Dosenku Kekasihku

Dosenku Kekasihku
Aku gak boleh marah sama calon menantunya.


__ADS_3

Hari berganti hari, tidak terasa hari yang ditunggu-tunggu oleh Dewa dan Shakila akhirnya tiba juga.


Untuk acara resepsi ini, Shakila dan Dewa lebih memilih mengadakannya di taman hotel atau di outdoor, karena Shakila lebih menyukai alam. Dekorasi yang mereka pilihpun lebih ke tema rustic yang lebih mengedepankan kesan sederhana.


Dekorasi rustic tidak lengkap tanpa adanya bola-bola lampu yang berderet menyala dan mempercantik pesta pernikahan Dewa dan Shakila. Bunga yang dipilih dalam dekorasi ini pun menggunakan bunga-bunga liar.




Tamu sudah mulai terlihat memadati acara resepsi Shakila dan Dewa. Alunan lagu-lagu romatis seperti i wanna grow old with you, nothing's gonna change my love for you dan banyak lagi sudah mengalun merdu menambah suasana romantis di acara itu.


Galang terlihat datang bersama dengan Gendis yang tampak sangat cantik dengan balutan gaun yang mengembang di bawah berwarna Navy.



"Dis, Aku cari Lea dulu ya, Kamu tunggu di sini aja!" ucap Galang dengan mata yang mengedar mencari keberadaan sang pujaan hati, yang katanya sudah ada di tempat acara bersama Bimo dan Tiara orang tuanya.


"Aku ikut aja deh Ka, masa aku sendiri di sini," protes Gendis dengan bibir yang mengerucut.


"Kamu di sini aja. Nanti aku sama Lea nyusul kamu ke sini. Lagian kalau kamu ikut, ribet sama gaunmu.__ Udah dibilangin jangan pakai gaun seperti itu, masih aja ngeyel mau pakai, ribet sendiri kan jadinya." cetus Galang dengan nada yang kesal.


"Tapi kan aku cantik Ka ,pakai gaun ini."


"Cantik sih, tapi ribet. Lagian ngapain sih suka banget nyusahin diri sendiri?" ucap Galang, sambil melenggang pergi meninggalkan Gendis yang tersenyum kecut. Tanpa dia sadari, ada sepasang mata yang menatap interaksi antara Galang dan Gendis dengan tangan yang terkepal dan nafas yang memburu. Siapa lagi dia kalau bukan Kevin,yang mengira kalau Galang adalah pacar Gendis,karena selama ini dia hanya tahu nama Galang tapi tidak tahu yang mana orangnya. Jadi, dia tidak tahu kalau yang tadi bersama dengan Gendis itu, Galang kakak sepupu wanita berisik yang akhir-akhir ini sering menerornya lewar mimpi.


Ketika dia mau menghampiri Gendis,tanpa sengaja matanya menangkap pemandangan, dimana Galang tersenyum dan meraih tangan seorang gadis yang dia tahu kalau itu Lea.


"Brengsek!" umpat Kevin dalam hati. "Dia sengaja meninggalkan Gendis, biar bisa berduaan dengan Lea. Dia pasti cowok matre yang mau memanfaatkan dua gadis.Aku harus membawa Gendis dari sini, biar tahu rasa dia. Seenaknya aja mau mainin perasaan perempuan." Lagi-lagi Kevin menggerutu di dalam hati seraya melangkah mendekati Gendis yang sibuk mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Galang.

__ADS_1


"Hei, gadis bodoh, ayo kamu ikut saya!" tanpa basa basi Kevin langsung menarik tangan Gendis menjauh dari area pesta.


"Apa-apaan sih Ka Kevin? lepasin tangan aku ... sakit tahu!" Gendis berusaha melepaskan tangan Kevin, akan tetapi Kevin mencengkram pergelangan tangannya dengan sangat kuat, karena rasa cemburu yang membakar hatinya.


Setelah lumayan jauh dari area pesta, Kevin dengan kesal menyentak tangan Gendis. Gendis meringis kesakitan sambil mengelus


pergelangan tangannya yang terlihat memerah.


"Ka Kevin, lihat tanganku udah memerah, sakit banget. Kamu kenapa main tarik-tarik sih? aku salah apa?!" seru Gendis dengan suara yang meninggi serta mata yang mendelik tajam.


"Kamu kok jadi marah-marah? asal kamu tahu, aku lagi nyelamatin kamu dari buaya brengsek itu! lagian ngapain kamu pakai pakaian seperti ini? kamu mau menggoda siapa? apa laki-laki brengsek itu yang memaksamu memakai ini?" cecar Kevin beruntun tanpa henti, sehingga Gendis tidak memiliki kesempatan untuk menjawab.


"Maksud kamu apa sih?! siapa pria brengsek yang kamu maksud? dan kenapa dengan pakaianku?!


"Kamu gak sadar, kalau pakaian kamu ini, mengundang niat laki-laki untuk berbuat buruk padamu, hah?!" ucap Kevin sambil menunjuk gaun yang dipakai oleh Gendis.


"Kamu lihat, pundak kamu terbuka seperti itu, kamu mau nunjukin ke orang-orang kalau kamu punya kulit yang mulus begitu?!__ atau jangan-jangan pria brengsek itu yang menyuruhmu memakai ini?" Kevin masih saja berbicara dengan berapi-api.


"Hei, kamu lagi kesurupan ya? marah-marah gak jelas.Lagian apa urusannya sama kamu, aku pakai gaun seperti ini? __hello Mr Kevin, gaun yang saya pakai ini masih kategori sopan ya! Lagian gaun, gaun aku, tapi kok kamu yang sewot? heran deh ah ...." Gendis terlihat mulai kehilangan kesabarannya.


"Aku semakin yakin, kalau pria brengsek itu yang memaksa kamu memakai gaun yang ribet seperti ini."


"Pria brengsek ... pria brengsek. Siapa yang kamu maksud pria brengsek, hah?!" bentak Gendis yang benar-benar kesal sekarang.


"Siapa lagi kalau bukan laki-laki yang datang denganmu tadi. Asal kamu tahu, dia itu tidak pernah mencintaimu sama sekali. Dia bahkan sama Lea sekarang. Dan asal kamu tahu, kalau Lea itu putrinya Tuan Bimo pemilik Aryaguna Coorporation. Jadi, kamu itu hanya dianggap mainananya sekarang." Kevin bicara panjang lebar tanpa jeda, dan berapi-api, bahkan untuk meraup udara di sekitarnya pun dia tidak sempat.


Sementara itu, Gendis yang melihat Kevin berceloteh marah-marah, terlihat berusaha menahan tawa.


"Kamu salah___" belum sempat Gendis menyelesaikan ucapannya, ponsel di tangannya tiba-tiba berbunyi. Akan tetapi belum Gendis menyentuh tombol terima, Kevin sudah merampas ponsel itu dari tangan Gendis, dan meletakkannya di telinganya sendiri tanpa melihat nama si pemanggil.

__ADS_1


"Hei, kamu urus saja pacar kamu, Lea. Jangan ganggu Gendis lagi, PAHAM KAMU!" bentak Kevin, yang membuat Gendis meringis sambil menggigit bibirnya, takut kalau si pemanggil itu, balik marah-marah, karena dia tahu kalau yang sedang menghubungi ponselnya itu, Galang.


"Hei, siapa kamu ngatur-ngatur aku? lagian kenapa kamu yang menjawab ponsel adikku? mana adikku?" terdengar suara Galang yang marah dari ujung telepon.


"A-adik?" Kevin menjauhkan ponsel itu dari telinganya dan matanya seketika membulat melihat nama si pemanggil, yang dia tahu namanya tapi belum kenal wajahnya.


Gendis langsung merampas kembali ponselnya dari tangan Kevin dan meletakkan di telinganya.


"Iya, Ka! sebentar lagi aku ke sana. Aku tadi ke toilet sebentar dan ketemu teman di sini." ucap Gendis.


"Aku kirain kamu kemana. Siapa tadi laki-laki yang jawab teleponku? pacar kamu ya?" tanya Galang dengan nada tidak senang.


"Bu-bukan Ka! nanti aku jelaskan, bye ...." Gendis memutuskan panggilan secara sepihak sebelum Galang melontarkan banyak pertanyaan yang menjebaknya.


"Maaf! aku tidak tahu,kalau yang menelepon kamu barusan, kakakmu," ucap Kevin dengan wajah yang sudah terlihat memerah karena malu.


"Iya, yang baru saja meneleponku, orang yang sama dengan yang kamu bilang pria brengsek tadi." sindir Gendis sambil tersenyum samar, hingga kedua netra Kevin semakin membulat dengan sempurna.


"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?"


"Gimana mau bilang, kamu dari tadi nyerocos tanpa henti."


"Ah, sial! kok aku jadi bodoh begini sih? kenapa aku bisa lupa, kalau aku pernah mengantarkan dia ke Bogor waktu Lea diculik? kenapa juga, aku bisa sampai lupa, kalau Lea itu, pacar Kakak sepupunya, yang namanya Galang itu? mau ditaro dimana mukaku nanti kalau ketemu?" Kevin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali dan merutuki kebodohannya sendiri dalam hati.


"Kamu masih mau marah? marah-marah aja lagi!" tantang Gendis dengan mata yang mendelik.


"Hmm, kata Mamahku, aku gak boleh marah-marah sama calon menantunya," celetuk Kevin tiba-tiba dengan semburat merah di pipinya.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2