Dosenku Kekasihku

Dosenku Kekasihku
Kesedihan Lisa.


__ADS_3

"Kamu kenapa, Lis? kelihatan kamu lagi kesal?" Lisa terjangkit kaget mendengar celetukan seseorang yang suaranya dia kenal. Siapa lagi kalau bukan Gendis kakak iparnya.


"Emmm, Lisa gak pa-pa kok, Kak. Cuma sedikit kesal, karena dari tadi sinyal di ponselku putus-putus." Lisa berkilah, berharap Gendis tidak curiga. "Apa karena ini ponsel lama kali ya Kak?" imbuhnya lagi.


"Nanti akan Kakak belikan yang baru." Timpal Kevin yang tiba-tiba muncul.


"Eh, gak usah Kak! ini juga masih bagus kok." tolak Lisa,dengan tidak enak hati.


"Gak Pa-pa! lagian itu memang sudah sangat lama. Itu ponsel Keysa pertama kali." Kevin tersenyum sambil menepuk pundak Lisa dengan lembut.


"Kamu dan Keysa itu sama. Sama-sama adik perempuan ku." sambung Kevin kembali, dengan senyuman yang tidak tertanggal dari bibirnya, sembari melangkah melewati tubuh Lisa.


Lisa tercenung sekaligus terharu. Dia merasa sekarang merasa sangat beruntung, bisa bertemu dengan keluarga barunya.


"Ayo berangkat! kenapa kamu malah Diam saja di sana?" Kevin berbalik dengan alis yang bertaut melihat Lisa yang masih belum bergerak dari tempatnya.


"Eh, iya." dengan sedikit berlari, Lisa menghampiri Kevin dan Gendis dan bersama-sama melangkah masuk ke dalam mobil.


"Kak, apa rumah papah jauh dari sini?" tanya mereka saat mobil yang dikemudikan Kevin baru saja keluar dari area rumah mereka.


"Tidak terlalu jauh," ucap Kevin lirih, dengan raut muka yang tiba-tiba sedih.Gendis yang menyadari hal itu, mengelus-elus pundak suaminya untuk memberi sedikit rasa tenang.


Seratus meter sebelum tiba di pemakaman, Kevin turun dan membeli, bermacam-macam bunga yang masih segar, sehingga menimbulkan keryitan di kening Lisa.


"Kak, buat apa bunga itu? bukannya bunga itu biasanya kita bawa, kalau kita mau jiarah ke makam?" Lisa tidak dapat lagi menahan rasa penasarannya. Kevin hanya tersenyum tipis saja sebagai jawaban atas pertanyaan Lisa.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kenapa kita kesini Kak? bukannya kita mau ke rumah Papah?" perasaan Lisa mendadak tidak nyaman, ketika mereka malah turun di kawasan yang penuh dengan makam.


Kevin membenarkan kaca mata hitamnya, lalu memasukkan kembali kedua tangannya kedalam saku celananya. Dia tidak mau, Lisa melihat, kalau sekarang manik matanya sudah penuh dengan cairan bening yang siap ditumpahkan dari wadahnya.


"Kamu ikut Kakak dulu!" Kevin melangkah mendahului Lisa dan Gendis, melewati beberapa makam sebelum sampai di makam yang papan nisannya bertuliskan nama 'Satria Kurniawan'.


"Lis, ini rumah papah kita yang baru," ujar Kevin sambil berjongkok dekat papan nisan papahnya.


"Kak ini gak lucu. Aku mau ke rumah papah, bukan ke sini!" pekik Lisa sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Lis, papah Satria sudah tidak ada di dunia. Dia sudah meninggal 4 bulan yang lalu." Kali ini Gendis yang buka suara sambil merangkul bahu Lisa.


Kevin berdiri dari tempatnya dan menarik tubuh Lisa ke dalam pelukannya.


"Papah benaran sudah tidak ada Lis. Kamu yang tabah ya!"


"Tidak, kalian bohong! Lisa yakin, yang di dalam sana bukan papah tapi orang lain. Papah Lisa masih hidup!" Lisa histeris dan Kevin berusaha menenangkannya dengan memper'erat pelukannya. "Lis, tenang Lis!jangan begini! Papah nanti bersedih di atas sana,"


"Kak, ayo kita pergi dari sini! aku mau ketemu sama papah!" Lisa masih saja histeris dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Kevin.


Kevin melerai pelukannya, dan menangkup pipi yang sudah banjir oleh air mata itu.


"Lis, lihat kakak, lihat! masih ada kakak sebagai ganti dari papah. Please jangan begini! dengan kamu begini, kamu akan membuat papah bersedih di atas sana. Tolong kamu ikhlas menerima semua ini. Bukan hanya kamu yang bersedih, kami yang bahkan tidak pernah merasakan kasih sayang papah juga sangat bersedih. Tapi, apa dengan menangisinya , papah bisa bangun lagi? tidak bukan? justru yang ada papah akan semakin merasa sedih." Kevin diam sejenak untuk menarik nafas, lalu menghembuskannya kembali. Dia menyeka air mata di pipinya,lalu menyeka air mata di pipi Lisa.

__ADS_1


"Lis, walaupun papah sudah tidak ada di dunia ini, yakinlah kalau dia masih akan selalu hadir menemani kita. Dia sangat menyayangimu, bahkan di akhir hidupnya dia sempat berpesan agar aku mencarimu dan menjagamu. Lis, kamu harus ikhlas ya, demi kebahagiaan papah di atas sana. Kamu tidak perlu khawatir, kakak akan menjaga dan menyayangimu sama seperti kakak menyayangi Keysa. Kalian berdua sama-sama adik Kakak. Dalam tubuh kita mengalir darah yang sama,yaitu darah papah kita." tutur Kevin lembut dengan penuh kasih sayang. Kevin kembali menarik tubuh Lisa ke dalam pelukannya dan menyugar surai Lisa dengan lembut.


Lisa berangsur-angsur mulai tenang. Dia melerai pelukan Kevin dan melangkah mendekati nisan papahnya. Dia kembali terisak-isak dan memeluk papan nisan papahnya itu. "Pah, ini Lisa sudah datang Pah! maafkan Lisa yang tidak sempat berbakti pada papah. Justru Lisa meninggalkan papah di saat papah terpuruk. Lisa memang anak yang tidak tahu diuntung.___ Pah, terimakasih sudah mengkhawatirkan Lisa selama ini. Sekarang Papah berbahagia ya di atas sana! Lisa janji akan jadi anak yang baik seperti yang papah inginkan. Pah, aku sangat berterima kasih atas semua kenangan yang kita bagi bersama. Aku hanya berharap kau ada di sini. Seandainya ada satu kesempatan terakhir, aku berharap aku bisa memelukmu. Lalu, aku akan memelukmu erat-erat dan tidak pernah melepaskanmu. Aku merindukanmu, Pah." Lisa mencurahkan kesedihannya dengan sesunggukan.


"Lis, udah ya! sekarang kamu taburkan bunga ini dan kita berdoa sama-sama," Gendis merangkul pundak adik iparnya itu dengan penuh kasih sayang.


Lisa menerima bunga dari tangan Gendis dan mulai menaburkan bunga ke atas makam yang di dalamnya terbaring tubuh papah, yang merupakan cinta pertama baginya.


"Pah, sesuai janjiku, aku sudah menemukan Lisa dan membawanya bersamaku. Aku berjanji akan menyayanginya seperti menyayangi Keysa. Papah yang tenang ya di sana," gumam Kevin.


Setelah puas, menangis di atas pusara Satria, Kevin, Gendis beserta Lisa akhirnya beranjak dari sana, untuk kembali ke rumah.


Di dalam mobil tidak ada yang bersuara sama sekali, yang ada hanya keheningan. Lisa menyenderkan tubuhnya, di pintu mobil dengan mata yang menatap kosong ke arah jalanan. Sesekali dia menyeka air matanya yang menetes dari sudut matanya.


"Kak, kenapa papah bisa meninggal?" Lisa buka suara dengan nada yang sangat lirih, tapi masih bisa ditangkap oleh pendengaran Kevin.


Kevin menghela nafasnya dengan agak lambat, lalu mulai menceritakan semua yang terjadi. Dia menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat.


"Setelah kamu mendengarnya, apa kamu mau menyalahkan Keysa dengan semua yang terjadi?" Kevin melirik Lisa melalui kaca spion.Dia melihat Lisa menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan Kevin.


"Tidak Kak! karena aku tahu, kalau papah melindungi putri yang sudah dia abaikan dan telantarkan dari kecil."


Tbc


Jangan lupa buat ninggalin jejaknya ya gais.Please like,vote dan komen. Thank you

__ADS_1


__ADS_2