik ekor matanya, menatap Seno dengan jantung yang berdetak hebat. Ada rasa tidak enak yang muncul tiba-tiba ke dalam hatinya.
__ADS_1
"Kevin! hanya dia yang sesuai untuk Shakila sekarang." Rendra langsung lemas mendengar ucapan Seno. Ya, itu yang Rendra takutkan, Seno akan menyebut nama Kevin, untuk menikahi Shakila, karena tanpa ada siapapun yang mengetahui, Rendra sudah cukup lama menaruh hati pada Keysha adik Kevin, walaupun Keysha lebih tua satu tahun lebih dari dirinya. Hanya saja Rendra belum punya keberanian untuk mengungkapkannya.
"Aku tidak mau menikah dengan Ka Kevin,Pi! aku tidak mencintainya sama sekali." Shakila memberikan penolakan dengan keras.
"Aku juga tidak setuju Pi!" Rendra ikut-ikutan protes.
"Kenapa kamu tidak setuju? coba kasih alasan yang rasional buat Papi," Seno menatap tajam pada Rendra, sehingga Rendra refleks menelan ludahnya sendiri, sedikit gentar melihat sorot tajam dari manik mata milik papinya itu.
"Ya, i- itu tadi Pi, mereka berdua tidak saling mencintai. Shakila tidak akan bisa bahagia nanti Pi." sahut Rendra dengan gugup.
"Cinta bisa hadir dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Apalagi, papi tahu, kalau Kevin pemuda yang baik, dan aku juga tahu kalau dia dari dulu sudah menyukai Shakila. Dia juga laki-laki pekerja keras dan sangat bertanggung jawab. Dia pasti akan menjaga dan bisa membuat Killa bahagia." ucap Seno dengan sangat yakin.
"Tapi, Pi, Kila tetap tidak__"
" Tidak ada tapi-tapi lagi. Kamu harus tetap menikah juga dengan Kevin hari Sabtu ini. Untuk urusan pesta pernikahan, serahkan pada Papi." Seno menyela Shakila, sebelum putrinya itu selesai berbicara
"Kamu jangan asal buat keputusan sepihak Pi. Apa kamu yakin, kalau Kevin akan mau menikah dengan Killa?" celetuk Amira.
" Aku yakin, kalau dia tidak akan bisa menolak permintaanku." Seno tersenyum smirk.
"Terserahlah. Aku pusing dengan jalan pikiran papi." Amira berlalu dari kamar Shakila dengan perasaan dongkol.
"Sayang, tunggu!" teriak Seno menyusul Amira.
"Papiiiii, aku tidak mau menikah dengan Ka Kevin!" pekik Shakila kembali.
Seno menghentikan langkahnya dan memutar kembali badanya. "Tidak ada penolakan lagi! papi tidak akan mengubah keputusan papi " tegas Seno, kembali melangkah pergi meninggalkan Shakila yang kembali menangis sesunggukan.
Sedangkan Rendra, mencelos seketika. Harapannya untuk bisa menikah dengan Keysha kelak sirna sudah. Diapun mengayunkan langkahnya dengan gontai, masuk ke dalam kamarnya.
Tbc
__ADS_1