Dosenku Kekasihku

Dosenku Kekasihku
Rejeki buat Galang.


__ADS_3

Galang sudah siuman 10 menit yang lalu,dan sekarang Lea sedang menyuapinya makan makanan rumah sakit yang rasanya sangat hambar.


"Aku kan gak demam atau sakit apapun, cuma terluka saja, tapi kenapa aku harus makan ini sih Yang?" Galang melayangkan protesannya.


"Udah sih makan saja! daripada kamu gak makan apa-apa coba?" Lea tetap tidak berhenti menyuapkan makanan itu ke mulut Galang.


"Manja banget sih loe! makan tinggal makan aja kali." celetuk Rendi,meledek.


"Diam loe! nyamber aja kaya petasan, gue kan gak ngomong sama loe."sahut Galang setelah menelan makanan di mulutnya.


Suara pintu yang terbuka, menghentikan perdebatan antara Galang dan Rendi. Semua mata beralih melihat siapa yang tengah datang.


"Lho kalian semua masih ada di sini?" tanya Bimo.Yang datang ternyata Bimo dan Seno.


"Iya, Om! kami nungguin Galang siuman dulu baru niat mau pulang." Dewa menyahut mewakili kedua sahabatnya.


"Bagaimana urusannya Om?" tanya Dion.


"Hmmm, semuanya berjalan dengan baik. Dina dan Rosa akan __" suara ketukan di pintu memotong ucapan Bimo. Semua mata melihat ke arah pintu yang terbuka dan semua mengrenyitkan kening melihat sosok laki-laki separuh baya, yang tidak mereka kenal sama sekali.


"Selamat malam semua!" sapa sosok tersebut dengan seulas senyuman yang tersemat di bibirnya.


"Selamat malam Pak! anda siapa ya?" ekor mata Bimo memicing,menatap curiga pada sosok di depannya.


"Oh, kenalkan, saya Suryo, pengacara keluarga Nona Dina," pria bernama Suryo itu menyodorkan tangannya untuk mengajak Bimo berjabat tangan.


"Saya Bimo," Bimo menyambut uluran tangan Suryo sekejap dan langsung melepaskannya.


"Ada apa anda kemari? apa anda mau mengajukan perdamaian? kalau untuk itu, anda keluar saja dari sini,karena itu tidak akan mungkin kami kabulkan." tegas Bimo dengan tatapan dingin.

__ADS_1


"Maaf Pak Bimo, aku datang kesini bukan mau minta damai, karena akupun tahu kalau aku ada di posisi anda, aku tidak akan mau berdamai. Aku kesini cuma___"


"Kalau tidak meminta damai, apa anda akan meminta keringanan? maaf, itu pun tidak akan aku kabulkan.Jadi, lebih baik anda keluar dari sini!" Bimo menyela omongan Suryo, sebelum pria itu selesai berbicara.


"Pak Bimo, tolong anda dengarkan dulu sampai aku bicara sampai habis! aku datang ke sini bukan untuk meminta damai,juga tidak minta keringanan. Aku kesini mau menyampaikan permintaan maaf dan amanat dari Nona Dina pada Galang." dari nada bicaranya, terlihat kalau Suryo sudah mulai kesal menghadapi Bimo.


"Oh kalau untuk itu, bilang saja sama dia, untuk minta ampun sama Tuhan. Dan tolong sampaikan padanya, kalau kami tidak akan memafkannya!" cetus Bimo.


"Maaf Pak Bimo, anda dari tadi selalu memotong pembicaraanku! Aku kesini perlunya menemui nak Galang, bukan anda." Suryo tak kalah ketusnya dengan Bimo sekarang.


"Galang itu calon menantu saya, dan yang hampir dicelakai klien anda itu putri saya, jadi urusan anda dengan Galang, sekarang juga sudah menjadi urusan saya. Anda Paham?!" suara Bimo mulai meninggi, sehingga Seno sontak berdiri dari tempat duduknya untuk menenangkan Bimo.


"Yes, akhirnya aku bisa duduk juga!" gumam Rendi yang langsung menggantikan posisi Seno.


"Pak Bimo, tolong anda sabar dulu! saya tahu kalau putri anda yang diculik oleh Nona Dina, dan aku tidak ada masalah kalau anda mau menghukumnya seandainya Nona Dina masih hidup, tapi sekarang saya___"


"Tunggu, tunggu dulu! apa maksud perkataan anda tentang seandainya Dina masih hidup? apa Dina___?" Galang membuka suara.


"Wih, kaya mendadak Kak Galang!" batin Gendis sembari meneguk ludahnya sendiri.


"Sebenarnya, kami sudah menyadari kalau Dina mengalami gangguan kepribadian semenjak usia kecil. Dimana dia selalu terlihat sadis dan merasa senang bila dia sudah selesai menyembelih ayam dan melihat ayam itu menggelepar-gelepar. Dia juga suka membunuh binatang-binatang lain yang dia jumpai secara sadis. Itu mungkin karena faktor dia selalu mendapat kekerasan baik secara fisik maupun verbal dari almarhum nyonya Jesica mamahnya. Dia selalu dianggap sebagai pembawa sial.Di depan matanya, dia juga melihat bagaimana Nyonya Jesica membunuh almarhum tuan Bara papahnya dengan memberikan Tuan Bara racun lalu memanipulasi seakan -akan Tuan Bara meninggal karena bunuh diri." Suryo diam sejenak untuk mengambil jeda dan meraup oksigen untuk mengisi udara kembali pada rongga-rongga paru-parunya.


"Dina sangat haus akan perhatian, makanya ketika Tuan Galang pernah memberikan dia nasehat agar tidak bunuh diri, dia menganggap itu bentuk perhatian yang tulus yang sangat dirindukannya, makanya dia sangat terobsesi pada Nak Galang dan menganggap kalau Nak Galang adalah miliknya seorang. Kami sempat mengira kalau suatu saat Dina akan sembuh sendiri seiring bertambahnya usianya. Tapi ternyata perkiraan kami salah,untuk itu, aku selaku pengacara Nona Dina mewakilnya untuk meminta maaf atas semua yang sudah terjadi." ucap Suryo panjang lebar.


"Pak Suryo, aku iklas memaafkan Dina, tapi maaf, kalau untuk masalah perusahaan dan yang lainnya aku tidak bisa menerimanya." tolak Galang yakin. Sehingga semua mata menatap Galang dengan penuh tanda tanya, kenapa Galang menolak. Tapi,mereka semua bungkam tidak ada yang buka mulut untuk bertanya, karena mereka yakin, kalau Galang punya alasan dan pertimbangan sendiri kenapa dia menolak warisan dari Dina.


"Apa anda yakin Nak Galang?" tanya Suryo memastikan. Dia menghela nafasnya melihat Galang menganggukkan kepalanya dengan yakin.


"Tapi kenapa Nak? Kalau bukan anda siapa lagi? di semua aset sudah tertulis nama anda?" Suryo terlihat gusar.

__ADS_1


Emm, begini aja Pak, bapak bantu jual saja semuanya dan hasil penjualannya, bapak sumbangkan ke beberapa panti asuhan dan pesangon semua karyawan-karyawan serta para pekerja di rumah Dina. Dan saat memberikan sumbangan itu, buat atas nama Dina bukan namaku." ucap Galang memutuskan dengan tegas.


"Baiklah kalau memang itu yang kamu mau.Aku akan melaksanakannya segera dan mengabari kamu, kalau semuanya sudah terjual nanti." ucap Suryo. "Kalau begitu aku pamit dulu Nak Galang, Pak Bimo dan kalian semua." sambunngnya lagi, seraya berbalik hendak melangkah keluar.


"Tunggu, Pak Suryo!" Suryo menyurutkan langkahnya, dan kembali memutar badannya mendengar panggilan Bimo.


"Pak Suryo, perusahaan itu biar aku yang beli saja. Besok kamu temui aku dikantor,untuk membicarakan masalah harga sekalian bawa semuaberkas-berkas kepemilikan perusahaan itu." ucap Bimo tegas, yang membuat semuanya menatap kaget dan bertanya-tanya apa maksud Bimo membeli perusahaan itu, melihat cabang perusahaan Bimo sudah banyak.


"Baiklah kalau begitu Pak Bimo.Besok aku akan datang ke kantor anda. Selamat tinggal sampai ketemu lagi besok," Suryo kembali memutar badannya dan melangkah keluar.


"Kenapa kamu mau membeli perusahaan itu Bim? apa kamu masih sanggup mengelolanya nanti?" tanya Seno setelah tubuh Pak Suryo sudah benar-benar menghilang dengan sempurna.


"Yang bilang kalau aku yang akan mengelolanya siapa? aku akan memberikannya pada Galang untuk mengelolanya." sahut Bimo, ambigu.


"Maksudnya Om?" Galang memicingkan matanya.


"Om tahu, sebenarnya kamu gak mau menerimanya, karena tidak mau dianggap mengambil keuntungan atas kematian Dina kan? Dan merasa bersalah atas musibah yang menimpa Dina. Jadi biarlah Om yang beli dan menyerahkan padamu untuk kamu kelola."


"Tapi Om, aku punya perusahaan sendiri untuk aku kelola yang walaupun masih kecil, tapi aku yakin akan besar suatu saat. Jadi maaf kalau aku menolaknya." tolak Galang.


"Om tahu, kamu tipe orang yang tidak mau mengambil kesempatan dan ingin maju dengan usaha sendiri. Dan aku juga percaya akan kemamampuanmu, serta niatmu untuk membahagiakan putriku dengan usahamu sendiri.Tapi sebagai seorang ayah,tidak adil rasanya kalau putriku tidak mendapatkan apa-apa dariku. Satu hal yang harus kamu ketahui,Om tidak pernah meragukanmu.Om harap kali ini kamu mau menerimanya dan memajukan perusahaan itu.Kali ini, Om tidak akan campur tangan dalam pengelolaannya, sehingga kalau perusahaan itu semakin maju di tanganmu, murni karena usahamu sendiri. Kamu setuju?" Bimo menatap Galang yang bergeming, dengan tatapan yang penuh harap.


"Baiklah Om, aku akan usahakan yang terbaik!" sahut Galang tegas.


"Yeeee, akhirnya diterima juga." celetuk Gendis, bersorak kegirangan.


Semua mata beralih ke arahnya, menatapnya keheranan.


Author: Yang dapat durian runtuh si Galang, yang kegirangan Gendis. Dasar aneh loe Dis.

__ADS_1


TBC


__ADS_2