
Hari sudah berganti, menjadi ke hari yang rata-rata tidak disukai oleh banyak orang, hari apa lagi kalau bukan hari Senin.
Dewa, Galang dan Dion minus Rendi sudah kembali ke rutinitas seperti biasa, yaitu mendidik anak bangsa untuk bisa menggapai cita-cita mereka.
Sebenarnya mereka sangat malas untuk datang ke kampus hari ini, karena tubuh mereka semua terasa linu,akibat kerja rodi yang mereka lakukan di malam minggu sampai menjelang dini hari. Tapi demi tanggung jawab, mau tidak mau mereka harus tetap mengajar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selepas dari kampus, Lea ingin ke toko buku dulu sebelum ke kantor Galang, karena dia butuh suatu buku untuk membantu menyelesaikan tugas-tugasnya.
Setelah cukup lama berkeliling di toko buku, akhirnya buku yang dia cari pun ketemu juga.
Lea beranjak menuju kasir, dan perhatianya langsung tersita pada seorang gadis yang sepertinya usianya tidak terlalu jauh darinya.
Wajahnya terlihat seperti ingin menangis, sambil mengacak-acak isi tasnya, seperti sedang mencari sesuatu.
"Aduh Mbak, dompet saya sepertinya ketinggalan, bagaiman ya?" ucap gadis itu.
"Kalau begitu, novel ini harus anda kembalikan lagi ke tempatnya Mbak!" sahut sang kasir dengan raut wajah yang kurang ramah.
"Hmm,tapi novel ini yang cari-cari Mbak, dan tadi cuma sisa satu."
"Itu bukan urusan kami Mbak, kalau mbak gak bisa bayar, ya ... jalan satu-satunya ya harus dikembalikan ke tempatnya."
"Tapi__" gadis itu terlihat sangat berat hati untuk mengembalikan novel yang sangat dia suka itu.
"Mbak, bisa gak anda minggir dulu! anda menghalangi jalan yang hendak bayar!" cetus kasir itu, dengan kesal.
"Saya akan bayar punya Mbak ini! berapa yang harus saya bayar includ punya saya?" celetuk Lea, yang merasa kasihan dengan gadis itu.
Kasir itu pun mengarahkan Barcode scanner ke barcode yang ada di novel dan buku Lea. Setelah itu dia melihat ke arah komputer, untuk melihat berapa jumlah yang harus dibayar oleh Lea.
"Semuanya 305.000 Mba!" Lea pun memberikan uang ratusan 3 lembar dan 50 ribuan 1 lembar.
"Kembaliannya ambil saja Mbak!" ucap Lea sembari menerima 2 bungkusan yang berisi novel dan bukunya sendiri.
"Terima kasih banyak Mbak!" ujar Sang kasir dengan seulas senyuman yang sumringah.
"Sama-sama!"
"Ka, ini novel kamu!" Lea menyodorkan novel pada gadis itu, yang menatap novel itu dengab mata yang berbinar senang.
"Terimakasih banyak Ka! kamu baik sekali. Kenalkan namaku Gendis, kalau kaka siapa?" gadis bernama gendis itu mengulurkan tangannya ke arah Lea.Mereka berdua saling memanggil Kaka, karena seperti orang Indonesi pada umumnya, bila baru bertemu, tidak sopan rasanya bila langsung memanggil adik pada orang yang bahkan beluk kita ketahui berapa usianya.
Lea menyambut tangan Gendis dengan senyum manis yang terukir di bibirnya.
"Aku Azalea Ka.Kaka bisa panggil aku Lea."
"Ya,udah kalau begitu, aku bisa minta nomor ponsel Kaka? Jadi, nanti aku bisa ajak kaka bertemu lagi untuk mengembalikan uang Kaka." Gendis meraih ponsel dari dalam tasnya.
__ADS_1
"Tidak usah Ka! aku ikhlas. Ucap Lea tersenyum.
"Gitu ya? ya udah, sekali lagi aku ucapin terima kasih!" Gendis membalas senyum Lea.
"Kalau begitu, aku pamit ya Ka Gendis, aku ada urusan lagi soalnya!" Lea mengayunkan langkahnya, keluar dari toko buku itu, setelah Gendis mengiyakan
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gendis berjalan dengan cepat dan cuek di dalam sebuah gedung berlantai empat, dengan raut wajah yang sangat gembira. Bagaimana tidak, dia akan bertemu dengan laki-laki yang disayanginya selain Papahnya.
"Hei, siapa kamu? kenapa main masuk saja ke kantor orang?" seorang gadis cantik,menghadang langkah Gendis.
"Maaf, kalau kedatanganku membuat anda tidak nyaman! aku Gendis," Gendis mengulurkan tangannya, dengan seulas senyuman di pipinya.
Gadis itu tidak menyambut uluran tangan Gendis. Dia malah menatap Gendis dengan tatapan sinis dan curiga.
"Jangan bilang,kalau kamu ke sini untuk menemui Galang?" gadis yang ternyata Rosa itu, menyusuri tubuh Gendis dari atas sampai ke bawah.
"Cih, cantik sekali dia, apa dia saingan baruku untuk mendapatkan Galang?" batin Rosa was-was.
"Oh,iya! Ka Galang ada di dalam kan?" Gendis hendak mengayunkan langkahnya lagi, tapi ditahan kembali oleh Rosa.
"Kamu siapanya Galang?"
"Aku__hmm buat apa kamu tahu siapa aku?" ketus Gendis yang sudah mulai kesal dengan sikap Rosa.
"Tentu saja aku harus tahu! aku model di sini, dan calon kekasih Galang. Jadi kamu jangan coba-coba buat mendekatinya."
"Kita lihat saja nanti!" tantang Rosa.
"Cih, minggir sana! aku tidak ada waktu buat ladenin orang seperti kamu, karena waktuku itu terlalu berharga. Huft, moodku benar-benar rusak ketemu sama manusia yang bentukannya seperti kamu!" Gendis menyingkirkan tubuh Rosa dari depannya, dan melangkah masuk ke ruangan,yang dia yakini ruangan Galang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hai, Ka Galang! i'm realy miss you!" Gendis langsung berlari memeluk Galang.
"Jaga sikapmu Gendis! ini Kantor." bentak Galang dengan sorot mata yang sangat tajam.
Mendengar Galang membentaknya, membuat Gendis mencebikkan bibirnya.
"Tapi,aku benar-benar merindukanmu Ka! kamu gak merindukanku?"
"Sejak kapan kamu di Jakarta? kenapa tidak mengabariku? dan dimana kamu tinggal?bukannya menjawab, Galang justru balik bertanya.
" Tanyanya satu-satu atuh Ka.Aku baru nyampe tadi malam dan tentu saja tinggal di rumah Tante Sinta. Aku mau kasih kejutan saja sama Kaka makanya aku gak ngabarin.__" hening sejenak.
"Oh ya Ka, tadi aku ketemu sama gadis cantik di toko buku, aku kelupaan bawa dompet, dan dia bantu aku membayarnya." ucap Gendis mulai bercerita.
"Stop! nanti saja ceritanya! Aku pusing tiap kali dengar kamu cerita." Galang memijit kepalanya. Sedangkan bibir Gendis langsung mengerucut mendengar teriakan Galang. Dia lalu melangkah menuju sofa, untuk merilekskan tubuhnya sebentar. Karena kurang hati-hati, kaki Gendis tersandung dan membentur pinggiran Meja, sehingga kaki di bagian bawah lutut itu terluka.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Lea yang baru saja tiba di kantor Galang, berjalan dengan santai dan sesekali menyapa karyawan Galang yang kebetulan berpapasan dengannya.
"Hei, cewek gatal, mau ketemu Galang lagi ya? kamu tidak capek ya, nyamperin Galang tiap hari? gatal banget sih jadi cewek!" Rosa lagi-lagi mencegat Lea, dan seperti biasa lengkap dengan sindiran sarkasnya.
"Hmm, terima kasih buat pujiannya!" Ucap Lea yang malas meladenin Rosa.
"Baiklah, kalau sudah tidak mau memuji lagi, aku mau ke ruangan pacarku!" Lea menekan kata pacar, sehingga membuat Rosa menggeram sambil mengepalkan tangannya.
"Hahahaha, apa kamu kira, kamu satunya-satunya pacar Galang? di dalam ruangan Galang, sekarang juga ada gadis cantik yang mengaku pacar Galang." Rosa tersenyum sinis.
Lea yang mendengar ucapan Rosa sontak menghentikan langkahnya,yang sudah sempat melangkah 5 langkah. Dia berbalik dan menatap tajam ke arah Rosa.
"Kamu kira aku percaya?" ucap Lea berusaha untuk tidak terpengaruh.Padahal sebenarnya hatinya merasa was-was.
"Hmm, kalau kamu gak percaya,lihat aja sana ke dalam! tapi, nanti jangan nangis bombai ya?" Rosa mengangkat salah satu bibirnya,menyeringai sinis ke arah Lea sambil berlalu pergi dari depan Lea.
Lea, melangkah dengan perlahan dengan jantung yang sudah berdetak dengan kencang.Pikirannya sudah berkecamuk antara percaya dengan ucapan Rosa atau tidak.
"Ka Galang!" seru Lea ketika melihat Galang yang sedang berlutut sambil menyentuh kaki perempuan itu.
"Lea!" Galang terkesiap kaget, dan refleks berdiri.
Lea hendak memutar kembali badannya, hendak berlari keluar dari ruangan Galang. Tapi, dia mengurungkan langkahnya ketika mendengar suara wanita itu memanggil namanya.
"Lea? kamu Lea yang tadi kita ketemu di toko buku kan?" Gendis bersorak gembira.
" K-kamu Ka Gendis?"
"Kenapa dia ada di sini?" apa hubungannya dengan Ka Galang?" bisik Lea pada dirinya sendiri.
"Kalian saling mengenal? kapan?" kening Galang berkerut bingung.
" Dia ini gadis yang aku ceritain tadi Ka.Yang bantuin aku buat bayar novelnya!" Gendis berucap sembari bergelayut manja di lengan Galang.
Manik mata Lea mulai berbinar seperti mutiara, karena lapisan cairan bening mulai memenuhi manik mata itu, dan siap untuk ditumpahkan, melihat kemesraan yang dipertontonkan oleh Gendis.
"Maaf, aku mau pamit pulang dulu! sepertinya kedatanganku kurang tepat!" Lea memutar kembali badanya, dan tangannya sudah memegang knop pintu dan siap untuk membuka pintu.
"Sayang, kenapa kamu terburu-buru? kamu baru saja sampai!" Galang menarik tangan Lea, untuk menahannya agar tidak pergi.
"Sayang? Ka Galang apa Lea pacarmu? apa kamu selingkuh dariku? kamu tega Ka Galang!" Gendis, tersungkur ke lantai, menundukkan kepalanya dengan bahu yang bergetar, pertanda kalau kini dia sedang menangis.
Tbc
Udah hari Senin aja nih.Boleh dong vote recomendasinya di kasihkan ke karya ini.
Jangan lupa juga buat like, dan komen ya Gais.Thank you
__ADS_1
Yang zi as Gendis