
Shakira yang dari tadi pagi sudah mulai merasakan kontraksi, kini kembali merasakannya. Tadi pagi dia sengaja tidak mengatakan kepada Rendi, karena merasa itu hanya kontraksi palsu, berhubung HPL nya memang seminggu lagi, dan dia takut kalau dia memberitahu kondisinya pada Rendi, suaminya itu tidak akan mmenizinkannya untuk ikut menghadiri resepsi Rendra dan Keysa. Akan tetapi, sekarang rasa sakitnya sudah semakin sering dan intens.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Rendi yang khawatir melihat wajah Shakira yang pucat dan peluh yang menetes di pelipisnya.
"Pe-perutku sakit Kak," desis Shakira lirih sambil memegang perutnya. " Aku sepertinya pipis, Kak! dan aku tidak tahu kenapa bisa pipisnya keluar, padahal aku tidak merasa kalau aku mau pipis tadi," sambungnya lagi dengan tangan yang masih memegang perut.
"Rendi, itu bukan pipis. Itu ketuban Kira yang pecah. Kamu bawa dia ke rumah sakit sekarang karena dia akan melahirkan!" pekik Naura panik.
Mendengar ucapan maminya, Rendi sontak mengangkat tubuh Shakira dan sedikit berlari meninggalkan ballroom disusul oleh Naura dan Reno.
Beruntungnya ballroom sudah mulai sepi, karena para tamu sudah banyak yang sudah pulang. Seno, Amira dan yang lainnya akhirnya memutuskan untuk menyusul ke rumah sakit. Sedangkan Rendra dan Keysa terpaksa menunggu sebentar menunggu para tamu pulang semua.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Karena air ketuban yang sudah mulai habis, dan kondisi panggul yang sempit serta kondisi Shakira yang sudah lemah, membuat dokter harus mengambil langkah operasi Caesar.
Semua orang kecuali Rendi sudah menunggu di depan ruangan operasi dengan perasaan khawatir dan harap-harap cemas.
"Aku takut Kak!" desis Shakira dengan raut wajah yang sudah terlihat tegang.
"Tenang Sayang, ada aku di sini," Rendi menggenggam erat tangan Shakira untuk memberikan ketenangan.
"Mbak, rileks aja ya! jangan tegang!" ucap dokter yang menangani Shakira dengan lembut.
"Iya Sayang, cukup milikku di bawah sana saja pakai istilah 'tegang', kamu jangan! anggap ini semua hanya ujian." Ucapan absurd Rendi membuat dokter dan para perawat berusaha menahan tawa. Sedangkan Shakira hanya bisa mendelik tajam ke arah Rendi.
Dokter melakukan anestesi yaitu Teknik pembiusan epidural yang hanya menimbulkan mati rasa pada bagian bawah tubuh dan pasien masih sadar selama operasi berlangsung.
"Masih terasa, Mbak?" dokter memberikan cubitan di perut Shakira, kemudian dijawab dengan hanya gelengan kepala oleh Shakila
__ADS_1
Setelah dokter mendapat jawaban dari Shakira, dokter pun mulai melakukan penyayatan. Pertama-tama, dokter membuat sayatan pada dinding perut Shakira secara horizontal dan mengikuti batas rambut ********. Setelah itu, dokter membuat sayatan, lapis demi lapis dan melewati jaringan lemak serta jaringan ikat. Dokter memisahkan otot perut agar rongga perut dapat terlihat. Tidak perlu menunggu lama, akhirnya di ruangan operasi itu pun terdengar tangisan bayi perempuan. Kemudian dokter pun kembali mengangkat satu bayi lagi berjenis kelamin laki-laki.
Tanpa disadari, dari sudut mata Rendi,menetes cairan bening, yang cepat-cepat langsung disekanya. Dia pun meninggalkan kecupan yang cukup lama di puncak kepala Shakira seraya berkata, "Terima kasih Sayang sudah mau jadi ibu dari anak-anakku. I love you!" Shakira hanya tersenyum menanggapi ungkapan terima kasih dan cinta dari Rendi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Iqbal menatap sendu wajah Lisa yang masih setia dengan mata yang terpejam. Dia mengelus lembut wajah Lisa dengan jarinya. Dia kembali mendaratkan bibirnya ke kening Lisa, dan itu entah sudah ke berapa kali dia lakukan.
Iqbal tidak bisa membayangkan seandainya tadi dia tidak mengikuti Lisa ke toilet, pastilah sekarang Lisa sudah berhasil dilecehkan oleh lelaki bejat yang sudah berhasil anak buahnya singkirkan
"Bagaimana bisa kamu tidak mengingatku, Lis?Kamu tahu namaku dan kenal wajahku, tapi kamu gak ingat siapa aku." gumam Iqbal dengan tatapan yang tidak pernah beralih dari wajah cantik Lisa.
Untuk Sejenak Iqbal menerawang ke kejadian dulu, pertemuan pertama kalinya dia dengan Lisa.
Flashback On
Ketika Iqbal, hendak pulang ke rumah peninggalan orangtuanya, dia dihadang oleh laki-laki berbadan besar yang berjumlah 4 orang.
"Serahkan uang yang kamu pegang!" bentak pria berkepala plontos yang terlihat sangar dan menyeramkan.
"Gak mau Om! kalau aku kasih ke Om-Om ini, nanti aku makan apa?" Iqbal menantang dengan tatapan berani.
"Berani melawan kamu ya! Kamu udah bosan hidup?" rekan pria berkepala plontos dan tak kalah menyeramkan itu, mencengkram kemeja yang dipakai oleh Iqbal dengan tatapan yang seperti ingin membunuh.
Dengan berani Iqbal mendorong tubuh preman itu, dan berlari dengan sekuat tenaga dan secepat mungkin.
"Kak ... ayo masuk sini!" seorang anak perempuan manis dengan rambut yang dikuncir ke atas dan yang kebetulan lagi berdiri di luar pagar depan sebuah rumah mewah, memanggil Iqbal dan menyuruhnya bersembunyi di balik tanaman di halaman rumahnya. Anak perempuan itu lalu menutup pintu pagarnya dan berpura-pura bermain sepeda.
Keempat preman itu, berhenti persis di depan rumah tempat Iqbal bersembunyi,dengan mata yang celingukan kesana kemari,mencari keberadaan Iqbal.
__ADS_1
"Brengsek! lolos juga tuh anak!" Iqbal mendengar umpatan dari laki-laki berkepala plontos itu.
"Ayo kita kembali!" titah seorang laki-laki yang Iqbal yakini adalah bos dari mereka.
"Kak mereka sudah pergi. Kakak boleh keluar!" seru anak perempuan itu sambil melongokkan kepalanya ke tempat persembunyian Iqbal.
"Terima kasih ya dek! kamu baik sekali. Nama kamu siapa?"
"Lisa Ka!" sahut anak perempuan itu dengan senyuman yang tersungging manis di bibirnya.
"Usia kamu berapa?"
"12 tahun," lagi-lagi Lisa tersenyum. "Nama kakak siapa?" mulut mungil Lisa kembali bertanya.
"Nama Kakak I___"
"Lisa!" suara seorang wanita terdengar berteriak memanggil Lisa, sebelum Iqbal menyebutkan namanya.
"Iya, Mah!" Lisa menyahut sambil berlari ke arah mamahnya.
"Kamu lagi bicara dengan siapa, hah? jangan sembarang bicara sama orang asing. Ayo masuk! Dan kamu keluar dari sini!" bentak wanita itu tanpa mau menghampiri dan menatap Iqbal.
Sebelum beranjak dari tempatnya, Iqbal menoleh ke arah Lisa yang melambaikan tangan ke arahnya.
Mulai dari hari itu, Iqbal mulai memperhatikan Lisa, dan berjanji dalam hati akan datang kembali kalau dia sudah sukses, karena dia melihat kehidupan Lisa yang tidak setara dengannya. Berkat kepintarannya, Iqbal kembali mendapat beasiswa kuliah di Universitas ternama dengan jurusan arsitek.Begitu lulus kuliah dia langsung mendapat tawaran kerja, di perusahaan Wijaya, perusahaan yang dikelola oleh Seno.
Iqbal dengan semangat meniti karirnya, dan di saat dia lelah, dengan membayangkan wajah Lisa, semangatnya akan kembali kuat. Iqbal juga termotivasi dengan Seno yang berhasil mendirikan Mahardika group dengan usahanya sendiri. Akhirnya timbul dalam hatinya tekad untuk mengikuti jejak Seno, karena baginya ' tiada yang mustahil kalau kita niat dan berusaha tanpa kenal lelah' dan ' tidak ada hasil yang mengkhianati usaha'.
Tbc
__ADS_1